Pemberdayaan Perempuan Dan Analogi Ayam

analogi-ayam

Analogi ayam.

Kisah kehidupan ayam tentu menarik untuk diungkap. Seekor ayam yang berada di tali ikatannya, tentu meronta-ronta untuk minta keluar, khususnya di siang hari. Di lain pihak, sang manusia ingin agar ayam tetap berada dalam tali ikatannya, sebagai hewan kesayangan bagi anak dan keluarganya. Satu hal yang patut diingat, bahwa walau pun sang manusia ingin ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh kebutuhan makan, minum dan keamanan sang ayam tetap terjamin, karena hal tersebut merupakan kewajiban sang manusia. Jadi, walau pun ayam tetap berada di dalam tali ikatannya, toh sang ayam akan tetap hidup layak dan makmur …., sementara di luar sana, bukankah banyak  terdapat buaya dan srigala?

Apa pilihannya kalau sang manusia bersedia mengeluarkan ayam dari tali ikatan? Pertama, sekali ayam keluar bebas dari tali ikatan, maka untuk selamanya sang ayam tidak akan bersedia untuk kembali masuk ke dalam tali ikatannya. Kedua, di luar sana, banyak buaya, banyak srigala, dan juga banyak pencuri. Jadi, kalau ayam dilepas dari tali ikatannya, maka apakah ada jaminan bahwa sang ayam akan kembali kepada tali ikatannya ketika sore hari? Tentu saja tidak. Itu pun, di luar sana, sang ayam pasti sudah binasa diterkam buaya maupun srigala, terlebih para pencuri sudah siap untuk mencuri sang ayam. Keseluruhan hal tersebut tentu tidak diinginkan oleh sang manusia, dan sang ayam itu sendiri.

Taruh kata sang ayam selamat karena tidak diterkam siapa pun, dan juga tidak dicuri siapa pun. Namun kemudian, apakah sang ayam akan sudi kembali kepada tali ikatannya di kediaman sang manusia? Nonsense! Tidak pernah ada ayam yang sudi pulang ke pautan.

Namun yang jadi pertanyaan adalah, mengapa sang ayam sangat ingin ter-bebas dari tali ikatan? Bukankah makan dan minum, plus keamanan, sudah terjamin di kediaman sang manusia? Apakah hal tersebut masih kurang buat sang ayam? Kalau pun sang ayam ingin terbebas dari tali ikatan, maka bukan-kah yang ingin dicari di dalam kebebasannya adalah makan dan minum juga? Lantas apa bedanya saat sang ayam tetap berada pada tali ikatannya? Buat apa jauh-jauh mengelana hanya untuk mencari makan dan minum, sementara makan dan minum enak sudah terjamin di kediaman manusia?

Begitulah kisah sang ayam.

Pemberdayaan Perempuan.

Perempuan adalah spesies yang hidup berdasar kodrat domestik. Dengan kodrat ini, perempuan dikondisikan untuk senantiasa berada di rumahnya, untuk menyelesaikan tugas domestiknya seperti memasak, mencuci baju, member-sihkan rumah, dan mengasuhi serta mengasihi anak-anak. Dengan menunaikan seluruh tugas tersebut, maka dengan sendirinya sang perempuan terjaga kesucian dan kemurnian fikiran dan dirinya, sebagai perempuan, istri dan sebagai ibu. Penting untuk ditegaskan, bahwa tidak ada yang lebih besar di dalam kehidupan ini kecuali kemurnian dan kesucian seorang perempuan.

Namun dari suatu arah, Emansipasi Wanita menggejala di tengah umat. Kaum perempuan mulai kehilangan orientasi, dan berkeinginan kuat untuk keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, baik di dalam hal akses pendidikan maupun akses pekerjaan mencari uang, karir dan jabatan.

Pada awalnya perempuan menuntut akses pendidikan, pendidikan yang setinggi-tingginya. Perempuan-perempuan senior melantangkan hak remaja perempuan untuk bersekolah, yang mana itu artinya perempuan senior menuntut seluruh keluarga untuk mengkondisikan anak perempuan keluar rumah, keluar dari kodrat domestik, setiap hari. Mengirim anak-anak perempuan ke sekolah diperlihatkan sebagai hak asasi manusia yang tidak boleh dilanggar, sehingga melarang anak perempuan menuntut Ilmu dapat dianggap kejahatan modern.

Setelah anak perempuan menamatkan sekolah, apa yang mereka inginkan? Bekerja: mencari uang, karir dan jabatan. Dan itu artinya perempuan akan semakin jauh dari alam domestik. Adalah tidak mungkin ketika perempuan menamatkan pendidikan, mereka semakin tersadarkan pada kodrat domestik. Tidak pernah ada data statistik dan pengalaman yang menunjukkan bahwa ketinggian Ilmu yang didapat perempuan di sekolah, membuat mereka semakin menyadari kodrat domestik dan kodrat kewanitaan mereka.

Begitu perempuan keluar rumah (secara permanen, setiap hari) untuk mendapatkan pemberdayaan, maka apakah ada jaminan bahwa perempuan akan kembali kepada tugas dan kodrat domestik mereka? Tidak. Sekali perempuan mendapatkan pemberdayaan (di luar rumah), maka selamanya perempuan tidak akan pernah sudi lagi untuk menggeluti dan menepati kodrat domestik yang sebenarnya merupakan takdir mereka. Dengan diberdayakan, maka perempuan akan sulit memahami tugas memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, mengasuhi dan mengasihi anak, dsb.

Semakin mereka berintelektual dan diberdayakan, maka semakin mereka mempunyai posisi untuk menolak alam domestik, sehingga yang mereka inginkan hanya keluar rumah setiap hari untuk …..

  • Bekerja mencari uang,
  • Karir dan jabatan,
  • Memimpin rapat di kantor,
  • Mengepalai pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Membuat peraturan perusahaan,
  • Membayar gaji karyawan,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia …..,

…….. kemudian mereka makan malam, lantas tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan-besar yang harus selalu dilayani (bukan yang melayani keluarga!!).

Para wanita yang diberdayakan yang kemudian dinamakan kaum sophis, sudah tidak ingin tahu-menahu soal …..

  • Dapur,
  • Mengupas dan mengiris bawang,
  • Mencuci baju,
  • Mengurus cirit sang anak,
  • Merawat dan membesarkan anak,
  • Merapikan rumah dan tempat tidur,
  • Menjahit baju,
  • Mencuci piring, dsb.

…….. karena mereka berfikir bahwa mereka adalah (setara dengan) kaum pria, yang seluruh fikiran dan tenaganya sudah habis terkuras di kantor untuk membangun bangsa dan mencari uang. Karena mereka terus dikondisikan untuk keluar rumah, yang betujuan untuk pemberdayaan, maka akhirnya mereka berfikir bahwa tidak semestinya mereka masih berkutat pada pekerjaan domestik!! Artinya, untuk selamanya perempuan tidak akan pernah kembali kepada alam domestik: itulah kalau perempuan diijinkan untuk keluar dari alam domestik.

Kehancuran umat dewasa ini, dekadensi moral umat dewasa ini, total tidak dapat dipisahkan dari berkembangnya program pendidikan formal untuk anak-anak perempuan. Di satu ujung Pemerintah dan umat mulai mengembangkan program pendidikan formal untuk anak perempuan, maka di ujung lain kehancuran umat dan kebengalan wanita telah tercipta. Ketika umat menerangkan visi-visi mensertakan perempuan dalam program pendidikan di dalam suatu gedung, maka di luar gedung itu telah marak terjadi:

•    Pelacuran.
o    Perzinaan.
o    Halalisasi perzinaan.
o    Pornografi.
o    Aborsi.
o    Freesex.
o    Striptis.
o    Eksebisionisme (wanita pamer aurat).
o    Pemerkosaan.
o    Perselingkuhan.
o    Khalwat.
o    Pacaran.
o    Bergonta-ganti pacar.
o    Mayat bayi di tempat sampah.
o    Hamil di luar nikah.
o    Kondomisasi.
o    Kumpul kebo.
o    Perawan tua.
o    Bujang lapuk
o    Hidup membujang (perjaka tua, perawan tua, menjanda, menduda).
o    Genitisasi / Ganjenisasi.
o    Perceraian pasangan muda.
o    Sutari (Suami Takut Istri).
o    Marak profesi pembantu rumah tangga.
o    Marak profesi babysitter.
o    Marak profesi PSK
o    Pengangguran di kalangan pria yg berimbas pada kriminalitas. Dsb.

Tidak diragukan lagi, bahwa adalah berbahaya untuk mengijinkan atau mengkondisikan perempuan keluar rumah setiap hari secara permanen, untuk tujuan pembedayaan, semisal meraih pendidikan …. karena sekali mereka keluar rumah, maka untuk selamanya mereka tidak akan kembali ke rumah untuk mentaati kodrat domestik, untuk selama-lamanya. Sekali mereka keluar rumah untuk mendapatkan pemberdayaan, maka untuk selamanya mereka akan membenci Alam domestik, dan membenci kodrat domestik yang telah Tuhan tetapkan atas mereka.

Penutup.

Di satu pihak, kita melihat bahwa melepaskan ayam dari tali ikatan –tidak memberi jaminan bahwa di sore hari ayam akan kembali kepada tali ikatannya. Dan di lain pihak, memberi ijin perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan (seperti bersekolah atau bekerja mencari uang dan jabatan) tidak memberi kemungkinan bahwa perempuan tersebut akan kembali kepada kodrat domestik mereka, bahkan lebih buruk lagi, perempuan akan menjadi begitu membenci dan menghujat kodrat domestik.

Belum selesai sampai di situ. Ayam yang tidak pernah kembali kepada tali ikatan, pun akan menghadapi marabahaya buaya maupun serigala, belum lagi bahaya dicuri penjahat. Begitu juga, perempuan yang tidak pernah kembali kepada alam domestik, di luar rumah pun dijejali fitnah kehidupan seperti perzinahan, pamer aurat, pemerkosaan, gonta-ganti pacar, aborsi, dsb. Dan ungkapan ini adalah fakta kehidupan, bukan fatamorgana.

Akhir kata, semua bencana dan marabahaya ini harus ditumpas. Satu-satunya cara adalah dengan menumpas faham Emansipasi Wanita, dan mengukuhkan perempuan atas takdir domestik. Di sanalah letak maslahat untuk perempuan itu sendiri, dan juga maslahat seluruh umat. Wallahu a’lam bishawab.

Menimbang Antara Emansipasi Perempuan Dan Domestikalisasi Wanita

diantara-2-pilihan

Suara kontra dari seorang perempuan terhadap Domestikalisasi Wanita (DW),

“Kalau kita tinggal di negara yang menjunjung tinggi Islam mungkin prinsip ini (bahwa wanita dilarang bekerja, bahwa perempuan harus senantiasa tinggal di rumah untuk menjalankan peran domestik mereka) bisa diterapkan: haram wanita bekerja. Namun di Indonesia ini tengoklah saja, tidak ada kepedulian sosial, tidak ada janda yang disantuni negara.

Maaf, sekarang ini juga banyak suami yang tidak bertanggung jawab yang meninggalkan anak dan istrinya (cerai dan tidak pernah menafkahi sama sekali), sedangkan si ibu harus berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya. Negara Indonesia tidak menyediakan baitul-mal seperti yang saudara kemukakan.

Minta disantuni saudara kandungnya, tidak ada yang peduli. Minta bantuan ayahnya, ayahnya sudah meninggal. Mau menikah lagi, sulit menemukan lelaki bertanggung jawab, justru jangan-jangan malah cerai lagi. Alhasil apakah dia (si ibu) ini akan diam saja di dalam rumah membiarkan anak-anaknya yang masih kecil kelaparan, sedangkan kebutuhan dasar harus terpenuhi, belum kebutuhan sekolah, kebutuhan perkembangan anak, dll. Sudah tidak ada yang peduli kepada wanita ini.

Lebih haram mana? Diam saja di rumah menanti pinangan lelaki Muslim padahal anaknya kelaparan, atau berusaha mencari penghidupan demi kelangsungan anak-anaknya?”.

Penjelasan Annisanation,

Terima kasih atas peran-serta Sdri di dalam diskusi ini.

Ijinkan saya mengajukan beberapa hal untuk menjelaskan permasalahan ini.

Pertama.

“Perempuan-dilarang-bekerja” merupakan ajaran Islam, merupakan hukum Islam; kehendak Tuhan. Jadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. Semua kesalahan, semua kendala, semua rintangan yang timbul sehingga tidak dapat mengaplikasikan hukum Islam, justru dikarenakan umat melanggar hukum Islam itu sendiri. Kalau sejak awal umat Muslim mengamalkan hukum Islam, maka dipastikan seluruh kendala tidak pernah timbul pula.

Jadi di dalam hal ini, kalau sejak awal seluruh umat menunaikan pelarangan perempuan bekerja, maka masalah seperti suami yang tidak bekerja, suami yang tidak bertanggungjawab, ditinggal mati suami sementara anak masih kecil, dsb, tidak akan pernah menjadi masalah, karena umat sudah mempunyai solusinya yang syarii pula.

Kedua.

Sebenarnya sama saja, yaitu bahwa:

A — kalau perempuan tidak (boleh) bekerja, maka beberapa masalah akan timbul, yaitu seperti suami yang tidak bertanggungjawab, atau suami wafat, atau menikah lagi namun ternyata kembali mendapat suami yang tidak bertanggungjawab. Dan banyak masalah lainnya.

B — kalau perempuan boleh bekerja, maka masalahnya adalah, pertama dilarang di dalam Islam. Kedua, akan banyak terjadi selingkuh. Ketiga, anak-anak jadi terlantar. Keempat, menimbulkan pengangguran di kalangan laki-laki. Dsb.

Sekarang kita pilih mana? A atau B?

Tentunya kita pilih yang merupakan ajaran Islam (point A), yaitu bahwa perempuan tidak boleh bekerja, alias perempuan harus di rumah saja –kendati pilihan ini akan menimbulkan masalah seperti suami yang tidak bertanggungjawab, suami yang hilang di dalam tugas, dsb. Dan ingatlah, ajaran Islam itu mencakup seluruh kebutuhan iman dan jiwa manusia. Perempuan di rumah itu (yaitu perempuan yang tidak bekerja) sudah sesuai fitrah, sesuai kodrat, dan sesuai hukum alam. Dan suami mana, laki-laki mana, yang tidak senang dan tidak tenang kalau istri mereka tetap di rumah merawat anak-anak?

Dan anak-anak mana yang tidak bahagia kalau ibu mereka senantiasa ada di rumah bersama melewatkan hari-hari bahagia? Apakah ada anak-anak yang senang kalau ibu mereka tidak pernah berada di rumah, kalau ibu mereka selalu bekerja sehingga tidak pernah punya waktu untuk anak-anak?

Sementara itu, bencana yang ditimbulkan dari perempuan bekerja, jauh lebih dahsyat, seperti perzinahan, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, kumpulkebo, marak perceraian, khalwat, pornografi, pamer aurat, dsb. Hal tersebut jauh lebih dahsyat ketimbang melihat kasus ada istri yang bersuami laki-laki yang tidak bertanggungjawab, atau suami yang gemar berbuat KDRT, atau seorang istri yang ditinggal mati suami, dsb.

Biarlah seorang istri berkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, namun bukankah istri dan anak-anaknya tetap di dalam keadaan suci? Apakah kita lebih pilih istri dibiarkan bekerja namun ternyata di luar istri menjadi mainan para lelaki di tempat kerja?

Sebenarnya kalau mau jujur, apa yang anda tulis / paparkan itu, terkesan sangat mendramatisir. Apakah mungkin ada kejadian, di mana istri yang suaminya wafat atau tidak bertanggungjawab, tidak mendapat penghidupan yang layak dari kerabat sekitar? Apakah mungkin ada manusia dan kerabatnya yang sekejam itu, membiarkan saudara dan anak-anak mereka kelaparan? Bagaimana dengan mertua, bagaimana dengan keluarga dari pihak suami, apakah mereka akan membiarkan menantu dan ipar mereka kelaparan? Dan apakah keluarga mertua akan membiarkan cucu mereka yang masih kecil mati kelaparan?

Ketiga.

Istri yang mempunyai suami yang tidak bertanggungjawab, tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perempuan bekerja. Ingatlah, hanya sedikit kasusnya di mana seorang istri hidup menderita karena suami yang tidak bertanggungjawab. Justru kebalikannya, terdapat angka yang tinggi sekali di mana para istri bekerja, padahal sebenarnya suaminya adalah kayaraya, ayah mereka kayaraya, bahkan para istri tersebut pun juga kaya, karena berasal dari keluarga yang kayaraya. Lantas buat apa masih memilih / mendukung / menjadi perempuan-bekerja juga? Bukankah ini namanya curang? Bukankah ini namanya hanya mecari-cari alasan?

Di tengah fakta begitu banyaknya perempuan-bekerja yang ayah, suami maupun keluarga mereka kayaraya, mengapa anda / kita masih juga menyinggung-nyinggung nasib perempuan / istri yang yang tidak bekerja dan kemudian ditinggal suami dsb? Bukankah kasus tersebut hanya segelintir saja di tengah kehidupan? Dan bukankah kita harus membandingkannya dengan tingginya angka zina, angka aborsi, angka khalwat, angka pengangguran di kalangan laki-laki, angka bangkai bayi di tempat sampah, dsb, yang jelas-jelas diakibatkan oleh perempuan-bekerja?

Keempat.

Tidak tahukah kita berapa angka perzinahan di tengah masyarakat kita, khususnya di kalangan remaja? Tidak tahukah kita bahwa tindak zina sudah menjadi lumrah dan sudah menjadi gaya hidup pada jaman sekarang ini? Apakah hal tersebut sama sekali tidak menjadi keprihatinan kita semua?

Di kantor-kantor fenomena perselingkuhan sudah menjadi biasa, di mana karyawan / pegawai yang perempuan, yang sudah bersuami atau belum, mempunyai hubungan atau affair alias selingkuh dengan rekan pria mereka. Hal tersebut sekarang sudah menjadi rahasia umum, dan orang lain tidak boleh ikut campur, itu kata mereka.

Apakah penyebab dari maraknya perzinahan tersebut? Jawabannya hanya satu, yaitu perempuan bekerja, alias perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan, sehingga minimal terjadi perbauran gaul antara pria dan perempuan di tempat kerja, yang kemudian menstimulasi hubungan zina. Itu semua disebabkan oleh faham / gerakan perempuan bekerja (Emansipasi Wanita).

Dengan kata lain, kalau umat suatu negeri tidak memberi ijin dan akses kepada kaum perempuan untuk bekerja, maka dapat dipastikan bahwa perzinahan (dan seluruh turunannya) tidak akan menggejala di tengah mereka. Blogsite annisannation ini mempunyai artikel yang membahas hubungan antara maraknya perzinahan dengan perempuan bekerja.

Nah sekarang apakah Anda / Sdri sama sekali tidak merasa prihatin? Apakah Sdri ingin agar keluarga Anda terlibat di dalam perbuatan yang keji dan menjijikkan tersebut? Anak Anda, orang-tua Anda, kakak dan adik Anda, semua terlibat tindak zina, apakah Anda ridha dan bangga? Dan Anda tidak memikirkan dosanya? Nerakanya?

Kalau anda ingin keluarga anda terbebas dari tindak zina massal yang menjijikkan tersebut, maka bagaimana caranya? Bukankah perzinahan tersebut sudah merajalela dan mewabah begitu luasnya? Dengan tetap membiarkan / mengijinkan / mendukung faham perempuan bekerja, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada satu pun keluarga yang terbebas dari ancaman tindak perzinahan tersebut. Suatu saat keluarga kita pun akan terseret pada pusaran zina-massal tersebut. Naudzu billah mindzalik!

Namun coba Anda bandingkan kalau perempuan tidak bekerja. Pasti marak zina (dan seluruh turunannya) tidak pernah menggejala. Memang baiklah akan ada kasus di mana seorang istri terkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, atau suaminya gemar KDRT, namun apakah itu sebanding dengan bencana marak zina (dan seluruh turunannya itu) kalau perempuan diijinkan bekerja?

Kelima.

Anda tentunya ingat, bahwa kita ini hidup di dunia. “Ini dunia, mbak. Ini dunia, sister. Ini bukan Surga”. Bencana pasti terjadi, malapetaka pasti terjadi. Dan Islam pun tidak pernah diturunkan untuk menghadirkan Surga di muka bumi, tidak. Sesempurna apapun Islam (mau pun agama lainnya) diamalkan, toh tetap akan ada bencana di atas muka bumi.

Artinya apa? Artinya adalah, pertama, kita harus patuhi seluruh perintah dan kehendak Allah Swt, yaitu perempuan dilarang bekerja. Kedua, sesempurna apapun Islam diamalkan, tetap akan ada malapetaka dan kesia-siaan. Ketiga, namun kita juga harus ingat, bahwa di dalam pengamalan seluruh kehendak Allah Swt, terdapat rahmat, ridha dan ampunan Allah Swt. Keempat, seluruh malapetaka dengan pengamalan penuh ajaran Islam, dapat diminimalisir. Tidak ada yang sempurna, namun malapetaka dapat diminimalisir. Itu intinya.

Islam (maupun annisanation ini) tidak dapat menjamin bahwa kalau faham Domestikalisasi Wanita (DW) diamalkan secara menyeluruh, maka tidak akan pernah ada perempuan / istri yang terlantar. Jadi, kalau pun faham Domestikalisasi Wanita (DW) ini diberlakukan, toh tetap akan terjadi juga fenomena istri yang ditelantarkan suaminya. Namun pertanyaannya adalah, apakah akan semasif itu? Apakah angka statistiknya akan begitu tinggi?

Ya, kasus istri yang ditelantarkan suami yang tidak bertanggungjawab akan tetap ada di tengah masyarakat, karena ini adalah dunia, ini bukan Surga. Namun ingatlah, dengan diberlakukannya faham Domestikalisasi Wanita ini (yaitu seluruh perempuan dilarang bekerja dan berkarir), maka dapat dipastikan kasus zina (dan seluruh turunannya yang merupakan dekadensi moral) akan segera musnah dari muka bumi ini. Bukankah itu yang kita / ummat Muslim inginkan?

Keenam.

Ada suatu pertanyaan mahabesar yang harus kita ketahui kemudian harus kita dapatkan jawabannya. Dewasa ini kita sebagai umat menghadapi masalah yang begitu memilukan, yaitu maraknya tindak zina-massal dengan seluruh turunannya (yaitu dekadensi moral). Apakah penyebabnya? Tidak lain adalah gerakan Emansipasi Wanita.

Emansipasi Wanita mengakibatkan menggejalanya zina-massal dengan seluruh turunannya. Sementara itu kalau dibalik, kalau suatu umat tidak mengadopsi Emansipasi Wanita, alias kalau umat melarang kaum perempuan bekerja, maka zina-massal tidak akan pernah menggejala di tengah mereka. Jelas sekali, gerakan Emansipasi Wanita adalah satu-satunya hal yang bertanggungjawab atas terjadinya zinamassal. Sebenarnya hal ini sangat mudah untuk difahami.

Menimbang Antara Emansipasi Perempuan Dan Domestikalisasi Wanita

  1. Secara logika sederhana saja, apakah mungkin tragedi zina (zina massal dan seluruh turunannya) dapat terjadi kalau seluruh perempuan tidak bekerja, alias tetap tinggal di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, sementara seluruh laki-laki sibuk di tempat kerja sepanjang hari?
  2. Mari beranda-andai. Marilah kita mengadopsi dan mengijinkan perempuan bekerja dan berkarir seperti halnya kaum laki-laki, sehingga nanti kaum perempuan dan laki-laki yang tidak mempunyai hubungan muhrim berbaur bebas di tempat kerja. Pertanyaannya adalah, apakah kita dapat menjamin bahwa selingkuh dan affair tidak akan pernah terjadi? Siapakah yang dapat menjamin bahwa latarbelakang tersebut tidak akan menimbulkan percikan asmara ‘yang tidak wajar’?
  3. Ketahuilah, bahwa tidak ada satu orang pun, satu kekuatan pun, satu ideologi pun, organisasi pun, yang dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi tindak zina (dengan seluruh turunannya) kalau kaum perempuan berbaur bebas dengan kaum pria di tempat kerja (atau zona publik lainnya). Dan pun fakta menyatakan hal yang demikian, yaitu sudah sekian lamanya umat manusia memberi ijin kepada kaum perempuan untuk bekerja dan berkarir –akibatnya terjadi perbauran gaul dengan kaum pria di zona publik, sehingga berparalel dengan maraknya kasus zina-massal.
  4. Hukum Alam tetaplah hukum Alam. Kalau seorang perempuan dewasa berbaur bebas dengan pria dewasa secara intens, maka besar peluangnya untuk terjadi hubungan emosi antara mereka yang mengarah kepada hubungan pribadi. Ini adalah perbuatan zina. Tidak ada satu pun kekuatan yang dapat melawan atau mengubah hukum Alam. Dari dulu hingga sekarang. Dengan demikian hukum Alam haruslah dipatuhi dan diantisipasi. Caranya adalah dengan tidak memberi ijin dan akses kepada kaum perempuan untuk bekerja, kukuhkan mereka tinggal di rumah saja, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan untuk mengasuh serta membesarkan anak-anak.

Ketujuh.

Begitu umat pada suatu negeri memberi ijin dan akses kepada perempuan untuk bekerja dan berkarir (sehingga terjadi perbauran gaul dengan kaum pria di tempat kerja), spontan angka zina (dan seluruh turunannya) pun menyeruak. Kebalikannya, ketika suatu umat kukuh kepada ajaran Islam bahwa tempat dan kodrat perempuan adalah domestik –sehingga perempuan tidak diberi ijin dan akses untuk bekerja dan berkarir, umat pun terbebas dari kasus zina. Note: memang, kasus zina akan tetap terjadi: tidak ada gading yang tak retak. Namun populasi kasusnya berapa banyak, itulah perbedaannya.

Sebenarnya dari hal ini saja seharusnya sudah dapat difahami, bahwa gerakan emansipasi wanita adalah berbahaya, bahwa Emansipasi Wanita merupakan satu-satunya pemicu terjadinya dekadensi moral umat. Dan bahwa ternyata begitu mudah untuk memberantas tingginya kasus zina (dan seluruh turunannya), yaitu dengan cara menghentikan gerakan dan faham Emansipasi Wanita.

Ketika Islam melarang kaum perempuan untuk bekerja dan berkarir, ketika Islam melarang kaum pria untuk memberi ijin dan akses kepada perempuan untuk bekerja, sebenarnya hal tersebut dimaksudkan untuk membebaskan umat Muslim dari wabah zina dan seluruh turunannya.

Kedelapan.

Masalah baitul maal. Pada prinsipnya, faham pelarangan perempuan-bekerja haruslah berparalel dengan lembaga baitulmaal. Kelalaian umat dewasa ini adalah tidak menghidupkan lembaga baitul-maal. Kalau umat memberlakukan pelarangan perempuan-bekerja, maka pada saat yang bersamaan umat juga harus menyelenggarakan baitul-maal. Baitul-maal tentu bukan untuk menyantuni para istri yang malang saja, namun juga untuk menyantuni anak yatim-piatu, gelandangan, manusia dengan kebutuhan khusus, dsb.

Pada aspek pelarangan perempuan bekerja ini, maka sebenarnya fungsi baitul-maal adalah sebagai bemper atau sebagai langkah antisipatif jika terdapat kasus / kejadian perempuan malang yang mendapatkan suami dengan perilaku tidak pada tempatnya. Dari sini dapat difahami, bahwa penyelenggaraan baitulmaal mengisyaratkan betapa mahapentingnya ajaran Domestikalisasi Wanita bagi umat, sehingga baitulmaal harus diposisikan sebagai solusi terakhir jika terdapat perempuan malang dengan suami yang merugikan.

Tidak ada alasan bagi umat Muslim untuk tidak menyelenggarakan baitul-maal. Oleh karena itu, penyelenggaraan baitul-maal hukumnya adalah wajib, sewajib pelarangan perempuan bekerja.

Wallahu a’lam bishawab.

Memperingkas Destruktivitas Emansipasi Wanita

destruktivitas-ewIslam menitahkan bahwa orbital perempuan adalah di rumah, seperti yang termaktub di dalam surah Al-ahzab 33, juga ayat lainnya diperkuat keseluruhan Alhadis mengenainya. Oleh karena itu geliat Emansipasi Wanita (EW) merupakan suatu kemaksiatan dan bentuk kekafiran binti kefasikan. Di lain pihak, pun terlihat bahwa Emansipasi Wanita (EW) tidak memberi manfaat apapun bagi umat manusia, dibarengi dengan kenyataan bahwa justru Emansipasi Wanita (EW) mendatangkan kehancuran umat, sumber malapetaka dan penyebab dekadensi moral.

Jika diperhatikan lebih seksama, dapat diketahui bahwa tidak ada satu agama pun yang mengajarkan Emansipasi Wanita (EW) ini. Kristen pun dengan Alkitabnya mempunyai ayat yang bertentangan dengan geliat Emansipasi Wanita (EW) ini. Untuk lebih jelas silahkan baca Paskah dan Rok-mini. Maka jelaslah untuk difahami, bahwa sebenarnya geliat Emansipasi Wanita (EW) hanya datang dari luar agama, agama mana pun. Dan untuk Islam pun jelas, Emansipasi Wanita (EW) bersumber dari pelanggaran dan pendurhakaan terhadap ajaran Alquran mau pun Alhadis. Dari awal hingga akhirnya, Emansipasi Wanita (EW) merupakan bentuk penyimpangan berfikir. Kalau Emansipasi Wanita (EW) berangkat dari logika, maka bagaimana mungkin geliat ini bertentangan dengan logika dan kebijaksanaan, dan sekaligus bertolak belakang dengan azas kemanfaatan?

Berikut di bawah ini akan dipaparkan adanya LIMA DAFTAR yang harus diimbuhkan dan difahami di dalam satu rangkaian wacana yang mengartikulasikan nilai destruktivitas Emansipasi Wanita (EW).

Daftar 1 “Apa yang diinginkan perempuan dengan Emansipasi Wanita (EW) adalah menjarahi dan membajak kodrat pria”. Harus diperhatikan di sini, apakah yang diiinginkan kaum perempuan dengan kesetaraan gender? Ketahuilah, bahwa yang mereka inginkan dengan Emansipasi Wanita (EW) bukanlah suatu hal yang mulia, atau konstruktif, atau logis. Melainkan suatu hal yang tidak dapat diterima oleh logika dan kebijaksanaan: kehancuran dan kebinasaan. Kaum perempuan (khususnya perempuan sophis) begitu gigih memperjuangkan Emansipasi Wanita (EW), dan kalau perjuangan mereka berhasil, maka inilah yang ingin diperbuat kaum perempuan, yaitu MEMBAJAK KODRAT KAUM PRIA, kemudian mengutuki, menghujat dan membuang kodrat kewanitaan mereka, yaitu kodrat domestik. Mereka ingin bersibuk diri dengan kegiatan di luar rumah untuk membajak dan menjarahi kodrat laki-laki, seperti:

  • Keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, mau pun popularitas yang ujung-ujungnya juga mencari uang,
  • Memimpin rapat di Kantor,
  • Mengepalai para pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Menandatangani dokumen bisnis mau pun Perjanjian kerja,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia,
  • Kemudian tidur istirahat,
  • Totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan besar yang harus selalu dilayani. Dsb.

Daftar 2 “Perempuan yang bergiat dengan Emansipasi Wanita (EW) akan mengutuk dan mencampakkan kodrat kewanitaan mereka”. Mereka, para wanita modern (alias wanita sophis), yang sudah kenyang dengan berbagai pemberdayaan (akibat disekolahkan dan diberi pekerjaan), akibatnya sudah tidak ingin tahu-menahu soal:

  • Dapur,
  • Mencuci baju,
  • Masak untuk keluarga,
  • Mengurus cirit sang anak,
  • Memandikan sang anak,
  • Menyuapi makan sang anak,
  • Merapikan rumah dan tempat tidur,
  • Mencuci dan menjahit baju,
  • Menjaga kesucian jiwa dan raganya di rumah.
  • Mencuci piring,
  • Dsb.

Hal itu semua karena mereka berfikir bahwa mereka adalah (setara dengan) kaum pria (thanks to pemberdayaan perempuan!), yang seluruh fikiran dan tenaganya sudah habis terkuras di kantor untuk membangun bangsa dan mencari uang. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca artikel Akibat Dan Konsekwensi Lurus Dari Persamaan Gender. Bagi kebanyakan wanita modern (alias wanita sophis), tugas di kantor untuk mencari uang, karir dan jabatan, termasuk juga popularitas (yang ujung-ujungnya mencari uang juga), atau bertugas di di lembaga yang mengurusi negara, politik mau pun sosial, merupakan tugas yang jauh lebih penting, urgent dan mulia, daripada pekerjaan domestik (termasuk mengurus dan merawat anak).

Dan kemudian, seorang wanita modern, alias wanita sophis, alih-alih bukannya memperteguh dirinya dengan seluruh nilai intrinsik kewanitaan, justru memilih dan mempekerjakan pembantu rumahtangga untuk urusan masak di dapur, menyedia-kan makanan untuk anak dan keluarga. Dan untuk urusan merawat dan memandikan serta menyuapi makan sang anak, mereka campakkan tugas tersebut kepada para babysitter. Kembali kita harus diingatkan, bahwa nilai intrinsik seorang wanita adalah, bahwa seorang wanita, biar bagaimana pun, harus komit untuk masak bagi anak dan keluarganya, tidak bisa tidak. Kemudian, ia juga harus komit untuk mencuci baju anak dan keluarganya, kemudian mencuci piring anak dan keluarganya. Dan yang lebih penting lagi, nilai intrinsik seorang wanita adalah bahwa ia harus komit total untuk merawat dan mengasuh anaknya sendiri, darah-dagingnya sendiri.

Bukan wanita kalau ia TIDAK mencintai anaknya sendiri, bukan wanita sejati kalau ia TIDAK mengurus anaknya sendiri, dengan tangannya sendiri. Itulah hal-hal mendasar mengenai nilai intrinsik seorang wanita semesta, di mana pun dan kapan pun. Dan ini artinya, kalau seorang wanita berteguh dengan nilai intrinsiknya, maka tidak ada lagi waktu baginya untuk beraktivitas di luar rumah, seperti bekerja mencari uang, karir atau jabatan, atau juga untuk kuliah setinggi-tingginya. Buat apa kuliah setinggi-tingginya kalau sebagai wanita ia tidak, atau bahkan menolak, mengasuh anaknya sendiri?

Note, di dalam Islam dan menurut logika, mempekerjakan pembantu rumahtangga (termasuk di sini babysitter) merupakan dosa. Untuk lebih jelas silahkan baca artikel Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam, dan artikel Wanita Sophis Versus Pembantu Rumahtangga.

Dengan mencampakkan seluruh tugas domestik kepada para pembantu dan babysitter, maka kaum wanita sophis semakin menegaskan pendirian mereka, yaitu memusuhi nilai intrinsik mereka sebagai wanita, memusuhi kodrat domestik, dan memusuhi kodrat kewanitaan. Untuk lebih jelas mengenai nilai intrinsik wanita, silahkan baca artikel Pemberdayaan Wanita Versus Nilai Intrinsik Kewanitaan.

Daftar 3 “Perempuan yang bergiat dengan Emansipasi Wanita (EW) merupakan pemicu atas terjadinya begitu banyak kehancuran dan dekadensi moral”. Kehancuran umat dewasa ini, dekadensi moral umat dewasa ini, total tidak dapat dipisahkan dari pemberdayaan perempuan, yang notabene metode dasarnya adalah mensyaratkan perempuan keluar rumah setiap hari.

Di satu ujung saat Pemerintah dan umat madani mulai mengembangkan program pemberdayaan atas perempuan (dalam bentuk pendidikan untuk anak perempuan, dan memberi mereka pekerjaan publik), maka di ujung lain di saat yang sama kehancuran umat dan kebengalan wanita telah tercipta. Ketika umat madani menerangkan visi-visi mensertakan perempuan dalam program pemberdayaan perempuan di dalam suatu gedung (termasuk memberi pekerjaan publik kepada perempuan), maka di luar gedung itu telah marak terjadi:

  • o    Pelacuran.
  • o    Perzinaan.
  • o    Halalisasi dan lumrahnisasi perzinaan.
  • o    Pornografi.
  • o    Aborsi.
  • o    Freesex.
  • o    Striptis.
  • o    Eksebisionisme (wanita pamer aurat).
  • o    Pemerkosaan.
  • o    Perselingkuhan.
  • o    Khalwat.
  • o    Pacaran.
  • o    Mayat bayi di tempat sampah.
  • o    Kelahiran anak jadah.
  • o    Hamil di luar nikah.
  • o    Kondomisasi.
  • o    Kumpul kebo.
  • o    Perawan tua.
  • o    Bujang lapuk
  • o    Hidup membujang (perjaka tua, perawan tua, menjanda, menduda).
  • o    Single-parent.
  • o    Genitisasi / Ganjenisasi.
  • o    Maraknya perceraian pasangan muda.
  • o    Sutari (Suami Takut Istri). (Baca artikel)
  • o    Profesi pembantu rumah tangga.
  • o    Profesi babysitter.
  • o    Pengangguran.
  • o    Dsb.

Tidak bisa diragukan lagi, bahwa adalah berbahaya untuk menganugrahkan pemberdayaan kepada perempuan di dalam program pendidikan; dan oleh karena itu pemberdayaan perempuan adalah haram untuk anak perempuan hingga masa dewasanya. Untuk mengetahui lebih jelas keharaman wanita bersekolah dan menuntut ilmu, silahkan baca artikel Keharaman Wanita Bersekolah Menuntut Ilmu.

Daftar 4 “Perempuan yang diberdayakan, yang bergiat dengan Emansipasi Wanita (EW), akan mengembangkan mindset murahan, dan bermental curam”. Perempuan yang diberdayakan, pasti tidak pernah masak di rumah untuk anak dan keluarganya; pasti tidak pernah mengurus dan merawat anak-anaknya sendiri; pasti tidak pernah mencuci baju anak dan keluarganya. Yang ada di dalam peta kognisi pada otaknya hanyalah lima hal:

  • Pembantu rumahtangga,
  • Babysitter,
  • Dan kemudian bagaimana caranya menjarahi kodrat pria, yaitu keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, jabatan, dsb, kemudian sore hari pulang nasi sudah tersedia, kemudian makan, dan akhirnya tidur. Tidak mau tahu menahu soal dapur, mengurus anak, piring kotor, dsb.
  • Menghujat kaum pria.
  • Dan terakhir, bagaimana terus mempercantik dirinya.

Inilah wujud, akibat dan alumni dari wanita yang diberdayakan, yaitu disekolahkan sejak dini dan selama-lamanya, kemudian (diberi ijin untuk) bekerja mencari uang.

Daftar 5 “Perempuan yang diberdayakan, yaitu perempuan yang bergiat dengan Emansipasi Wanita (EW) akan mempunyai mental yang curam, yaitu terjangkiti mentalitas kontra-pria”. Dengan adanya kecanggihan teknologi yang membuat semua pekerjaan menjadi mudah bahkan menyenangkan, bangkitlah kegilaan kaum perempuan, yang dikemas di dalam judul Emansipasi-Wanita (EW), atau kesetaraan gender antara pria dan wanita. Mereka mulai meneriakkan apa yang dinamakan ‘kontra-pria’, yaitu bahwa:

  1. Kaum wanita adalah sama unggulnya dengan kaum pria.
  2. Kaum wanita selama ini selalu ditindas oleh kaum pria supaya manut sebagai budak domestik gratis sepanjang hidup.
  3. Kaum wanita juga berhak untuk menjadi pemimpin sebagaimana halnya kaum pria; dan kaum pria harus berlapang dada menerima kenyataan betapa hebatnya wanita di tempat kerja, di sektor publik dan sebagai pemimpin.
  4. Kaum pria tidak pernah mengijinkan wanita untuk berkiprah di ranah publik, demi supaya wanita terus-menerus menjadi ‘upik-abu’ di dapur.
  5. Kedomestikan kaum wanita selama ini adalah rekayasa kaum pria untuk menyengsarakan kaum perempuan.
  6. Kaum wanita harus bebas dari bayang-bayang dan kekuasaan dan kesemena-menaan kaum pria.
  7. Patriakhisme adalah rekayasa kaum pria untuk mendodorkan wanita.
  8. Kaum pria-lah yang selama ini menghambat kemajuan kaum wanita.
  9. Kalau sejak awal kaum pria tidak menghambat kaum wanita, maka sekarang kaum wanita sudah sehebat dan seunggul kaum pria, sebagai penemu, sebagai pemimpin Kerajaan, sebagai filsuf, sebagai paus Gereja, sebagai pahlawan di medan perang, sebagai jenderal, dsb. Itu kata perempuan sophis. Jadi, kalau sekarang wanita dilukiskan tidak bisa berbuat apa-apa, maka itu karena sejak awal potensi kaum wanita DIPASUNG oleh kaum pria di dapur, sumur, tempat tidur, dan tempat jemur.
  10. Banyak terjadi, sering terjadi, penindasan perempuan oleh pria, di masa lalu mau pun sekarang, yang itu terjadi akibat perempuan tidak diberdayakan. Oleh karena itu, banyaknya terjadi penindasan perempuan, merupakan bahan-bakar bagi perempuan untuk menuntut persamaan gender (Emansipasi Wanita – EW). Padahal kenyataannya, itu semua adalah tuduhan kaum sophis yang dibesar-besarkan, didramatisasi.
  11. Pada jaman purba, kaum pria terlihat unggul (dengan begitu banyaknya penemuan yang mereka hasilkan), sementara kaum perempuan melempem. Kaum perempuan sophis menuduh, bahwa melempem-nya kaum perempuan, adalah karena terus dipinggirkan dan dipasung oleh pria melalui jaringan patriarkhatnya, yang tujuannya adalah jelas, yaitu supaya kaum perempuan terus saja melempem sepanjang sejarah dunia.
  12. Patriarkhat adalah bikinan dan hasil rekayasa kaum pria untuk meminggirkan kaum perempuan. Agenda terbesar dari patriarkhisme adalah meminggirkan dan memasung sumber-daya perempuan untuk selama-lamanya.
  13. Kodrat perempuan yang domestik merupakan rekayasa patriarkhat. Dengan kata lain, kodrat domestik adalah tipu-muslihat kaum pria untuk meminggir-kan dan menindas kaum perempuan.
  14. Perempuan harus bangkit untuk merekonstruksi peran gender, yang itu berarti akan merombak (bahkan menggulingkan) patriarkhisme yang merupakan bikinan para pria.
  15. Agama mempunyai peran penting di dalam melestarikan patriakhisme.
  16. Bahkan, agama bisa jadi adalah bikinan pria juga, untuk melegitimasi patriarkhisme.
  17. Dengan banyaknya perempuan yang keluar rumah dan diberdayakan, berparalel dengan terjadinya banyak kasus perzinaan, pemerkosaan, aborsi, perselingkuhan, prostitusi, pornografi, kawin-cerai, dsb. Lagi-lagi, kaum perempuan menuduh bahwa seluruh bencana tersebut adalah ulah kaum pria yang bengis, ingin menang sendiri, engkar, dsb.
  18. Kalau masyarakat madani mengeluarkan peraturan seperti kaum wanita harus berkerudung, larangan mengenakan rok-mini, dsb, maka kaum perempuan sophis spontan menuduh patriarkhat pria yang berada di balik peraturan tersebut, yang tujuanya untuk memasung kebebasan perempuan.
  19. Kaum perempuan sophis menuntut adanya Pasal marital rape untuk memastikan seorang suami tidak akan memaksakan hubungan badan dengan sang istri.
  20. Kaum perempuan sophis menuntut bahwa istri juga ditabalkan sebagai kepala rumahtangga, seperti halnya suami.
  21. Kaum perempuan sophis menuntut bahwa perempuan juga berhak untuk menjadi Imam shalat, sebagaimana halnya kaum pria. Jabatan paus, uskup, pastur, kardinal, juga tidak luput dari tuntutan kaum perempuan sophis.
  22. Dan ketika point 19, 20 dan 21 ditolak oleh masyarakat madani, spontan kaum perempuan sophis menuduh bahwa patriarkhisme berada di belakang penolakan tersebut, yang aromanya tidak mau mengakui keunggulan kaum perempuan. Kaum sophis menuduh, bahwa penolakan tersebut kental berbau aroma peminggiran terhadap perempuan, supaya perempuan terus menjadi objek, dan kalau terus menjadi objek, akan mudah untuk terus menjadi bulan-bulanan kesemena-menaan dan penindasan kaum pria.
  23. Dsb.

Kaum perempuan telah memperkatakan semua hal yang tidak pada tempatnya, termasuk fitnah kepada kaum pria, itu semua hanya untuk tercapainya tujuan mereka, yaitu Emansipasi Wanita (EW) dan kesetaraan gender pria dan wanita. Hal-hal kegilaan yang menjangkiti kaum wanita (yaitu EW), berikut dengan geliat kontra-pria, sungguh, hanya ada setelah adanya kecanggihan teknologi, dan hanya ada setelah mereka memperoleh pemberdayaan (yaitu di dalam bentuk diberi pendidikan, dan pekerjaan / karir). Artinya, hanya karena ada kecanggihan teknologi-lah (yaitu mainan kaum pria), kaum wanita mabuk-kepayang sejadi-jadinya. Karena ada kecanggihan teknologi, kaum wanita memperkatakan hal-hal yang di luar nalar, di luar kepantasan, pongah, bebal, dsb, terhadap kaum pria. ***

Seorang wanita, kalau tidak diberdayakan sejak dini dan untuk selama-lamanya (di dalam bentuk tidak disekolahkan, dan tidak diberi ijin untuk bekerja mencari uang), maka kelak ia akan mempunyai mental dan nurani yang sederhana dan sejuk. Mental yang sederhana dan sejuk adalah, bahwa ia hanya akan manut untuk tinggal di dalam rumahnya mengurus anak dan keluarganya. Ia tidak akan pernah mempunyai fikiran untuk bekerja mencari uang, apalagi kesetaraan gender, menjadi pekerja dan pejabat di sektor publik, dsb.

Bagi seorang wanita yang mempunyai mental yang sederhana, tinggal di dalam rumah apalagi untuk mengurus dan merawat anak-anaknya, adalah segala-galanya, dan tidak dapat diganti dengan apapun di dunia ini. Terlebih, seorang wanita yang mempunyai mental yang sederhana (wanita yang tidak diberdayakan), tidak akan pernah menomorsatukan kecantikannya, karena pada dasarnya ia memang telah cantik dari penciptaannya. Wanita yang tidak diberdayakan, alias wanita yang domies, merupakan kunci dari keamanan dan keagungan umat manusia keseluruhannya.

Ketahuilah, bahwa keagungan umat, keagungan moralitas umat, dan jauhnya umat manusia dari malapetaka sosial, hanya berpangkal dari di-Domestikalisasikannya Wanita, DW. Hempaskanlah EW sampai pada kehancurannya, dan kemudian bangkitkanlah DW, untuk mengembalikan marwah umat umumnya, dan marwah kaum perempuan, khususnya. Alangkah patutnya untuk direnungkan, bahwa bahkan DW tidak merugikan siapa pun, bahkan menguntungkan siapa pun. Satu-satunya mahluk yang dirugikan dengan adanya program DW adalah Iblis, yaitu Setan yang terkutuk. Wallahu a’lam bishawab.

Seorang Gila Versus Wanita Yang Diberdayakan

org-gilaWanita yang diberdayakan, yaitu yang disekolahkan (hingga setinggi-tingginya) dan juga diberi pekerjaan (termasuk karir dan jabatan), sudah menjadi fenomena di muka bumi ini. Dan juga tidak dapat dihindari, bahwa ternyata fenomena wanita yang diberdayakan ini BERPARALEL dengan maraknya kejatuhan moralitas dan mentalitas seluruh anak manusia, khususnya lagi kaum wanita itu sendiri. Pendek kata, bermental dan bermoral super-bobrok.

Saya jadi teringat dengan pengalaman saya ketika saya menginap di rumah abang saya di salah satu desa di Kabupaten Bogor, yang masih diselimuti hutan, kebun dan sawah. Pokoknya masih merupakan desa yang asri dan lengang, dan berhawa sejuk, enak buat istirahat.

Di lingkungan rumah abang saya itu, hidup saudara kita yang kurang beruntung, yaitu mengalami gangguan jiwa, mudahnya disebut orang-gila. Tidak ada yang dia lakukan setiap hari kecuali luntang-lantung jalan kaki ke sana-sini; maklumlah orang gila. Untuk urusan makan, orang-gila ini mengharapkan kerelaan warga kampung yang selalu menyediakannya makan layak tiga kali sehari, yang memang terjamin setiap hari sehingga orang-gila ini tidak akan kelaparan.

Ada yang menjadi perhatian warga kampung. Kalau pihak warga menyediakan makan dengan menu hewani untuk orang-gila ini (apakah ayam, atau daging, atau ikan, atau telur), maka dipastikan sehabis makan si orang-gila ini akan meracau sepanjang jalan dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas untuk didengar. Namun kalau pihak warga tidak memasukkan unsur hewani di dalam menu makanannya, maka si orang-gila tidak akan berkelakuan seperti itu, melainkan tetap tenang dan stabil.

Ketika warga mendengar kata-kata yang tidak pantas dari mulut si orang-gila ini ketika meracau, maka itu ada hubungannya dengan apa yang ia makan. Jadi, apa yang masuk ke dalam mulut / perutnya, merupakan refleksi apa yang akan keluar dari mulutnya, begitu juga sebaliknya.

Dengan keadaan seperti itu, akhirnya seluruh warga memutuskan untuk tidak lagi memasukkan unsur hewani ke dalam menu makan untuk si orang-gila, itu semua demi kebaikan bersama, karena toh makanan non-hewani juga baik dan bernutrisi.

Apa yang dapat kita simpulkan dari cerita si orang gila ini berkaitan dengan menu makan-nya? Kesimpulannya adalah, apa yang masuk ke dalam perut orang gila ini, benar-benar mempengaruhi perilakunya. Dengan kata lain, apa yang masuk ke dalam perutnya melalui menu makannya sebagai sebab, berbanding lurus dengan perilakunya, sebagai akibat. Jadi ada sebab dan ada akibat, dan hubungannya adalah berbanding lurus, alias berparalel.

Intinya, warga sekitar, sebagai manusia waras, tentu hanya menginginkan kebaikan. Oleh karena itu, mengenai perilaku orang gila ini, warga sekitar pun juga ingin yang terbaik buat semua. Maka sudah tepat ketika warga memutuskan untuk tidak lagi memasukkan unsur hewani ke dalam menu makan si orang-gila ini.

Sebenarnya demikian jugalah halnya dengan kaum wanita, sama seperti si orang-gila tadi. Apa yang masuk ke dalam fikiran kaum wanita yaitu pemberdayaan, merupakan refleksi apa yang akan diperbuat oleh kaum wanita kelak. Apa yang ingin diperbuat kaum wanita dengan pemberdayaan tersebut adalah, ingin menjarahi kodrat pria, yaitu keluar rumah, bekerja mencari uang, jabatan dan karir, kemudian mencampakkan kodrat domestik, yang mana itu berarti kaum wanita yang diberdayakan tidak ingin lagi masak, mencuci piring, mencuci baju, mengurus dan membesarkan anak, tinggal di rumah dsb.

Kebalikannya, kalau wanita tidak diberdayakan, maka tidak akan begini jadinya. Kaum wanita yang tidak diberdayakan, yaitu tidak disekolahkan (hingga setinggi-tinginya), kemudian tidak diberi pekerjaan untuk mencari uang, akan tetap manut dengan kodrat domestiknya. Secara garis besar, wanita yang tidak diberdayakan akan tetap manut kepada alam patriarkhat. Hal ini tepat seperti si orang-gila yang tidak diberi makan hewani, yang akibatnya si orang-gila ini akan berperangai sejuk dan tenang.

Ketika si orang-gila meracau mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas (karena mendapat menu makan yang mengandung darah), maka demikian juga dengan kaum wanita yang diberdayakan: mereka akan terus mengeluarkan kata-kata (teori, wacana, ideologi, argumentasi dsb) yang tidak pantas, yang tidak mempunyai logika apapun, yang tidak ilmiah.

Intinya, kalau perempuan diberdayakan, maka kelak perempuan ini akan meracau dengan begitu kejinya. Apa saja kata-kata yang tidak pantas dan tidak mengandung logika, yang dikeluarkan saat perempuan-perempuan yang diberdayakan meracau? Di antaranya adalah,

  1. Wanita sama unggulnya dengan pria.
  2. Wanita adalah sejajar dengan pria.
  3. Kalau pria menjadi pemimpin, maka wanita juga harus boleh jadi pemimpin.
  4. Pria selalu menghambat kemajuan perempuan. Pria selalu menindas kaum perempuan dari satu abad ke abad lainnya.
  5. Banyak terjadi, sering terjadi, penindasan perempuan oleh pria, di masa lalu mau pun sekarang, yang itu terjadi akibat perempuan tidak diberdayakan. Oleh karena itu, banyaknya terjadi penindasan perempuan, merupakan bahan-bakar bagi perempuan untuk menuntut persamaan gender (Emansipasi Wanita – EW). Padahal kenyataannya, itu semua adalah tuduhan kaum sophis yang dibesar-besarkan, didramatisasi.
  6. Pada jaman purba, kaum pria terlihat unggul (dengan begitu banyaknya penemuan yang mereka hasilkan), sementara kaum perempuan melempem. Kaum perempuan sophis menuduh, bahwa melempem-nya kaum perempuan, adalah karena terus dipinggirkan dan dipasung oleh pria melalui jaringan patriakhatnya, yang tujuannya adalah jelas, yaitu supaya kaum perempuan terus saja melempem sepanjang sejarah dunia.
  7. Patriakhat adalah bikinan dan hasil rekayasa kaum pria untuk meminggirkan kaum perempuan. Agenda terbesar dari patriakhisme adalah meminggirkan dan memasung sumber-daya perempuan untuk selama-lamanya.
  8. Kodrat perempuan yang domestik merupakan rekayasa patriarkhat. Dengan kata lain, kodrat domestik adalah tipu-muslihat kaum pria untuk meminggir-kan dan menindas kaum perempuan.
  9. Perempuan harus bangkit untuk merekonstruksi peran gender, yang itu berarti akan merombak patriarkhisme yang merupakan bikinan para pria.
  10. Agama mempunyai peran penting di dalam melestarikan patriakhisme.
  11. Bahkan, agama bisa jadi adalah bikinan pria juga, untuk melegalisasi patriarkhisme.
  12. Dengan banyaknya perempuan yang keluar rumah dan diberdayakan, berparalel dengan terjadinya banyak kasus perzinaan, pemerkosaan, aborsi, perselingkuhan, prostitusi, pornografi, kawin-cerai, dsb. Lagi-lagi, kaum perempuan menuduh bahwa seluruh bencana tersebut adalah ulah kaum pria yang bengis, ingin menang sendiri, engkar, dsb.
  13. Kalau masyarakat madani mengeluarkan peraturan seperti kaum wanita harus berkerudung, larangan mengenakan rok-mini, dsb, maka kaum perempuan sophis spontan menuduh patriarkhat pria yang berada di balik peraturan tersebut, yang tujuanya untuk memasung kebebasan perempuan.
  14. Kaum perempuan sophis menuntut adanya Pasal marital rape untuk memastikan seorang suami tidak akan memaksakan hubungan badan dengan sang istri.
  15. Kaum perempuan sophis menuntut bahwa istri juga ditabalkan sebagai kepala rumahtangga, seperti halnya suami.
  16. Kaum perempuan sophis menuntut bahwa perempuan juga berhak untuk menjadi Imam shalat, sebagaimana halnya kaum pria. Jabatan paus, uskup, pastur, kardinal, juga tidak luput dari tuntutan kaum perempuan sophis.
  17. Dan ketika point 14, 15 dan 16 ditolak oleh masyarakat madani, spontan kaum perempuan sophis menuduh bahwa patriarkhisme berada di belakang penolakan tersebut, yang aromanya tidak mau mengakui keunggulan kaum perempuan. Kaum sophis menuduh, bahwa penolakan tersebut kental berbau aroma peminggiran terhadap perempuan, supaya perempuan terus menjadi objek, dan kalau terus menjadi objek, akan mudah untuk terus menjadi bulan-bulanan kesemena-menaan dan penindasan kaum pria.
  18. Dan lain sebagainya.

Keseluruhan hal tersebut merupakan bagian dari meracau-nya kaum perempuan sophis, yang mereka lontarkan kepada masyarakat madani. Dan di dalam pandangan mereka ini, keseluruhan hal tersebut adalah berbobot, berkualitas, berwibawa, bermartabat, dan elok. Pada intinya, keseluruhan hal tersebut, dilontarkan oleh kaum perempuan sophis, HANYA KARENA mereka mendapat pemberdayaan sejak dini. Tepat seperti si orang-gila yang mendapat makan dengan menu hewani, yang mengakibatkannya meracau secara keji.

Ada sesuatu yang tidak boleh ada di dalam perut si orang-gila itu, yang mengakibatkan si orang-gila itu meracau dan melontarkan kata-kata yang tidak pantas didengar: yang tidak boleh ada itu adalah menu hewani di dalam makanannya. Sama seperti si orang-gila, ada sesuatu yang tidak boleh ada di dalam fikiran kaum perempuan, yang mengakibatkan kaum perempuan meracau dan berbuat yang tidak pada tempatnya: yang tidak boleh ada itu adalah pemberdayaan perempuan secara luas, mau pun pendidikan sejak dini – secara sempit.

Alangkah patutnya untuk direnungkan, bahwa ketika belum / tidak ada pemberdayaan atas perempuan, kaum perempuan kala itu hidup di dalam kesahajaan, di dalam kesederhanaan, di dalam sikap manut yang harmonis di tengah masyarakat. Hal itu mengakibatkan kehidupan berjalan begitu agung dan kudus, jauh dari prasangka dan dekadensi moral. Yang menjadi energi dari keagungan hidup kala itu adalah teguhnya seluruh perempuan dengan kodrat domestik, yang selalu setia diam di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas kerumahtanggaan dsb. Dan hal tersebut tidaklah bertentangan dengan ajaran kitabsuci, dan tidak bertentangan dengan fitrah dan kodrat kewanitaan.

Namun lain halnya ketika pemberdayaan perempuan menggejala di muka bumi, yang mana hal itu mengakibatkan kaum wanita meracau dengan begitu brutalnya. Mulailah hirarki moral manusia rontok satu persatu menuju titik terdekat dengan angka nol.

Sama seperti orang-gila itu yang tidak lagi diberi lauk hewani di dalam menu makanannya supaya si orang-gila tersebut tetap berperangai baik dan santun, maka begitu jugalah hendaknya perlakuan masyarakat madani terhadap perempuan: jangan seret-seret perempuan ke dalam ruang pemberdayaan, yaitu disekolahkan (tinggi-tinggi) dan diberi pekerjaan untuk mencari uang, supaya seluruh perempuan tetap di dalam kesantunan dan kesejukannya sebagai perempuan, yang manut pada kehendak patriarkhat yang menerminkan ajaran Tuhan.

Akhir kata, siapa pun tidak dapat menyangkal, bahwa ketika belum ditradisikan sekolah untuk anak perempuan, dan ketika teknologi canggih belum beranak-pinak, tata-kehidupan pada jaman dahulu adalah baik, agung, kudus dan harmonis menentramkan. Terngiang ajaran para leluhur mengenai bagaimana memperlakukan perempuan untuk menjamin kesucian dan kesejukannya. Namun sekarang ketika tradisi mensekolahkan perempuan sudah tidak bisa dibantah, dan teknologi sudah berkembang begitu pesat, kehancuran moral sudah bergelimpangan di depan mata. Dan perihnya adalah, banyak anak manusia di jaman sekarang yang sudah menertawakan ajaran para leluhur mengenai perempuan.

Titik pembedanya sebenarnya begitu kentara: pemberdayaan perempuan. Ajaran leluhur kala itu tegas: sekolah bukan untuk anak perempuan, anak perempuan diam saja di rumah, cukup dipingit, dan manut kepada suami. Itulah energi yang menggerakan keagungan jaman.

Benarlah Alquran di dalam Al-ahzab ayat 33,

“Dan tinggallah kalian di dalam rumah-rumah kalian, dan janganlah kalian berdandan sebagaimana dandan ala jahiliah terdahulu”.

Kesimpulan.

Wanita tidak dapat dipercaya kalau diberikan pemberdayaan. Kebalikannya, wanita akan serta-merta menjadi musuh dan berbalik mengkudeta masyarakat madani kalau pemberdayaan diberikan kepada perempuan. Oleh karena itu, perempuan harus dijauhkan dari pemberdayaan, demi terciptanya kehidupan yang adi-luhung dan berwibawa.

Wallahu a’lam bishawab.

Dosa Remaja Zaman Sekarang

dosaPACARAN

Namanya dah puber dan memang fitrahnya seneng sama lawan-jenis, yang namanya cinta selalu jadi atribut mengasyikkan bagi kehidupan remaja. Saat diri sendiri merasa nggak dipahami orang lain, yang namanya lawan-jenis selalu menjadi tempat asyik untuk curhat. Jadilah sepasang lain-jenis berpacaran.

Bukannya asyik, pacaran malah full ancaman. Allah Swt memerintahkan menahan pandangan dari lawan-jenis, orang pacaran malah saling pandang. Jadinya nggak patuh sama Allah, kan? Belum masalah sentuh-menyentuh, yang kata Nabi saw lebih baik kepala ditusuk paku besi daripada menyentuh wanita non-mahram. Kalo menyentuh dah boleh-boleh aja, gimana nggak meningkat ke yang lebih ngeri? Kalo udah gini, siapa nyang rugi? Kalo nggak tobat, bisa aja rugi akhirat. Kalo sampai zina beneran, tentu juga rugi dunia.

PORNOGRAFI

Rasa ingin tahu ditambah besarnya gairah syahwat pada masa remaja membuat banyak remaja (terutama laki-laki) terperosok ke maksiat satu ini. Banyak media yang memuat pornografi. Mulai dari poster, majalah, buku, sampai VCD. Bahkan majalah Playboy yang udah masyhur kepornoannya pun udah masuk ke Indonesia setelah majalah porno lainnya eksis di negeri ini.

Menahan pandangan dari lawan jenis termasuk juga nggak liat hal-hal yang porno semacam ini. Pornografi juga memancing kejahatan seperti pelecehan seksual dan pemerkosaan. Berapa banyak kasus perkosaan berawal dari nonton VCD porno.

Alhamdulillah, nilai-nilai syariat Islam udah mulai ditegakkan di negeri kita. Setelah Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi disahkan, kita nggak aman dari tuntutan hukum dunia dalam masalah ini. Kalo ketauan liat atau bawa barang-barang berbau porno, kamu bisa dipenjara atau kena denda. Selain itu, kamu masih harus menghadapi tuntutan hukum akherat kalo nggak tobat.

ONANI / MASTURBASI

Maksiat yang satu ini juga terkenal banget dilakukan oleh para remaja. Sebabnya rata-rata sama, ingin tahu dan besarnya nafsu seksual pada masa remaja. Menurut penelitian, aktivitas ini lebih banyak dilakukan remaja pria (sekitar 90%), namun ada juga remaja perempuan yang melakukannya (30%).

Sebagian orang menganggap melepaskan syahwat dengan onani / masturbasi merupakan jalan yang lebih selamat daripada berzina. Kadar maksiat mungkin memang lebih rendah dari zina beneran, tapi bukan berarti onani nggak terlarang. Dalam Islam, melampiaskan nafsu syahwat hanya diperkenankan dilakukan terhadap istri atau suami. Barangsiapa yang mencari pelampiasan selain itu maka mereka termasuk orang yang melampaui batas. Onani jelas termasuk jalan lain, berarti onani termasuk perbuatan melampaui batas.

Jika onani dibolehkan, tentu Muhammad Rasulullah saw nggak perlu memerintahkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa. Mereka yang belum mampu menikah tentu tinggal diperintahkan onani. Namun kenyataannya, mereka yang belum mampu menikah diperintahkan untuk berpuasa, tidak diperintahkan untuk onani. Jadi, onani tetap aja terlarang.

Sumber, https://triatra.wordpress.com/2011/01/05/dosa-remaja-zaman-sekarang/

Annisanation – – inilah akibat dan efek lurus yang akan diderita umat manusia kalau umat melumrahkan kaum wanitanya untuk keluar rumah. Islam di lain pihak telah mengajarkan umatnya untuk teguh melarang wanitanya keluar rumah, karena justru kesucian wanita akan terjaga di dalam rumahnya. Ingatlah, bahwa keseluruhan masalah sosial ini, seberapa pun banyaknya ragam masalah sosial tersebut, penyebabnya hanya satu, yaitu wanita-keluar-rumah. Karena suatu kota memperbolehkan dan melumrahkan para wanitanya keluar rumah, maka satu persatu masalah sosial menggejala di tengah kota tersebut. Absurditas selanjutnya adalah, umat di kota tersebut tidak pernah menyimpulkan bahwa menggejalanya masalah sosial di tengah kota mereka adalah dikarenakan para wanita yang keluar rumah: benar-benar absurd!

Kaum wanita adalah kaum yang amat rentan dengan gejala birahi kepada lawan jenis. Untuk menjaga supaya fikiran dan kesuciannya tetap terjaga adalah dengan memastikannya tidak bertemu dengan lawan jenisnya secara konstan dan konsisten, yaitu tidak keluar rumah setiap hari. Islam sebenarnya mengajarkan bahwa wanita diperbolehkan keluar rumah, selama dengan metode yang tidak permanen, seperti untuk ke pasar, untuk menghadiri pesta pernikahan, untuk menjemput anak yang sedang bermain di tanah lapang, dan lain sebagainya. Jadi dengan kata lain, Islam melarang umat untuk melumrahkan wanita keluar rumah untuk tujuan permanen, seperti menuntut ilmu di sekolah atau kampus, dan bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan.

Selama umat melumrahkan kaum wanita-keluar-rumah secara permanen (untuk sekolah, kuliah, bekerja mencari nafkah, mengurus sosialnya, dsb) maka selama itu pula perzinaan akan marak di tengah umat, karena secara kimiawi, pastilah wanita-wanita tersebut akan birahi kepada pria-pria yang mereka temui setiap hari ….. dan dari sinilah akan merata-nya perzinaan. Naudzu billah minzalik!

Adalah mustahil untuk dimengerti, di mana di satu pihak umat menginginkan kehidupan yang terbebas dari meratanya zina, sementara di pihak lain umat terus saja melumrahkan kaum wanitanya untuk keluar rumah secara permanen. Bagaimana mungkin hal tersebut dapat terwujud, sementara satu-satunya penyebabnya tidak ditangani dengan baik? Apakah mungkin akibat dapat dihilangkan, sedangkan sebab tidak dimusnahkan?

Fakta sudah membuktikan, bahwa keseluruhan wanita yang keluar rumah secara permanen sudah mempunyai kemistri progresif terhadap semua pria yang mereka temui di luar rumah (rasa suka, sayang, kangen, kagum, nyaman di dekatnya, menginginkan, mendambakan dsb), dan itu berarti dua hal: kalau tidak sudah mempunyai pacar pria dan menikmati hubungan intim dengannya, maka ia, wanita tersebut di dalam ‘keadaan menginginkan’ mempunyai pacar pria agar bisa berkasih-kasihan di dalam belaian kekar! Kedua hal ini pasti akan berhujung pada tindak zina, atau bahkan kumpul-kebo dengan tetap menggunakan kondom yang dijual bebas di warung-warung.

Oleh karena itu, kalau umat ingin terbebas dari zina massal dan dosanya, maka pastikanlah untuk kembali kepada zaman kesucian, di mana seluruh kaum wanita tidak diperkenankan untuk keluar rumah, karena toh pada naluri dan kodratanya, kaum wanita itu adalah mahluk domestik. Ingatlah, bahwa dengan tetap tinggal di dalam rumahnya (tidak keluar rumah untuk sekolah dan bekerja) maka wanita-wanita itu tetap di dalam kondisi aman sejahtera tanpa kekurangan suatu apapun, sementara kita juga berfikir bahwa secara alami seluruh kebutuhan nafkah setiap wanita pasti sudah ditanggung oleh keluarganya, seperti ayah, suami, abang, anak laki-lakinya yang sudah besar, dsb.

Wallahu a’lam bishawab.

Jumhur Ulama Yang Anti Emansipasi Wanita

jumhur ulama

Wanita Menjadi Pemimpin

Hadits:

Dari Abu Bakrah bahwa Nabi bersabda: “Tidak akan bahagia suatu kaum yang menyerahkan kekuasaan mereka kepada seorang perempuan” [Riwayat Bukhari].

Penjelasan:

Al Khathabi berkata, “Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa wanita tidak dapat diangkat menjadi pemimpin maupun hakim, ini juga menjelaskan bahwa dia tidak dapat menikahkan dirinya, dan tidak berhak menikahkan selainnya.” Namun, pernyataannya kurang tepat. Mengenai larangan seorang wanita memegang kekuasaan pemerintah dan hakim adalah pendapat jumhur. Namun, Ath-Thabari membolehkannya, dan ia adalah salah satu dari riwayat Imam Malik. Adapun Abu Hanifah membolehkan bagi kaum wanita menjadi hakim dalam perkara-perkara yang diterima kesaksiannya.

Adapun alasan para jumhur tidak membolehkan wanita menjadi pemimpin di antaranya:

  1. Pemimpin wanita pasti merugikan

Al Baghowiy mengatakan dalam Syarhus Sunnah (10/77) pada Bab ”Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”:

”Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh jadi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin. Seorang hakim haruslah bisa menyelesaikan sengketa. Sedangkan wanita adalah aurat, tidak diperkenankan berhias (apabila keluar rumah). Wanita itu lemah, tidak mampu menyelesaikan setiap urusan karena mereka kurang (akal dan agamanya). Kepemimpinan dan masalah memutuskan suatu perkara adalah tanggung jawab yang begitu urgent. Oleh karena itu yang menyelesaikannya adalah orang yang tidak memiliki kekurangan (seperti wanita) yaitu kaum pria-lah yang pantas menyelesaikannya”.

  1. Wanita kurang akal dan agama.

Rasulullah Saw. Bersabda,

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita”. Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud kurang akalnya?”. Beliau saw pun menjawab, ”Bukankah persaksian dua wanita sama dengan satu pria?”. Ada yang menanyakan lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang agamanya?”. Beliau saw pun menjawab, ”Bukankah ketika seorang wanita mengalami haidh, dia tidak dapat melaksanakan shalat dan tidak dapat berpuasa?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi saw menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kurang akalnya adalah dari sisi penjagaan dirinya dan persaksian tidak bisa sendirian, harus bersama wanita lainnya. Inilah kekurangannya, seringkali wanita itu lupa. Akhirnya dia pun sering menambah-nambah dan mengurang-ngurangi dalam persaksiannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya” (QS. Al Baqarah: 282).

Yang dimaksud dengan kurangnya agama adalah ketika wanita tersebut dalam kondisi haidh dan nifas, dia pun meninggalkan shalat dan puasa, juga dia tidak mengqodho shalatnya. Inilah yang dimaksud kurang agamanya. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 4/292)[11]

Simpulan

Jumhur ulama tidak membolehkan wanita menjadi pemimpin, karena mendatangkan beberapa mudharat.

Sumber,

http://abdanmatin [dot] blogspot [dot] com/2013/02/hadits-tentang-kepemimpinan.html

-o0o-

Annisanation – paparan di atas sudah menjelaskan kepada kita bahwa umat Muslim mempunyai larangan langsung dari sisi Nabi Muhammad Saw untuk mengangkat kaum wanita sebagai pemimpin. Ini juga berarti, secara implisit, wanita terlarang untuk bekerja di luar rumah, karena datangnya ide wanita menjadi pemimpin pasti berasal dari alam fikiran yang membolehkan wanita keluar rumah untuk menuntut ilmu dan juga bekerja mencari nafkah / uang. Tidak mungkin terjadi di mana suatu umat melarang kaum wanita untuk keluar rumah untuk beraktivitas (seperti menuntut ilmu dan bekerja mencari uang) sementara pada umat tersebut terdapat kaum wanita yang menjadi pemimpin umat.

Pada kenyataannya dewasa ini, umat Muslim di seluruh Dunia ini, kebanyakan, telah melembagakan sistem yang mengadopsi wanita bekerja – dan juga menuntut ilmu, sehingga dari sistem tersebut lahirlah pemimpin-pemimpin yang berjenis kelamin wanita, sebagai konsekwensi dari diperbolehkannya dan meratanya kaum wanita bekerja. Adalah tidak mungkin di satu pihak kaum wanita diperbolehkan dan diratakan untuk bekerja di luar rumah, sementara pada akhirnya kaum wanita tersebut tetap tidak diperbolehkan menjadi pemimpin.

Dengan demikian sudah dapat dikatakan bahwa umat Muslim di seluruh Dunia telah mendurhakai perintah dan ajaran Islam, yaitu ajaran dari Nabi Muhammad Saw. Sebagai bentuk kezalimannya, maka timbullah dekadensi moral yang parah dan memborok di tengah umat, seperti pelacuran, perzinahan, freesex, pornografi, perceraian di kalangan pernikahan muda, dan lain sebagainya.

Akankah ini kita biarkan dekadensi moral ini untuk selama-lamanya? Apakah Muslim di seluruh Dunia telah ridho dengan adanya kebangkrutan moral yang memborok? Dan kemudian apakah umat Muslim seluruh Dunia telah ridho dengan azab Illahi karenanya?

RUU Kesetaraan Gender, Beban Ganda Terhadap Perempuan

ruu-kkg08

Usaha feminis mensahkan RUU KKG ini merupakan usaha yang konstitusional untuk meng-inkonstitusionalkan peran agama dan budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Oleh: Henri Shalahuddin, MIRKH

RANCANGAN Undang-Undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUU KKG) kembali mengemuka di penghujung masa kepengurusan DPR RI 2009-2014. Setelah sebelumnya mengendap sekitar dua tahun, karena menuai penolakan dari pelbagai komponen masyarakat, khususnya dari organisasi-organisasi perempuan yang berkeindonesiaan dan berkeadaban. Sebab RUU KKG yang beredar saat itu dinilai tidak mencerminkan ruh pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yang berasaskan Pancasila. Bahkan lebih cenderung memungut “kearifan” Barat daripada menjunjung kearifan lokal yang bersumber dari nilai-nilai agama dan budaya bangsa yang bermartabat.

Setidaknya inilah substansi alasan penolakan dari pelbagai organisasi perempuan ketika menghadiri Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) yang digelar oleh Komisi VIII DPR RI pada 2012 silam.RDPU yang dipimpin oleh politisi feminis (kini berstatus tahanan atas kasus korupsi), berlangsung cukup panas karena kurangnya kesiapan aktivis feminis menghadapi realita keberagaman di kalangan perempuan.

Kemunculan RUU KKG setelah dua tahun mati suri, terkesan sangat tertutup.Bahkan tiba-tiba dikabarkan telah diluluskan oleh Baleg dan mengedepankan asas netral agama. Penyusunan kembali draft RUU KKG menurut informasi beberapa aktivis feminis di samping tertutup juga cenderung hanya dikonsultasikan kepada lembaga-lembaga dan LSM perempuan yang sejalan dengan ideologi feminisme dan gender.

Seringkali pihak-pihak yang tidak setuju dengan RUU KKG diklaim sebagai pendukung kekerasan terhadap perempuan, neo-patriarkhi, kolot dan anti kesetaraan derajat antara laki-laki dan perempuan. Bahkan kalangan perempuan yang menolak RUU ini dituduh sebagai pihak yang sudah terlalu “nyaman” dan “diuntungkan” dengan sistem patriarkhi.Tentunya hal itu merupakan ekspresi kepanikan dan pengaruh kejiwaan atas berbagai ambisi elit perempuan menghadapi realitas bangsa yang berpegang erat pada adab dan nilai-nilai keindonesiaan. Padahal akan lebih baik apabila para politisi feminis mensosialisasikan terlebih dahulu kedudukan RUU KKG, termasuk apakah bangsa Indonesia, khususnya perempuan, membutuhkannya? Dan haruskah kaum perempuan, -dengan segala keberagamannya-, menginginkan UU KKG?

Sebagai negara yang turut meratifikasi CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women), sudah tentu Indonesia bertanggungjawab memberantas segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan.Di samping itu juga memprioritaskan tercapainya akses keadilan dan pemulihan bagi perempuan korban tindak kekerasan seksual.Dari sini bisa dipahami bahwa RUU KKG berkemungkinan diniatkan sebagai payung hukum bagi percepatan penghapusan diskriminasi dan mengikutsertakan perempuan dalam segala aktivitas pembangunan.

Namun demikian semua itu bukan berarti dilakukan dengan mengabaikan prinsip nilai-nilai agama dan budaya Indonesia. Karena syarat dan rukun menjadi negara yang maju dan sejahtera tidak harus menghilangkan filter identitas suatu negara.Dan sekiranya RUU KKG dibuat dengan semangat “netral agama”, justru menjadi kemunduran yang tidak berkesudahan bagi rakyat NKRI.Sebab jargon-jargon semisal “netral agama”biasanya hanya disuarakan oleh para aktivis sekular radikal dan ateis militan.Untuk itu sebelum membuat kebijakan semisal RUU KKG paling tidak diperlukan pengetahuan standard tentang makna gender, feminisme, latar belakang sejarah kemunculannya, dan relevansinya untuk bangsa Indonesia.

Arti feminisme dan gender

Istilah “keseteraan gender” tidak bisa dipisahkan dari “feminisme”, karena keduanya identik satu dengan lainnya. Baik gender maupun feminism merupakan kata serapan dari bahasa asing dan membawa makna khusus dari sisi terminologi maupun muatan nilai filosofisnya. Feminisme pada awalnya adalah gerakan perempuan di Barat yang menuntut keadilan atas segala bentuk diskriminasi yang mereka alami.Ekspresi protes kaum perempuan inilah yang merupakan substansi darimakna feminisme.

Rita M. Gross menjelaskan bahwa inti feminisme adalah ‘teriakan’ perempuan yang menegaskan bahwa mereka juga manusia. Dalam buku “Feminist Methods in Social Research” dijelaskan bahwa feminisme berawal dari pernyataan perempuan tentang kekuatannya. Di mana pada awalnya feminisme bukanlah teori, tetapi tindak personal itu sendiri. Maka sangat wajar sebagai gerakan politik yang langsung terjun dalam masalah praktis dan tidak berawal dari aspek keilmuan, jika epistemologi (konsep ilmu) feminis yang sejak dulu dianggap kontradiktif (oxymoron), tapi kini namanya sudah diakui, meskipun epistemologinya sampai sekarang masih belum jelas.

Sebab penjelasannya hanya berputar-putar di sekitar cara perempuan mengetahui, pengalaman dan pengetahuan wanita.Hal ini tentunya terasa asing menurut kalangan filsuf profesional, dan juga ganjil dalam teori ilmu pengetahuan secara umum.

Sedangkan arti “Gender” secara kebahasaan pada awalnya tidak berbeda dengan arti “sex”, atau jenis kelamin biologis. Tetapi seiring dengan berkembangnya waktu, John Money menggeser arti gender menjadi peran sosial atau “jenis kelamin sosial” yang tidak permanen, bisa berubah, dan bahkan bisa dipertukarkan sesuai konstruksi budaya.

Oleh karena itu dalam buku“Language and Gender” dijelaskan bahwa gender isn’t something we are born with, and not something we have, but something we do/something we perform.Pergeseran arti gender dimaksudkan di antaranya untuk membangun opini bahwa karakteristik laki-laki dan perempuan tidak ditentukan secara biologis.

Maka sejalan dengan makna di atas, dalam RUU KKG bulan Desember 2013 para politisi feminis mengartikan gender sebagai pembedaan perempuan dan laki-laki yang merupakan hasil konstruksi sosial budaya.

Oleh karena itu para politisi feminis berusaha merekonstruksi ulang tatanan sosial budaya masyarakat Indonesia dari pembedaan menjadi penyamaan antara laki-laki dan perempuan melalui konstitusi dan diberlakukan secara mengikat.

Dengan demikian sebenarnya usaha feminis mensyahkan RUU KKG ini merupakan usaha yang konstitusional untuk meng-inkonstitusionalkan peran agama dan budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perjuangan yang sedang dilakukan politisi feminis adalah pengaruh langsung dari globalisasi ideologi gender. Hubungan laki-laki perempuan, suami istri atau antar anggota keluarga akan diatur langsung oleh negara. Dalam makalah “A History of Gender” yang diterbitkandalam The American Historical Review, gender dipandang sebagai cara utama untuk menandai hubungan kekuasaan. Maka Joan W. Scott membangun konsep gender melalui konstitusi.

Kritik terhadap feminis dan RUU KKG

Gerakan feminisme dan kesetaraan gender telah banyak menuai kritik dari kalangan wanita di pelbagai penjuru dunia. Marlene LeGates menyebutkan bahwa di antara kesalahan utama feminis yaitu menganggap semua wanita mempunyai karakter, kepentingan dan kepribadian yang sama. Feminis sering melupakan keberagaman yang ada pada setiap wanita yang berlainan suku, agama, kelas sosial dan bahkan orientasi seksual mereka.Maka kemunculan aliran-aliran feminisme tidak saja dimaknai sebagai keberagaman paham, tetapi juga realitas adanya perbedaan kepentingan politik di kalangan feminis.

Perjuangan kesetaraan di kalangan feminis tidak berarti bahwa semua wanita mempunyai kedudukan yang setara.Bahkan keberadaan kasta dan kelas di kalangan feminis semakin nyata.Anne Kenney dan rekan-rekan feminisnya di Inggris menganggap superioritas mereka lebih tinggi daripada wanita Asia yang dipandang sebagai wanita lemah. Dalam konteks Indonesia, tidak sedikit feminis yang menyerukan kaum perempuan terjun ke sektor publik, tapi pada saat yang sama mereka justru memperkerjakan perempuan beda kelas sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji di bawah UMR.

Kemunculan gerakan “woman of color” adalah wujud perlawanan terhadap hegemoni feminis kulit putih. Maka tidak aneh jika Frances Ellen Watkins Harper, reformis dari Afro-Amerika, mengingatkan dari pengalamannya bahwa menjadi orang kulit hitam berarti setiap orang kulit putih, termasuk setiap wanita kelas pekerja, bisa mendiskriminasikan Anda.

Feminis mengkritik androsentrisme dan patriarkhisme karena mengidentikkan norma manusia adalah laki-laki, tetapi di sisi lain feminis mendesak wanita membuang sifat-sifat kewanitaannya dan mengadopsi sifat maskulin hingga berkelayakan berperan di dunia publik.

Pesan mendasar dari uraian singkat di atas sebenarnya adalah perlunya memperkaya pengetahuan standard tentang konsep kesetaraan gender, feminisme dan nilai-nilai keindonesiaan, sebelum bertungkus lumus mensyahkan RUU KKG secara paksa.Meskipun tidak dipungkiri bahwa sebagian rakyat NKRI baik laki-laki maupun perempuan masih saja mengalami diskriminasi dan terhalang untuk ikut menikmati hasil pembangunan.

Namun bukan berarti RUU KKG atau apapun namanya adalah jawaban atas berbagai masalah yang dihadapi rakyat NKRI.Justru yang lebih mendesak adalah pembuatan UU yang mensejahterakan bangsa Indonesia dengan tidak memandang hubungan laki-laki dan perempuan sebagai hubungan hierarkhi kekuasaan.Sebab hal ini hanya akan menghasilkan persaingan, antagonis, dan kebencian.

Bahkan lebih dari itu, RUU tersebut hanya membuahkan beban ganda bagi kaum perempuan. Sebab negara tidak lagi memberikan akses kepada mereka untuk berkembang sesuai dengan apa yang mereka inginkan.Sebaliknya akses hanya diberikan untuk mewujudkan keinginan kaum kapital, politisi, industri hiburan dan unsur-unsur lainnya di luar dirinya.

Retorika feminis militan yang selalu menyalahkan suami dan menuntut dikuranginya beban rumah tangga bagi istri yang berkarier dan mempunyai balita, tanpa pernah memperjuangkan aturan pengurangan beban kerja kepada instansi tempat bekerja merupakan contoh nyata bahwa wanita tidak lagi bisa memiliki dirinya sendiri.

Penutup

Menolak RUU KKG bukan berarti mendukung penindasan wanita.Mengkritisi konsep gender dan feminisme tidak bermakna anti Barat.Asimilasi dan adaptasi adalah hal lumrah dalam peradaban manusia. Tetapi menjadi tidak lumrah bila tidak diiringi dengan filter dan internalisasi, apalagi jika langsung bergerak kepada upaya konstitusi dengan penetapan RUU.

Banyak hal-hal positif yang bisa diambil dari Barat yang tidak bertentangan dengan kultur keindonesiaan dan mendatangkan manfaat bagi rakyat apabila dituangkan dalam UU maupun perencanaan pembangunan. Contohnya antara lain: i) memperbanyak tersedianya ruang menyusui di tempat kerja atau di ruang publik, ii) memberikan cuti hamil dan melahirkan minimal selama 1 tahun, iii) menetapkan masa kerja yang lebih fleksibel bagi ibu-ibu yang berkarier, iv) memberikan subsidi bulanan bagi ibu kurang mampu yang mempunyai bayi hingga usia balita, v) menjamin tersedianya persalinan yang mudah, aman, sehat dan murah, vi) memberikan subsidi bulanan bagi janda-janda miskin, dan lain-lain.

Tetapi apabila para politisi di DPR tetap bersikukuh mensyahkan RUU KKG yang substansinya membuka interpretasi pembolehan melakukan kawin beda agama, kawin sesama jenis, hak aborsi, memandang peran domestik sebagai hal yang tidak produktif, hak istri menjadi kepala rumah tangga, hak memidanakan suami atas tuduhan pemerkosaan (marital rape) dan isu-isu kontroversial lainnya, atau pun hal-hal lainnya yang berdampak pada beban ganda terhadap kaum perempuan, maka hal itu justru menguatkan klaim adanya muatan ideologis elit feminis di balik RUU ini.

Apakah politisi feminis sanggup mempengaruhi kualitas para anggota dewan yang terhormat hingga mensyahkan segala bentuk undang-undang yang tidak berpihak pada pembangunan masyarakat yang adil dan beradab?Kita tunggu saja!

Penulis adalah ketua Majelis Riset dan Pengembangan di Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI).Saat ini sedang menyelesaikan disertasi tentang gender dan Islam di Universiti Malaya Kuala Lumpur Program Kaderisasi Ulama kerjasama DDII dan Baznas

Sebagai seorang muslim, aku juga turut menolak RUU KKG. Menurutku, kebebasan sebebas-bebasnya ala barat dan penyamarataan segala sesuatu tanpa batas antara laki-laki dan perempuan bukanlah solusi untuk melindungi perempuan Indonesia. Kenapa? Karena kita memiliki nilai-nilai agama dan moral serta budaya yang belum tentu sesuai dengan nilai-nilai feminisme ala barat. Ilmu pengetahuan seharusnya sejalan dengan agama. Jangan salah, agama Islam bukan agama yang anti ilmu pengetahuan karena ada banyak sekali ayat-ayat Quran yang sejalan dengan ilmu pengetahuan modern, misalnya ini dan ini.

Konsep keadilan juga bukan berarti segala sesuatu harus sama antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, sebagaimana yang disampaikan Ustadz Felix Siauw di atas, hak waris perempuan yang separuh dari laki-laki dalam Islam. Itu bukanlah bentuk ketidakadilan, tapi karena laki-laki adalah pencari nafkah dan wajib menghidupi keluarganya, karena itu warisannya digunakan untuk keperluan banyak orang. Sementara perempuan bebas menikmati sendirian warisannya tanpa perlu bagi-bagi. Disitulah adilnya.

Lagipula fungsi tubuh laki-laki dan perempuan tidak sama. Laki-laki cenderung kuat dan rasional, sementara perempuan adalah makhluk yang lemah-lembut dan penuh perasaan. Karena itu betapa kasihannya kalau harus disamakan segala sesuatunya. Bayangkan capeknya perempuan yang harus sukses berkarir juga harus sukses merawat anak dan suami. Kenapa memberikan peran ganda pada perempuan? Menurutku inilah yang kurang adil. Sementara itu laki-laki hanya dituntut sukses dalam pekerjaan saja. Menuntut perempuan bekerja saja tanpa repot akan urusan anak , suami, dan rumah tangga justru lebih salah lagi, karena akan menghancurkan konsep rumah tangga harmonis kita.

Alangkah baiknya jika masing-masing laki-laki dan perempuan memiliki fungsinya sendiri. Ayah sebagai pencari nafkah dan ibu sebagai pengasuh anak dan mengurus rumah tangga. Kelihatan tidak modern? Menurutku inilah konsep rumah tangga yang ideal, dengan demikian anak-anak terawat dengan baik dan tidak kekurangan kasih-sayang. Masa buah hati kita dididik pembantu atau daycare? Jelas hasil pengasuhannya tidak maksimal!

Kembali ke RUU KKG, karena mayoritas warga Indonesia adalah muslim dan banyak yang menolak RUU KKG, seharusnya DPR memperhatikan hal ini. Jangan memaksakan hal yang tidak sesuai dengan nilai agama dan moral bangsa ini karena itu artinya menghancurkan diri sendiri. Menjadi modern bukan berarti melepaskan atribut keagamaan. Ilmu pengetahuan tidak berada di atas agama dan seharusnya berjalan seiring sejalan karena itu mengatasnamakan ilmu pengetahuan demi kemajuan dengan mengabaikan agama bukanlah hal yang tepat dilakukan oleh bangsa Indonesia yang memiliki Pancasila dengan sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Sebagaimana dipaparkan di artikel-artikel di atas, bisa jadi ini adalah pintu menuju hal-hal lain seperti LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) dan semacamnya, karena itu jangan hanya dilihat dari kemasannya saja. Jika benar RUU ini untuk melindungi perempuan Indonesia, namun karena muslimah yang merupakan mayoritas di Indonesia menolak RUU ini, masihkan RUU ini perlu disahkan? Bukankah demokrasi berarti suara terbanyak yang menang? Lagipula kenapa harus melindungi kaum yang menyatakan bahwa mereka tidak perlu perlindungan? Sebagaimana disebutkan legislator di atas, kondisi di Indonesia sudah cukup baik bagi perempuan, jadi apanya lagi yang mesti ditingkatkan?

Semoga wakil-wakil rakyat itu benar-benar mendengarkan aspirasi rakyat yang (katanya) diwakilinya. Mungkin ormas-ormas Islam lain yang lebih besar terutama MUI juga perlu datang langsung ke DPR untuk menyampaikan aspirasinya, kalau perlu melakukan aksi.

Dibandingkan konsep kesetaraan ala RUU KKG, aku lebih mendukung konsep Islam tentang perempuan yang memberdayakan muslimah sesuai dengan kodratnya. Karena jika bertentangan dengan fitrahnya, maka bukan kesuksesan yang diraih namun hanya kerugian baik di dunia maupun akhirat.

Sumber,

http://nessiaprincess.wordpress.com/2014/09/22/muslimah-menolak-ruu-kkg-masihkah-harus-disahkan/