Kesetaraan Gender Dalam Alkitab

ibudankanak

Oleh Ellys Sudarwati., SH, YLPHS.

Dalam tulisan kali ini kita akan membahas keteraan gender dalam Aklitab, tetapi rasanya tidak tepat kalau kita berbicara tentang perempuan tanpa menyinggung laki-laki, hal ini dikarenakan perempuan lah yang sering menjadi korban atau mengalami kekerasan baik dalam rumah tangga, lingkungan maupun dalam lingkup organisisasi dan masyarakat. Tulisan ini akan mengarah kepada pandangan Kristen tentang perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.

Di dalam Alkitab pada Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka“, di sini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, di samping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta.

Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan “Segambar” dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.

Jika demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa.

Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya peran perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini“. Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).

Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuan hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai  ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita.

Kini kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran melihat pejabat di Republik ini diisi kaum perempuan. Contoh paling dekat adalah adanya Presiden, bupati, Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.

Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30% kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.  Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau Isteri.

Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya.

Kaum perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai pemelihara pertumbuhan (keturunan). Peran ibu adalah hal yang menakjubkan. Ibu dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan sebagai ibu telah masuk ke dalam “rekan sekerja” dengan Bapa kita di Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang juga merupakan pewaris kerajaan Surga.

Anak-anak yang dikaruniakan adalah berkat dari surga. Dengan demikian seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan dalam pertumbuhan mereka di dunia ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang ibu. Bukankah ini tugas mulia?

Sebagai rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus yaitu memelihara, mendidik anak-anaknya dari masih dalam kandungan sampai sudah di dunia. Tugas itu sangat penting oleh karena itu Allah memilih perempuan untuk menjalankan tugas tersebut.

Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Pada masa sekarang menghadapi era informasi di mana kedudukan kaum perempuan di banyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal di mana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan di sinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji.

Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier dinomor-duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.

Oleh karena itu apabila dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki tidak adanya diskriminasi, maka kemungkinan besar kasus kekerasan dalam rumah tangga akan menurun -dan kerukunan baik di dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat akan terjalin dengan indah. Seperti ajaran Allah kepada manusia yaitu “KASIH”.

Sumber,

https://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=797

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini telah mengajukan suatu ide yang benar mengenai hakekat dan peran alamiah seorang perempuan. Pertama, artikel ini mengetengahkan isu bahwa ‘perempuan karir’ banyak menimbulkan masalah domestik, seperti bilamana gaji sang istri jauh lebih baik dari pendapatan sang suami, hal mana keadaan tersebut pasti memantik ketidakharmonisan di dalam rumahtangga.

Kedua, yang merupakan inti dari peran dan hakekat seorang perempuan, artikel ini mengusung isu bahwa perempuan diciptakan untuk mengurusi dan membesarkan anak-anaknya di rumah, yang tentunya hal tersebut hanya dapat ditunaikan di rumah, bukan di tempat kerja atau lainnya. Artinya, Gereja mempunyai faham bahwa tempat perempuan yang terbaik dan Illahiah adalah tetap di rumahnya, karena perempuan adalah mahluk domestik, pun agar tugasnya sebagai ibu tetap terjalin dengan baik, yaitu untuk membesar-kan anak-anak.

Di atas segala-galanya, artikel ini telah menegaskan, seperti di dalam paragraf nya,

“ ……. Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya …..”.

Inilah pernyataan yang memang harus dinyatakan, dan yang harus diperjuangkan, sekaligus harus disadari setiap orang, khususnya kaum perempuan. Kecendrungan dewasa ini, Emansipasi Wanita maupun Persamaan Gender telah membuat perempuan ingin menempatkan diri mereka sebagai laki-laki, atau perempuan ingin dianggap sebagai laki-laki, atau perempuan ingin diperlakukan sebagai laki-laki. Inilah yang salah dan keliru, karena dengan hal ini, berarti kaum perempuan MENYESALI akan takdir mereka sebagai perempuan, seolah terlahir sebagai perempuan sama sekali bukanlah hal yang mereka inginkan. Dan keseluruhan hal tersebut hanya terdapat di dalam Emansipasi Wanita dan ekstrimisnya, yaitu Persamaan Gender.

Itulah sebabnya, Emansipasi Wanita haruslah ditumpas dari muka bumi, dari di dalam kehidupan ini, karena Emansipasi Wanita dan Persamaan Gender benar-benar bertentangan dengan hukum alam, dan juga bertentangan dengan hukum Tuhan. Terlebih lagi, Emansipasi Wanita telah memicu terjadinya banyak ketidakharmonisan di mana-mana.

Artikel ini yang sebenarnya merupakan artikel kekristenan, telah menyiratkan bahwa penolakan terhadap Emansipasi Wanita tidak saja terjadi di dalam umat Muslim, melainkan juga terjadi pada umat Kristiani, yang sama-sama menyembah Tuhan Yang Esa. Umat Muslim dan umat Kristiani sama-sama memafahami, bahwa tugas mulia seorang perempuan adalah di rumah, untuk membesarkan anak-anaknya, dan melayani keluarga secara domestik: dan tidak ada yang salah dengan itu, karena keseluruhan hal tersebut merupakan hukum alam dan juga fitrah kehidupan.

Wallahu a’lam bishawab.

Wanita Eropa Saja Memilih Tinggal Di Dalam Rumah

pilihdirumahsaja

Wanita Eropa Saja Memilih Tinggal Di Dalam Rumah ….. , Mengapa Di Indonesia Banyak Wanita yang Ingin Keluar Rumah?????

RAHASIA DIBALIK KEINGINAN SEBAGIAN WANITA EROPA (INILAH FITRAHNYA WANITA!)

Seorang wanita berkebangsaan Perancis

Kisah di bawah ini diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman dari seorang dokter muslim laki-laki yang hidup di Perancis ketika dokter laki-laki ini ditanya oleh teman kerjanya -seorang dokter wanita berkebangsaan Perancis yang beragama Nashrani. Dokter wanita ini bertanya kepadanya tentang keadaan istrinya, seorang muslimah yang berhijab dengan baik, terutama bagaimana istrinya menghabiskan hari-harinya di dalam rumah serta aktivitas apa saja yang dijalani setiap harinya.

Sang dokter menjawab: “Ketika istriku bangun di pagi hari maka dia menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan anak-anak di sekolah, kemudian tidur sampai jam 9 atau 10 pagi. Setelah itu dia bangun untuk membersihkan dan mengatur hal-hal lain yang dibutuhkan di dalam rumah. Setelah urusan bersih-bersih selesai maka dia akan sibuk dengan urusan di dapur dan penyiapan makanan.”

Dengan penuh keheranan dokter perempuan tersebut bertanya: “Siapa yang memenuhi kebutuhannya, padahal dia tidak bekerja?!”

Dengan singkat sang dokter mengatakan: “Saya”.

“Lalu siapakah yang membelikan berbagai kebutuhannya?”. Lanjut sang dokter wanita tersebut bertanya.

“Aku yang membelikan semua yang dia inginkan”. Jawab dokter muslim tersebut.

Dengan penuh keheranan dan keter-cengangan wanita tersebut mengatakan: “Engkau yang membelikan segala sesuatu untuk istrimu?!”.

Dia menjawab: “Ya”.

Perempuan tersebut bertanya lagi: “Sampai-sampai urusan perhiasan emas?!”.

“Ya”. jawab dokter muslim tersebut sekali lagi.

“Sungguh istrimu adalah seorang permaisuri”. Komentar akhir perempuan tadi.

Dokter yang menceritakan kisah ini bersumpah dengan nama Allah, bahwa pada akhirnya dokter wanita tadi menawarkan diri kepadanya untuk bercerai dan berpisah dari suaminya, dengan syarat dokter tadi mau menikahinya, sehingga dia bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter perempuan, lalu tinggal di rumah sebagaimana layaknya seorang wanita muslimah.

Tidak hanya itu, dokter perempuan tersebut rela menjadi istri kedua seorang laki-laki muslim dengan syarat dia diperbolehkan tinggal saja di dalam rumah.

Seorang wanita berkebangsaan Inggris yang angan-angannya telah ditulis lebih dari seratus tahun yang lewat.

Seorang wanita yang berprofesi sebagai penulis terkenal bernama Ety Rudh menulis dalam sebuah artikel yang disebar-luaskan pada tahun 1901:

“Sungguh seandainya anak-anak perempuan kita sibuk bekerja dalam rumah sebagai pembantu atau seperti pembantu, itu lebih baik dan lebih ringan resikonya daripada meniti karier di berbagai instansi, karena meniti karir di luar rumah itu menyebabkan seorang wanita ternodai berbagai kotoran yang menghilangkan indahnya kehidupan untuk selama-lamanya.

Andaikan saja negeri kita ini seperti negeri orang-orang Islam yang berhias dengan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian.

Sungguh sebuah aib di negeri Inggris yang menjadikan putri-putrinya sebagai teladan dalam keburukan karena seringnya bercampur-baur dengan laki-laki. Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk menjadikan putri-putri kita bekerja sesuai dengan fitrah dan tabiatnya sebagai wanita, yaitu dengan mengurusi rumah tangga dan membiarkan berbagai jenis pekerjaan laki-laki untuk kaum laki-laki dalam rangka menjaga kemuliaannya”.

Seorang wanita berkebangsaan Jerman

Dia berkata: “Sesungguhnya aku ingin berada di rumah saja, akan tetapi selama perkembangan ekonomi Jerman akhir-akhir ini tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat maka permasalahan seperti ini yaitu back to home adalah sebuah kemustahilan. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan” (dikutip dari majalah mingguan berbahasa Jerman).

Seorang perempuan berkebangsaan Italia

Dia berkata kepada dokter Mustafa as-Shiba’i rahimahullah: “Sungguh aku merasa iri dengan wanita muslimah dan aku berangan-angan seandainya aku dilahirkan di negeri kalian”.

Inilah Islam, satu-satunya agama yang benar-benar memuliakan wanita. Karena orang-orang Barat mengetahui bahwa baiknya umat Islam adalah dengan berdiam dirinya kaum wanita mereka di dalam rumah-rumah mereka. Oleh karena itu mereka membuat berbagai makar, sehingga wanita muslimah meninggalkan rumah, dan berbagai rencana lain untuk merusak wanita muslimah, sehingga mereka melepas jilbab dan tidak lagi memiliki hubungan dengan agama kecuali pada waktu shalat, ini pun seandainya dia masih mau shalat.

Berbagai makar ini dikemas dengan dalih kebebasan wanita, demokrasi, hak-hak asasi manusia dan hak-hak wanita.

Sesungguhnya tugas pokok seorang wanita dalam ajaran Islam yang disadari betul oleh orang-orang Barat adalah pembentuk tokoh dan pendidik generasi.

Darinya-lah anak-anak belajar tentang nilai luhur, menjaga kehormatan, menjauhi akhlak tercela, mencintai Islam, dan mendahulukannya di atas nyawa dan darah.

Sangat disayangkan, setelah menyimak kisah-kisah di atas, kita lihat sebagian wanita muslimah tidak menemukan kemerdekaan kecuali dengan kacamata Barat dan mereka tidak mengetahui hak-hak mereka kecuali dari sudut pandang Barat.

Yang jelas mereka adalah korban pendidikan yang keliru yang tidak tersentuh nilai Islam sedikitpun. Dalam kesempatan ini kami tegaskan bahwasanya Islam tidak akan berdiri tegak kecuali dengan mengembalikan wanita ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajiban mereka yang paling penting yaitu membentuk generasi yang akan mengantarkan umat Islam menjadi pemimpin kemanusiaan.

Sumber:  https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=498073810221924&id=494226653939973&_rdr

Babak Baru Emansipasi Perempuan Arab Saudi

saudiemansipasi

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

Hembusan angin emansipasi perempuan akhirnya membawa transformasi signifikan dan fundamental di Arab Saudi. Noura al-Fayez memulai babak baru dalam sejarah Arab Saudi ketika diangkat sebagai Deputy Menteri Pendidikan urusan Perempuan (Kompas, 16/2/2009). Perempuan lulusan AS bidang administrasi ini menjadi pioneer kebangkitan perempuan di Arab Saudi yang selama ini sangat eksklusif dan hegemonik terhadap aktualisasi peran perempuan di sektor publik. Arab Saudi adalah satu-satunya Negara yang melarang perempuan mengemudi mobil dan tidak mengizinkan perempuan keluar rumah tanpa seizin dan ditemani suaminya atau anggota mahram lainnya.

Perubahan yang terjadi di Arab Saudi ini akan berpengaruh besar dalam peradaban muslim dunia dalam memandang peran publik perempuan, karena bagaimanapun Arab Saudi adalah poros originalitas dan otentisitas interpretasi dan implementasi doktrin Islam. Makkah dan Madinah sebagai kota suci umat muslim ada di Arab Saudi, sehingga kebijakan-kebijakan di negeri ini menjadi representasi Islam yang mendapat perhatian luas dunia. Pemberian hak aktualisasi perempun di Arab Saudi ini bisa menjadi starting point kebangkitan perempuan Arab dan dunia Islam umumnya untuk ikut berpartisipasi secara maksimal dalam ruang publik yang lebih luas.

Annisanation >>>

Paragraph di atas seutuhnya mengandung kesalahan dan kekeliruan logika yang begitu rumit. Penulis ingin menyatakan bahwa telah terjadi awal kemajuan bagi peradaban modern di Arab saudi dengan diangkatnya seorang perempuan untuk menduduki jabatan publik di kepemerintahan Arab saudi.

Kalau sang penulis (Jamal Ma’mur Asmani) ingin menempatkan dirinya berseberangan dengan nilai Islam yang agung, maka paragraf di atas merupakan pelurunya untuk menyerang ajaran Islam yang logis. Logika yang terpapar di dalam ajaran Islam sama-sekali tidak memberi ijin kepada perempuan untuk berkiprah di sektor publik dikarenakan terdapat pertanyaan Alam: kalau seorang perempuan selalu keluar rumah untuk berkiprah di sektor publik, maka siapa yang akan mengasuh anak, menyelesaikan seluruh tugas domestik, dan kemudian bagaimana seorang perempuan dapat menjaga kesucian diri dan keluarganya kalau setiap hari ia terpapar pria asing di zona publik?

Pertanyaan lanjutannya adalah: apakah dengan tidak bekerja (di sektor publik) maka nafkah dan rezekinya terhalang sehingga ia akan mati kelaparan? Apakah salah kalau seorang perempuan mengaktualisasikan dirinya sebagai individu yang domestik, yang senantiasa memberikan seluruh waktunya untuk anak dan keluarganya?

Jelas sekali Islam, sebagai agama yang seutuhnya berlandaskan logika, kausalitas dan kealamiahan, benar-benar tidak mempunyai alasan dan pembenaran untuk perempuan bekerja mencari nafkah, yang untuk itu setiap perempuan harus keluar dan meninggalkan rumahnya, meninggalkan anak-anaknya, dan meninggalkan seluruh tugas domestiknya, hanya untuk karir dan sejumlah uang.

Apa yang terjadi di Arab saudi yaitu menangkat seorang perempuan untuk menduduki jabatan publik, bukanlah suatu kebanggaan dan kebenaran, melainkan suatu kesalahan dan kesesatan: Islam telah dilanggar, dan hukum kausalitas pun juga telah dilanggar.

Setidaknya perempuan tersebut setiap hari akan pergi meninggalkan rumahnya, yang mana itu ia akan meninggalkan tugasnya untuk membesar-kan anak-anaknya, menyelesaikan seluruh tugas domestiknya yang merupakan tugas kodratnya sebagai perempuan, dan lain sebagainya. Intinya, dengan terus bekerja menduduki jabatan publik, maka dirinya terpapar kepada pria asing di tempat kerja tidak dapat dihindari lagi. Bagaimana hal tersebut dapat dijelaskan? ***

Transformasi Perempuan.

Perubahan di Arab Saudi ini tidak lepas dari gerakan emansipasi perempuan yang sedang massif di seluruh dunia. Gerakan emansipasi perempuan bak bola api yang menggelinding dengan cepat. Gerakan ini ada yang bercorak:

  • Liberal (persamaan hak mengecap pendidikan, sosial, dan hak kerja produktif),
  • Radikal (bebas dari segala sikap militer, otoriter, hirarkis dan kekerasan),
  • Dan sosial (antitesa terhadap dua corak di atas dengan menggunakan pendekatan parsial yang bercita-cita mewujudkan system sosial yang lebih adil, baik secara politik, ekonomi maupun kebudayaan, tidak hanya bagi kaum perempuan) (Ivan A. Hadar, 1989).

Annisanation >>

Pada paragraf ini terdapat statement: “Perubahan di Arab Saudi ini tidak lepas dari gerakan emansipasi perempuan yang sedang massif di seluruh dunia”.

Faktanya memang demikian, bahwa di seluruh Dunia tengah berlangsung arus Emansipasi Wanita, yang bertujuan untuk mengeluarkan perempuan dari rumah mereka untuk berbaur dengan kaum pria di tempat kerja, yang dengan demikian kaum perempuan meninggalkan kodrat mereka yaitu kodrat domestik: membesarkan anak-anak, menyelesaikan seluruh tugas rumah, dan menjaga kesucian mereka sebagai perempuan, sebagai ibu dan sebagai istri.

Namun fakta tersebut tidaklah berdiri dengan sendirinya: fakta lain pun menyertai, yaitu merebaknya bencana kejatuhan moral umat manusia khususnya moralitas kaum perempuan. Dekadensi moral selalu bermula dari Emansipasi Wanita ini: perzinahan, zina massal, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, pacaran, pornografi, anak-anak terlantar, kondomisasi, penyakit seks menular, kumpulkebo, anak haram, perceraian pasangan muda, perselingkuhan, dsb. Intinya, gerakan Emansipasi Wanita merupakan satu-satunya pemicu terjadinya dekadensi moral umat manusia.

Lihatlah masyarakat Barat. Lihatlah masyarakat Eropa. Lihatlah masyarakat Amerika Latin dsb, tempat di mana gerakan Emansipasi Wanita telah bersemi dan menjadi aksioma tulen. Bukankah kejatuhan dan dekadensi moral manusia telah menjadi gaya hidup di tengah mereka yang justru mereka bangga-banggakan? Mereka membanggakan kehidupan freesex, pamer aurat, gemar bercerai, lahirnya anak jadah, zina massal, foto bugil, aborsi yang menjadi kebutuhan, kondomisasi yang dianggap pelengkap gaya hidup, dsb. Keseluruhan hal tersebut merupakan konsekwensi dari digalakkannya gerakan Emansipasi Wanita di tengah mereka. Luar biasa!!!!

Apakah Arab saudi harus menjadi masyarakat yang kenyang dengan dekandensi moral, seperti halnya yang sudah terjadi pada masyarakat Barat, Eropa dsb? Apakah Arab saudi harus melihat di mana masyarakat mereka penuh dengan kegiatan freesex, kumpulkebo, pamer aurat, zina massal, bugil massal, kondomisasi, anak jadah, bangkai bayi di tempat sampah, aborsi, marak perceraian, dsb?

Mungkin ada kelompok manusia yang berfikir bahwa seluruh kejatuhan dan dekadensi moral umat manusia tidak ada hubungannya dengan gerakan Emansipasi Wanita, namun yang jelas kelompok tersebut sangat membenci keagungan moral umat manusia yang dipersembahkan oleh Islam, agama Allah Swt yang kudus dan firmani.***

Islam termasuk yang mendapat kritikan tajam. Mereka menganggap Islam secara faktual sangat membatasi peran publik perempuan. Kesalah-pahaman ini harus diluruskan untuk mengembalikan doktrin ini pada porsinya yang benar dalam rangka membangun peradaban yang egaliter, progresif, dan dinamis.

Annisanation >>

Bukan Islam yang harus dikritik: melainkan gerakan Emansipasi Wanita-lah yang harus dikritik dan dikutuk habis-habisan. Tidak ada yang salah dengan Islam ketika mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik: yang salah justru adalah gerakan Emansipasi Wanita, yang memprovokasi kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah, sehingga dengan demikian kaum perempuan pergi meninggalkan kodrat mereka untuk merawat dan membesarkan anak-anak mereka, dan meninggalkan benteng kesucian mereka sebagai perempuan.

Apakah gerakan Emansipasi Wanita di seluruh Dunia tidak pernah mengakibatkan jatuhnya kaum perempuan (dan seluruh masyarakatnya) ke dalam lembah kehinaan dan kemerosotan moral? –Ya-. Apakah gerakan Emansipasi Wanita membuat kehidupan semakin baik dan indah, di mana kaum perempuan memperlihatkan kesucian dan keanggunan mereka di tengah keluarga mereka? –Tidak-. Dan apakah seluruh kemerosotan moral yang diderita umat manusia dewasa ini bukan disebabkan oleh maraknya gerakan Emansipasi Wanita? –Ya-.

Faktanya, Emansipasi Wanita bertanggung-jawab penuh atas seluruh bencana kemerosotan moral di negara / masyarakat mana pun yang dijangkitinya. Keadaannya justru berbalik ketika suatu masyarakat tidak / belum terjangkiti gerakan Emansipasi Wanita ini, di mana seluruh wanita di dalam masyarakat tersebut hidup di dalam kesederhanaan dan kesucian, setia kepada nilai keluarga dan ajaran agama: tidak materialistis, tidak hedonis, tidak sekuler, tidak egois, dsb.

Dengan latar belakang penjelasan tersebut, maka sebenarnya Emansipasi Wanita-lah yang harus dikritik dan dihujat habis-habisan! Islam dengan seluruh umat Muslim, dan seluruh manusia, berdiri di garis terdepan untuk menghujat dan mengkritik Emansipasi Wanita begitu rupa, dengan tujuan untuk menghempaskan gerakan ini sampai ke akar-akarnya. Demi keagungan kaum wanita. Demikian keagungan seluruh umat manusia. Demi kesejahteraan anak-anak yang butuh pengasuhan. Dan demi kehidupan dunia akhirat yang penuh ridha Allah Swt.***

Menurut Muhamamd Syadid dalam Manhaj al-Quran fi al-Tarbiyah (hlm. 50-57), syariat Islam berintikan kesamaan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Hanya kualitas takwa yang membuat manusia berbeda dengan yang lain, bukan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan.

Annisanation >>

Sangat penting untuk memahami bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kesamaan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Banyak terdapat ayat Alquran maupun Alhadis yang mengindikasikan diberlakukannya pembedaan antara pria dan perempuan, karena keseluruhan hal tersebut adalah kodrat, dan kodrat tidaklah pernah sama antara perempuan dan laki-laki.

Kalau perempuan harus dipersamakan dengan laki-laki, maka ingatlah bahwa sebenarnya manusia pun juga sama dengan hewan. Tugas dan fungsi antara Malaikat dan Iblis juga sama dan selalu dipersamakan. Namun atas semua mahluk tersebut berlaku kodrat yang saling beda. Kalau kodrat juga harus dipersamakan, maka buat apa Allah Swt menciptakan berbagai macam mahluk? Ikan di air, burung di udara, kijang di darat, rembulan di malam hari, api membakar, dsb, adalah kodrat.

Siapa saja yang ingin mempersamakan kodrat antara satu mahluk dengan mahluk lainnya, maka orang itulah yang akan binasa. Allah Swt memerintahkan umatNya untuk patuh kepada kodrat masing-masing, bukan untuk melawan dan mengingkarinya. Oleh karena itu tidak pernah Allah Swt memberi perintah kepada manusia untuk melanggar dan mengingkari kodrat masing-masing.

Apa yang ditulis oleh Muhamamd Syadid dalam Manhaj al-Quran fi al-Tarbiyah (hlm. 50-57), tidak dapat dijadikan argumentasi bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai kodrat dan tugas yang sama (kalau laki-laki bekerja dan menjadi pejabat Pemerintah, maka perempuan juga harus demikian). Alquran dengan tegas menyatakan bahwa sejak masa kandungan pun Allah Swt sudah memperbedakan antara laki-laki dan perempuan. Alquran selalu menang, karena kebenarannya.

Pun, bagaimana seorang wanita dapat meningkatkan taqwanya, kalau setiap hari ia pergi meninggalkan kodrat domestiknya, meninggalkan tugasnya sebagai istri yang harus menyiapkan keperluan suami, menelantarkan perawatan anak dan bayinya, dan juga mengingkari tugasnya untuk menjaga kesucian diri dan jiwanya sebagai perempuan dan ibu? Taqwa seorang perempuan tentulah harus sesuai dengan kodratnya. Kalau perempuan melanggar kodratnya, maka mustahil ia dapat meningkatkan taqwanya.

Merawat anak dan bayinya, sebagai contoh. Adalah mutlak seorang perempuan harus merawat anak dan bayinya, karena hal tersebut merupakan tugas kodratinya sebagai seorang perempuan dan sebagai ibu. Kalau seorang perempuan pergi meninggalkan rumahnya untuk bekerja di sektor publik, maka ia mau tidak mau harus menelantarkan anak dan bayinya. Apakah hal tersebut dapat dikatakan sebagai suatu ketaqwaan?

Merawat anak dan bayi, adalah pekerjaan yang mahapenting bagi seorang perempuan, tidak bisa dikompromikan dengan karir maupun jabatan di Pemerintahan. Dan ketaqwaan bagi seorang perempuan bersentuhan langsung dengan ketaatan dan kesetiaannya mengasihi anak  dan bayinya sendiri. Mempertanyakan apakah mengasuh anak dan bayinya sendiri merupakan kemutlakan bagi seorang perempuan, adalah suatu pendurhakaan, dan akan berimplikasi pada dosa besar. Hal ini merupakan antitesis dari ketaqwaan seorang perempuan!

Singkat kata, kalau seorang perempuan ingin bertaqwa, seperti yang diungkapkan oleh Muhamamd Syadid dalam Manhaj al-Quran fi al-Tarbiyah (hlm. 50-57), maka jelas seorang perempuan diharamkan untuk pergi meninggalkan rumahnya, melainkan ia harus setia dan  taat untuk memenuhi kodrat domestik, khususnya untuk mengasihi anak dan bayinya. ***

Justru, salah satu misi utama Islam adalah pembebasan perempuan dari segala hegemoni, kekerasan, eksploitasi, dan krimininalitas. Ketika orang-orang Makkah malu mempunyai anak perempuan sebagai symbol kelemahan dan ketidakberdayaan, Islam datang dengan menghapus asumsi negatif semacam itu. Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sangat mulia.

Islam mengharamkan tradisi kafir jahiliyyah yang membunuh hidup-hidup anak perempuan, sebagai tindakan biadab-sadis yang tidak berperikemanusiaan.

Menurut Tariq Ramadan (2003), transformasi perempuan dalam Islam sangat tinggi. Perjanjian pertama (Aqobah) yang Nabi Muhammad akhiri dengan konversi orang-orang Yatsrib (Madinah) pertama sangat penting dijadikan rujukan. Salah satu klausul menetapkan bahwa kaum Muslim tidak boleh membunuh anak-anak mereka.

Selanjutnya, selama Perjanjian Kedua, perempuan ikut menjadi delegasi yang terlibat dalam membela Nabi dan Islam. Masyarakat Madinah berbeda sama sekali dari penduduk Makkah. Perempuan menikmati peran sosial yang tentu saja sangat penting dan sejumlah klan diatur menurut prinsip matriarchal. Para imigran pertama ini segera saja terkesan oleh bagaimana cara perempuan Anshar (perempuan Madinah) bekerja di hadapan publik. Mereka juga menunjukkan keistimewaannya dalam kehidupan privat.

Umar bin al-Khattab (pengganti Muhammad yang kedua) mengemukakan bahwa sebelum hijrah: Kami biasa menyombongkan diri atas perempuan dan ketika kami datang kepada orang-orang Anshar di mana perempuan di sana menempati posisi mereka di klan, perempuan-perempuan kami mulai mengadopsi kebiasaan perempuan Anshar (HR Bukhari dan Muslim). Ia mengutarakan ini seraya menyesali jika istrinya kini berani menanggapinya bila selalu memerintah, dan mengajarkannya bahwa ia harus mengikuti teladan Nabi.

Annisanation >>

Misi utama Islam bukanlah Emansipasi Wanita; misi utama Islam bukanlah persamaan antara pria dan perempuan di sektor publik. Sejarah Islam tidak mempunyai Alhadis maupun ayat Alquran yang mengajarkan bahwa Islam mempunyai misi untuk membuat perempuan melanggar kodrat domestik. Oleh karena itu, kisah ketika Islam mengharamkan membunuh bayi-bayi perempuan, bukanlah argumentasi untuk menegakkan Emansipasi Wanita. Singkat kata, justru Islam mengutuk dan mengharamkan Emansipasi Wanita, karena ideologi tersebut terbukti menjerumuskan kaum perempuan dan seluruh umat kepada lembah kenistaan dan dekadensi moral.

Misi Islam adalah menempatkan perempuan sesuai dengan kodratnya, yaitu domestik. Dengan selalu taat dan setia kepada kodrat domestik, maka terjaminlah kesucian perempuan, dan terjamin juga kekokohan mental spiritual anak-anak yang berada di dalam pengasuhan seorang ibu. ***

Perempuan pada masa Rasulullah digambarkan sebagai perempuan yang aktif, sopan, dan bebas, tetapi tetap terpelihara akhlaqnya. Bahkan dalam al-Quran, figur ideal seorang Muslimah disimbolkan sebagai pribadi yang mempunyai kompetensi di bidang politik (QS. Al-Mumtahanah [60]:12), seperti figur Ratu Bilqis yang mengepalai kerajaan adikuasa (QS. Al-Naml [27]:23), yang mempunyai kompetensi di bidang ekonomi (QS. Al-Qashash [28]:23), mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan pribadi yang diyakini kebenarannya, sekalipun berhadapan dengan ayah atau suami bagi perempuan yang sudah menikah (QS. Al-Tahrim [66]:11), atau bersikap kritis terhadap pendapat orang banyak (publik opinion) bagi perempuan yang belum kawin (QS. Al-Tahrim [66]:12).

Al-Quran mengizinkan kaum perempuan untuk melakukan gerakan oposisi terhadap segala bentuk system yang tiranik demi tegaknya kebenaran (QS. Al-Taubah [9]:71). Islam memberikan kebebasan yang begitu besar kepada perempuan untuk berkiprah di ruang publik, sehingga masa Nabi banyak sekali perempuan yang cemerlang kemampuannya yang diakui hingga saat ini (Siti Musdah Mulia 2005).

Annisanation >>

Alquran ayat 60 Mumtahanan: 12 sama sekali tidak menyiratkan gerakan Emansipasi Wanita sekecil apa pun! Ayat tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Bagaimana mungkin ayat Mumtahanah tersebut dijadikan landasan Emansipasi Wanita, sementara kehidupan Nabi dan para sahabatnya pun sama sekali tidak mengindikasikan dibenarkannya perempuan pergi meninggalkan rumahnya untuk menduduki jabatan publik, sehingga meninggalkan tugasnya untuk merawat anak dan menghangatkan keluarganya? Sebenarnya ayat Mumtahanah tersebut terlalu besar dan terlalu umum untuk dianggap sebagai landasan Emansipasi Wanita.

Agen Emansipasi Wanita pada umumnya mempunyai penyakit ini: mengambil dan menganggap ayat-ayat Alquran maupun Alhadis sebagai landasan Emansipasi Wanita, padahal sebenarnya ayat dan Alhadis tersebut terlalu luas dan umum cakupannya, dan tidak bisa dijadikan landasan bagi Emansipasi Wanita.

Begitu juga dengan ayat-ayat lain yang dinukilkan di dalam paragraf ini, sebenarnya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Emansipasi Wanita, namun entah mengapa agen Emansipasi Wanita menjadikannya, melalui suatu pemaksaan, sebagai landasan Emansipasi Wanita. Pembajakan ayat Alquran ini tentunya merupakan bukti lain betapa Emansipasi Wanita merupakan suatu kekejian dan kekafiran di dalam Islam. ***

Kepemimpinan Perempuan.

Masalah klasik yang terus aktual dalam proses transformasi perempuan Islam adalah boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari menyatakan dengan tegas bahwa tidak akan bahagia masyarakat yang menyerahkan urusannya pada perempuan, atau menjadikan perempuan menjadi pemimpin. Perempuan terlalu banyak kelemahan dan keterbatasannya. Ia tidak boleh bepergian kecuali dengan syarat-syarat, berkumpul dengan laki-laki, dan lain sebagainya. Bagaimana dia menjadi pemimpin di mana ia harus sering pergi ke luar negeri, mengunjungi rakyatnya yang berada di mana-mana, rapat sampai larut malam, dan aneka tugas yang lain.

Menurut Said Aqil Siraj (1999), hadits ini sebenarnya sangat kasuistis, historis, dan kontekstual. Hadits tersebut adalah komentar Nabi bermula dari kisah Abdullah ibn Hudzafah, kurir Rasulullah yang menyampaikan surat ajakan masuk Islam kepada Kisro Anusyirwan, penguasa Persia yang beragama majusi. Ternyata ajakan tersebut ditanggapi sinis dengan merobek-robek surat . Dari laporan tersebut Nabi mempunyai firasat bahwa Imperium Persia kelak akan terpecah belah sebagaimana Anusyirwan merobek-robek surat .

Akhirnya tidak berapa lama, kerajaan tersebut dipimpin putri Kisro yang bernama Buran yang kapabilitas kepemimpinannya lemah. Saat itulah Nabi bersabda sebagaimana hadits di atas. Apalagi percaturan politik Timur Tengah saat itu sangat rawan peperangan antar suku. Dus, sabda Nabi tersebut hanya ditujukan pada pemimpin perempuan yang tidak capable.

Annisanation >>

Kalau paragraf ini menyatakan bahwa Alhadis Bukhari mengenai pelarangan Nabi saw bagi perempuan untuk menjadi pemimpin merupakan Alhadis yang kasuistik, maka di lain pihak tidak ada satu huruf maupun kata pun di dalam Alhadis tersebut yang bersifat kasuistik: Alhadis tersebut seutuhnya adalah pesan Muhammad Saw bahwa “untuk selamanya” setiap negeri tidak akan beruntung kalau mereka dipimpin dan diperintah oleh kaum perempuan.

Bagaimana mungkin Alhadis tersebut dianggap sebagai pesan yang bersifat kasuistik, sementara kalimat Alhadis tersebut menunjukkan keumuman, baik umum di dalam hal tempat, subjek pelaku maupun umum di dalam hal waktu. Pun di dalam paragraf tersebut yang mensitirkan Alhadis Bukhari ini, telah dituliskan pula frasa lain yang mendampingi penteraan hadis Bukhari: “Ia tidak boleh bepergian kecuali dengan syarat-syarat, berkumpul dengan laki-laki, dan lain sebagainya. Bagaimana dia menjadi pemimpin di mana ia harus sering pergi ke luar negeri, mengunjungi rakyatnya yang berada di mana-mana, rapat sampai larut malam, dan aneka tugas yang lain”. Maka bukankah hal ini sudah jelas, bahwa tidak ada satu jalan dan satu dalih pun untuk membenarkan perempuan berkiprah secara publik? Bagaimana perempuan dapat berkiprah secara publik (sehingga meninggalkan rumahnya dan meninggalkan seluruh tugas kodratnya yaitu domestik), sementara perempuan tersebut haruslah bepergian dengan beberapa syarat, dan tidak boleh berkumpul dengan laki-laki, dan bahwa setiap perempuan mempunyai kewajiban untuk merawat dan mengasihi anak dan bayi-bayinya?

Kemudian pada akhirnya, paragraf tersebut menulis, “Dus, sabda Nabi tersebut hanya ditujukan pada pemimpin perempuan yang tidak capable”. Bagaimana mungkin agen-agen Emansipasi Wanita dapat menyimpulkan bahwa Alhadis tersebut tidak mengena kepada perempuan yang capable di dalam hal menjadi pemimpin? Alhadis Bukhari yang dimaksud sama sekali tidak menyebutkan –khususnya secara literal, bahwa Muhammad Saw melarang perempuan yang tidak capable untuk menjadi pemimpin! Muhammad Saw hanya berpesan bahwa suatu negeri tidak akan beruntung kalau dipimpin dan diperintah oleh perempuan. Apakah hal tersebut masih harus ditafsirkan di dalam hal capable dan tidak capable? ***

Ukuran kepemimpinan adalah kapabilitas dan kapasitas keilmuan, bukan jenis kelamin. Di era modern sekarang ini, kepemimpinan tidak personal-individual, tapi lembaga. Pemimpin dibantu oleh staf-staf yang jumlahnya banyak dan diawasi oleh lembaga resmi, LSM, kalangan akademis, dan masyarakat terdidik lainnya. Ada lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang secara sinergis bekerjasama mengelola pemerintahan.

Pendapat lebih moderat, obyektif dan argumentative disampaikan Imam Mawardi dalam kitab populernya Ahkam al-Sulthoniyah bahwa syarat menjadi pemimpin tidak berhubungan dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Annisanation >>

Emansipasi Wanita adalah kesesatan dan kejahilan, maka sesat dan jahil pulalah agen-agen pendukungnya. Paragraf ini menulis bahwa kepemimpinan adalah kapabilitas dan kapasitas keilmuan, bukan jenis kelamin. Bagaimana mungkin agen-agen Emansipasi Wanita dapat memberi pernyataan tersebut, sementara Alhadis dan ayat Alquran hanya menuturkan bahwa kepemimpinan tidak dapat diberikan kepada perempuan, mengingat kodrat perempuan adalah domestik, untuk merawat dan mengasihi anak-anaknya, dan untuk menjaga kesucian diri dan seluruh keluarganya: kepemimpinan adalah suatu hal yang publik, maka kepemimpinan hanya dapat dijawat oleh pria, karena pria adalah mahluk publik; itu jelas. Dan Alhadis yang diriwayatkan Bukhari mengenai suksesi yang terjadi di Persia benar-benar menunjukkan bahwa Allah Swt dan Nabi-Nya tidak berkenan atas kepemimpinan yang dijabat perempuan.

Kalau agen-agen Emansipasi Wanita ini tidak berkenan dengan Alhadis dan ayat Alquran yang melarang Emansipasi Wanita, maka lebih baik agen-agen tersebut keluar dari Islam, ‘bukannya’ memanipulasi dan memaksakan penafsiran atas ayat dan Alhadis tersebut. Bagaimana masuk akal menurut logika, di mana suatu ayat maupun Alhadis mempunyai tafsir yang justru berlawanan dan bertentangan dari bunyi ayat / Alhadis tersebut? Proyek mereka yang menggunakan dan mensalah-artikan ayat Alquran maupun Alhadis menurut hawa nafsu sudah menunjukkan pendurhakaan mereka kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Sudah sama diketahui, bahwa di dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, setiap pemimpin (yang adalah laki-laki) selalu dibantu oleh staff dan penasehat, sekian lembaga dan pengawas. Hal ini merupakan hukum Alam yang tidak dapat diingkari, dan berlaku sejak jaman purba. Oleh karena itu, dalih agen Emansipasi Wanita di dalam paragraf ini bahwa kepemimpinan perempuan tidak akan pernah menjadi masalah karena akan selalu dibackup oleh sekian staf, penasehat dan LSM, benar-benar tidak mengena. Mungkin agen Emansipasi Wanita ini berfikir, bahwa yang dikhawatirkan Nabi saw di dalam hal perempuan menjadi pemimpin adalah, bahwa perempuan tersebut akan memimpin dan memerintah negeri seorang diri tanpa ada bantuan dan backup dari berbagai pihak. Asumsi agen-agen tersebut salah total!

Yang diinginkan Allah Swt dan Rasul-nya adalah, pemimpin dan penguasa harus dijawat seorang pria, dan kemudian penguasa yang pria ini akan selalu dibackup oleh sekian staf dan penasehat yang pria juga. Tidak ada satu baris maupun ayat pun yang menyatakan bahwa perempuan akan mempunyai jatah dan dalih untuk menjabat posisi-posisi publik tersebut. Hal itu dikarenakan, perempuan mempunyai kewajiban yang lebih mulia, yaitu membesarkan anak dan bayi mereka, dan juga menjaga kesucian diri, hati dan jiwa mereka di dalam rumah. Tidak ada yang lebih penting bagi seorang perempuan kecuali membesarkan dan mengasihi anak-anaknya, dan kemudian menjaga kesucian imannya di dalam rumah, karena kesucian dan kemurnian perempuan hanya dapat dijaga di dalam rumah, sementara selalu pergi meninggalkan rumah dipastikan akan mencemari kesucian dan kemurnian mereka. ***

Akhirnya emansipasi perempuan adalah sebuah keniscayaan sejarah. Namun tujuan emansipasi bukan untuk membuka ruang liberalisme absolut tanpa norma dan etika, tapi sebaliknya menempatkan perempuan sebagai poros peradaban yang progresif dan moralis. Karena perempuan adalah tiang Negara, jika perempuan baik, maka baiklah Negara, dan jika perempuan rusak maka rusaklah Negara.

::: Penulis adalah Peneliti Cepdes, Center For Pesantren And Democracy Studies, Jakarta

Sumber, http://www.pelita.or.id/baca.php?id=68025

Annisanation >>

Paragraf ini menulis bahwa Emansipasi Wanita merupakan keniscayaan sejarah: namun ingatlah bahwa dekadensi moral juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari gerakan Emansipasi Wanita ini: pelacuran, perzinahan, freesex, perselingkuhan, khalwat, pacaran, aborsi, kumpulkebo, bangkai bayi di tempat sampah, marak kawin-cerai, kondomisasi, pornografi, lahirnya anak jadah, hamil di luar nikah, menikah di dalam keadaan hamil, pamer aurat, dsb. Keseluruhan hal tersebut merupakan efek lurus dari diterjemahkannya Emansipasi Wanita ke dalam tatanan sosial secara besar-besaran. Satu-satunya cara untuk melenyapkan dekadensi moral tersebut adalah, dengan mengharamkan ideologi Emansipasi Wanita ini, dan mengembalikan perempuan kepada kodrat domestiknya. Hanya dengan cara itulah seluruh perempuan akan kembali kepada kesucian dan kemurniannya, dan keagungan umat kembali dipulihkan.

Wallahu a’lam bishawab.

Isteri Diperintahkan Untuk Tinggal Di Rumah Dan Mengurus Rumah Tangga Dengan Baik

Pekerjaan-RumahOleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Perbuatan ihsan (baik) seorang suami harus dibalas pula dengan perbuatan yang serupa atau yang lebih baik. Isteri harus berkhidmat kepada suaminya dan menunaikan amanah mengurus anak-anaknya menurut syari’at Islam yang mulia. Allah swt telah mewajibkan kepada dirinya untuk mengurus suaminya, mengurus rumah tangganya, mengurus anak-anaknya. Menurut ajaran Islam yang mulia, isteri tidak dituntut atau tidak berkewajiban ikut keluar rumah mencari nafkah, akan tetapi ia justru diperintahkan tinggal di rumah guna menunaikan kewajiban-kewajiban yang telah dibebankan kepadanya.

Allah swt berfirman:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang Jahiliyyah dahulu, dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” [Al-Ahzaab : 33]

Rasulullah saw bersabda,

“Wanita adalah aurat. Apabila ia keluar, syaitan akan menghiasinya dari pandangan laki-laki.” [1]

Isu emansipasi yang digembar-gemborkan telah menjadikan sebagian besar kaum wanita terpengaruh untuk keluar rumah dan melalaikan kewajiban yang paling utama sebagai seorang isteri dan ibu rumah tangga. Bahkan, mereka berani berdalih dengan tidak cukupnya penghasilan yang diperoleh suaminya, meskipun dia telah memiliki rumah atau kendaraan atau harta lainnya yang banyak. Hal ini menjadi sebab timbulnya malapetaka di dalam rumah tangga.

Tidak jarang justru keluarganya menjadi berantakan karena anaknya terlibat kasus narkoba, atau kenakalan, atau hubungan suami isteri menjadi tidak harmonis karena isteri lebih sibuk dengan urusan kantornya, bisnis, dagang, dan sebab-sebab lain yang sangat banyak disebabkan lalainya sang isteri.

Dalam Islam, yang wajib memberikan nafkah adalah suami. Dan suami diperintahkan untuk keluar rumah mencari nafkah. Wanita tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali dengan izin suami.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullaah berkata, “Tidak boleh baginya untuk keluar dari rumahnya kecuali mendapat izin dari suami. Seandainya ia keluar tanpa izin dari suaminya, maka ia telah durhaka dan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan wanita tersebut berhak mendapatkan hukuman.” [2]

Allah Ta’ala memberikan rizki kepada seluruh makhluk-Nya. Isteri dan anak dikaruniai rizki oleh Allah dengan perantaraan suami dan orangtua. Karena itu, seorang isteri harus bersyukur dengan nafkah yang diberikan suami. Sekecil apa pun wajib disyukuri dan harus merasa cukup (qana’ah) dengan apa yang telah diberikan.

Sedangkan bagi orang yang tidak bersyukur, maka Allah swt justru akan membuat dirinya seakan-akan serba kekurangan dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dia dapatkan.

Allah swt akan mencukupkan rizki seseorang, manakala ia bersyukur dengan apa yang ia peroleh dan ia usahakan. Dia akan merasa puas (qana’ah) dengan apa yang dikaruniakan kepadanya.

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan jaga dirinya dan barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan memberikan kecukupan kepada dirinya.” [3]

Rasulullah saw memuji orang-orang yang qana’ah (merasa puas) dengan apa yang Allah Ta’ala karuniakan, beliau bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, rizkinya cukup, dan Allah memberikan kepuasan terhadap apa yang telah dikaruniakannya.” [4]

Bahaya Dan Dampak Negatif Akibat Wanita Bekerja Di Luar Rumah:

  1. Bahaya bagi wanita itu, yaitu akan hilangnya sifat dan karakteristik kewanitaannya, menjadi asing dengan tugas rumah tangga dan kurangnya perhatian terhadap anaknya.
  2. Bahaya bagi diri suami, yaitu suami akan kehilangan curahan kelembutan, keramahan, dan kegembiraan. Justru yang didapat adalah keributan dan keluhan-keluhan seputar kerja, persaingan karir antar teman, baik laki-laki maupun wanita. Bahkan, tidak jarang suami kehilangan kepemimpinannya lantaran gaji isteri lebih besar. Wallaahul Musta’aan.
  3. Bahaya (dampak) bagi anak, yaitu hilangnya kelembutan, kasih sayang dan kedekatan dari seorang ibu. Semua itu tidak dapat digantikan oleh seorang pembantu atau pun seorang guru. Justru yang didapati anak adalah seorang ibu yang pulang dalam keadaan letih dan tidak sempat lagi memperhatikan pendidikan anak-anaknya.
  4. Bahaya (dampak negatif) bagi kaum laki-laki secara umum, yaitu apabila semua wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja, maka secara otomatis mereka telah menghilangkan kesempatan bekerja bagi laki-laki yang telah siap untuk bekerja.
  5. Bahaya (dampak negatif) bagi pekerjaan tersebut, yaitu bahwa fakta di lapangan menunjukkan bahwa wanita lebih banyak memiliki halangan dan sering absen karena banyaknya sisi-sisi alami (fitrah)nya yang berpengaruh terhadap efisiensi kerja, seperti haidh, melahirkan, nifas, dan lainnya.
  6. Bahaya (dampak negatif) bagi perkembangan moral, yaitu hilangnya kemuliaan akhlak, kebaikan moral serta hilangnya rasa malu dari seorang wanita. Juga hilangnya kemuliaan akhlak dan semangat kerja dari kaum suami. Anak-anak pun menjadi jauh dari pendidikan yang benar semenjak kecil.
  7. Bahaya (dampak negatif) bagi masyarakat, yaitu bahwa fenomena ini telah mengeluarkan manusia dari fitrahnya dan telah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sehingga mengakibatkan rusaknya tatanan hidup dan timbulnya kekacauan serta keributan. [5]

[Disalin dari buku Bingkisan Istimewa Menuju Keluarga Sakinah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Bogor – Jawa Barat, Cet Ke II Dzul Qa’dah 1427H/Desember 2006]

_______

Footnote

[1]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 1173), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 6690).

[2]. Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XXXII/281).

[3] Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1427) dan Muslim (no. 1034). Lihat Fat-hul Baari (III/294), dari Shahabat Hakim bin Hizam radhiyallaahu ‘anhu.

[4]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1054), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma.

[5]. Shahiih Washaaya Rasuul lin Nisaa’ (hal. 469-470).

Sumber,

http://almanhaj.or.id/content/1661/slash/0/isteri-diperintahkan-untuk-tinggal-di-rumah-dan-mengurus-rumah-tangga-dengan-baik/

Demi Suami Aku Berhenti Sebagai Wanita Karir

demi-suamiSore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.

Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.

“Belum”, jawabku datar.

Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”.

Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.

“Mbak menunggu siapa?”, aku mencoba bertanya.

“Menunggu suami”, jawabnya pendek.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya, “Mbak kerja di mana?”.

Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.

“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi”, jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.

“Kenapa?”, tanyaku lagi.

Dia hanya tersenyum dan menjawab, “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami”, jawabnya tegas.

Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.

Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa?

Waktu itu jam 7 malam, suami saya saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing.

Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, pusing nih, ambil sendirilah!!”.

Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)?

Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.

Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini?

Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.

Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya.

Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.

Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.

Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan.

Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.

Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya.

Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya.

Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini.

Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya.

Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara- saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.

Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.

Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.

Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumahtangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantu pun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.

Anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya?

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, saat itu orang tersebut

belum mempunyai pekerjaan?

Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan?

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.

Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu.

Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.

Di saat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.

Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Dan dia mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku.

Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah. Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku.

Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku.. Subhanallah.. Walhamdulillah.. Wa Laa ilaaha illallah – Allahu Akbar

Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.

Sumber,

http://www.solusiislam.com/2014/04/demi-suami-aku-berhenti-menjadi-wanita.html?m=0

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation – Paparan di atas sudah seutuhnya melukiskan kebajikan dan kebenaran di dalam kehidupan ini, yaitu bahwa selayaknya seorang perempuan, apalagi seorang istri, menjalani dan menghabiskan hidup mereka secara domestik, yaitu yang senantiasa teguh tinggal di dalam rumah mereka, dengan tidak bekerja mencari nafkah, karena urusan dan tanggungjawab mencari nafkah sudah merupakan tugas dan tanggungjawab setiap laki-laki, maupun suami.

Hal lain yang mungkin dapat ditekankan di dalam paparan di atas adalah, bahwa sungguh bekerja bagi perempuan memberi peluang besar bagi dirinya untuk menjadi pongah dan sombong, tidak menghargai suami, dan bahkan menjadi merasa lebih unggul dibanding suami. Hal ini amat sulit dihindari apalagi kalau kondisinya adalah gaji istri ternyata jauh lebih tinggi daripada gaji / pendapatan suami. Kalau sampai terjadi di mana gaji istri jauh lebih banyak daripada gaji suami, maka merupakan suatu kenisacayaan di mana istri secara alamiah, naluriah dan psikologi merasa jauh lebih berharga dan unggul di depan suami. Pun tidak jarang hal ini membuat suami menjadi minder dan tertekan di depan sang istri. Akhirnya paradigma emansipasi perempuan hanya melahirkan keserbasalahan bagi kedua pihak, istri maupun suami. Itu pun kalau pihak istri mempunyai pemahaman yang baik, seperti yang dicontohkan pada paparan di atas ini.

Sering terjadi, di mana istri bekerja dengan gaji yang lebih besar daripada suami, maka istri menghendaki supaya suami-lah yang memasak, mengepel lantai, menyediakan makan dan minum, mencuci piring dan baju, dsb. Tidak pelak lagi, hal ini merupakan satu kedurhakaan terhadap ajaran Islam, terlepas apakah sang suami ridha dengan “tukar-posisi” ini.

Kemudian, ada hal lain lagi yang juga patut untuk diberi penekanan. Masalah rejeki atau pendapatan, seutuhnya merupakan hak Allah, dan harus diterima dengan tawakal. Semua manusia yang bijak pasti sudah mengajarkan, bahwa sebanyak apa pun rejeki yang kita terima, toh itu tidak pernah ada puasnya, tidak pernah ada cukupnya. Maka buat apa seorang istri bekerja dengan alasan gaji suami sangat kecil, karena uang yang didapat itu tidak pernah ada batasnya.

Islam mengajarkan, sebanyak apa pun rejeki yang diperoleh, maka pastikanlah bahwa rejeki tersebut adalah halal, karena kehalalan membawa kepada keberkatan. Sementara di lain pihak, kalau sebuah rumahtangga mempunyai kelimpahan rejeki dikarenakan sang istri juga bekerja, maka bagaimana rejeki di dalam rumahtangga tersebut dapat dikatakan halal dan berkat? Ingatlah, bahwa istri bekerja sebenarnya merupakan penyimpangan dari ajaran Islam, karena jalan yang lurus di dalam Islam adalah, bahwa setiap istri haruslah tinggal di dalam rumah, bukan keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah maupun karir.

Rejeki tidak pernah ada cukupnya, maka itu berarti umat / siapa pun tidak mempunyai alasan untuk membenarkan perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah maupun karir. Pun kalau sebuah rumahtangga dikategorikan sebagai rumahtangga prasejahtera –dikarenakan gaji sang suami sangat kecil, maka itu pun juga bukan alasan supaya sang istri boleh ikut bekerja mencari uang: justru kebalikannya, kemiskinan harus diterima dengan tawakal.

Wallahu a’lam bishawab.

Alhadist Mengenai Kiprah Perempuan

alhadist mengenai domestikalisasi perempuanBerikut ini adalah beberapa hadits yang berkaitan dengan wanita yang kami rangkum dari berbagai sumber yang kredibel. Semoga dengan mengetahui dan mengamalkan Hadits-Hadits ini, kita dapat mejadi orang yang lebih baik lagi.

Allah SWT berfirman, yang artinya :

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS. Al-Ahzab : 59).

  1. Abdullah bin Amr RA meriwayatkan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah” (HR. Muslim no. 1467).
  2. Rasulullah SAW bersabda kepada Umar ibnul Khaththab RA: “Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim”).
  3. Rasulullah SAW bersabda bagi lelaki yang ingin menikah: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466).
  4. Rasulullah SAW pernah pula bersabda: “Empat perkara termasuk dari kebahagiaan, yaitu wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas / lapang, tetangga yang shalih, dan tunggangan (kendaraan) yang nyaman. Dan empat perkara yang merupakan kesengsaraan yaitu tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), kendaraan yang tidak nyaman, dan tempat tinggal yang sempit” (HR. Ibnu Hibban dalam Al-Mawarid hal. 302, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Al-Jami’ush Shahih, 3/57 dan Asy-Syaikh Al Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 282).
  5. Ketika Umar ibnul Khaththab RA bertanya kepada Rasulullah SAW: “Wahai Rasulullah, harta apakah yang sebaiknya kita miliki?”.

Beliau SAW menjawab: “Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang senantiasa berdzikir dan istri mukminah yang akan menolongmu dalam perkara akhirat” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahih Ibnu Majah no. 1505).

  1. Al Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi SAW, beliau bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia mengganggu tetangganya, dan berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, maka engkau mematahkannya dan jika engkau biarkan, maka akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berbuatlah baik kepada wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai” (HR. Ahmad 1/191, dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661).
  2. Rasulullah SAW bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah, no. 287).
  3. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026).
  4. Rasulullah SAW juga pernah bersabda: “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 289).
  5. Rasulullah SAW bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya” (HR. Muslim no.1436).
  6. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya)” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 1436).
  7. Kisah wanita yang akan berangkat menunaikan shalat ‘ied, ia tidak memiliki jilbab, maka diperintah oleh Rasulullah SAW: “Hendaknya Saudarinya meminjaminya Jilbab untuknya.” (HR. Bukhari No. 318).
  8. Rasulullah SAW bersabda di akhir kehidupannya, dan hal itu terjadi pada haji Wada’: “Ingatlah, berbuat baiklah kepada wanita. Sebab, mereka itu (bagaikan) tawanan di sisi kalian. Kalian tidak berkuasa terhadap mereka sedikit pun selain itu, kecuali bila mereka melakukan perbuatan nista. Jika mereka melakukannya, maka tinggalkanlah mereka di tempat tidur mereka dan pukul lah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Jika ia mentaati kalian, maka janganlah berbuat aniaya terhadap mereka. Mereka pun tidak boleh memasukkan siapa yang tidak kalian sukai ke tempat tidur dan rumah kalian. Ketahuilah bahwa hak mereka atas kalian adalah kalian berbuat baik kepada mereka (dengan mencukupi) pakaian dan makanan mereka” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih).
  9. Ummu Salamah berkata : “Wahai Rasulullah, bagaimana wanita berbuat dengan pakaiannya yang menjulur ke bawah?”.

Beliau bersabda: “Hendaklah mereka memanjangkan satu jengkal”, lalu ia bertanya lagi: “Bagaimana bila masih terbuka kakinya?”.

Beliau menjawab: “Hendaknya menambah satu hasta, dan tidak boleh lebih” (HR. Tirmidzi 653 dan berkata: “Hadits hasan shahih”).

  1. Dari Sa’ad RA bahwa Rasulullah SAW bersabda padanya: “Apapun yang engkau berikan berupa suatu nafkah kepada keluargamu, maka engkau diberi pahala, hingga sampai sesuap makanan yang engkau angkat (masukkan) ke mulut istrimu” (HR. Bukhari dan Muslim).
  2. Al-Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi SAW karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah SAW bertanya kepadanya: “Apakah engkau sudah bersuami?”.

Bibi Al-Hushain menjawab: “Sudah”.

“Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah lagi.

Ia menjawab: “Aku… tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu”.

Rasulullah bersabda: “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu” (HR. Ahmad 4/341 dan selainnya, lihat Ash-Shahihah no. 2612).

  1. Di dalam kisah gerhana matahari yang mana Rasulullah SAW dan para shahabatnya melakukan shalat gerhana padanya dengan shalat yang panjang, beliau melihat surga dan neraka. Ketika beliau melihat neraka beliau bersabda kepada para shahabatnya: “… Dan aku melihat neraka maka tidak pernah aku melihat pemandangan seperti ini sama sekali, aku melihat kebanyakan penduduknya adalah kaum wanita”.

Para shahabat pun bertanya: “Wahai Rasulullah, Mengapa (demikian)?”.

Beliau menjawab: “Karena kekufuran mereka”.

Kemudian mereka bertanya lagi: “Apakah mereka kufur kepada Allah?”.

Beliau menjawab: “Mereka kufur (durhaka) terhadap suami-suami mereka, kufur (ingkar) terhadap kebaikan-kebaikannya. Kalaulah engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka selama waktu yang panjang kemudian dia melihat sesuatu pada dirimu (yang tidak dia sukai) niscaya dia akan berkata: Aku tidak pernah melihat sedikitpun kebaikan pada dirimu” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas RA).

  1. Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya, dan wanita yang kasiyat (berpakain tapi telanjang baik karena tipis, atau pendek yang tidak menutup semua auratnya), Mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang) kepala mereka seperti punuk onta yang berpunuk dua. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya padahal bau surga itu akan didapati dari sekian dan sekian (perjalanan 500 tahun)” (HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421).
  2. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik dari pada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya” (HR. At-Thabrani dan Baihaqi).
  3. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan, maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan dihari akhir nanti” (HR. Abu Daud).
  4. Rasulullah SAW bersabda (artinya): “Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya” (HR. Bukhari & Muslim).
  5. Dari Hamzah bin Abi Usaid al-Anshari, dari bapaknya, bahwa ia telah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada para wanita (saat itu beliau sambil keluar dari masjid, dan terlihat laki-laki dan wanita berbaur di jalan):

“Minggirlah kalian, karena tidak layak bagi kalian untuk berjalan di tengah. Kalian harus berjalan di pinggir”.

Sejak saat itu, ketika para wanita berjalan keluar, mereka berjalan di tepi tembok. Bahkan baju-baju mereka sampai tertambat di tembok, karena begitu dekatnya mereka dengan tembok ketika berjalan (HR. Abu Dawud; Hasan).

  1. Dari Abdullah bin ‘Umar RA berkata, Rasulullah SAW bersabda (artinya):

“Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian dari masjid-masjid, akan tetapi rumah-rumah mereka adalah lebih baik untuk mereka” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah; Shahih).

  1. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda (artinya):

“Sesungguhnya wanita adalah aurat. Sehingga ketika ia keluar rumah, ia akan disambut oleh syaithan. Dan kondisi yang akan lebih mendekatkan dirinya dengan Rabbnya adalah ketika ia berada di rumahnya” (HR. Ibnu Khuzaimah; Shahih).

  1. Rasulullah SAW bersabda: “Akan ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum lelaki, mereka turun di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita mereka berpakaian (tetapi) telanjang, di atas kepala mereka (terdapat sesuatu) seperti punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka! sesungguhnya mereka adalah wanita-wanita terlaknat” (HR. Imam Ahmad (2/233) ).
  2. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina” (HR. An-Nasaii ibnu Khuzaimah & ibnu Hibban).
  3. Rasulullah SAW bersabda: “Rasulullah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikir giginya” (HR. At-Thabrani).
  4. Rasulullah SAW bersabda: “Aku melihat ke dalam Surga maka aku melihat kebanyakan penduduknya adalah fuqara (orang-orang fakir) dan aku melihat ke dalam neraka maka aku menyaksikan kebanyakan penduduknya adalah wanita” (HR. Bukhari, no. 3069 dan Muslim no.7114, dari Ibnu Abbas dan Imran serta selain keduanya).
  5. Rasulullah SAW bersabda: “Aku berdiri di depan pintu syurga, lalu (kulihat) kebanyakkan orang yang masuk kedalamnya adalah orang orang miskin, dan orang orang yang kaya ditahan kecuali penghuni neraka mereka disuruh untuk masuk ke neraka, dan aku berdiri di depan pintu neraka maka (kulihat) kebanyakkan yang masuk kedalamnya adalah wanita” (HR. Muslim, no. 7113).
  6. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya penduduk surga yang paling sedikit adalah wanita” (HR. Muslim, no. 7118).
  7. Rasulullah SAW bersabda: “Wanita mana saja yang meminta cerai pada suaminya tanpa sebab (yang syar’i) maka haram baginya wangi Surga” (HR. Abu Daud, no. 2228, dan Ibnu Majah, no. 2055 Di shahihkan oleh syekh Al-Bani dalam “shahih sunan Abu Daud” (no. 1928).
  8. Rasulullah SAW bersabda: “Apabila suami mengajak istri ke ranjangnya (untuk jima’) lalu ia tidak memenuhi maka ia dilaknat oleh para malaikat sampai subuh”.

Dalam riwayat: “lalu ia tidur malam sedang suaminya murka maka para malaikat akan melaknatnya sampai subuh”.

Dalam riwayat lain: “Apabila istri di waktu malam meninggalkan ranjang suaminya, ia enggan mendatanginya, maka yang di langit (Allah) akan murka kepadanya sampai ia minta keridhaan suaminya.

  1. Rasulullah SAW bersabda: “Bershadaqahlah kalian! Karena kebanyakan kalian adalah kayu bakarnya Jahanam!”.

Maka berdirilah seorang wanita yang duduk di antara wanita-wanita lainnya yang berubah kehitaman kedua pipinya, iapun bertanya: “Mengapa demikian, wahai Rasulullah?”.

Beliau menjawab: “Karena kalian banyak mengeluh dan kalian kufur terhadap suami!” (HR. Bukhari).

ANNISANATION– barisan Alhadis di atas, yang jumlahnya banyak lagi, dan belum lagi yang dicantumkan pada page lain di internet (yang tidak dicantumkan di sini) keseluruhannya benar-benar mengindikasikan bahwa:

  1. Orbital perempuan adalah domestik.
  2. Perempuan adalah subordinat pria.
  3. Takdir perempuan adalah bawahan pria, harus patuh kepada pria / suaminya.
  4. Ancaman Neraka lebih mudah diancamkan kepada perempuan, dikarenakan kekufurannya.
  5. Tidak ada satu pun Alhadis yang mengindikasikan bahwa perempuan boleh beraktivitas di luar rumah, seperti bekerja di sektor publik, atau bahkan menuntut ilmu sekali pun.
  6. Ukuran kesalehan perempuan adalah taat kepada suaminya, bukan pada kecantikannya atau ketrampilannya mencari uang.
  7. Dsb.

Penutup.

Dari begitu banyak ayat Alquran dan Alhadis, keseluruhannya dengan jelas menuntun manusia untuk mendomestikalisasi perempuan, yang mana itu berarti menolak dan mengutuk semua usaha untuk menggeliatkan Emansipasi Wanita (EW).

Bagaimana mungkin ada umat Muslim, khususnya Muslimah yang berpendirian bahwa Emansipasi Wanita (EW) sangat sesuai dengan ajaran Islam? Dari begitu banyaknya Alhadits dan ayat Alquran yang menitahkan bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, walau untuk tujuan ibadah sekali pun, kaum perempuan Muslim merasa bahwa Islam menganjurkan Emansipasi Wanita (EW). Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Dan tidak ketinggalan juga, banyaknya kaum ulama yang justru mendukung geliat Emansipasi Wanita (EW) ini, seolah geliat tersebut merupakan apa yang diamanatkan dalam Alquran maupun Alhadist. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?

Tidakkah kaum ulama dan juga kaum umara (yaitu Pemerintah) melihat bahwa sejak dicanangkannya geliat Emansipasi Wanita (EW), dekadensi moral umat satu per satu merebak dan menghalau ketentraman dan marwah umat manusia khususnya Muslim?

Dengan digeliatkannya Emansipasi Wanita (EW), maka dimulailah kekufuran perempuan, dan dimulailah kehancuran moral umat. Sementara itu, Alhadist di atas dan masih banyak lagi, hanya menuntun umat untuk mengedepankan Domestikalisasi Wanita, karena itulah yang Nabawi, dan Illahiah.

Wallahu a’lam bishawab.

Kesetaraan Gender dalam Sorotan

ratasorotanDari sejak hegemoni Barat mulai bercokol di banyak negeri kaum muslimin, seiring melemahnya kekuatan mereka, sedikit demi sedikit dominasi syariat dan hukum-hukum Islam bergeser ke ranah-ranah privat dan hanya diminati oleh minoritas orang. Produk-produk pemikiran Barat pun sedikit demi sedikit menyebar di khalayak kaum muslimin. Diantara produk pemikiran Barat yang saat ini tengah dengan giat disosialisasikan adalah isu kesetaraan gender. Isu yang menghendaki hancurnya batas-batas pembeda antara dua kelompok manusia (baca: laki-laki dan perempuan) dalam status sosial dan peran di masyarakat ini dijajakan oleh para aktivis feminisme yang tidak lain adalah anak turunan liberalisme; ideologi kebebasan mutlak tanpa tapal batas.

Problem lemahnya keyakinan dan dangkalnya wawasan keagamaan menjadi pemicu utama yang menyebabkan ide-ide luar itu dapat dengan mudah masuk ke dalam pemikiran kaum muslimin tanpa filter yang menyaringnya. Apalagi, budak-budak pemikiran Barat yang giat menebar ide-ide rusak ini tidak jarang berbicara atas nama pembaharuan Islam, moderenisasi, dan jargon-jargon lainnya.

Kesetaraan dalam Kewajiban Beribadah dan Pahalanya

Secara umum, Islam memandang laki-laki dan wanita dalam posisi yang sama, tanpa ada perbedaan. Masing-masing adalah ciptaan Allah yang dibebani dengan tanggungjawab melaksanakan ibadah kepada-Nya, menunaikan titah-titah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hampir seluruh syariat Islam dan hukum-hukumnya berlaku untuk kaum Adam dan kaum Hawa secara seimbang. Begitu pun dengan janji pahala dan ancaman siksaan. Tidak dibedakan satu dengan yang lainnya. Masing-masing dari mereka memiliki kewajiban dan hak yang sama dihadapan Allah sebagai hamba-hamba-Nya. Berikut adalah petikan ayat-ayat al Qur`an yang menjelaskan tentang pandangan Islam dalam hal ini:

“Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl [16]: 97).

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun” (QS. An Nisa [4]: 124).

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain” (QS. Ali Imran [3]: 195).

Mujahid berkata, “Ummu Salamah pernah berkata kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, kami tidak mendengar penyebutan wanita dalam masalah hijrah sedikitpun?”, maka turunlah ayat ini” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/190, Tafsir Al Bagawy, 2/153).

Perbedaan Kodrat

Namun demikian, bukan berarti kaum laki-laki dan wanita menjadi sama dan setara dalam segala hal. Menyetarakan keduanya dalam semua peran, kedudukan, status sosial, pekerjaan, jenis kewajiban dan hak sama dengan melanggar kodrat. Karena, kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan wanita terdapat perbedaan-perbedaan mendasar, hingga jika kita melihat keduanya dengan kasat mata sekalipun. Secara biologis dan kemampuan fisik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Begitu pun dari sisi sifat, pemikiran-akal, kecenderungan, emosi dan potensi masing-masing juga berbeda.

Apalagi wanita dengan tabiatnya melakukan proses reproduksi, mengandung, melahirkan, menyusui, menstruasi, sementara laki-laki tidak. Adalah tidak adil jika kita kemudian memaksakan suatu peran yang tidak sesuai dengan tabiat dan kecenderungan dasar dari masing-masing jenis tersebut.

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid berkata, “Bertolak dari perbedaan mendasar ini, sejumlah hukum-hukum syariat ditetapkan oleh Allah yang Mahaadil dengan perbedaan-perbedaan pula. Sebagian hukum, kewajiban, hak dan peran yang disyariatkan oleh Allah dibedakan sesuai dengan kemampuan masing-masing dari keduanya tadi. Tujuannya adalah, agar keduanya saling melengkapi satu sama lain dan dengannya hidup ini dapat berjalan sempurna, harmonis dan seimbang.” (Lihat Hirâsatu al Fadhîlah, hal. 18-19)

Dari sisi ini pula, Muhammad Aali al Ghamidy dalam sebuah artikel bertajuk “Muqâranatu al Nadzrah al Takâmuliyyah al Islâmiyyah bayna al Rajul wa al Mar`ati wa al Nadzrah al Tanâfusiyyah al ‘Almâniyyah” menjelaskan, bahwa pandangan Islam dalam model hubungan antara laki-laki dan wanita adalah hubungan saling melengkapi, bukan hubungan persaingan sebagaimana yang diinginkan oleh konsep sekuler. (http://www.saaid.net/female/0137.htm)

Allah berfirman menghiyakatkan perkataan istri Imran,

Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan” (QS. Ali Imran [3]: 36).

Dari sini, kesetaraan, atau persamaan (dalam bahasa Arab: musâwâtu) antara laki-laki dan perempuan bukanlah nilai yang berasal dari pandangan Islam Islam memandang keadilan antara laki-laki dan wanita, bukan kesetaraan. Konsep kesetaraan bertolak belakang dengan prinsip keadilan. Karena adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, memberikan hak kepada yang berhak menerimanya. Sementara (Lihat kritikan Syaikh al Utsaimin tentang kata al musâwâtu dalam Syarhu al ‘Aqîdah al Wâsithiyyah, hal. 180-181)

Hukum Syariat antara Laki-laki dan Wanita

Di antara ketetapan syariat yang Allah khususkan bagi laki-laki adalah soal kepemimpinan. Allah berfirman,

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS. An-Nisa` [4]: 34).

Posisi strategis ini Allah berikan kepada laki-laki karena ia sesuai dengan tabiat dan kodrat penciptaannya, sebagaimana yang telah disebutkan. Dalam rumah tangga, laki-laki adalah pemimpin yang bertanggungjawab menjaga dan memelihara urusan orang-orang yang berada dibawah kepemimpinannya dari para istri dan anak-anak, termasuk menjamin pakaian, makanan dan rumah mereka.

Bahkan, tidak hanya urusan-urusan dunia mereka, namun juga dalam urusan agama mereka. Syaikh Shalih Al Fauzan berkata, “Laki-laki adalah pemimpin / penanggungjawab bagi wanita, dalam hal agamanya, sebelum dalam hal pakaian dan makanannya.” (Khuthbah Jum’at, Masjid Amir Mut’ib)

Dengan catatan, kepemimpinan atau kekuasaan seorang laki-laki atas wanita itu bermakna penjagaan, perhatian dan pengaturan, bukan dalam arti kesewenang-wenangan, otoritarian dan tekanan.

Begitu pula dalam kepemimpinan pada ranah-ranah publik seperti jabatan kepala negara, kehakiman, menejerial, atau perwalian seperti wali nikah dan yang lainnya, semua itu juga hanya diberikan kepada laki-laki dan tidak kepada wanita.

Dalam ibadah dan ketaatan, laki-laki secara khusus dibebani kewajiban jihad, shalat jum’at dan berjamah di masjid, disyariatkan bagi mereka adzan dan iqamah. Syariat juga menetapkan perceraian berada di tangan laki-laki, dan bagian waris dua bagi laki-laki dan satu untuk wanita.

Adapun hukum-hukum yang khusus untuk kaum wanita juga banyak. Baik dalam ibadat, muamalat dan lain-lain. Bahkan sebagian para ulama menulis secara khusus buku-buku yang berkaitan dengan hukum-hukum wanita (Lihat Hirâsah al Fadhîlah, hal. 22).

Sikap Seorang Mukmin dan Mukminah

Syaikh Bakr bin Abdillah Abu Zaid rahimahullah menyimpulkan, dari perbedaan-perbedaan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah tersebut, maka ada tiga sikap yang harus kita ambil:

Pertama, beriman dan menerima perbedaan-perbedaan antara laki-laki dan wanita baik secara fisik, psikis, atau hukum syar’i, serta hendaknya masing-masing merasa ridha dengan kodrat Allah dan ketetapan-ketetapan hukum-Nya.

Kedua, tidak boleh bagi masing-masing dari laki-laki atau wanita menginginkan sesuatu yang telah Allah khususkan bagi salah satunya dalam perbedaan-perbedaan hukum tersebut dan mengembangkan perasaan iri satu sama lain disebabkan perbedaan-perbedaan tersebut. Oleh karena itu Allah melarang hal itu dengan firman-Nya,

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. An Nisa` [4]: 32).

Tentang sebab turunnya ayat ini, Mujahid menuturkan, “Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa laki-laki berperang sementara kami tidak? Dan mengapa kami hanya mendapatkan setengah dari harta waris? Maka turunlah ayat ini.” (Diriwayatkan oleh al Thabari, Imam Ahmad, Hakim dan yang lainnya)

Ketiga, jika Alquran dengan jelas melarang untuk sekedar iri, maka apalagi mengingkari dan menentang perbedaan-perbedaan syar’i antara laki-laki dan wanita ini dengan cara memropagandakan isu kesetaraan gender. Hal ini tidak boleh bahkan termasuk kekufuran. Karena ia merupakan bentuk penentangan terhadap kehendak Allah yang bersifat kauni yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan perbedaan-perbedaan tabiat tadi, sekaligus bentuk pengingkaran terhadap teks-teks syar’i yang bersifat qath’i dalam pembedaan-pembedaan hukum antara keduanya (Lihat Hirâsah al Fadhîlah, hal. 22).

Wallâhu ‘alam, wa shallallâhu wa sallam ‘alâ nabiyyinâ Muhammad.

Terima kasih untuk – http://muslim.or.id/muslimah/kesetaraan-gender-dalam-sorotan.html