Pentingnya Keberdayaan Bagi Perempuan

daftarpanjang

Biografi Galaila Karen Agustiawan

Galaila Karen Agustiawan, atau akrabnya Karen, merupakan satu dari sekian banyak lulusan ITB yang sukses mengibarkan bendera namanya sendiri dalam bidang industri di Indonesia. Karen mulai menapaki karirnya di sektor energi, khususnya bidang perminyakan, semenjak lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1983 silam. Perjalanan karirnya dimulai dari perusahaan minyak Mobil Oil Indonesia hingga tahun 1996 atau ketika perusahaan tersebut di-akuisisi oleh Exxon Mobil.

Bakat kepemimpinan dan pengalamannya di bidang migas mulai mendapat perhatian lebih sejak Desember 2006. Karen diangkat sebagai salah satu staf ahli oleh Ari H. Soemarno, tidak lain adalah Dirut Pertamina saat itu. Maret 2008, ganti pemerintah Indonesia yang mengangkatnya sebagai Direktur Hulu, menggantikan Sukusen Soemarinda. Belum genap setahun menjabat sebagai Direktur Hulu, Karen telah mengampu amanat sebagai perempuan pertama yang menduduki jabatan Direktur Utama PT Pertamina.

Berkomentar seputar lingkungan kerja yang didominasi kaum adam, Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Sumber, https://m.merdeka.com/galaila-karen-agustiawan/profil/

Annisanation,

ANNISANATIONIslam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Allah Swt pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain: ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita. Namun faktanya tidaklah demikian.

Lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah di rumahnya, yaitu kodrat domestik. Islam melarang perempuan untuk keluar rumah secara permanen, untuk tujuan apa pun. Untuk ibadah saja, Islam justru mengajarkan bahwa sebaik-baik tempat bagi perempuan untuk beribadah adalah di rumahnya, bukan di luar rumah. Kalau untuk urusan ibadah saja perempuan lebih baik tetap di rumah, maka apalagi untuk urusan lain yang kurang penting dibanding ibadah?

Artikel annisanation membahas dan membuktikan bahwa Emansipasi Wanita merupakan kekejian yang hanya membawa malapetaka bagi umat dunia. Jadi dengan demikian, Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, dan kebalikannya, Islam mengajarkan Domestikalisasi Wanita, yaitu pemahaman untuk terus menempatkan perempuan di dalam rumahnya.

Terdapat berbagai pandangan di dalam kehidupan ini, di mana perempuan sudah saatnya mendapatkan pemberdayaan, di dalam bentuk memperoleh pendidikan hingga setinggi-tingginya, dan memperoleh akses kepada pekerjaan untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan –seperti halnya kaum pria. Maka pada titik inilah terjadi banyak malapetaka yang menyengsarakan umat manusia, tidak saja umat Muslim.

Seperti pada paparan ini yang mengetengahkan tokoh Indonesia yang bernama Karen Agustiawan, yang adalah Dirut Pertamina. Paparan ini mengutip perkataan sang Karen, yaitu “mengingatkan kaumnya untuk memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerde-kaan finansial bagi perempuan”. Jadi dengan ungkapannya ini, Karen mengesankan bahwa tanpa kemerdekaan finansial, maka kaum perempuan akan terus dirundung kesusahan yang ditimpakan kaum laki-laki tanpa bisa melawan sedikit pun. Hanya dengan kemerde-kaan finansial-lah, maka kaum perempuan bisa membebaskan dirinya dari kesusahan yang disebabkan kaum pria.

Dapat dikatakan, bahwa sebenarnya bukan Karen Agustiawan saja yang mengemukakan ungkapan tersebut. Banyak perempuan lain yang juga berpandangan sama, yaitu bahwa sebaiknya kaum perempuan mempunyai pekerjaan dan sumber keuangan sendiri, demi bisa terbebas dari ketergantungan terhadap kaum pria. Setidaknya, mandiri secara keuangan dapat membebaskan kaum perempuan dari kesewenangan kaum pria.

Benarkah demikian?

Dengan sendirinya, pandangan ini memunculkan dua aspek untuk dibahas, yang pada akhirnya akan memberi pemahaman, bahwa ungkapan tersebut adalah keji dan KELIRU BESAR.

Aspek pertama.

Untuk menuju pemberdayaan perempuan yang berujung pada kemerdekaan finansial, berarti seorang perempuan sejak kecil harus selalu keluar rumah untuk bersekolah dan kuliah, kemudian bekerja. Ini semua berakibat pada terpaparnya kaum perempuan kepada kaum pria di tengah kota secara intens. Mereka, laki-laki dan perempuan, para gadis yang masih suci dan para perjaka yang masih bau kencur, akan selalu bertemu di setiap lini pergaulan di luar rumah.

Apakah hal tersebut tidak akan memicu terjadinya jalinan kemistri antara seorang gadis dengan pria di luar rumah? Apakah ada yang bisa menjamin bahwa hal tersebut tidak akan memicu munculnya jalinan asmara dan saling mencintai, hingga pada akhirnya berakibat pada terjadi hubungan zina dan hamil di luar nikah?

Perempuan, pada segala umur, pada dasarnya adalah mahluk yang identik dengan rasa malu dan jengah kepada pria asing mana saja, dan hal tersebut merupakan fitrah atas kaum perempuan: bukan perempuan namanya kalau tidak mempunyai rasa malu dan jengah terhadap pria asing. Namun kalau perempuan setiap hari bertemu pria asing di tengah kota, fitrah tersebut otomatis hilang dari psikologi sang perempuan, dan akan berganti dengan bangkitnya rasa suka dan nyaman kepada pria-pria asing mana saja. Maka apakah pemberdayaan perempuan sudah sesuai dengan jalan fitrah kaum perempuan? Jelas fitrah harus dijaga dan dipertahankan, namun Emansipasi Wanita mempunyai metode sendiri untuk meruntuhkan fitrah perempuan tersebut. Kalau perempuan telah kehilangan rasa malu terhadap pria asing mana saja, maka apalagi yang bisa diharapkan? Itulah  awal dari maraknya kasus zina di tengah umat. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!

Supermasif-nya perempuan keluar rumah untuk tujuan pemberdayaan, telah membuat fenomena pacaran sebagai suatu hal yang lumrah, padahal pada masa pra Emansipasi Wanita, umat benar-benar mengharamkan dan menajiskan pacaran, karena hal tersebut adalah gerbang terbesar bagi terjadinya perzinahan. Maka bukankah hal tersebut sekarang memang sudah terbukti, di mana Emansipasi Wanita mencetuskan fenomena pacaran, dan kemudian pacaran ini menyumbang kasus zina secara signifikan? Bagaimana anak muda tidak pacaran, kalau mereka setiap hari bertemu di luar rumah secara intens?

Berapa banyak dilaporkan di tengah masyarakat bahwa perempuan muda yang kehilangan kegadisannya terus meningkat angkanya? Berapa banyak terjadi bahwa anak gadis pulang ke rumah di dalam keadaan sudah ternoda, karena telah menyerahkan kesuciannya kepada sang pria pujaan hati? Berapa banyak terjadi bahwa pengantin perempuan sudah tidak lagi suci pada malam pertama pernikahan mereka? Berapa banyak dilaporkan ditemukannya bangkai bayi di tempat sampah, yang jelas bayi tersebut merupakan hasil zina? Perempuan yang sebenarnya mahluk lembut nan penuh cinta, berubah menjadi mahluk ganas yang gemar membunuh bayinya sendiri? Yang baru lahir? Yang tidak berdaya? Yang tidak mem-punyai dosa? Maka apakah Emansipasi Wanita merupakan manifestasi kebenaran? Dan inikah cara kebenaran diungkapkan?

Kemudian pada babak berikutnya, perempuan-perempuan tersebut menuntut dan / memperoleh pekerjaan, untuk mendapatkan uang, karir dan jabatan. Artinya, perempuan akan mempunyai sumber uang sendiri, dan ini artinya perempuan akan mempunyai otoritasnya sendiri sebagai pribadi di dalam memandang berbagai hal. Babak ini setidaknya berimbas pada dua hal:

Pertama, mempunyai sumber keuangan sendiri jelas akan mengubah mentalitas dan psikologi sang perempuan di dalam memandang nilai dan ajaran hidup, apalagi ajaran agama. Perempuan yang mempunyai uang sendiri, dan mempunyai karir, berubah menjadi perempuan yang berkuasa atas laki-laki: suaminya, ayahnya, maupun sistem patriarkhat secara lebih luas. Wanita yang mempunyai karir dan sumber keuangan sendiri akan semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin berani menentang doktrin agama. Pada satu aspeknya, latar ini membuat perempuan semakin mudah mengajukan gugat cerai kepada suaminya, karena toh uang sudah ia miliki sendiri tanpa tergantung pada suami.

Terlebih, perempuan karir yang berani menantang doktrin agama, merasa tidak mempu-nyai beban sedikit pun saat pamer aurat dan berkhalwat dengan rekan pria-nya di kantor, dan sering berakhir dengan bentuk selingkuh: dan itu semua diperbuat tanpa merasa bersalah sedikit pun. Angkat topi untuk Emansipasi Wanita!!

Kedua, dengan perempuan bekerja, maka itu artinya akan ada banyak pangker (lapangan kerja) yang direbut kaum perempuan. Dan itu artinya akan banyak laki-laki yang terdepak dari pangker, sehingga mereka terpaksa menganggur seumur hidup. Pangker alaminya adalah milik kaum pria, karena bekerja bagi pria sungguh strategis: menafkahi istri dan keluarga adalah kewajiban agama dan sosial bagi kaum pria, sementara nafkah perempuan sebenarnya sudah ditanggung pria mereka. Bagi perempuan bekerja hanyalah untuk memenuhi ambisi pribadinya, untuk gagah-gagahan saja; dan tidak ada salahnya kalau perempuan tinggal di rumah saja mengurus rumah dan membesarkan anak-anak. Jadi sebenarnya urgensi apa yang mengharuskan perempuan bekerja, yang mana itu artinya merampas pangker dari kaum pria?

Sudah banyak ditemui suami yang menganggur, dan itu masih ditambah satu fakta: istrinya lah yang bekerja, sehingga istrilah yang menafkahi keluarganya, padahal sang suami sehat dan qualified untuk bekerja. Secara psikologis ini berarti ancaman kewibawaan atas para suami dan seluruh pria. Suamilah yang momong anak, masak nasi, mencuci baju, dsb. Dan mengerikan sekali, bahwa kini suamilah yang harus taat kepada istri.

Harus diingat, bahwa menganggurnya para lelaki bukan karena mereka tidak mempunyai nilai jual di bursa tenaga kerja, melainkan karena perempuan telah lebih dulu merebut pangker. Dan atas nama sikap gentleman, tentunya para bos lebih memilih pelamar perem-puan dan membiarkan pelamar laki-laki pulang dengan tangan kosong. Kekuatan Iblis jelas berperan dominan di sini untuk membisiki para bos untuk mendepak pelamar laki-laki, atas nama sikap gentleman.

Apakah jumlah pangker di dalam kehidupan ini begitu melimpah, sehingga sebanyak apa pun perempuan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak akan mengganggu jatah pangker kaum pria? Namun mana buktinya? Bukankah dengan infiltrasi kaum perempuan ke dunia kerja, akibatnya laki-laki terdepak dari pangker dan mengakibatkan mereka menjadi pengangguran?

Mungkin Emansipasi Wanita merupakan kebajikan dan keindahan hidup, namun bagaima-na dengan fakta keseharian? Apakah Emansipasi Wanita berarti bahwa kaum pria harus menjadi pengangguran saja di rumah, dan perempuan bekerja di kantor dengan begitu banyaknya faktor penyerta: selingkuh, khalwat, kondomisasi, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, marak gugat cerai terhadap suami, istri yang membangkang terhadap suami, dsb? Atau, apakah Emansipasi Wanita merupakan prioritas seluruh dunia demi perempuan bisa gagah-gagahan dan berkelimpahan materi, sehingga demi prioritas tersebut kaum pria dibiarkan saja menjadi pengangguran dengan semua efek kriminalitas kotanya?

Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca ketika perempuan berkuasa atas laki-laki,

)) Ketika Wanita Berkuasa Atas Laki-laki Dan Melawan Kodrat

Gerakan Emansipasi Wanita dijelaskan dengan beberapa efek ini:

  • Emansipasi Wanita jelas-jelas berparalel dengan runtuhnya kesucian kaum perem-puan secara supermasif di tengah kota: liberal berpakaian, liberal di dalam hal pergaulan, liberal di dalam hal ideologi dan mengkritisi ajaran agama.
  • Emansipasi Wanita berparalel dengan maraknya angka zina, dan lebih dari itu, Emansipasi Wanita berbanding lurus dengan halalisasi pacaran, yang pacaran terse-but merupakan gerbang terluas bagi merebaknya perzinahan. Itu belum ter-masuk aborsi, kondomisasi, freesex, selingkuh, pamer aurat, bangkai bayi di tempat sampah, merebut suami orang, dsb. Halalisasi zina, halalisasi kondom, halalisasi selingkuh, halalisasi pamer aurat, halalisasi khalwat, dsb.
  • Dan pada titik kulminasinya, Emansipasi Wanita selalu berarti tingginya angka gugat cerai melawan suami di pengadilan, karena istri yang berkarir selalu menun-tut ketaatan lebih dari pihak suami; dan kalau suami melawan maka silahkan bercerai.
  • Di tengah beranak pinaknya Emansipasi Wanita, asyik-maksuknya perempuan berkarir berimplikasi pada meledaknya pengangguran di kalangan pria. Dan kaum perempuan sama sekali tidak ambil perduli dengan banyaknya pria pengangguran, padahal menganggurnya kaum pria tidak lain mereka sendirilah penyebabnya.

Kalau umat ingin perzinahan menjadi halal dan dibanggakan, maka megahkanlah Emansipasi Wanita; megahkanlah usaha untuk mengirim anak perempuan ke sekolah sejak dini, dan kemudian bekerja mencari uang, karir dan jabatan: karena itu semua akan berimplikasi pada perzinahan, selingkuh, kondomisasi, freesex, bangkai bayi di tempat sampah, dsb. Namun kalau umat merasa bahwa perzinahan adalah keji dan sataniah, maka tentunya lifestyle untuk membebaskan perempuan keluar rumah setiap hari, harus dihentikan, dan Emansipasi Wanita harus ditumpas.

Intinya, kemerdekaan finansial yang harus direbut kaum perempuan, bukanlah perkara yang dapat dilihat secara an sich. Terlalu banyak yang harus dipertaruhkan umat, kalau Emansipasi Wanita harus dikembangkan, dan kalau perempuan harus membangun kemerdekaan finansialnya.

Aspek kedua.

Karen Agustiawan mengingatkan kaumnya untuk ‘memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan’. Timbul pertanyaan. Kemerdekaan terhadap apa? Terhadap (kesewenangan) kaum pria-kah? Atau kemerdekaan terhadap doktrin agama yang dinilai selalu mengekang kebebasan kaum perempuan-kah? Atau kemerdekaan untuk terlepas dari jeratan kodrat dan hukum alam-kah? Atau kemerdekaan untuk terbebas dari pelabelan mahluk domestik-kah? Atau kemerdekaan untuk menya-takan pendapat-kah, yang dipastikan pendapat tersebut akan berkontra terhadap ajaran agama, tatanan sosial maupun petuah leluhur? Terlalu banyak kemungkinan -memang …., namun keseluruhan kemungkinan tersebut dipastikan negatif adanya.

Terdapat dua hal yang harus dikemukakan di sini, berkenaan kemerdekaan finansial yang dituntut kaum perempuan -di dalam faham yang dengan Emansipasi Wanita:

Pertama, selama masa Siti Nurbaya di mana perempuan tidak (di)-berdaya-(kan), apakah kaum perempuan senyatanya selalu terpuruk dan terhina, kemudian teraniaya demikian rupa oleh kaum pria, agama dan ketentuan adat? Pada masa ketika tidak ada pember-dayaan perempuan, apakah banyak perempuan kelaparan dan mati bergelimpangan di tepi jalan yang itu semua disebabkan kaum pria yang tidak bersyukur kepada Tuhan? Ketika kaum perempuan belum diberdayakan, apakah terlihat bahwa kaum pria sama sekali tidak memperhatikan kemaslahatan kaum perempuan? Apakah kaum pria secara hukum alam membenci perempuan sehingga perempuan dibiarkan saja terlantar di tengah rimba? Kalau jaman sekarang perempuan menuntut keberdayaan finansial tersebab pentingnya kemerdekaan bagi perempuan, maka di mana letak urgensinya? Kemerdekaan artinya adalah kebebasan: kebebasan dari dan terhadap apa?

Kedua, apakah ide dan fikiran perempuan bermanfaat? Apakah sumbangsih kaum perem-puan di dalam hal intelektual begitu signifikan? Apakah argumentasi kaum perempuan di tataran akademis benar-benar bermanfaat dan monumental? Patut diingat, bahwa panjang masanya ketika kaum perempuan tidak berkiprah di berbagai bidang publik, namun faktanya dunia tetap cemerlang: dan itu semua berkat kehebatan dan keunggulan otak kaum pria. Panjang masanya ketika kaum pria berlomba mengajukan teori dan argumen-tasi nan canggih, dan itu tanpa ada partisipasi perempuan satu orang pun. Dan yang terpenting, masa-masa itu adalah masa di mana tidak ada dekadensi moral, tidak ada pelacuran massal, tidak ada bangkai bayi di tempat sampah, tidak ada pengangguran laki-laki, tidak ada kondomisasi, tidak ada penentangan terhadap agama, tidak ada penentangan terhadap hukum adat, tidak ada penentangan terhadap kodrat, tidak ada penentangan terhadap takdir domestik, dsb.

Namun kebalikannya, perempuan yang diberdayakan memulai inisiatif untuk mengajukan (dan memaksakan) ide-ide yang kontra terhadap tatanan hidup yang berwibawa: agama, hukum alam, warisan leluhur, tradisi turun temurun, logika, hukum kepantasan, dsb. Perempuan yang diberdayakan tidak akan pernah mampu menyajikan ide yang konstruktif dan pilihan, karena justru yang ada di dalam fikiran mereka (kaum perempuan yang diberdayakan) adalah bahwa semua yang tampak di dalam kehidupan merupakan kesala-han agama dan patriakhat, dan yang benar hanyalah kaum perempuan sendiri dengan alam fikiran mereka. Dan untuk itu mereka memberi tempat terhormat untuk marak perceraian, marak freesex, marak atheisme, marak penelantaran anak, marak kondomisasi, marak pengangguran di kalangan pria, dsb (daftar ini tentunya akan sangat panjang!).

Perempuan di satu sisi menuntut kemerdekaan finansial (entah kemerdekaan tersebut terhadap apa) melalui perjuangan yang disebut Emansipasi Wanita, yang mana Emansipasi Wanita tersebut membuat perempuan mempunyai tradisi untuk berfikir. Namun kemudian apakah tradisi berfikir tersebut benar-benar maslahat bagi peradaban? Faktanya, dengan tumbuhnya tradisi berfikir di kalangan perempuan, tiba-tiba agama menjadi sasaran hujat dan kritik habis-habisan. Tiba-tiba lembaga patriakhat menjadi sasaran kemarahan dan kutukan kaum perempuan. Tiba-tiba hukum alam dan hukum domestik dipuntir habis-habisan oleh kaum perempuan yang diberdayakan ini, baik secara intelektual maupun secara finansial. Tidak segan-segan kaum perempuan, dengan tradisi berfikir mereka, berujar, bahwa agama dan seluruh kitabsuci adalah bikinan para lelaki untuk menyeng-sarakan kaum perempuan.

Angka Perceraian Meningkat-001

——————————

Angka Perceraian Meningkat-002

Extratext.

Banyak perempuan sophisticated yang berpesan untuk perempuan lainnya, seperti Karen ini, bahwa sudah saatnya kaum perempuan mempunyai kemerdekaan finansial, yang mana itu berarti kaum perempuan harus bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan. Perempuan-perempuan yang mengumandangkan pesan ini, tentunya telah asyik maksuk dengan karirnya di dunia kerja, asyik maksuk dengan uang melimpah yang ia peroleh dari kantornya …. Secara alamiah, itu artinya perempuan-perempuan sophisticated ini telah mencampakkan tugas domestiknya kepada para pembantu di rumah: siapa yang mencuci piring, siapa yang menanak nasi, siapa yang menjaga rumah, siapa yang mencuci pakaian dan menerikanya, dsb seluruh tugas tersebut telah dicampakkan kepada para pembantu …. Dan siapa yang membersihkan cirit anak, siapa yang menyuapi sang anak, siapa yang momong anak, siapa yang menyusui sang anak, keseluruhan tugas tersebut telah dicampakkan kepada babysitter di rumah ….. sehingga perempuan-perempuan sophisticated ini sudah tidak mau lagi perduli dengan segala tetek bengek tugas domestik, karena mereka lebih asyik memilih untuk beralih kepada dunianya para lelaki, yaitu bekerja mencari uang, karir dan jabatan …..

  • keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, mau pun popularitas yang ujung-ujungnya juga mencari uang,
  • memimpin rapat di kantor,
  • mengepalai para pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • menerima gaji,
  • melakukan perjalanan dinas,
  • menerima tamu bisnis,
  • menandatangani dokumen bisnis mau pun perjanjian kerja,
  • memerintah bawahan,
  • pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia,
  • kemudian makan, lalu tidur istirahat,
  • totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan besar yang harus selalu dilayani. Dsb.

Mereka, para wanita modern, yang sudah kenyang dengan berbagai pemberdayaan (akibat disekolahkan dan diberi pekerjaan), akibatnya sudah tidak ingin tahu-menahu soal:

  • dapur,
  • mencuci baju,
  • mengurus cirit sang anak,
  • memandikan sang anak,
  • menyuapi makan sang anak,
  • merapikan rumah dan tempat tidur,
  • mencuci dan menjahit baju,
  • mencuci piring, dsb.

Ketika seorang perempuan berpesan kepada rekan-rekannya soal pentingnya perempuan merdeka secara finansial, maka signifikansi dari pesan tersebut adalah bahwa perempuan tidak lagi perlu menjadi perempuan …. karena sudah saatnya perempuan menjadi laki-laki di sektor publik. Perempuan yang merdeka secara finansial adalah perempuan yang mengutuk tugas domestik, yang mana itu berarti perempuan yang diberdayakan beralih kepada fikiran bahwa tugas domestik merupakan ketertinggalan dan keterbelakangan kaum perempuan, sehingga itu semua harus ditinggalkan untuk mendapatkan hak dan kemajuan.

Bagi perempuan yang diberdayakan, bagi perempuan sophies ini, hak dan kemajuan yang harus diraih perempuan adalah menjalani kehidupan bak seorang pria, yaitu bekerja dan berkarir mencari uang di kantor, kemudian menjadi pemimpin publik, yang sama sekali tidak mau ambil pusing dengan semua tetek bengek urusan domestik di rumah. Itulah siginikansi dari sebuah pesan: perempuan sudah saatnya memiliki penghasilan tersebab pentingnya kemerdekaan finansial bagi perempuan.

Not to mention: perzinahannya, perselingkuhannya, kondomisasinya, aborsi massal nya, marak gugat cerainya, marak freesex nya, marak swinger-sex nya, marak pengangguran di kalangan laki-laki dengan semua kriminalitasnya, marak kumpulkebo nya …..dsb.

Untuk itu, sudah sepantasnya EW ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena toh  tidak bermanfaat sama sekali, justru menjadi toxic yang membahayakan. Pada ujungnya, kemerdekaan finansial yang didambakan kaum perempuan, justru membuat kaum perempuan semakin berani melawan semua lembaga agung dalam kehidupan ini.

Intinya, Emansipasi Wanita adalah setback, suatu kemunduran dalam berfikir, sementara di pihak lain, EW tidak membawa perbaikan kepada kaum perempuan sendiri, justru EW membuat perempuan mengembangkan tradisi pengingkaran terhadap berbagai kebajikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Kebebasan Dan Pemberdayaan Perempuan Serta Maknanya

bici-freedom

Revolusi Industri yang pecah di Inggris pada salah satu aspeknya melahirkan gerakan Emansipasi Wanita, karena pada masa itu industri butuh banyak pekerja sehingga perempuan dan anak-anak ikut tersedot ke dalam arus produksi. Namun di lain pihak ternyata para pemodal tidak memberi pekerja perempuan upah yang sama dengan laki-laki, karena para pemodal menganggap perempuan adalah mahluk lemah dan banyak kekurangan. Akibatnya pekerja perempuan menuntut perlakuan yang sama dengan pekerja pria, sama di dalam hal upah, dan sama di dalam hal menentukan kebijakan. Maka lahirlah apa yang disebut Emansipasi Wanita.

Singkat kata, Emansipasi Wanita membuat banyak kaum perempuan menjadi berduit banyak, punya uang sendiri, dan juga mempunyai pekerjaan sendiri, karir sendiri. Pun, emansipasi membuat perempuan mendapat akses setinggi-tingginya kepada pendidikan formal.

Itulah jaman yang membuat perempuan terbebas dari bayang-bayang patriarkhat yang selama ini dirasa membatasi kaum perempuan. Banyak tradisi di muka bumi ini yang secara zahir benar-benar mengekang (kebebasan) kaum perempuan. Dan pengekangan tersebut, sekilas di-sponsori oleh kaum pria dan ajaran agama, agama mana pun. Jalan keluarnya adalah Emansipasi Wanita, dan Emansipasi Wanita menjadi satu-satunya juru selamat bagi kaum perempuan itu sendiri untuk terbebas dari kungkungan dan kecurangan kaum pria yang dilegitimasi oleh agama (begitu pandangan mereka).

  • Dengan Emansipasi Wanita, maka kaum perempuan bebas untuk keluar rumah, karena untuk pemberdayaan kaum perempuan memang harus senantiasa keluar rumah. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan dilarang keluar rumah, melainkan kaum perempuan selalu dipingit di dalam rumah, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas berpacaran dengan pria mana pun yang mereka sukai, karena eksis di luar rumah secara berketerusan pasti berefek pada munculnya rasa suka kepada pria-pria di tengah kota. Dan pacaran ini pastilah berefek pada hubungan sex bebas mau pun perzinahan yang terkadang berujung pada hamil di luar nikah. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan selalu dipingit di dalam rumah, membuat mereka menjadi segan terhadap pria-pria di luar rumah, dan situasi tersebut menjamin kesucian setiap perempuan, dan dengan sendirinya menjamin kesucian kaum pria juga pada akhirnya.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas untuk bergaya busana yang vulgar dan liberal, karena mereka merupakan individu-individu yang mempunyai uang sendiri, sehingga mereka bebas dan dapat mengenakan apa saja yang mereka inginkan: agama dan petuah leluhur tidak lagi mempunyai tuah untuk mendikte apa yang harus mereka kenakan. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat yang membuat kaum perempuan selalu diam di rumah -sehingga mereka tidak mempunyai penghasilan dan karir sendiri, membuat seluruh perempuan manut dan taat kepada titah agama mengenai cara berbusana.
  • Dengan Emansipasi Wanita kaum perempuan bebas untuk menceraikan suami mereka kapan saja mereka merasakan ketidakcocokan dengan sang suami. Dikarenakan mempunyai karir dan uang sendiri, mereka merasa perceraian bukanlah bencana yang mahadahsyat. Terlebih, dengan diberda-yakan sehingga mempunyai uang sendiri berkat Emansipasi Wanita, kaum perempuan menjadi mempunyai kartu truf terhadap sang suami. Bila sang suami tidak manut kepada orientasi berfikir sang istri, maka sang istri melihat perceraian lebih menggembirakan, karena toh mereka dapat hidup sendiri tanpa keuangan sang suami. Dan kalau sang suami tidak ingin perceraian, maka suami harus mengiyakan seluruh orientasi sang istri. Itulah yang dinamakan ketidakcocokan di dalam rumahtangga yang mereka jadikan alasan untuk menggugat cerai suami-suami mereka. Dengan kartu truf ini, maka tidak ada lagi istilah “benar salah harus patuh kepada suami” bagi kaum perempuan yang diberdayakan. Justru kebalikannya: benar-salah terserah keridhaan sang istri, atau suami siap dicerai kapan saja. Berbanding terbalik dengan tradisi patriarkhat, di mana kaum perempuan tidak (boleh) diberdayakan sehingga seluruh penghidupan dan nafkah mereka seutuhnya tergantung suami dan ayah, hal mana membuat perempuan manut dan patuh kepada suami, dan benar –salah suami tetap harus dihormati, karena patuh kepada suami adalah di atas segala-galanya. Efeknya jelas: tidak ada marak gugat cerai yang diajukan pihak istri melawan suami-suami mereka, melainkan kepatuhan kepada suami dan keharmonisan rumahtangga untuk mengawal dan membesarkan anak-anak.

Pada masa ketika Emansipasi Wanita belum menggejala, kaum perempuan tidak bebas, memang benar demikian. Kaum perempuan senantiasa tinggal di dalam rumah, dipingit, untuk menyelesaikan tugas domestik, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan yang terpenting adalah manut kepada ayah-bunda saat dipilihkan jodoh untuk menikahkan mereka. Mereka tidak boleh keluar rumah, mereka tidak boleh pacaran. Mereka tidak (boleh) menentukan dengan siapa mereka menikah. Mereka tidak mempunyai uang dan penghasilan sendiri. Mereka harus manut kepada suami apapun yang suami katakan. Mereka harus berbusana sesuai tuntutan agama dan tradisi. Mereka hanya boleh berkutat di dapur, sumur, tempat tidur, dan pupur.

Intinya, kaum perempuan terkungkung di dalam tembok rumah mereka sendiri, dan di dalam tembok rumah tersebut mereka disituasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik. Namun pada tempat yang sama, kehidupan tidak diracuni oleh …

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat,
  6. bangkai bayi di tempat sampah,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. kondomisasi,
  14. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  15. Pelacur prostitusi,
  16. Pengantin perempuan mengandung bayi di perutnya,
  17. Maha / siswi kehilangan kegadisan,
  18. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  19. Perempuan perebut suami orang,
  20. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  21. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, tidak pandai membesarkan anak dsb,
  22. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  23. anak-anak jadah,
  24. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  25. anak-anak brokenhome,
  26. single parent,
  27. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  28. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  29. kawin lari,
  30. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada angka kriminalitas, dsb.

Buah simalakama.

Emansipasi Wanita ber-efek pada daftar racun kehidupan yang dipaparkan di atas. Memang benar bahwa dengan Emansipasi Wanita, kaum perempuan menikmati kebebasan individual mereka, khususnya terhadap kaum pria, dominasi agama, dan kungkungan tradisi leluhur. Kaum perempuan bebas sebebas-bebasnya untuk berbuat apa saja yang mereka inginkan. Bahkan mereka bebas melaporkan suami kepada polisi kalau suami berani meninju wajah mereka, atau bahkan menceraikan suami kalau suami tidak sepaham dengan orientasi berfikir sang istri. Bahkan perempuan bebas untuk menikah atau tidak menikah. Bahkan perempuan bebas untuk menikah dengan pria beda agama, atau menikah dengan pria yang tidak direstui ayahbunda. Kaum perempuan bebas untuk mengenakan busana vulgar sevulgar apapun yang mereka inginkan. Bahkan perempuan bebas untuk pulang larut malam selarut apapun yang mereka inginkan. Bahkan lebih dari apapun, perempuan bebas untuk selingkuh dengan pria manapun yang mereka inginkan, orang lain tidak boleh ikut campur urusan pribadi, bahkan orang-tua pun harus bungkam saja, karena ini semua adalah kebebasan kaum perempuan di dalam frame Emansipasi Wanita.

Namun ingat, Emansipasi Wanita ber-efek pada racun kehidupan ini, dan itu sudah menjadi fakta. Justru, kebebasan kaum perempuan di dalam frame Emansipasi Wanita adalah daftar racun kehidupan itu sendiri.

Kebalikannya, kalau umat manusia ingin kehidupan ini tidak diracuni oleh daftar racun tersebut, maka tumpaslah Emansipasi Wanita, dan tumpaslah gelagat di mana perempuan diberi kebebasan untuk pemberdayaan (baik berupa akses pendidikan setinggi-tingginya, dan juga akses kepada pekerjaan, karir dan jabatan). Kalau umat ingin kehidupan ini murni, agung dan suci, maka satu-satunya solusi adalah tumpas Emansipasi Wanita.

Anti Emansipasi Wanita, memang pahit untuk kaum perempuan. Tradisi patriarkhat memang memberi kungkungan kepada kaum perempuan, sehingga perempuan lebih tepat dikatakan mahluk kelas dua di tengah masyarakat. Namun, begitu Emansipasi Wanita digelar di muka bumi (sehingga melawan tradisi patriarkhat), maka daftar racun kehidupan langsung pecah di mana-mana.

Singkat kata, apakah makna yang diberikan oleh Emansipasi Wanita? Maknanya adalah, bahwa Emansipasi Wanita memberi daftar racun kehidupan kepada seluruh umat manusia. Setiap kata Emansipasi Wanita disebutkan, setiap kata Emansipasi Wanita diperdengarkan, maka kata tersebut praktis terhubung dengan daftar racun kehidupan. Lain tidak. Tidak ada arti dan makna lain bagi Emansipasi Wanita, selain daftar racun kehidupan yang menyengsarakan seluruh umat.

Kata kuncinya adalah, tumpaslah Emansipasi Wanita sampai ke akar-akarnya. Ingatlah, sepanjang umur dunia ini, tidak ada satu pun ibu dan ayah, yang ingin anak-anak perempuan mereka hancur lebur di dalam perbuatan-perbuatan keji seperti yang termaktub di dalam daftar racun kehidupan. Tidak ada satu pun keluarga yang ingin kehilangan kesuciannya lantaran perempuan-nya bebas selingkuh nun jauh di sana. Emansipasi Wanita sedikit pun tidak memberi manfaat, melainkan hanya menumpahkan mudharat di seluruh kampung umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab.

Daftar Panjang Racun Yang Ditebar Emansipasi Wanita

daftarpanjang

Pada masa ketika Emansipasi Wanita belum menggejala, kaum perempuan tidak bebas, memang benar demikian. Kaum perempuan senantiasa tinggal di dalam rumah, dipingit, untuk menyelesaikan tugas domestik, mengasuh dan membesarkan anak-anak, dan yang terpenting adalah manut kepada ayah-bunda saat dipilihkan jodoh untuk menikahkan mereka. Mereka tidak boleh keluar rumah, mereka tidak boleh pacaran. Mereka tidak (boleh) menentukan dengan siapa mereka menikah. Mereka tidak mempunyai uang dan  penghasilan sendiri. Mereka harus manut kepada suami apapun yang suami katakan. Mereka harus berbusana sesuai tuntutan agama dan tradisi. Mereka hanya boleh berkutat di dapur, sumur, tempat tidur, dan pupur.

Intinya, kaum perempuan terkungkung di dalam tembok rumah mereka sendiri, dan di dalam tembok rumah tersebut mereka disituasikan untuk menyelesaikan tugas-tugas domestik. Namun pada tempat yang sama, kehidupan di muka bumi tidak diracuni oleh …

Daftar Racun Yang Ditebar Emansipasi Wanita ……

  1. freesex,
  2. marak perceraian,
  3. kumpulkebo,
  4. selingkuh,
  5. pamer aurat, eksebisionisme, ahlul tabarruj, pesolek,
  6. bangkai bayi di tempat sampah, bayi merah di tinggal di terminal bus,
  7. aborsi,
  8. istri-istri yang melawan dan keras tengkuk kepada suami,
  9. suami-suami takut istri, dominator terhadap suami,
  10. khalwat,
  11. pacaran,
  12. pacaran yang berujung zina,
  13. perawan tua,
  14. kondomisasi,
  15. (industri) pornografi (termasuk striptis – tarian telanjang),
  16. Pelacur prostitusi,
  17. Pengantin perempuan yang mengandung bayi di dalam perutnya,
  18. Banyak maha/siswi yang melepaskan kegadisan mereka kepada pacar.
  19. Perempuan pembangkang agama, pembangkang tradisi leluhur,
  20. Perempuan perebut suami orang,
  21. Perempuan-perempuan genit, ganjen, centil,
  22. Perempuan-perempuan yang tidak pandai masak, tidak pandai menjahit, dsb,
  23. Perempuan yang berani galak dan garang terhadap laki-laki, nantangin laki-laki, namun kalau laki-laki tersebut meladeni untuk kekerasan, sang perem-puan malah panggil sekuriti atau pihak berwajib untuk menghadapi laki-laki tersebut,
  24. Istri korban KDRT suami, lantaran istri selalu melawan dan keras tengkuk terhadap suami, nantangin suami,
  25. Perempuan yang nekat menikah beda agama,
  26. anak-anak jadah,
  27. anak-anak yang ditinggal kerja oleh ibu mereka,
  28. anak-anak brokenhome,
  29. single parent,
  30. perempuan yang pantang menikah (lagi), karena egoisme, trauma, arogan, tidak butuh laki-laki karena sudah punya nafkah sendiri,
  31. marak profesi pembantu rumahtangga dan babyisitter,
  32. perempuan anti kepada tugas dapur dan tugas mengurus cirit anak, anti tugas domestik,
  33. meluasnya prevalensi penyakit kelamin,
  34. kawin lari,
  35. terciptanya masyarakat mesum, masyarakat cabul, masyarakat yang menganggap remeh kasus zina, zina dianggap sudah biasa dan lumrah,
  36. pengangguran di kalangan pria, yang berefek pada tingginya angka kriminalitas, baik secara kuantitatif mau pun kualitatif. Point ini akan menurunkan daftar tersendiri yang lebih panjang lagi mengenai jenis kriminalitas, lantaran laki-laki (terpaksa) menjadi pengangguran, karena lapangan pekerjaan diserobot perempuan.
  37. Dsb. Dan ini pasti akan bertambah panjang lagi di kemudian hari.

Namun kebalikannya, ketika Emansipasi Wanita beranak-pinak di setiap pemerin-tahan dan sistem sosial, maka seluruh kehancuran tersebut akan merebak di mana-mana. Dengan kata lain, Emansipasi Wanita mempunyai “daftar ikutan” kemana pun Emansipasi Wanita tersebut pergi.

Semua orang dengan entengnya berfikir, bahwa huruhara dan semua racun kehidupan tersebut tetap akan terjadi pada masyarakat yang tidak mengembangkan Emansipasi Wanita. Dengan kata lain, Emansipasi Wanita tidak ada hubungannya dengan mewabahnya huruhara dan racun kehidupan. Publik berfirasat, bahwa ada atau tidak ada Emansipasi Wanita tidak memberi pengaruh atas terjadinya berbagai huruhara tersebut.

Benarkah demikian?

Pada masa ketika Emansipasi Wanita tidak dikenal suatu masyarakat dan peradaban, publik kala itu tidak mengenal fenomena perempuan yang berani pulang larut malam. Pun publik tidak mengenal istilah pacaran, apalagi profesi pembantu dan babysitter. Kala itu publik tidak mengenal istilah single parent, dan tidak pernah mengenal istilah perempuan nekat nikah beda agama. Utamanya lagi, apakah pada masa pra Emansipasi Wanita, banyak kaum perempuan yang gemar berbusana vulgar dan liberal seperti pada masa industri sekarang ini? Intinya, seluruh perempuan pada masa pra Emansipasi Wanita manut dan setia kepada tugas domestik, dan mereka semua anti pacaran, apalagi berzina dengan kekasih-kekasih pria. Tidak ada perempuan yang terlibat pada  gejala khalwat yang jelas-jelas keji, karena khalwat adalah perbuatan yang menjijikkan dan paling terlarang di dalam agama. Jelas sekali, bahwa pra Emansipasi Wanita sama sekali tidak berparalel dengan seluruh huruhara dan racun kehidupan seperti yang dimaksud di atas.

Oleh karena itu, jelas sekali bahwa pada masa pra-Emansipasi Wanita, umat menjalani kehidupan yang suci dan murni, dan keseluruhan tersebut berasal dari kaum perempuan-nya yang menjalani kehidupan nan suci dan murni. Terkenang Alhadis Nabi Muhammad Saw, bahwa “perempuan adalah tiang bangsa; kalau perempuan nya baik, maka baiklah suatu bangsa. Dan kalau rusak kaum perempuan nya, maka runtuhlah bangsa tersebut”.

Baik dan tegaknya suatu bangsa, bukan karena kehebatan para pejabatnya, mau pun melimpah pajaknya, melainkan karena murni dan sucinya kaum perempuan, disebabkan mereka menjalani kehidupan yang suci dan murni pula, yaitu Domestikalisasi Perempuan, yaitu perumahkan perempuan, antitesis dari Emansipasi Wanita. Domestikalisasi Perempuan memberi kaum perempuan jalan kehidupan yang suci dan murni, dan pada akhirnya memberi umat jalan Tuhan yang luhur dan Illahiah. Kebalikannya, Emansipasi Wanita memberi kaum perempuan kehidupan yang sial, bejat, mesum dan keras tengkuk untuk melawan agama, kitabsuci, orang-tua, tradisi leluhur, suami, hukum alam, fitrah dan melawan naluri keperempuanan mereka sendiri.

Penutup.

Dengan Domestikalisasi Perempuan, maka MUSTAHIL seluruh huruhara dan racun kehidupan seperti yang dipaparkan di atas muncul dan menggejala di dalam kehidupan ini. Dan kebalikannya, seluruh racun kehidupan tersebut hanyalah efek lurus dari Emansipasi Wanita. Di lain pihak, Illahi, melalui Rasul-Nya dan kitabsuci-Nya, tidak memberi pilihan lain kepada umat, KECUALI tumpas habis Emansipasi Wanita, dan tegakkan kembali Domestikalisasi Perempuan, tegakkan kembali tradisi patriarkhat yang agung, karena hanya dengan demikianlah, seluruh huruhara dan racun kehidupan jauh terpendam di dalam tanah, jauh dari perkampungan umat manusia.

Wallahu a’lam bishawab.

Sang Hompimpah Ngotot Jadi Penguasa

ruu-kkg08

Perkenalkan, namanya Hompimpah, seorang perempuan dan Muslimah yang senantiasa berjilbab. Dia bukan individu sembarangan, karena dia adalah seorang terkemuka dari kampungnya, menjabat berbagai posisi penting di kerajaannya. Dia lulusan Universitas ternama, dan juga salah satu penggerak dari ormas yang bergengsi di kerajaannya. Jadi, jelas dia bukan individu sembarangan.

Di dalam alam Emansipasi Wanita, Hompimpah menikmati kebebasan dan keleluasaan untuk berkarir dan mencari uang. Dan terakhir yang membuat artikel ini diturunkan adalah, ia leluasa ingin mengejar posisi penguasa.

Ia adalah seorang Muslim, seorang Muslimah yang latar belakangnya adalah aktivis keagamaan, dapatlah dikatakan ia seorang juru dakwah, karena ia bergabung pada ormas yang bergengsi dan berpengaruh di kerajaan. Pun ia berjilbab, yang keseluruhannya menanda-kan bahwa ia benar-benar faham ajaran Islam, faham syariah dan fiqih Islam. Tentunya ia hafal di luar kepala nash-nash Alquran dan juga Alhadis Nabi Muhammad Saw, khususnya mengenai keperempuanan.

Alhadis menyatakan, bahwa “tidak akan beruntung sebuah negeri jika diperintah seorang perempuan”. Di bagian lain Allah Swt bertitah bahwa “laki-laki adalah pemimpin perempuan”, yang mana kedua nash tersebut bermakna bahwa Islam melarang kaum perempuan untuk menjadi pemimpin atas laki-laki. Ada lagi titah Alquran, bahwa “Allah Swt mengunggulkan laki-laki di atas perempuan”, yang mana itu berarti bahwa kaum perempuan harus faham bahwa derajat kaum perempuan (harus) berada di bawah laki-laki. Tidak kurang, surah Al-Ahzab 33 bertitah bahwa “kaum perempuan hendaknya senantiasa tinggal dan diam di dalam rumahnya”, alias di rumah saja jangan kemana-mana, karena tugas dan kodratnya adalah domestik, supaya menyelesaikan tugas domestiknya, dan juga supaya merawat dan menjaga anak-anaknya. Di dalam surah Ali Imran, Illahi swt bertitah bahwa tidaklah sama antara bayi laki-laki dan bayi perempuan, yang mana itu menandakan bahwa laki-laki dan perempuan selamanya berbeda, bahkan sejak bayinya.

Lain pihak, tercatat Hompimpah pernah mengikuti sayembara untuk men-jadi penguasa negeri, sebanyak beberapa kali. Namun ia kalah bersaing. Dan sekarang, Hompimpah masih penasaran untuk menjadi penguasa negeri, dan oleh karena itu ia kembali maju untuk ikut sayembara untuk menjadi penguasa. Hal ini menunjukkan betapa Hompimpah sangat bernafsu dan sangat ngotot untuk menjadi penguasa negeri, tidak perduli apapun tidak perduli apa kata syariah, tidak perduli apa kata Islam.

Di satu pihak Hompimpah faham bahwa agamanya melarang perempuan untuk bekerja mencari nafkah, terlebih melarang perempuan untuk menjadi pemimpin, karena sudah ada Alhadis yang dengan tegas menyatakan larangan tersebut. Namun di pihak lain, tampaknya Hompimpah tidak perduli dan tidak mau menanggapi ajaran Rasul-nya mengenai pelarangan perempuan untuk menjadi pemimpin. Faktanya ia terus berkutat di sektor publik, bukannya domestik, yang dengan demikian ia mencampakkan seluruh tugas domestiknya, sehingga ia tidak lagi hidup sebagaimana layaknya kaum perempuan pada masa leluhurnya. Dan faktanya, kini Hompimpah terus merangsek untuk ngotot menjadi penguasa negeri, bahkan ikut sayembara untuk yang kesekian kalinya.

Hompimpah secara visual memang berjilbab, tampak sebagai individu yang salehah dan mafhum. Namun sungguh, di balik semua itu, ia adalah seorang pembangkang, seorang pemberontak terhadap Alquran dan Alhadis. Banyak ayat Alquran dan Alhadis yang bersarang di dalam kepalanya, jelas tidak mempunyai pengaruh apapun bagi psikologinya, karena seluruh ayat dan Alhadis tersebut sudah terdongkel oleh kesesatannya lantaran ia MENDAPAT PEMBERDAYAAN, baik secara intelektual (yaitu pendidikan hingga setinggi-tingginya), mau pun secara finansial (yaitu memperoleh pekerjaan yang menghasilkan uang dan materi).

Kalau Hompimpah seorang Muslim yang baik dan penuh keinsafan, maka tentunya kejadiannya tidak akan menjadi demikian. Kalau ia saleh dan insaf, maka tentunya ia tidak berminat menjadi pemimpin publik, karena yang terpenting baginya adalah membesarkan anak-anaknya di rumah. Ia akan memilih menjadi Bunda Rumahtangga biasa, karena tugas tersebut begitu mulia, yaitu untuk merawat dan menjaga anak-anak tumbuh besar, dan dengan terus diam di rumah, maka terbebaslah ia dari berbagai fitnah kota, sementara nafkahnya pun juga sudah dijamin oleh keluarganya.

Tidak ada yang lebih penting bagi seorang perempuan yang saleh dan insaf, kecuali menjadi Bunda Rumahtangga seumur hidupnya, untuk terus menjaga dan membesarkan anak-anaknya, dan supaya ia dapat menjaga tubuhnya dari fitnah dunia, dan menjaga auratnya supaya tetap suci. Jelas itu adalah ajaran agamanya, dan pesan Rasul saw.

Kalau ada seorang perempuan yang tidak menganggap mahapenting akan tugasnya untuk membesarkan anak-anaknya dengan menjadi Bunda Rumahtangga, untuk senantiasa tinggal di rumahnya supaya terbebas dari fitnah dunia, maka jelas bahwa ia bukanlah perempuan yang saleh dan insaf, melainkan perempuan keji dan bengal dunia akhirat laknatullah! Dan bagaimana menyatakan hal ini kepada Hompimpah, yang sudah benar-benar bengal dan keras kepala? Sudah jelas Alqurannya, sudah jelas Alhadisnya, sudah jelas sunnah Rasul-nya,  sudah jelas akibat negatif dan fitnah kejinya, namun Hompimpah tetap ngotot untuk menjadi penguasa negeri. Ayat Alquran yang mana lagi yang ingin dia dengar? Alhadis mana lagi yang akan dia taati?

Pertama, Islam saja mempunyai syariah, di mana perempuan tidak boleh menjadi Imam shalat atas kaum pria, melainkan perempuan hanya boleh menjadi Imam atas sesama perempuan, itu pun kalau memang tidak ada seorang lelaki yang dapat didapuk menjadi Imam. Dari sini saja sudah jelas, bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin dan penguasa publik, karena kalau lingkup terkecil saja tidak bisa, maka apalagi di dalam lingkup yang lebih besar? Namun bagaimana menyatakan hal ini kepada Hompim-pah yang sudah begitu ngotot untuk menjadi penguasa –sambil terus menabrak Alquran Hadist dan logika?

Kedua, menjadi pemimpin dan penguasa bukanlah perkara sembarangan, dibutuhkan keunggulan fisik, akal yang sempurna, psikologi dan mental. Semua insan faham bahwa kaum perempuan adalah mahluk lemah, baik  fisik, akal, psikologi dan juga mental. Lantas apa yang harus dijelaskan kepada Hompimpah bahwa dirinya tidak berhak dan tidak mempunyai kriteria untuk menjadi penguasa, sementara akal sempurna saja dia tidak mempunyai-nya? Fisiknya lemah, mentalnya lemah, akalnya lemah. Namun kengototannya begitu luar biasa, sampai-sampai ia ingin ikut pemilihan untuk yang ketiga kalinya.

Ketiga, Islam yang adalah agamanya, mengajarkan bahwa perempuan adalah aurat, yang mana itu berarti bahwa dirinya tidak layak untuk berada di muka umum sehingga dipandangi publik yang terdapat begitu banyak pria dewasa. Dengan menjadi penguasa, maka Hompimpah akan berada di muka publik sehingga seluruh tubuhnya akan dipandangi kaum pria terus menerus. Apakah hal tersebut tidak mendatangkan dosa baginya kelak di akhirat? Hompimpah faham agama, Hompimpah faham aurat perempuan, namun kengototannya untuk menjadi penguasa telah mematikan akal-nya, itu pun kalau memang Hompimpah mempunyai akal yang sempurna.

Keempat, tidak didapati pada kisah para Nabi, termasuk kisah Nabi Muhammad Saw, seorang perempuan yang menjadi pemimpin. Ratu Balqis saja berhenti sebagai penguasa begitu ia menjadi istri Nabi Sulaiman as. Siti Hadija saja berhenti sebagai perempuan karir begitu ia menikah dengan Nabi Muhammad Saw. Namun sungguh pun demikian, apa yang harus disampaikan kepada Hompimpah sementara dirinya sudah begitu ngotot untuk menjadi pemimpin atas nama keislamannya? Bahwa Islam sedikit pun tidak pernah mengajarkan bahwa perempuan boleh menjadi pemim-pin, karena justru Islam mengajarkan bahwa petaka akan jatuh kepada negeri yang dipimpin perempuan. Apakah hal tersebut masih belum jelas bagi Hompimpah?

Kelima, syariah saja mengajarkan, bahwa jumlah hewan aqiqah untuk anak laki dan perempuan adalah berbeda. Syariah mengajarkan bahwa jumlah kain kafan untuk jenazah laki dan perempuan adalah berbeda. Syariah mengajarkan bahwa kenajisan air kencing bayi laki dan perempuan berbeda. Syariah mengajarkan bahwa puasa Ramadhan antara laki dan perempuan berbeda. Syariah mengajarkan bahwa nikahnya laki dan perempuan berbeda, perempuan harus menyertai wali, sementara laki-laki tidak. Syariah mengajarkan bahwa nilai kesaksian laki-laki dan perempuan berbeda. Syariah mengajarkan bahwa batas-batas aurat antara laki dan perempuan berbeda. Sampai di sini terlihat bahwa Islam tidak mengajar-kan kesetaraan antara pria dan perempuan, namun bagaimana cara menyatakannya kepada Hompimpah yang sudah begitu ngotot ingin menjadi penguasa negeri atas nama Emansipasi Wanita yang Alquran dan Alhadis sedikit pun tidak mengajarkannya?

Keenam, Islam saja mempunyai Hadist, bahwa “Shalat seorang wanita di rumahnya lebih utama baginya daripada shalatnya di pintu-pintu rumahnya, dan shalat seorang wanita di ruang kecil khusus untuknya lebih utama baginya daripada di bagian lain di rumahnya” (HR. Abu Dawud 570) ….., yang mana makna Alhadist ini adalah, jika untuk urusan shalat saja kaum perempuan lebih baik di rumah, maka apalagi untuk urusan yang bukan shalat? Bukankah ini berarti semua perempuan hendaknya senantiasa tinggal di rumahnya, bukannya keluar rumah? Namun bagaimana cara meyakinkan Hompimpah mengenai Alhadist ini, sementara yang bersangkutan saja sudah begitu ngotot untuk menjadi penguasa di luar rumah???

-o0o-

Itulah betapa hebatnya pembangkangan kaum perempuan terhadap ajaran Illahi dan nash-nash Alquran mau pun Alhadis. Itulah hebatnya sang Hompimpah membangkangi kodratnya sebagai perempuan, sebagai ibu terhadap anak-anaknya, dan sebagai hamba yang bertuhan kepada Illahi swt dan berkitab kepada Alquran dan Alhadis. Itulah hebatnya kaum perempuan kalau SUDAH DIBERDAYAKAN setinggi-tingginya, sehingga berakibat begitu entengnya dia menentang seluruh nash Alquran dan Alhadis. Itulah buah manis dari Emansipasi Wanita laknatullah!!!

Apakah yang ingin ditunjukkan Hompimpah dengan kengototannya untuk menjadi penguasa? Apakah ia ingin menunjukkan bahwa Islam mengajar-kan kesetaraan antara laki dan perempuan? Well, Islam tidak pernah mengajarkan hal demikian. Apakah Hompimpah ingin menunjukkan bahwa dirinya faham Islam dan syariah? Tidak. Apakah Hompimpah ingin menunjukkan bahwa Islam itu fleksibel? Tidak. Apakah Hompimpah ingin menunjukkan bahwa kaum perempuan harus terbebas dari bayang-bayang kaum pria? Tidak. Intinya, Hompimpah TIDAK maju ke sayembara pemilihan penguasa sebagai (intelektual) Muslim, MELAINKAN sebagai kafirin yang berbuat sesuka hati, atas nama kezaliman dan pembang-kangan. Neraka menunggu.

Nb.

Kalau Hompimpah sejak kecil TIDAK DIBERDAYAKAN dalam bentuk apapun, tentunya jalan hidupnya tidak akan seperti sekarang ini, melainkan akan kukuh menjadi Muslimah yang santun, penuh rahmah, dan menjadi Bunda Rumahtangga yang sederhana, yang memaha-pentingkan tugas membesarkan dan merawat anak-anak dan turunannya, dan senan-tiasa tinggal di rumah untuk membebaskan dirinya dari fitnah dunia, dan untuk memelihara auratnya agar senantiasa suci.

Wallahu a’lam bishawab.

Pemberdayaan Perempuan Dan Analogi Ayam

analogi-ayam

Analogi ayam.

Kisah kehidupan ayam tentu menarik untuk diungkap. Seekor ayam yang berada di tali ikatannya, tentu meronta-ronta untuk minta keluar, khususnya di siang hari. Di lain pihak, sang manusia ingin agar ayam tetap berada dalam tali ikatannya, sebagai hewan kesayangan bagi anak dan keluarganya. Satu hal yang patut diingat, bahwa walau pun sang manusia ingin ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh kebutuhan makan, minum dan keamanan sang ayam tetap terjamin, karena hal tersebut merupakan kewajiban sang manusia. Jadi, walau pun ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh sang ayam akan tetap hidup layak dan makmur …., sementara di luar sana, bukankah banyak  terdapat buaya dan srigala?

Apa pilihannya kalau sang manusia bersedia mengeluarkan ayam dari tali ikatan? Pertama, sekali ayam keluar bebas dari tali ikatan, maka untuk selamanya sang ayam tidak akan bersedia untuk kembali masuk ke dalam tali ikatannya. Kedua, di luar sana, banyak buaya, banyak srigala, dan juga banyak pencuri. Jadi, kalau ayam dilepas dari tali ikatannya, maka apakah ada jaminan bahwa sang ayam akan kembali kepada tali ikatannya ketika sore hari? Tentu saja tidak. Itu pun, di luar sana, sang ayam pasti sudah binasa diterkam buaya maupun srigala, terlebih para pencuri sudah siap untuk mencuri sang ayam. Keseluruhan hal tersebut tentu tidak diinginkan oleh sang manusia, dan sang ayam itu sendiri.

Taruh kata sang ayam selamat karena tidak diterkam siapa pun, dan juga tidak dicuri siapa pun. Namun kemudian, apakah sang ayam akan sudi kembali kepada tali ikatannya di kediaman sang manusia? Nonsense! Tidak pernah ada ayam yang sudi pulang ke pautan.

Namun yang jadi pertanyaan adalah, mengapa sang ayam sangat ingin ter-bebas dari tali ikatan? Bukankah makan dan minum, plus keamanan, sudah terjamin di kediaman sang manusia? Apakah hal tersebut masih kurang buat sang ayam? Kalau pun sang ayam ingin terbebas dari tali ikatan, maka bukan-kah yang ingin dicari di dalam kebebasannya adalah makan dan minum juga? Lantas apa bedanya saat sang ayam tetap berada pada tali ikatannya? Buat apa jauh-jauh mengelana hanya untuk mencari makan dan minum, sementara makan dan minum enak sudah terjamin di kediaman manusia?

Begitulah kisah sang ayam.

Pemberdayaan Perempuan.

Perempuan adalah spesies yang hidup berdasar kodrat domestik. Dengan kodrat ini, perempuan dikondisikan untuk senantiasa berada di rumahnya, untuk menyelesaikan tugas domestiknya seperti memasak, mencuci baju, member-sihkan rumah, dan mengasuhi serta mengasihi anak-anak. Dengan menunaikan seluruh tugas tersebut, maka dengan sendirinya sang perempuan terjaga kesucian dan kemurnian fikiran dan dirinya, sebagai perempuan, istri dan sebagai ibu. Penting untuk ditegaskan, bahwa tidak ada yang lebih besar di dalam kehidupan ini kecuali kemurnian dan kesucian seorang perempuan.

Namun dari suatu arah, Emansipasi Wanita menggejala di tengah umat. Kaum perempuan mulai kehilangan orientasi, dan berkeinginan kuat untuk keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, baik di dalam hal akses pendidikan maupun akses pekerjaan mencari uang, karir dan jabatan.

Pada awalnya perempuan menuntut akses pendidikan, pendidikan yang setinggi-tingginya. Perempuan-perempuan senior melantangkan hak remaja perempuan untuk bersekolah, yang mana itu artinya perempuan senior menuntut seluruh keluarga untuk mengkondisikan anak perempuan keluar rumah, keluar dari kodrat domestik, setiap hari. Mengirim anak-anak perempuan ke sekolah diperlihatkan sebagai hak asasi manusia yang tidak boleh dilanggar, sehingga melarang anak perempuan menuntut Ilmu dapat dianggap kejahatan modern.

Setelah anak perempuan menamatkan sekolah, apa yang mereka inginkan? Bekerja: mencari uang, karir dan jabatan. Dan itu artinya perempuan akan semakin jauh dari alam domestik. Adalah tidak mungkin ketika perempuan menamatkan pendidikan, mereka semakin tersadarkan pada kodrat domestik. Tidak pernah ada data statistik dan pengalaman yang menunjukkan bahwa ketinggian Ilmu yang didapat perempuan di sekolah, membuat mereka semakin menyadari kodrat domestik dan kodrat kewanitaan mereka.

Begitu perempuan keluar rumah (secara permanen, setiap hari) untuk mendapatkan pemberdayaan, maka apakah ada jaminan bahwa perempuan akan kembali kepada tugas dan kodrat domestik mereka? Tidak. Sekali perempuan mendapatkan pemberdayaan (di luar rumah), maka selamanya perempuan tidak akan pernah sudi lagi untuk menggeluti dan menepati kodrat domestik yang sebenarnya merupakan takdir mereka. Dengan diberdayakan, maka perempuan akan sulit memahami tugas memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, mengasuhi dan mengasihi anak, dsb.

Semakin mereka berintelektual dan diberdayakan, maka semakin mereka mempunyai posisi untuk menolak alam domestik, sehingga yang mereka inginkan hanya keluar rumah setiap hari untuk …..

  • Bekerja mencari uang,
  • Karir dan jabatan,
  • Memimpin rapat di kantor,
  • Mengepalai pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Membuat peraturan perusahaan,
  • Membayar gaji karyawan,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia …..,

…….. kemudian mereka makan malam, lantas tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan-besar yang harus selalu dilayani (bukan yang melayani keluarga!!).

Para wanita yang diberdayakan yang kemudian dinamakan kaum sophis, sudah tidak ingin tahu-menahu soal …..

  • Dapur,
  • Mengupas dan mengiris bawang,
  • Mencuci baju,
  • Mengurus cirit sang anak,
  • Merawat dan membesarkan anak,
  • Merapikan rumah dan tempat tidur,
  • Menjahit baju,
  • Mencuci piring, dsb.

…….. karena mereka berfikir bahwa mereka adalah (setara dengan) kaum pria, yang seluruh fikiran dan tenaganya sudah habis terkuras di kantor untuk membangun bangsa dan mencari uang. Karena mereka terus dikondisikan untuk keluar rumah, yang betujuan untuk pemberdayaan, maka akhirnya mereka berfikir bahwa tidak semestinya mereka masih berkutat pada pekerjaan domestik!! Artinya, untuk selamanya perempuan tidak akan pernah kembali kepada alam domestik: itulah kalau perempuan diijinkan untuk keluar dari alam domestik.

Kehancuran umat dewasa ini, dekadensi moral umat dewasa ini, total tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya program pendidikan formal untuk anak-anak perempuan. Di satu ujung Pemerintah dan umat mulai mengembangkan program pendidikan formal untuk anak perempuan, maka di ujung lain kehancuran umat dan kebengalan wanita telah tercipta. Ketika umat menerangkan visi-visi mensertakan perempuan dalam program pendidikan di dalam suatu gedung, maka di luar gedung itu telah marak terjadi:

•    Pelacuran.
o    Perzinaan.
o    Halalisasi perzinaan.
o    Pornografi.
o    Aborsi.
o    Freesex.
o    Striptis.
o    Eksebisionisme (wanita pamer aurat).
o    Pemerkosaan.
o    Perselingkuhan.
o    Khalwat.
o    Pacaran.
o    Bergonta-ganti pacar.
o    Mayat bayi di tempat sampah.
o    Hamil di luar nikah.
o    Kondomisasi.
o    Kumpul kebo.
o    Perawan tua.
o    Bujang lapuk
o    Hidup membujang (perjaka tua, perawan tua, menjanda, menduda).
o    Genitisasi / Ganjenisasi.
o    Perceraian pasangan muda.
o    Sutari (Suami Takut Istri).
o    Marak profesi pembantu rumah tangga.
o    Marak profesi babysitter.
o    Marak profesi PSK
o    Pengangguran di kalangan pria yg berimbas pada kriminalitas. Dsb.

Tidak diragukan lagi, bahwa adalah berbahaya untuk mengijinkan atau mengkondisikan perempuan keluar rumah setiap hari secara permanen, untuk tujuan pembedayaan, semisal meraih pendidikan …. karena sekali mereka keluar rumah, maka untuk selamanya mereka tidak akan kembali ke rumah untuk mentaati kodrat domestik, untuk selama-lamanya. Sekali mereka keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, maka untuk selamanya mereka akan membenci Alam domestik, dan membenci kodrat domestik yang telah Tuhan tetapkan atas mereka.

Penutup.

Di satu pihak, kita melihat bahwa melepaskan ayam dari tali ikatan –tidak memberi jaminan bahwa di sore hari ayam akan kembali kepada tali ikatannya. Dan di lain pihak, memberi ijin perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan (seperti bersekolah atau bekerja mencari uang dan jabatan) tidak memberi kemungkinan bahwa perempuan tersebut akan kembali kepada kodrat domestik mereka, bahkan lebih buruk lagi, perempuan akan menjadi begitu membenci dan menghujat kodrat domestik.

Belum selesai sampai di situ. Ayam yang tidak pernah kembali kepada tali ikatan, pun akan menghadapi marabahaya buaya maupun serigala, belum lagi bahaya dicuri penjahat. Begitu juga, perempuan yang tidak pernah kembali kepada alam domestik, di luar rumah pun dijejali fitnah kehidupan seperti perzinahan, pamer aurat, pemerkosaan, gonta-ganti pacar, aborsi, dsb. Dan ungkapan ini adalah fakta kehidupan, bukan fatamorgana.

Akhir kata, semua bencana dan marabahaya ini harus ditumpas. Satu-satunya cara adalah dengan menumpas faham Emansipasi Wanita, dan mengukuhkan perempuan atas takdir domestik. Di sanalah letak maslahat untuk perempuan itu sendiri, dan juga maslahat seluruh umat. Wallahu a’lam bishawab.

Menimbang Antara Emansipasi Perempuan Dan Domestikalisasi Wanita

diantara-2-pilihan

Suara kontra dari seorang perempuan terhadap Domestikalisasi Wanita (DW),

“Kalau kita tinggal di negara yang menjunjung tinggi Islam mungkin prinsip ini (bahwa wanita dilarang bekerja, bahwa perempuan harus senantiasa tinggal di rumah untuk menjalankan peran domestik mereka) bisa diterapkan: haram wanita bekerja. Namun di Indonesia ini tengoklah saja, tidak ada kepedulian sosial, tidak ada janda yang disantuni negara.

Maaf, sekarang ini juga banyak suami yang tidak bertanggung jawab yang meninggalkan anak dan istrinya (cerai dan tidak pernah menafkahi sama sekali), sedangkan si ibu harus berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya. Negara Indonesia tidak menyediakan baitul-mal seperti yang saudara kemukakan.

Minta disantuni saudara kandungnya, tidak ada yang peduli. Minta bantuan ayahnya, ayahnya sudah meninggal. Mau menikah lagi, sulit menemukan lelaki bertanggung jawab, justru jangan-jangan malah cerai lagi. Alhasil apakah dia (si ibu) ini akan diam saja di dalam rumah membiarkan anak-anaknya yang masih kecil kelaparan, sedangkan kebutuhan dasar harus terpenuhi, belum kebutuhan sekolah, kebutuhan perkembangan anak, dll. Sudah tidak ada yang peduli kepada wanita ini.

Lebih haram mana? Diam saja di rumah menanti pinangan lelaki Muslim padahal anaknya kelaparan, atau berusaha mencari penghidupan demi kelangsungan anak-anaknya?”.

Penjelasan Annisanation,

Terima kasih atas peran-serta Sdri di dalam diskusi ini.

Ijinkan saya mengajukan beberapa hal untuk menjelaskan permasalahan ini.

Pertama.

“Perempuan-dilarang-bekerja” merupakan ajaran Islam, merupakan hukum Islam; kehendak Tuhan. Jadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. Semua kesalahan, semua kendala, semua rintangan yang timbul sehingga tidak dapat mengaplikasikan hukum Islam, justru dikarenakan umat melanggar hukum Islam itu sendiri. Kalau sejak awal umat Muslim mengamalkan hukum Islam, maka dipastikan seluruh kendala tidak pernah timbul pula.

Jadi di dalam hal ini, kalau sejak awal seluruh umat menunaikan pelarangan perempuan bekerja, maka masalah seperti suami yang tidak bekerja, suami yang tidak bertanggungjawab, ditinggal mati suami sementara anak masih kecil, dsb, tidak akan pernah menjadi masalah, karena umat sudah mempunyai solusinya yang syarii pula.

Kedua.

Sebenarnya sama saja, yaitu bahwa:

A — kalau perempuan tidak (boleh) bekerja, maka beberapa masalah akan timbul, yaitu seperti suami yang tidak bertanggungjawab, atau suami wafat, atau menikah lagi namun ternyata kembali mendapat suami yang tidak bertanggungjawab. Dan banyak masalah lainnya.

B — kalau perempuan boleh bekerja, maka masalahnya adalah, pertama dilarang di dalam Islam. Kedua, akan banyak terjadi selingkuh. Ketiga, anak-anak jadi terlantar. Keempat, menimbulkan pengangguran di kalangan laki-laki. Dsb.

Sekarang kita pilih mana? A atau B?

Tentunya kita pilih yang merupakan ajaran Islam (point A), yaitu bahwa perempuan tidak boleh bekerja, alias perempuan harus di rumah saja –kendati pilihan ini akan menimbulkan masalah seperti suami yang tidak bertanggungjawab, suami yang hilang di dalam tugas, dsb. Dan ingatlah, ajaran Islam itu mencakup seluruh kebutuhan iman dan jiwa manusia. Perempuan di rumah itu (yaitu perempuan yang tidak bekerja) sudah sesuai fitrah, sesuai kodrat, dan sesuai hukum alam. Dan suami mana, laki-laki mana, yang tidak senang dan tidak tenang kalau istri mereka tetap di rumah merawat anak-anak?

Dan anak-anak mana yang tidak bahagia kalau ibu mereka senantiasa ada di rumah bersama melewatkan hari-hari bahagia? Apakah ada anak-anak yang senang kalau ibu mereka tidak pernah berada di rumah, kalau ibu mereka selalu bekerja sehingga tidak pernah punya waktu untuk anak-anak?

Sementara itu, bencana yang ditimbulkan dari perempuan bekerja, jauh lebih dahsyat, seperti perzinahan, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, kumpulkebo, marak perceraian, khalwat, pornografi, pamer aurat, dsb. Hal tersebut jauh lebih dahsyat ketimbang melihat kasus ada istri yang bersuami laki-laki yang tidak bertanggungjawab, atau suami yang gemar berbuat KDRT, atau seorang istri yang ditinggal mati suami, dsb.

Biarlah seorang istri berkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, namun bukankah istri dan anak-anaknya tetap di dalam keadaan suci? Apakah kita lebih pilih istri dibiarkan bekerja namun ternyata di luar istri menjadi mainan para lelaki di tempat kerja?

Sebenarnya kalau mau jujur, apa yang anda tulis / paparkan itu, terkesan sangat mendramatisir. Apakah mungkin ada kejadian, di mana istri yang suaminya wafat atau tidak bertanggungjawab, tidak mendapat penghidupan yang layak dari kerabat sekitar? Apakah mungkin ada manusia dan kerabatnya yang sekejam itu, membiarkan saudara dan anak-anak mereka kelaparan? Bagaimana dengan mertua, bagaimana dengan keluarga dari pihak suami, apakah mereka akan membiarkan menantu dan ipar mereka kelaparan? Dan apakah keluarga mertua akan membiarkan cucu mereka yang masih kecil mati kelaparan?

Ketiga.

Istri yang mempunyai suami yang tidak bertanggungjawab, tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perempuan bekerja. Ingatlah, hanya sedikit kasusnya di mana seorang istri hidup menderita karena suami yang tidak bertanggungjawab. Justru kebalikannya, terdapat angka yang tinggi sekali di mana para istri bekerja, padahal sebenarnya suaminya adalah kayaraya, ayah mereka kayaraya, bahkan para istri tersebut pun juga kaya, karena berasal dari keluarga yang kayaraya. Lantas buat apa masih memilih / mendukung / menjadi perempuan-bekerja juga? Bukankah ini namanya curang? Bukankah ini namanya hanya mecari-cari alasan?

Di tengah fakta begitu banyaknya perempuan-bekerja yang ayah, suami maupun keluarga mereka kayaraya, mengapa anda / kita masih juga menyinggung-nyinggung nasib perempuan / istri yang yang tidak bekerja dan kemudian ditinggal suami dsb? Bukankah kasus tersebut hanya segelintir saja di tengah kehidupan? Dan bukankah kita harus membandingkannya dengan tingginya angka zina, angka aborsi, angka khalwat, angka pengangguran di kalangan laki-laki, angka bangkai bayi di tempat sampah, dsb, yang jelas-jelas diakibatkan oleh perempuan-bekerja?

Keempat.

Tidak tahukah kita berapa angka perzinahan di tengah masyarakat kita, khususnya di kalangan remaja? Tidak tahukah kita bahwa tindak zina sudah menjadi lumrah dan sudah menjadi gaya hidup pada jaman sekarang ini? Apakah hal tersebut sama sekali tidak menjadi keprihatinan kita semua?

Di kantor-kantor fenomena perselingkuhan sudah menjadi biasa, di mana karyawan / pegawai yang perempuan, yang sudah bersuami atau belum, mempunyai hubungan atau affair alias selingkuh dengan rekan pria mereka. Hal tersebut sekarang sudah menjadi rahasia umum, dan orang lain tidak boleh ikut campur, itu kata mereka.

Apakah penyebab dari maraknya perzinahan tersebut? Jawabannya hanya satu, yaitu perempuan bekerja, alias perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan, sehingga minimal terjadi perbauran gaul antara pria dan perempuan di tempat kerja, yang kemudian menstimulasi hubungan zina. Itu semua disebabkan oleh faham / gerakan perempuan bekerja (Emansipasi Wanita).

Dengan kata lain, kalau umat suatu negeri tidak memberi ijin dan akses kepada kaum perempuan untuk bekerja, maka dapat dipastikan bahwa perzinahan (dan seluruh turunannya) tidak akan menggejala di tengah mereka. Blogsite annisannation ini mempunyai artikel yang membahas hubungan antara maraknya perzinahan dengan perempuan bekerja.

Nah sekarang apakah Anda / Sdri sama sekali tidak merasa prihatin? Apakah Sdri ingin agar keluarga Anda terlibat di dalam perbuatan yang keji dan menjijikkan tersebut? Anak Anda, orang-tua Anda, kakak dan adik Anda, semua terlibat tindak zina, apakah Anda ridha dan bangga? Dan Anda tidak memikirkan dosanya? Nerakanya?

Kalau anda ingin keluarga anda terbebas dari tindak zina massal yang menjijikkan tersebut, maka bagaimana caranya? Bukankah perzinahan tersebut sudah merajalela dan mewabah begitu luasnya? Dengan tetap membiarkan / mengijinkan / mendukung faham perempuan bekerja, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada satu pun keluarga yang terbebas dari ancaman tindak perzinahan tersebut. Suatu saat keluarga kita pun akan terseret pada pusaran zina-massal tersebut. Naudzu billah mindzalik!

Namun coba Anda bandingkan kalau perempuan tidak bekerja. Pasti marak zina (dan seluruh turunannya) tidak pernah menggejala. Memang baiklah akan ada kasus di mana seorang istri terkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, atau suaminya gemar KDRT, namun apakah itu sebanding dengan bencana marak zina (dan seluruh turunannya itu) kalau perempuan diijinkan bekerja?

Kelima.

Anda tentunya ingat, bahwa kita ini hidup di dunia. “Ini dunia, mbak. Ini dunia, sister. Ini bukan Surga”. Bencana pasti terjadi, malapetaka pasti terjadi. Dan Islam pun tidak pernah diturunkan untuk menghadirkan Surga di muka bumi, tidak. Sesempurna apapun Islam (mau pun agama lainnya) diamalkan, toh tetap akan ada bencana di atas muka bumi.

Artinya apa? Artinya adalah, pertama, kita harus patuhi seluruh perintah dan kehendak Allah Swt, yaitu perempuan dilarang bekerja. Kedua, sesempurna apapun Islam diamalkan, tetap akan ada malapetaka dan kesia-siaan. Ketiga, namun kita juga harus ingat, bahwa di dalam pengamalan seluruh kehendak Allah Swt, terdapat rahmat, ridha dan ampunan Allah Swt. Keempat, seluruh malapetaka dengan pengamalan penuh ajaran Islam, dapat diminimalisir. Tidak ada yang sempurna, namun malapetaka dapat diminimalisir. Itu intinya.

Islam (maupun annisanation ini) tidak dapat menjamin bahwa kalau faham Domestikalisasi Wanita (DW) diamalkan secara menyeluruh, maka tidak akan pernah ada perempuan / istri yang terlantar. Jadi, kalau pun faham Domestikalisasi Wanita (DW) ini diberlakukan, toh tetap akan terjadi juga fenomena istri yang ditelantarkan suaminya. Namun pertanyaannya adalah, apakah akan semasif itu? Apakah angka statistiknya akan begitu tinggi?

Ya, kasus istri yang ditelantarkan suami yang tidak bertanggungjawab akan tetap ada di tengah masyarakat, karena ini adalah dunia, ini bukan Surga. Namun ingatlah, dengan diberlakukannya faham Domestikalisasi Wanita ini (yaitu seluruh perempuan dilarang bekerja dan berkarir), maka dapat dipastikan kasus zina (dan seluruh turunannya yang merupakan dekadensi moral) akan segera musnah dari muka bumi ini. Bukankah itu yang kita / ummat Muslim inginkan?

Keenam.

Ada suatu pertanyaan mahabesar yang harus kita ketahui kemudian harus kita dapatkan jawabannya. Dewasa ini kita sebagai umat menghadapi masalah yang begitu memilukan, yaitu maraknya tindak zina-massal dengan seluruh turunannya (yaitu dekadensi moral). Apakah penyebabnya? Tidak lain adalah gerakan Emansipasi Wanita.

Emansipasi Wanita mengakibatkan menggejalanya zina-massal dengan seluruh turunannya. Sementara itu kalau dibalik, kalau suatu umat tidak mengadopsi Emansipasi Wanita, alias kalau umat melarang kaum perempuan bekerja, maka zina-massal tidak akan pernah menggejala di tengah mereka. Jelas sekali, gerakan Emansipasi Wanita adalah satu-satunya hal yang bertanggungjawab atas terjadinya zinamassal. Sebenarnya hal ini sangat mudah untuk difahami.

Menimbang Antara Emansipasi Perempuan Dan Domestikalisasi Wanita

  1. Secara logika sederhana saja, apakah mungkin tragedi zina (zina massal dan seluruh turunannya) dapat terjadi kalau seluruh perempuan tidak bekerja, alias tetap tinggal di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, sementara seluruh laki-laki sibuk di tempat kerja sepanjang hari?
  2. Mari beranda-andai. Marilah kita mengadopsi dan mengijinkan perempuan bekerja dan berkarir seperti halnya kaum laki-laki, sehingga nanti kaum perempuan dan laki-laki yang tidak mempunyai hubungan muhrim berbaur bebas di tempat kerja. Pertanyaannya adalah, apakah kita dapat menjamin bahwa selingkuh dan affair tidak akan pernah terjadi? Siapakah yang dapat menjamin bahwa latarbelakang tersebut tidak akan menimbulkan percikan asmara ‘yang tidak wajar’?
  3. Ketahuilah, bahwa tidak ada satu orang pun, satu kekuatan pun, satu ideologi pun, organisasi pun, yang dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi tindak zina (dengan seluruh turunannya) kalau kaum perempuan berbaur bebas dengan kaum pria di tempat kerja (atau zona publik lainnya). Dan pun fakta menyatakan hal yang demikian, yaitu sudah sekian lamanya umat manusia memberi ijin kepada kaum perempuan untuk bekerja dan berkarir –akibatnya terjadi perbauran gaul dengan kaum pria di zona publik, sehingga berparalel dengan maraknya kasus zina-massal.
  4. Hukum Alam tetaplah hukum Alam. Kalau seorang perempuan dewasa berbaur bebas dengan pria dewasa secara intens, maka besar peluangnya untuk terjadi hubungan emosi antara mereka yang mengarah kepada hubungan pribadi. Ini adalah perbuatan zina. Tidak ada satu pun kekuatan yang dapat melawan atau mengubah hukum Alam. Dari dulu hingga sekarang. Dengan demikian hukum Alam haruslah dipatuhi dan diantisipasi. Caranya adalah dengan tidak memberi ijin dan akses kepada kaum perempuan untuk bekerja, kukuhkan mereka tinggal di rumah saja, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan untuk mengasuh serta membesarkan anak-anak.

Ketujuh.

Begitu umat pada suatu negeri memberi ijin dan akses kepada perempuan untuk bekerja dan berkarir (sehingga terjadi perbauran gaul dengan kaum pria di tempat kerja), spontan angka zina (dan seluruh turunannya) pun menyeruak. Kebalikannya, ketika suatu umat kukuh kepada ajaran Islam bahwa tempat dan kodrat perempuan adalah domestik –sehingga perempuan tidak diberi ijin dan akses untuk bekerja dan berkarir, umat pun terbebas dari kasus zina. Note: memang, kasus zina akan tetap terjadi: tidak ada gading yang tak retak. Namun populasi kasusnya berapa banyak, itulah perbedaannya.

Sebenarnya dari hal ini saja seharusnya sudah dapat difahami, bahwa gerakan emansipasi wanita adalah berbahaya, bahwa Emansipasi Wanita merupakan satu-satunya pemicu terjadinya dekadensi moral umat. Dan bahwa ternyata begitu mudah untuk memberantas tingginya kasus zina (dan seluruh turunannya), yaitu dengan cara menghentikan gerakan dan faham Emansipasi Wanita.

Ketika Islam melarang kaum perempuan untuk bekerja dan berkarir, ketika Islam melarang kaum pria untuk memberi ijin dan akses kepada perempuan untuk bekerja, sebenarnya hal tersebut dimaksudkan untuk membebaskan umat Muslim dari wabah zina dan seluruh turunannya.

Kedelapan.

Masalah baitul maal. Pada prinsipnya, faham pelarangan perempuan-bekerja haruslah berparalel dengan lembaga baitulmaal. Kelalaian umat dewasa ini adalah tidak menghidupkan lembaga baitul-maal. Kalau umat memberlakukan pelarangan perempuan-bekerja, maka pada saat yang bersamaan umat juga harus menyelenggarakan baitul-maal. Baitul-maal tentu bukan untuk menyantuni para istri yang malang saja, namun juga untuk menyantuni anak yatim-piatu, gelandangan, manusia dengan kebutuhan khusus, dsb.

Pada aspek pelarangan perempuan bekerja ini, maka sebenarnya fungsi baitul-maal adalah sebagai bemper atau sebagai langkah antisipatif jika terdapat kasus / kejadian perempuan malang yang mendapatkan suami dengan perilaku tidak pada tempatnya. Dari sini dapat difahami, bahwa penyelenggaraan baitulmaal mengisyaratkan betapa mahapentingnya ajaran Domestikalisasi Wanita bagi umat, sehingga baitulmaal harus diposisikan sebagai solusi terakhir jika terdapat perempuan malang dengan suami yang merugikan.

Tidak ada alasan bagi umat Muslim untuk tidak menyelenggarakan baitul-maal. Oleh karena itu, penyelenggaraan baitul-maal hukumnya adalah wajib, sewajib pelarangan perempuan bekerja.

Wallahu a’lam bishawab.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag06

pavers

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

13. Perempuan bekerja dan berkarir, adalah bertujuan untuk meninggal ketertinggalan mereka dari kaum pria yang lebih dulu maju.

Banyak kota dunia menyaksikan kebangkitan (emansipasi) perempuan, di mana perempuan keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Mereka beralasan bahwa emansipasi yang mereka tempuh adalah untuk mengejar ketertinggalan mereka dari kaum pria, yang sudah lebih dulu maju.

Ada suatu pertanyaan. Kalaulah suatu saat perempuan akhirnya berhasil mengejar ketertinggalan tersebut dengan kaum pria (sehingga di dapat kesejajaran), maka apakah yang akan mereka perbuat dengan keberhasilan tersebut? Bekerja mencari nafkah dan uang sebanyak-banyaknya? Bekerja untuk meniti karir untuk mendapatkan jabatan publik setinggi-tingginya? Memerintah dunia sebagai presiden, atau menteri? Atau, mengadakan pulau tersendiri khusus untuk kaum perempuan supaya bisa hidup tanpa ada laki-laki bersama mereka? Mungkin juga, dengan kesejajaran itu kaum perempuan ingin bersama laki-laki menjadi pejabat kota, menjalankan bisnis, dan berkantor di gedung-gedung publik?

Kalau pun dengan keberhasilan tersebut perempuan ingin bekerja mencari nafkah dan uang sebanyak-banyaknya, kemudian meniti karir dan jabatan publik setinggi-tingginya, maka bagaimana dengan kodrat domestik mereka, yang mengharuskan mereka berteguh diam di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, termasuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak di rumah? Siapa yang akan membesarkan, mengasuhi, mengasihi dan merawat anak-anak, kalau ibu-ibu mereka justru keluar rumah dan bergelut dengan jabatan publik setiap hari dan sepanjang hari untuk mempersamakan diri mereka dengan kaum pria?

Contraview.

Mungkinkah dapat dibenarkan bahwa kodrat domestik merupakan bentuk ketertinggalan? Apakah mengasuhi, mengasihi dan membesarkan anak-anak di rumah merupakan bentuk ketertinggalan kaum perempuan di belakang kaum pria? Memasak untuk seluruh keluarga, merapikan rumah tempat berdiangnya seluruh keluarga harus diperkatakan sebagai ketertinggalan?

Di luar itu, apakah benar bahwa bekerja seperti halnya kaum pria, yaitu mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, merupakan bentuk keberhasilan di dalam hidup? Ingatlah, membesarkan anak sehingga anak senantiasa sehat, cerdas, terpenuhi seluruh kebutuhan jasmani dan rohaninya, harga-dirinya, ketentraman jiwanya, jelaslah merupakan keberhasilan tertinggi seorang wanita yang bertekun dengan kodrat domestiknya. Dan pekerjaan tersebut jelaslah merupakan pekerjaan mulia dan terhormat di mata masyarakat, terlebih di mata Illahi. Dan kebalikannya, seorang perempuan yang setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, praktis akan mengakibatkan terzaliminya hak dan kebutuhan sang anak, dan sekali-sekali hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai sebuah keberhasilan, melainkan kegagalan dunia akhirat!

Intinya, kalau seorang perempuan terus keluar rumah untuk bekerja, sehingga bercampur-gaul bebas dengan pria di zona publik, jelas-jelas telah memicu terjadinya perselingkuhan di kantor, pacaran, istri simpanan, mengganggu suami orang, sering berakhir dengan tindak zina, kondomisasi, hamil di luar nikah, bahkan pembuangan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya sendiri ….. Itu adalah fakta kehidupan ini, yang berparalel dengan gejolak perempuan keluar rumah dan bekerja.

Secara alamiah kaum laki-laki mempunyai keberhasilan, yaitu keberhasilan di bidang publik, seperti mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Penting untuk dipahami terlebih dahulu, apakah keberhasilan kaum perempuan harus merupakan keberhasilan bergaya laki-laki? Apakah perempuan tidak mempunyai keberhasilan menurut kaum perempuan sendiri? Singkatnya, keberhasilan perempuan adalah keberhasilan yang mengekor kepada gaya laki-laki: apakah memang demikian filsafat yang dapat difahami? Kalau keberhasilan perempuan adalah keberhasilan yang bergaya dan mengekor kepada laki-laki, maka kemudian yang manakah keberhasilan yang murni bergaya perempuan?

Pada akhirnya, inikah yang dimaksud dengan mengejar ketertinggalan?

14. Perempuan bekerja, adalah untuk membuktikan bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum pria.

Terdapat suatu semangat di kalangan perempuan yang mereka jadikan alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Semangat dan alasan itu adalah, bahwa kaum perempuan bekerja, tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa perempuan secara alamiah adalah sama unggulnya dengan kaum pria. Dengan kata lain, dikarenakan perempuan mempunyai keunggulan yang setara dengan kaum pria, maka hal tersebut menjadi sebab perempuan harus bekerja, seperti halnya kaum pria.

Ketika mereka menempati posisi-posisi di kantor, atau ranah publik lainnya, pekerjaan tampak mudah di tangan mereka, kaum perempuan. Jaman industrial ditandai dengan begitu banyaknya perkakas yang memudahkan kerja, seperti listrik, elevator, eskalator, pendingin udara, kipas angin, mesin cetak, telepon, komputer, mobil, pesawat terbang, dsb.

Konsep kerja pun sudah diperbaiki melalui begitu banyak teori yang diajukan oleh para pemikir pria sejak jaman dahulu. Konsep-konsep kerja tersebut tidak pelak membuat kerja pada jaman sekarang semakin mudah dan menyenangkan. Dengan kata lain, baik secara fisik (perkakas) maupun ide, pekerjaan kaum pria untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan -sudah begitu mudah dan menyenangkan. Pada moment inilah kaum perempuan melakukan infiltrasi ke dunia kerja, yaitu pada moment di mana seluruh pekerjaan begitu mudah, dan tidak membutuhkan tenaga dan otot yang kelewat besar.

Dan ketika perempuan masuk ke dunia kerja yang sudah serba-mudah ini, tiba-tiba perempuan berkata bahwa kaum perempuan sebenarnya mempunyai keunggulan yang sama dengan kaum pria. Kalau dilihat dari begitu mudahnya pekerjaan untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan –tidak heran kalau perempuan merasa bahwa pekerjaan mencari uang, nafkah, karir dan jabatan adalah mudah. Namun apakah seluruh kemudahan tersebut muncul begitu saja di muka bumi ini?

Jelaslah banyak pekerjaan menjadi mudah dengan bantuan mobil, atau printer, atau komputer misalnya. Dan apakah hal tersebut membuat perempuan menjadi sama unggulnya dengan kaum pria? Namun kebalikannya, apakah pekerjaan tetap mudah dan menyenangkan kalau tidak ada mobil, elevator, komputer, penyejuk udara, dsb? Kalau sejak awal diketahui bahwa seluruh kemudahan dibuat dan diciptakan oleh kaum pria saja, maka mutlak dipahami bahwa sebenarnya pekerjaan tersebut tidak akan menjadi begitu mudah tanpa adanya teknologi yang merupakan hasil dayacipta kaum pria. Di mana posisi kaum perempuan? Apakah perempuan sama unggulnya dengan kaum pria, kalau tidak ada intervensi teknologi dan segala kemudahan industrial tersebut?

Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel “Para Pria Penemu Teknologi Para Wanita Yang Mabuk Kepayang”.

Contraview.

Hal pertama yang harus diingat adalah, bahwa seluruh kecanggihan teknologi dan kemudahan industrial, adalah hasil dayafikir dan dayacipta kaum pria sejak awal, dan ketika itu kaum perempuan asyik bermanja-manja, bersolek dan bercengkrama dengan hewan peliharaan di taman bunga. Tidak ada satu pun kecanggihan teknologi yang merupakan hasil dan dayacipta kaum perempuan, dan sejarah mengetahui bahwa kala itu tidak ada satu pun perempuan yang dilarang untuk berpartisipasi di dalam majelis Pengetahuan dan penemuan: hanya saja mereka lebih suka bertamasya bersama di kebun kota.

Pada akhirnya, secara empiris terlihat, bahwa segiat apa pun gema emansipasi perempuan digaungkan ke seluruh penjuru kota, toh hal itu hanya bisa menempatkan “segelintir” perempuan pada posisi publik: hal ini terlihat sekali seperti pada bidang parlementaria, bisnis, militer, politik, kepartaian, kesarjanaan, keuniversitasan, kepenelitian, keagamaan, entepreneurship, keilmiahan, dsb. Teori perempuan seunggul pria, tidak terbukti.

Teramat pelik untuk diungkapkan, bahwa perempuan masih mempunyai beribu ketergantungan kepada pria, dan hal tersebut membuktikan bahwa tidak ada yang seunggul pria di muka bumi ini: tidak ada perempuan yang dapat hidup layak tanpa seorang pria.

15. Perempuan bekerja, karena ada anggapan bahwa perempuan mempunyai potensi yang jangan disia-siakan.

Mereka berkata, bahwa perempuan terampil di dalam hal pembukuan. Ada yang mengatakan bahwa perempuan sangat baik menangani keuangan kantor. Banyak yang berkata, bahwa guru, perawat dan bidan sangat cocok ditugaskan kepada personel perempuan. Belum lagi dokter, adalah profesi yang sangat tepat untuk digeluti perempuan. Pendek kata, perempuan mempunyai potensi dan ketrampilan di dalam bidang profesi tertentu, dan oleh karena itu potensi yang ada pada perempuan tidak boleh disia-siakan.

Alasan seperti inilah yang sering digunakan kaum perempuan untuk bekerja, yaitu karena kaum perempuan mempunyai potensi dan skill bekerja yang tidak boleh disia-siakan. Mereka beranggapan, bahwa menempatkan perempuan hanya pada kodrat domestik sepanjang waktu merupakan pensia-siaan potensi yang ada pada diri setiap perempuan, karena mereka adalah individu-individu yang mempunyai keterampilan yang mumpuni untuk membangun masyarakat.

Baik juga kita ketahui, bahwa tidak ada yang lebih baik bagi seorang perempuan, kecuali berteguh diam di dalam rumahnya, untuk mendapatkan beberapa hal yang begitu mendasar di dalam kehidupan:

  1. Dengan berteguh di rumahnya, terjagalah kehormatan dan kesuciannya.
  2. Dengan berteguh di rumahnya, maka seluruh anak-anaknya akan terpenuhi kebutuhan akan perhatian dan kasih-sayang ibundanya.
  3. Seluruh perhatian dan kehangatan seorang ibu / perempuan, seutuhnya adalah hak atas anak-anaknya, maka dari itu hak tersebut tidak boleh dilanggar dan dihianati. Jauh lebih penting tinggal di rumahnya untuk memenuhi hak anak daripada menunjukkan potensi dan skillnya di dunia kerja. Tidak perduli seorang ibu terampil di dalam hal inteligen militer, atau di dalam hal pembangunan senjata nuklir, dsb, tetaplah mengasuhi dan mengasihi anaknya adalah jauh di atas segala-galanya.
  4. Dengan berteguh di rumahnya, maka akan terjagalah kesederhanaan dan kesahajaan jiwa seorang perempuan.

Apakah skill dan potensi yang dimiliki seorang perempuan? Menjadi dokter, perawat atau bidan? Maka yang lebih baik baginya adalah menjadi dokter dan bidan untuk anak-anaknya sendiri, yaitu mencurahkan seluruh perhatian medisnya kepada anak-anaknya. Itulah yang lebih hak dan agung, karena memperhatikan sang anak adalah jauh di atas segala-galanya.

Apakah potensi yang dimiliki seorang wanita? Menjadi guru? Maka adalah jauh lebih baik baginya untuk menjadi guru untuk anak-anaknya di rumah, mengajari mereka tatabahasa yang mulia, mengajari anak-anak lagu yang syahdu, mengajari anak cara berdoa yang santun, dsb.

Apakah skill yang dimiliki seorang ibu? Menjadi sekretaris? Maka baiklah sang ibu menjadi sekretaris di rumahnya, yaitu untuk mengatur waktu anak-anaknya, antara bermain, tidur, makan siang, makan buah-buahan, mengatur pertemuan sang anak dengan kawan-kawannya, dsb.

Singkat kata, seluruh ketrampilan yang ada pada perempuan, sebenarnya disiapkan oleh Alam Semesta untuk kepentingan dan kebahagiaan anak-anak mereka sendiri. Merupakan suatu kekejian jika ketrampilan yang ada pada diri seorang perempuan justru didedikasikan kepada orang lain, dan membiarkan anak-anaknya terlantar di rumah. Marilah berfikir ke arah ini.

Contraview

Kenyataan di dalam keseharian umat manusia memperlihatkan, bahwa banyak kaum ibu dan kaum wanita yang justru setia untuk bertekun dan berteguh diam di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, tanpa mereka sedikit pun memikirkan ide bahwa mereka mempunyai potensi dan ketrampilan industrial yang tidak boleh disia-siakan. Sungguh mereka lebih memilih untuk mementingkan membesarkan anak dan menjaga kesucian mereka sebagai perempuan dan ibu bagi seluruh keluarganya, dan itu jelaslah lebih masuk akal dan lebih manusiawi. Tidak ada yang salah dengan keputusan perempuan-perempuan pada golongan ini, karena melihat anak tumbuh setiap hari merupakan suatu mukjizat dan karunia Surgawi yang tidak ada tandingannya.

Betapa anak tidak membutuhkan yang lain-lain, kecuali kehadiran bunda mereka setiap hari di sisi anak-anak untuk tumbuh besar di dalam kehangatan seorang ibu. Dan hak anak, tentunya tidak dapat dikalahkan dengan potensi maupun skill apa pun yang dimiliki ibunya. Dan kalau pun seorang ibu mempunyai skill dan ketrampilan, maka kerahkan hal itu semua untuk kebahagiaan anak-anaknya, tidak untuk yang lain.

Kesimpulannya adalah, seluruh ketrampilan, skill dan potensi yang ada pada diri seorang perempuan, BUKANLAH alasan baginya untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan. Justru sebaliknya, bahwa seluruh keterampilan dan skill yang dimiliki seorang perempuan adalah disiapkan untuk kesejahteraan anak-anaknya. Anak-anaklah yang terpenting, bukan yang lain.

Bersambung.