Wweeeiiii…. Koyak Rok, Pamer Paha, Siswi SMU Alah Perempuan Pesanan Unggah Fhoto Ke Medsos

66siswidiperkosa

RIAUPUBLIK.COM, JAKARTA– Hancur sudah ahlak siswa- siswi jaman sekarang sudah berjiwa tempe, pamer body pampangankan ke media sosial, bukan nya malu tapi bangga akan hal itu, salah satu siswi sekolah di jakarta ini, setelah usai ujian kelulusan, belum tau penguman lulus atau tidak nya, malah mencoret baju seragam nya, dan parah nya lagi seperti menjajahkan diri, berpose alah wanita pesanan, dengan merobek Rok nya memamerkan ke media sosial.

Keritikan siswi dengan di unggah nya Pose alah wanita Pesanan Om..Om, mengecam prilaku, siswa- siswi yang mengunggah Fhoto Merayakan Kelulusan nya, ini salah satu keritikan Netizen pada murid Siswa/ Siswai Dengan merayakan kelulusan nya dengan Fose alah Wanita Panggilan.

Riza Muliani Dari gaya nya bukanlah sebuah kebahagiaan tapi keangkuhan dan kesombongan menyobek rok dan mempertontonkan paha mulus seperti nunggu antrian untuk diboking aja…tak ada tatakrama dan sopan santun dan rasa segan sedikit pun…. maaf klo ada orang tuanya y baca …. apa seperti ini etika dan aklak anak smu ….. dimana penerapan etika dan ilmu agamanya…. dasar gak tau malu…

Lenny IskandarSyah Baruu lulus SMA aja dh gaa punya moral,,gimanaa di dunia kuliah dan kerja,,iman ama moral di jual semua x tuh,,kyk judul lagu dangdut,,gadis tapi bukan perawan

Mega Juliani Hahahaha Dasar pda Soplak yah Jaman Sekarang mah, Mmbri Contaoh yang Gak Moral Bwt Anak2 Remaja Yang Lain y, Msh Mnding yG Remes y Cewe Coba kllo Cowo Haduuhh dwah bkn di Remes lg Tpi Udah Di Ajak Maksiaat tuuhh

oppy Novelia Youvandyni Calon psk

Izzy De Doors

Izzy De Doors Calon ubex ni anak..

Murahan banget…

Paling dkasi 10.000 bsa dapet dkaceng xxx

Raatusan Ribu mengomentari prilaku siswa- Siswi di zaman sekarang, dengan  dengan prilsku murid SMU yang merayakan kelulusan nya ini.

Sumber, http://www.riaupublik.com/2016/05/wweeeiiii-koyak-rok-pamer-paha-siswi.html

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation,

Inilah apa yang harus dialami umat Tuhan kalau Gerakan Emansipasi Wanita terus digelorakan. Sungguh, isme yang ingin memberi akses pendidikan kepada kaum perempuan, merupakan suatu perbuatan sia-sia, yang jelas-jelas menentang hukum alam dan menentang hukum kebajikan ….

Dan akhirnya, inikah yang diinginkan semua pihak dari kebijakan memberdayakan kaum perempuan??? ***

Untuk lebih memahami kekuatan artikel ini, silahkan lanjut membaca artikel “66 Siswa Hamil Di Luar Nikah“.

66 Siswa Hamil Di Luar Nikah

66siswidiperkosa

Tangerang, Wartakota:

Sebanyak 66 pelajar di Kab. Tangerang hamil di luar nikah sepanjang tahun 2016. Jumlah siswa hamil ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang berjumlah 106 siswa hamil di luar nikah.

“Kami telah melakukan evaluasi data selama tahun 2016 ada sebanyak 66 kasus dari 72 kasus di luar nikah”, kata kepala Seksi Perlindungan Perempuan Dan Anak Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan (DPAP) Kab. Tangerang, Banten, Siti Zahro di Tangerang, seperti dikutip Antara, Selasa (31/1).

Siti mengatakan, kasus tersebut terjadi karena para siswa menganut pola hidup pergaulan bebas. Akibatnya mereka melakukan seks sebelum menikah.

Upaya yang dilakukan agar siswa tidak mengikuti gaya hidup pergaulan bebas dengan melakujan penguatan fungsi keluarga. Ortu, kata Siti, juga harus berperan aktif dalam mengawasi pergaulan anak2nya.

Pergaulan anak di bawah usia 17 tahun sepenuhnya oleh ortu. Misal, tidak membiarkan Sitianak pergi dengan orang lain yang belum dikenal. Upaya tersebut juga untuk mengurangi tindakan kekerasan seksual pada anak maupun  perempuan lainnya.

Pendampingan.

Pelajar yang hamil di luar nikah diberi pendampingan psikologi oleh Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan Kab. Tangerang. Pendampingan psikologi ini dilakukan agar mental anak yang hamil di luar nikah tidak goyah.

Pasalnya, anak yang hamil di luar nikah kerap menghindari keluarga dan lingkungannya. Siti mengatakan, petugas DPAP juga berupaya mendampingi korban dalam pendidikan karena menyangkut hak anak.

“Biasanya korban hamil di luar nikah kami pindahkan sekolah ke tempat lain setelah melahirkan, demi mengurangi beban psikologi”, katanya.

Contohnya, satu siswa sekolah negeri di Siti Mauk, dipindah ke sekolah swasta yang berbeda kecamatan. Biaya pindah sekolah ini berasal dari sekolah asal siswa.

Dia berharap, anak korban kekerasan dan anak yang hamil di luar nikah dapat melapor ke DPAP. Identitas mereka , kata Siti, akan dirahasiakan.

Sumber, Wartakota, Rabu 1 Peb 2017.

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini membahas bencana sosial yang menggejala di jaman modern ini, yaitu maraknya angka perzinahan, khususnya di kalangan anak muda, dan tentunya hal ini menjadi keprihatinan semua kalangan. Dapat dikatakan, bahwa salah satu maksud yang terkandung di dalam paparan ini adalah, adanya usaha dari berbagai pihak, untuk menghilangkan, atau paling tidak meminimalisir, terjadinya perzinahan …., karena biar bagaimana pun, perzinahan tidak dapat diterima secara moral, agama dan akal sehat.

Namun bagaimanakah caranya untuk menghilangkan tindak zina ini? Apakah ada usaha nyata dan efektif untuk menghilangkan terjadinya perzinahan ini? Dan apakah itu berhasil? Sama diketahui bahwa usaha untuk menghilangkan perzinahan sudah dikembangkan sejak jaman dahulu, namun apakah keseluruhan usaha tersebut berhasil secara menggembirakan?

Satu hal yang jelas dan pasti mengenai bencana perzinahan ini. Satu-satunya faktor pencetus terjadinya perzinahan adalah, digalakkannya program pendidikan untuk anak perempuan, di mana (anak) perempuan dikondisikan untuk berangkat ke sekolah (setiap hari), untuk berada di luar rumah, dan sejurus kemudian anak-anak perempuan ini diperbaurkan dengan teman-teman pria. Tak ayal lagi, perbauran bebas telah menjadi faktor pencetus utama terjadinya perzinahan.

Selama (anak-anak) perempuan terus keluar rumah, untuk tujuan pendidikan, sekolah, apalagi kemudian diperbaurkan secara bebas dengan teman-teman pria, maka selama itu perzinahan akan terus terjadi di tengah masyarakat, tidak dapat dielakkan lagi dengan cara apa pun. Oleh karena itu, kalau suatu masyarakat ingin memberantas perzinahan sampai ke akar-akarnya, maka satu-satunya cara adalah mendomestikalisasi seluruh perempuan, khususnya perempuan sejak dari usia remaja hingga dewasa: kebijakan Emansipasi Wanita harus dihentikan.

Pada jaman dulu kala, ketika dengung Emansipasi Wanita belum menggejala, ketika masyarakat masih memegang prinsip bahwa kaum wanita adalah mahluk domestik sehingga perempuan tidak dibenarkan dan tidak diadatkan untuk keluar rumah, praktis angka perzinahan begitu rendah, bahkan dapat dikatakan tidak ada. Bagaimana mungkin terjadi zina, kalau seluruh perempuan kukuh di dalam rumah mereka sepanjang waktu, sementara kaum pria di siang hari sibuk di tempat kerja, seperti sawah, kebun, kantor Pemerintah dsb. Kaum pria di tempat kerja hanya menemui sesama pria, sementara kaum perempuan di rumah hanya menemui anak-anak mereka, ayah, abang, bahkan suami mereka saja. Bagaimana mungkin ada perzinahan?

Namun ketika Pemerintah / masyarakat mulai membijakkan Emansipasi Wanita di mana kaum perempuan dikondisikan untuk keluar rumah, baik untuk sekolah maupun untuk bekerja, maka lambat laun perzinahan mulai menggejala, karena perempuan dan pria yang tidak mempunyai hubungan keluarga, dikondisikan untuk terus bertemu. Itulah awal tumbuhnya rasa suka dan nyaman, dan pada akhirnya menyeret mereka kepada perzinahan. Dan itu pun sudah menjadi fakta.

Benarlah kata para tetua, bahwa tempat perempuan adalah di rumah saja, karena kalau perempuan keluar rumah, maka akan terjadi banyak fitnah besar. Bukankah petuah tersebut sekarang menjadi kenyataan? Dengan perempuan terus keluar rumah, maka fitnah mahabesar terus terjadi, yaitu maraknya perzinahan, bahkan perzinahan sudah dianggap biasa dan lumrah, sudah dianggap keniscayaan jaman. Inikah yang diinginkan dari digalakkannya gerakan Emansipasi Wanita?

Pernahkah terjadi pada suatu umat, pada suatu masyarakat, di mana perempuan-perempuan bebas berbaur dengan teman-teman pria di luar rumah secara intens, namun perzinahan sama sekali tidak pernah terjadi? Pernahkah? Jawabannya adalah tidak. Di mana kaum perempuan bebas keluar rumah sehingga berbaur dengan teman-teman pria, maka di sana kasus zina sudah menjadi kelumrahan, sudah menjadi kejamakan. Namun kebalikannya, di mana kaum perempuan kukuh diam di dalam rumah, sementara kaum pria bekerja di tempat bekerja, maka perzinahan tidak pernah terjadi, karena kaum pria hanya menemui sesama pria di tempat publik, sementara kaum perempuan hanya menemui anak-anak dan orangtua mereka di tempat domestik.

Kalau pun memang pernah terjadi di mana kaum perempuan keluar rumah dan berbaur bebas dengan teman-teman pria secara intens, namun tidak pernah terjadi perzinahan di antara mereka, maka pastilah itu merupakan keanehan, suatu keganjilan, karena BERTENTANGAN DENGAN HUKUM ALAM. Bagaimana mungkin masuk akal, di mana perempuan dewasa dan pria dewasa terus bertemu secara intens namun di antara mereka tidak pernah tercetus rasa suka dan nyaman yang diparipurnakan dengan berhubungan intim?

Benarlah kata tua-tua pada masa dahulu, bahwa tempat perempuan adalah di rumah, dan tidak pernah izinkan perempuan keluar rumah, karena kalau perempuan keluar rumah maka akan terjadi fitnah besar. Namun sekarang, petuah tua-tua pada masa dahulu begitu lancangnya dilanggar dan dihiraukan, khususnya oleh pemangku Pemerintahan, dan juga para aktifis perempuan. Maka maraklah sudah bencana perzinahan di mana-mana! ***

Bagaimana mungkin masyarakat dapat memberantas perzinahan, sementara anak-anak perempuan terus keluar rumah, khususnya di dalam hal ini ke sekolah? Justru pada dasarnya kebijakan menyekolahkan anak-anak perem-puan pasti berimplikasi pada maraknya perzinahan, tidak bisa tidak. Patut direnungkan, buat apa mendapatkan anak-anak perempuan yang cerdas, intelektual, mempunyai banyak ketrampilan, dsb, kalau toh itu semua membuat anak-anak perempuan kehilangan kesucian dan kemurnian mereka? Buat apa mengusahakan untuk mencerdaskan anak-anak perempuan, kalau itu semua berimplikasi pada maraknya perzinahan, kasus hamil di luar nikah, pergaulan bebas antara pria dan perempuan?

Apakah mencerdaskan generasi perempuan adalah jauh lebih penting dan di atas segala-galanya, sedangkan bencana perzinahan dianggap sepele dan remeh-temeh? Dan apakah demi mencerdaskan generasi perempuan, maka kehormatan dan kesucian umat patut dikorbankan dan ditumbangkan begitu rupa? Apakah kesucian dan keagungan umat tidak lagi penting bagi masyarakat?

Pendidikan perempuan, untuk apa?

Terdapat dua hal yang berparalel di jaman sekarang. Di satu pihak, masyarakat dan Pemerintah giat menggalakkan Emansipasi Wanita, untuk memberdayakan kaum perempuan, yang gelagatnya adalah dengan mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, untuk sekolah maupun bekerja mencari nafkah. Di lain pihak, pecahnya bencana perzinahan yang merajalela di setiap kampung dan kota, yang mana bencana perzinahan tersebut satu-satunya pemicu adalah perempuan yang keluar rumah, baik untuk pendidikan maupun bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan. Kedua hal tersebut adalah dan selalu berparalel, tepatnya adalah bahwa perempuan keluar rumah akan selalu berimplikasi pada statistik perzinahan dan sexbebas. Dengan kata lain, harga yang harus dibayar oleh kaum perempuan, masyarakat dan Pemerintah, ketika menggalakkan Emansipasi Wanita, adalah terlampau mahal dan tidak masuk akal: yaitu pembumi-rataan perzinahan dan sexbebas.

Patut untuk direnungkan, apakah faedah yang akan diperoleh dengan menggalakkan Emansipasi Wanita? Apakah faedah dan manfaat yang ingin dirasakan masyarakat dan Pemerintah dengan adanya Emansipasi Wanita? Pun juga bagi perempuan itu sendiri, apakah tercerabutnya mereka dari nilai-nilai suci dan agung, merupakan apa yang mereka cari dengan bekerja dan berkarir? Dengan perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan di dalam bingkai Emansipasi Wanita, maka …..,

  1. Setidaknya, akan terjadi perbauran antara pria dan perempuan di sektor publik secara intens dan permanen, hal mana akan memicu terjadinya perzinahan. Dengan perempuan terus bertemu dan berbaur dengan pria-pria kota, maka rasa malu dan enggan yang alaminya tertanam pada mental setiap perempuan, akan tergerus dan terkikis secara sistematis, dan akhirnya akan diganti dengan rasa suka dan nyaman dengan pria-pria tersebut. Harus diingat, bahwa setiap pria asing, biar bagaimana pun adalah pria-pria yang manis, tampan, menggemaskan, lucu dan menghangatkan. Mustahil untuk terus berkeyakinan bahwa perempuan mana pun tidak akan jatuh di dalam perasaan suka dan kangen pada pria-pria tersebut: ini adalah hukum alam, akan selalu ada sensasi indah saat perempuan-perempuan tersebut bersama pria-pria kota, baik di sekolah maupun di tempat kerja. Tanpa disadari perempuan sudah kehilangan rasa malu dan enggannya kepada pria asing: yang semula setiap perempuan diperlengkapi rasa malu dan enggan terhadap pria asing (saat perempuan masih merupakan perempuan rumahan), pada akhirnya rasa / sense tersebut hilang seketika saat perempuan sudah intens berbaur bebas dengan pria-pria asing di luar rumah. Keseluruhan hal tersebut akan berakhir pada tindak zina dan sexbebas.
  2. Dengan perempuan keluar rumah secara intens, maka fenomena PACARAN akan menjadi lumrah, sementara pacaran itu sendiri adalah gerbang utama terjadinya Dengan diberdayakan, maka artinya perempuan akan menuntut untuk menikah setelah adanya pacaran. Dan ini jelas artinya perzinahan.
  3. Dengan perempuan diberdayakan baik di dalam bentuk pendidikan maupun pekerjaan, akan membuat perempuan membenci kodrat dan tugas domestik: mereka akan segera mempekerjakan pembantu rumahtangga dan babysitter untuk membenahi seluruh tetek-bengek urusan domestik, sementara perempuan-perempuan tersebut memilih asyik bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan di luar rumah, sambil berbaurbebas dengan pria asing di tengah kota, yang mana hal tersebut memicu terjadinya perzinahan dan sexbebas, dengan segala turunannya: kondomisasi, perselingkuhan, hamil di luar nikah, mayat bayi buangan di tempat sampah, marak perceraian, pornografi dan pornoaksi, penyakit kelamin, dsb.
  4. Dan akibat dari Emansipasi Wanita, juga pemberdayaan perempuan, akan banyak perempuan yang menuntut pekerjaan, dan ini artinya akan ada infiltrasi perempuan ke dalam pangker (lapangan kerja). Implikasinya, kaum pria akan tercerabut dan akan terdepak dari lapangan kerja. Sejurus kemudian adalah, akan banyak pria pengangguran, karena sumberdaya mereka tidak lagi tertampung di lapangan-kerja, karena lapangan kerja sudah dipenuhi dan diserobot perempuan. Ingat, pengangguran pria akan berimplikasi pada angka kriminalitas, dan pensia-siaan aset bangsa. Ingat juga, bahwa pria adalah tulang punggung keluarga, karena setiap pria berkewajiban untuk menafkahi anak dan keluarga. Artinya, kalau seorang pria menganggur, maka akan ada satu keluarga full yang kelaparan dan tidak mempunyai masa depan. Itu semua jelas, diakibatkan pemberdayaan perempuan, alias Emansipasi Wanita. Secerdas dan sesukses apa pun seorang pria pada studinya, tetap mereka akan menjadi pengangguran dan akan ditolak di lapangan kerja, karena ini bukan masalah kecerdasan dan ijazah cemerlang, namun melainkan seluruh pangker sudah direbut dan diserobot perempuan: begitu banyak pria yang berijazah cemerlang, toh akhirnya menjadi pengangguran alias tidak diterima di tempat kerja, karena banyak posisi pangker sudah dijarah perempuan.
  5. Dengan perempuan diberdayakan, maka mental perempuan akan berubah dramatis: mereka akan kuat dan kritis melawan titah agama, titah moral, titah para tua-tua, titah Nabi saw, titah leluhur, titah kodrat, titah kefitrahan, titah alam, dsb. Mereka akan terus mencibiri dan mengutuki seruan adat dan seruan agama. Yang benar hanya mereka seorang, yaitu perempuan, untuk terus keluar rumah, berbaur bebas dengan pria-pria kota, berangkat pagi pulang malam, berbusana mengumbar aurat, menolak mengurus pekerjaan domestik, menolak mengasuh anak, dsb. Padahal pendirian mereka tersebut sudah berimplikasi pada maraknya perzinahan dan sexbebas, namun tetap mereka tidak perduli, bahkan mereka berkeyakinan bahwa tidak ada hubungan apa pun antara jalan hidup mereka (yaitu Emansipasi Wanita, bekerja, berkarir, berbaur bebas dengan pria asing di tengah kota dsb), dengan pecahnya bencana perzinahan dan sexbebas.
  6. Dengan perempuan diberdayakan, maka bukannya perempuan semakin komit pada kodrat domestik dan kodrat kewanitaan, mereka malah semakin menjauh dan mengutuki kodrat-kodrat tersebut. Tidak pernah kejadian di mana perempuan yang sudah diberdayakan, membuat mereka semakin mencintai dan mentaati kodrat kewanitaan. Yang tampak adalah sebaliknya, yaitu ketika perempuan sudah diberdayakan (baik berpendidikan tinggi, maupun sudah bekerja dan karir yang mantap), mereka berbalik menjadi begitu menghujat dan mengingkari kodrat-kodrat tersebut. Faktanya di dalam kehidupan ini, tampak berkem-bang profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, karena kehadiran mereka dibutuhkan oleh perempuan-perempuan karir, untuk menggantikan keberadaan perempuan-perempuan tersebut di dapur, di rumah, dan di kamar bayi. Perempuan-perempuan karir sudah tidak ingin faham lagi akan fungsi domestik dan fungsi keibuan untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka. Yang mereka inginkan hanyalah bekerja mencari nafkah dan karir, seperti halnya laki-laki. Maraknya profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, adalah bukti betapa perempuan yang diberdayakan (seperti perempuan karir), begitu membenci dan mengingkari kodrat domestik dan kodrat keibuan mereka sendiri ….. Dengan pemberdayaan perempuan, bukannya kodrat kewanitaan yang mereka taati, justru berbalik, kodrat laki-laki yang mereka tuntut, kodrat laki-laki yang mereka inginkan, kodrat laki-laki yang mereka jarah …..

Keenam  point ini, adalah beberapa point yang akan diderita masyarakat saat mereka mengkondisikan perempuan untuk terus keluar rumah, khususnya untuk pendidikan. Bukti sudah di depan mata, seperti yang dipaparkan pada berita harian Wartakota ini, di mana angka perzinahan terus merebak di tengah kota, yang harus disadari bahwa hal tersebut hanya dipicu dan diakibatkan oleh pemberdayaan perempuan. Tidak ada untungnya memberdayakan perempuan, tidak ada untungnya mensekolahkan perempuan, dan tidak ada untungnya mempekerjakan perempuan di dunia kerja, karena keseluruhan hal tersebut merupakan perbuatan sia-sia. Bukti sudah di depan mata, dan sepanjang tahun, sepanjang kehidupan, perzinahan akan terus merebak sepanjang perempuan dikondisikan untuk keluar rumah.

Penutup.

Satu pertanyaan harus diajukan. Bagaimanakah cara untuk memberantas perzinahan dan sexbebas di tengah masyarakat? Apakah ada satu cara untuk menjauhkan generasi muda dari perbuatan asusila tersebut? Jawabannya hanya satu: dengan kuatnya tekad dan komitmen untuk mendomestikalisasi perempuan. Emansipasi Wanita dan pemberdayaan perempuan (memberi akses pendidikan setinggi-tingginya, dan akses ke dunia kerja) harus dihentikan, dan berganti arah untuk mendomestikalisasi seluruh perempuan. Hanya dengan cara itu, perzinahan dan sexbebas, dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.

Satu hal yang harus direnungkan adalah, bahwa tidak ada gunanya sama sekali untuk mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, baik untuk tujuan pendidikan maupun bekerja dan berkarir, seperti halnya laki-laki. Bukti sudah di depan mata: dengan mengkondisikan perempuan keluar rumah, hanya akan berimplikasi pada bencana zina dan sexbebas.***

Untuk lebih memahami kekuatan artikel ini, silahkan lanjut membaca artikel “Wweeeiiii…. Koyak Rok, Pamer Paha, Siswi SMU Alah Perempuan Pesanan Unggah Fhoto Ke Medsos“.

Tanggapan Islam Mengenai Wanita Karir

gedung-kantor

Gelombang Emansipasi yang ditiupkan oleh Barat pada awal abad 20 ini mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan wanita Islam. Dikemas dalam bentuk yang amat menarik, hingga mampu menyeret kaum Hawa untuk terjun ke bidang yang selama ini diisi oleh lelaki. Tak heran apabila sekarang banyak dijumpai wanita di jalan-jalan, lapangan sepak bola, berdesakan dalam bis kota, kereta api bahkan sampai luar angkasa sekalipun. Tidak ada bidang yang tidak dimasuki oleh para wanita saat ini. Ditunjukkan bahwa posisi wanita harus setara dengan lelaki bahkan kalau mungkin melebihi.

Sebenarnya mereka tidak sadar hanyut dalam kehidupan peradaban modern yang semu dan melalaikan. Sebagian besar berbangga hati dengan gerakan emansipasi wanita. disebutnya persamaan hak antara lelaki dan wanita sekarang merupakan produk serta indikator kemajuan.

Gerakan emansipasi yang dipelopori Barat menganggap bahwa pembagian manusia menjadi dua golongan laki-laki dan wanita dalam peranan sosial adalah suatu tindakan yang tidak adil.Selama ini mereka mempunyai hak dan dirampas oleh lelaki. Atau dengan kata lain bukan kodrat seorang wanita apabila harus menekuni tugas-tugas keibuan di rumah, mengasuh anak, menyusui dan membesarkan, tetapi hal itu merupakan politik bagi kaum lelaki untuk menindas wanita. Pekerjaan keibuan di rumah bukan berarti merupakan tanggung jawab wanita, bisa saja kaum lelaki yang mengerjakan. Juga pekerjaan berkarier di luar bukan semata-mata milik kaum lelaki tetapi kaum wanita juga berhak untuk mengerjakan.

Itulah awal wanita kehilangan cintanya pada rumah. Mereka berduyun-duyun memasuki tugas-tugas yang selama ini di geluti oleh pria. Hatinya telah terpaut pada instansi-instansi, kantor, pabrik, dan kertas-kertas yang tak bernyawa. Sulit membedakan tugas dan fungsi lelaki dan wanita. Rumah tak lain hanya sebagai pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Hubungan antar anggota keluarga satu dengan lain menjadi tidak hangat. Bapak sibuk mencari nafkah, demikian pula ibu pun tak mau kalah dengan alasan meningkatkan kesejateraan keluarga atau untuk mengaktialisasikan diri ke tengah masyarakat.

Akibatnya anak-anak sedari kecil hingga beranjak dewasa kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tua khususnya ibu. Para ibu akan lebih bangga apabila berhasil menjadi seorang wanita karier yang sukses ketimbang menjadi ibu rumah sukses yang mampu mendidik anak-anak dengan tuntunan akhlaq yang baik, melayani suami, serta mendorong karier suami.

Corong pertama yang menyuarakan gerakan emansipasi wanita adalah Barat kini sedang berusaha dengan giat meng’eksport’ ke negara-negara Timur Tengah atau negara-negara dengan berpenduduk mayoritas muslim. Barat menilai bahwa ajaran Islam telah ‘memperkosa’ hak-hak wanita. Islam tidak memberi kebebasan pada wanita untuk berkreasi dan berkarier di luar rumah. Ajaran Islam memasung keberadaan wanita hanya di dalam rumah. Ironisnya pemikiran-pemikiran tentang emansipasi yang dipelopori oleh gerakan feminisme sedikit banyak merasuki kalangan wanita Islam itu sendiri.

Banyak tokoh-tokoh wanita dari negara-negara muslim justru merasa terpasung dengan ajaran Islam yang dianutnya. Sehingga banyak yang melontarkan ide-ide yang ‘nyeleneh’ tentang wanita dalam ajaran islam. Bahkan ada yang jelas-jelas mengatakan bahwa Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW harus mengalami revisi sehubungan penempatan posisi wanita dalam Islam. Na’udzu billahi min dzalik. Contohnya adalah Taslima Nasreem seorang tokoh feminisme radikal yang berasal dari Bangladesh dan dianggap figur ideal bagi Barat dalam upayanya menyuarakan ide deislamisasi.

Apakah benar apa yang di suarakan Barat lewat gerakan emansipasinya? Kalau diperhatikan secara seksama, negara-negara Barat yang kerap menyuarakan gerakan emansipasi acap kali memetik buah yang pahit. Banyak isyu-isyu yang berkembang mulai dari kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang bekerja, kenakalan remaja akibat kurang kasih sayang kedua orang tua, meningkatnya angka perceraian sampai pada kecemasan menurunnya angka kelahiran yang disebabkan kecilnya angka wanita yang melahirkan. Atau dengan kata lain banyak wanita yang tidak mau repot punya anak sampai menunda usia perkawinan.

Dari laporan majalah Time disebutkan bahwa pada tahun 1950-an 9 % wanita (Amerika) berusia produktif ternyata tak memilliku seorang anakpun. Malah sekarang tahun 1980-1990-an 25 % dari wanita pekerja berlatar belakang perguruan tinggi dan berusia 35-45 tahun tidak memiliki anak. Jika saudara-saudara mereka yang lebih muda (25-35 tahun) juga tidak mau melahirkan, maka persentase wanita yang tidak mau melahirkan di Amerika luar biasa tingginya. Gerakan emanipasi bukan melahirkan suatu tatanan kehidupan yang harmonis justru yang di dapat adalah limbah yang amat kotor dan beracun.

Ternyata apa yang selama ini ditempuh oleh kebanyakan wanita di dunia dengan mengikuti arus emansipasi Barat ternyata bukan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita namun justru sebaliknya. Islam lah yang justru menenmpatkan wanita sesuai dengan porsinya, tidak menghinakan dan tidak pula mendewakan dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Wanita menurut Islam adalah makhluk yang mulia dan mempunyai tugas, fungsi dan peran menurut kodratnya. Benarkah Islam begitu menghalangi aktifitas wanita berkiprah di luar? Tidakkah ada kesempatan bagi musilimah untuk mengaktualisasikan dirinya? Islam, dien yang musyamil telah menempatkan peran muslimah dalam ummat ini.

  1. Sebagai ibu 

Sejarah tidak pernah mengenal adanya agama atau sistem yang menghargai keberadaan wanita sebagai ibu yang lebih mulia dari pada Islam. Islam menjadikan berbuat kebaikan kepada wanita termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu lebih kuat daripada hak seorang bapak. Karena beban yang dirasakan amat berat ketika hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku, hanya kepada Kulah kembalimu” (Luqman 14).

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga pulu bulanan ….” (AlAhqaf 15).

Peran muslimah amat menentukan bagi kualitas generasi muslim yang tangguh. Pada saat Rasulullah SAW ditanya siapa yang paling patut dihormati dan dimuliakan, maka Rasulullah SAW menjawab “Ibumu”. Hal itu di ulang tiga kali, sebelum akhirnya beliau menjawab “bapak”-mu. Peran ibu bagi anak tak hanya sebatas melahirkan dan mengasuhnya, tetapi lebih dari itu perkembangan iman, psikologi, intelektual, sosial dan fisik amat ditentukan oleh ibunya. Dan ini menuntut ketrampilan bagaimana menjadi ibu yang baik. Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam dengan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan mereka dari kerendahan.

  1. Sebagai isteri 

Sebagian agama dan sistem menganggap bahwa wanita sebagai barang najis atau sesuatau yang menjijikkan, sebagian yang lain mengnggap bahwa kedudukan isteri sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya dan menjadikan pelayan dalam rumah tangganya. Islam datang untuk mensyiarkan bahwa kedudukan isteri adalah pelakasanaan hak-hak suami isteri sebagai jihad di jalan Allah SWT. Islam juga menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan yang paling berharga bagi suami setelah beriman kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertakwa kepada Allah azza wa jalla yang lebih baik setelah isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya ia taat, jika dipandang ia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya ia mengiyakan, dan jika suami pergi jauh maka dia memelihara diri dan harta suaminya” (HR.Ibnu Majah). Rasulullah SAW bersabda, “Demi Rabb yang menguasai diriku, seorang wanita belum melakasanakan hak Rabbnya sebelum memenuhi hak suaminya” (HR. Ibnu Hibban). Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Andai saja aku dapat menyuruh seseorang bersujud pada manusia, niscaya aku perintahkan wanita sujud pada suaminya” (HR.At-Turmudzi). Melayani suami merupakan prioritas utama bagi seorang isteri. Tak hanya waktu yang disediakan, tapi juga kualitas pelayanan dan ketekunan yang menakjubkan.

  1. Sebagai anak 

Bangsa Arab jahiliyyah pesimis dengan kelahiran anak-anak wanita dan mereka merasa hina. Sehingga ada tradisi yang memperbolehkan seorang ayah untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut miskin dan menganggap aib di mata kaumnya. Islam datang dengan menganggap anak wanita seperti anak lelaki yaitu merupakan pemberian dan karunia Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.

Allah befirman:

“Kepunyaan Allah kerajaan di langit dan bumi. Dia menciptakan apa saja yang ia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki danperempuan (kepada yang Dia kehendaki), dan Dia menjadikan mandul kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia MAha Menegetahui lagi Maha Kuasa” (Asy-Syuara:49-50).

  1. Berperan dalam masyarakat.

Tersebar di kalangan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam bahwa Islam telah memenjarakan wanita dalam rumah tidak boleh keluar. Apakah demikan ajaran Islam? Tidak… sama sekali tidak, karena Alquran   sebagai sandaran utama muslim menjadikan laki-laki dan wanita partner dan memiliki tanggung-jawab yang terbesar dalam kehidupan, yaitu beramar ma’ruf dan nahi munkar. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya….” (At Taubah 71).

Apabila kita mempelajari shiroh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, banyak ditemui kiprah shahabiyah dalam dakwah dan memajukan Islam. Seperti Ummu Athiyah sebagai perawat dalam peperangan Rasulullah SAW, Ummu “Imarah pernah teruji dalam perang Uhud dan pada waktu peperangan dengan Musailammah AlKadzhab ia kembali dengan sepuluh luka di tubuhnya.

Jika di suatu masa wanita telah terkungkung jauh dari ilmu pengetahuan dan dijauhkan dari kancah kehidupan, dibiarkan terus menerus tinggal di dalam rumah, tidak diberi kesempatan untuk belajar, maka dasarnya adalah kebodohan serta penyimpangan dari petunjuk Islam. Sesungguhnya tabiat Islam adalah tawazzun dan adil dalam segala aturannya serta segala seruannya, berupa hukum-hukum dan tata cara kehidupan. Islam tidak membesar-besarkan sesuatu dan tidak berlebihan terhadap yang lain. Oleh karena itu Islam tidak memanjakan wanita dan tidak memperturutkan keinginan-keeinginan wanita lebih di atas risalahnya. Sikap Islam terhadap wanita adalah:

  1. Islam memelihara tabiat kodrati wanita yang telah diciptakan Allah SWT. Islam memelihara wanita dari cengkeraman orang-orang yang buas dan menginginkan secara haram. Memelihara wanita untuk dijadikan alat pengeruk keuntungan yang haram.
  2. Islam menghormati tugas wanita yang mulia sesuai dengan fitrahnya. Diberikan kelebihan wanita daripada pria dalam perasaannya, yaitu rasa kasih sayangnya untuk menunaikan risalah keibuan.
  3. Islam mengangap bahwa rumah sebagai kerajaan besar bagi wanita. Di sini wanita sebagai pengelolanya, ia sebagai isteri bagi suaminya, partner hidup, pelipur lara dan ibu bagi anak-anaknya. Sesungguhnya setiap aliran yang ingin mencabut wanita dari kerajaannya atas nama kebebasan dan lain sebagainya, sebenarnya merupakan musuh bagi waita yang merampas segala sesuatu yang ada padanya. Islam ingin membangun keluarga yang bahagia merupakan azas masyarakat yang bahagia pula. Keutuhan rumahtangga ditentukan dari kepercayaan antara suami dan isteri, bukan atas keraguan.
  4. Islam mengizinkan wanita untuk bekerja di luar rumah sepanjang pekerjaan yang dilakukan sesuai tabiatnya, spesialisasinya dan kemampuannya serta tidak menghilangkan naluri kewanitannya. Maka kerjanya diperbolehkan selama dalam batas-batas dan persyaratan yang ada. Terutama jika keluarganya atau dia sendiri membutuhkan bekerja di luar rumah atau masyarakat memerlukan kerja khusus.

Sebenarnya tugas wanita yang pertama dan utama dan tidak ada pertentangan di dalamnya adalah mendidik generasi yang telah di persiapkan oleh Allah SWT. Tetapi bukan berarti profesi di luar rumah diharamkan, karena kadang masyarakat sendiri menuntut kiprah wanita dalam rangka memajukan ummat ini. Apabila memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu:

  1. Pekerjaanya itu halal dan bukan pekerjaan yang haram, atau secara pasti mendukung tersebarnya sesuatu yang haram. Seperti bekerja sebagai sekertaris yang mengharuskan berkhalwat dengan direkturnya, penari yang mengundang syahwat, menjual barang haram seperti bir walaupun tidak ikut meminumnya,
  2. Pekerjaan itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaan.
  3. Memenuhi adab wanita muslim ketika keluar rumah. Seperti dalam berpakaian harus menutup seluruh auratnya, menghindari khalwah (berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya), berbicara tidak berlebihan, menghindari ikhtilath (Perbauran antara wanita dan pria), selalu menjaga pandangan (tawadhu’) dan melakukan gerak-gerik yang dapat menimbulkan syahwat lelaki.
  4. Tetap menjaga hukum-hukum Islam sedapat mungkin dan berhati-hati agar tidak terjerembab pada jebakan-jebakan syaiton
  5. Penebar dan penyebar nilai-nilai Islam.

Yang dituntut oleh masyarakat Islami adalah mengatur segala persoalan dan mempersiapkan sarana sehingga wanita dapat bekerja apabila membawa kemaslahatan bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya tanpa menghilangkan rasa malu atau bertentangan dengan kewajiban terhadap Rabbnya, dirinya, dan rumahnya.

Sumber,

http://moulizieenoval.blogspot.co.id/2014/01/tanggapan-islam-mengenai-wanita-karir.html?m=1

 

Fokus Urus Anak Dan Suami

fokus rumahtanggaSejak menikah dengan Ferry Indrayudha medio Pebruari 2010, pesinetron dan bintang film Virnie Ismail (36) memutuskan untuk fokus mengurusi suami. Dia pun enggan kembali ke industri televisi dan film setelah mempunyai anak.

“Saya memprioritaskan anak. Keluarga nomor satu sekarang”, kata Virnie di sela pemutaran perdana film The Wedding Dan Bebek Betutu di bioskop XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/10).

Film itu menjadi ajang reunian Virnie bersama teman-teman di sitkom Extravaganza (EV). Sitkom tayangan Transtv ini pernah populer medio 2014. Setelah lebih dari 10 tahun berpisah, Virnie berkumpul kembali bersama para pemain EV lainnya dalam film.

Bermain dalam The Wedding Dan Bebek Betutu awal tahun ini, menurut Virnie karena waktu syutingnya sebentar. “Saya hanya syuting satu hari di film ini”, ujarnya.

Setelah berkeluarga, Virnie memang ‘menghilang’ dari panggung akting. “Saya gak ngoyo lagi sama karier. Saya gak mau melewatkan golden moment bersama anak-anak”, ujar perempuan Yang pernah berakting film Koper.

Wartakota, Jumat 9 Oktober 2015.

ANNISANATIONAnnisanation – artikel ini sudah benar di dalam hal menjalani kehidupan ini, yaitu adanya seorang perempuan sekaligus istri yang akhirnya memilih untuk mundur dari dunia karir demi fokus untuk membenahi keluarganya,khususnya mengasuh anak-anaknya. Sama diketahui bahwa tugas dan kodrat setiap perempuan adalah domestik, yaitu berteguh tinggal di dalam rumahnya, khususnya untuk mengasuh anak-anaknya. Nafkah setiap anggota keluarga sudah menjadi tanggungan para lelaki, khususnya suami maupun ayah. Oleh karena itu setiap perempuan tidak mempunyai urgensi apa pun untuk bekerja mencari uang. Terlebih kalau mencari uangnya itu sampai harus mengorbankan tugas, tanggungjawab dan kodratnya sebagai perempuan, istri dan ibu.

Sama sekali tidak dibenarkan bagi perempuan mana pun untuk bekerja mencari uang dan karir di luar rumah, selain dilarang di dalam Islam, pun juga hal tersebut tidak mempunyai landasan logika dan falsafah yang jelas. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikelnya di sini, “Isteri Diperintahkan Untuk Tinggal Di Rumah Dan Mengurus Rumah Tangga Dengan Baik”.

Semoga keputusan dan pilihan yang dibuat oleh artis atas nama Virnie Ismail ini (yaitu berhenti dari karir dan memilih fokus untuk mengurus keluarganya) menjadi inspirasi segar bagi seluruh umat Muslim khususnya kaum Muslimah, bahwa apa yang dilakukan oleh Virnie Ismail ini sudah sangat sesuai dengan ajaran Islam.

Wallahu a’lam bishawab.

Selingkuh Terbuat Dari Apa

selingkuhIslam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti setiap wanita haruslah berteguh tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuh buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, atau sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir, apa pun alasannya.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya?

Di luar itu, terdapat satu masalah yang cukup pelik di dalam hidup berumah-tangga, yaitu isu selingkuh, yang kerap menyerang keharmonisan rumahtangga. Umumnya selingkuh terjadi pada lingkungan kantor atau tempat kerja lainnya, di mana suami mempunyai selingkuhan seorang wanita yang sesama karyawan di kantor.

Ketika di rumah seorang suami tampak penyayang kepada istri dan anak-anaknya. Namun siapa sangka ternyata sang suami menyimpan wanita lain rapat-rapat di dalam hatinya, dan jelaslah istri tidak pernah mengetahuinya. Yang istri ketahui adalah bahwa suaminya merupakan suami yang jujur dan tidak pernah menghianati cinta sang istri.

Timbul pertanyaan: mengapa sampai terjadi perselingkuhan? Dan apakah setiap perselingkuhan itu merupakan hal baik, khususnya untuk jaman sekarang ini?

Jawabannya adalah satu hal: perselingkuhan terjadi – dan hanya terjadi, karena masyarakat modern dewasa ini mengadopsi faham Emansipasi Wanita (EW), di mana wanita diberi hak dan akses untuk bekerja sehingga sejajar dengan kaum pria di tempat kerja.

Ini artinya, ketika seluruh / banyak perempuan bekerja di tempat kerja, maka akan terjadilah perbauran gaul antara pria dan perempuan, atau dengan kata lain, akan ada banyak perempuan yang setiap hari terpapar pria asing, dan bisa jadi pria asing tersebut adalah pria beristri. Dari perbauran gaul inilah, benih dan bibit cinta kerap bersemi antara seorang karyawan perempuan dengan karyawan pria, dan bisa jadi pria tersebut adalah pria yang telah beristri. Itulah perselingkuhan.

Parahnya lagi, kerap terjadi di mana perselingkuhan ini sampai melampaui batas kewajaran di dalam hal bergaul, seumpama sampai tidur bersama di hotel (berzina), atau piknik bersama ke pantai berdua-duaan dengan suami orang, dsb. Intinya, selingkuh terjadi hanya karena setiap pria di tempat kerja, DAPAT MENEMUI wanita mana pun secara bebas dan terbuka; dan wanita tersebut pastilah sesama karyawan di tempat kerja.

Ingatlah, bahwa biar bagaimana pun setiap karyawan pria itu adalah seorang pria yang sehat, waras dan masih muda. Apakah mungkin setiap karyawan pria dapat diharapkan untuk memejamkan mata ketika bertemu dengan perempuan-perempuan yang cantik dan penuh cinta? Jawabannya tentulah tidak. Sangat sulit untuk mendapatkan seorang (karyawan) pria yang dapat menolak cinta seorang karyawan perempuan di tempat kerjanya. Maka terjadilah selingkuh yang terkadang berakhir dengan tindak perzinahan.

Pembicaraan pun beralih menuju hal berikutnya: mengapakah perempuan harus bekerja, yang mana itu mengakibatkan perempuan berbaur gaul dengan karyawan pria di tempat kerja? Bukankah perempuan-bekerja hanya membuat perempuan-perempuan tersebut berbaur dengan kaum pria di tempat kerja secara intens dan permanen? Haruslah difahami bahwa dengan bertemunya karyawan perempuan dengan karyawan pria di tempat kerja, merupakan pemicu tunggal atas terjadinya selingkuh, lain tidak.

Oleh karena itu, kalau terjadi suami selingkuh, bahkan selingkuh tersebut berujung pada tindakan zina, maka kelompok pertama dan satu-satunya yang harus dipersalahkan adalah kaum perempuan sendiri, yaitu mengapa mereka bekerja dan berkarir? Bukankah bekerja dan berkarir membuat mereka menjadi berbaur gaul dengan kaum pria di tempat kerja?

Suatu prasangka menyatakan, bahwa kalau suami berselingkuh di kantor, maka suami-lah yang harus dipersalahkan, karena hal itu membuktikan bahwa sang suami tidak lagi setia kepada anak-anak dan rumahtangganya sendiri. Ingatlah, bahwa hal pertama yang harus dicermati adalah, bahwa setiap suami adalah pria yang sehat dan waras. Dan kemudian yang harus dipertanyakan adalah, mengapa bisa sampai ada pekerja perempuan di tempat kerja sehingga bercampur-gaul dengan pria-pria di tempat kerja? Apakah kaum perempuan mutlak harus bekerja mencari uang seperti halnya kaum pria? Apakah kaum perempuan akan mati kelaparan kalau tidak bekerja mencari karir? Bukankah rejeki dan nafkah seluruh perempuan sudah dijamin oleh suami / ayah mereka?

Daripada mempersalahkan pihak suami / laki-laki atas terjadinya perselingkuhan, maka adalah lebih tepat untuk mempersalahkan kaum perempuan dengan program emansipasi mereka atas terjadinya perselingkuhan, karena program itulah yang menghantarkan banyak perempuan ke domain laki-laki, yaitu tempat kerja. Maka terjadilah perselingkuhan. Pepatah menyatakan, kalau tidak ingin dilamun ombak maka jangan berumah di tepi pantai.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun hal / alasan yang membuat perempuan harus bekerja mencari uang / nafkah. Intinya, nafkah dan kebutuhan setiap perempuan, secara alami sudah ditanggung oleh keluarga laki-laki mereka (suami, ayah, abang dsb). Oleh karena itu kalau nafkah kaum perempuan sudah dijamin oleh keluarga laki-laki, maka mengapa perempuan-perempuan masih harus bekerja?

Banyak perempuan (dan juga kaum pria yang mendukung faham Emansipasi Wanita) sama sekali tidak mempertimbangkan dasar kehidupan, yaitu bahwa nafkah mereka sudah dijamin oleh keluarga. Akibatnya banyak perempuan yang terjerumus kepada faham bahwa mereka ingin bekerja (juga) sebagaimana halnya kaum pria, agar dapat memperoleh gaji, uang, karir, jabatan dsb. Dan pada ujung yang lain, bekerjanya perempuan memicu terjadinya perselingkuhan, karena kalau perempuan bekerja, maka ini berarti perempuan akan bercampur gaul dengan kaum pria secara leluasa di tempat kerja.

Kalau di dunia ini seluruh perempuan tidak bekerja dan tidak terjerumus kepada faham Emansipasi Wanita (EW), maka dapat dipastikan tidak pernah terjadi perselingkuhan, karena di tempat kerja kaum pria tidak pernah menemui satu perempuan pun, karena yang ada di tempat kerja hanyalah melulu kaum pria. Pria ketemua pria, mana mungkin terjadi perselingkuhan? Maka amanlah setiap rumahtangga dari perselingkuhan.

Ironis sekali, bahwa ketika seluruh perempuan begitu membenci perselingkuhan, namun ketika itu juga seluruh perempuan berjuang untuk emansipasi wanita yang membuat banyak perempuan berbaur dengan kaum pria di tempat kerja, hal mana itu mengakibatkan berseminya benih-benih perselingkuhan. Artinya, kalaulah seluruh perempuan tidak menginginkan adanya perselingkuhan yang menyerang suami-suami mereka, maka pada saat yang sama mereka seharusnya menuntut agar emansipasi wanita dipadamkan, karena hanya emansipasi perempuan lah yang mensemikan benih-benih perselingkuhan, lain tidak.

Mereka menginginkan api, namun mereka tidak menginginkan ada asap. Bagaimana mungkin? Kalau mereka tidak menginginkan ada asap, maka janganlah mereka menyalahkan api. Mereka menginginkan seluruh perempuan sukses dengan emansipasi mereka, yaitu mempunyai karir dan jabatan sebagaimana halnya kaum pria. Namun kemudian mereka tidak menginginkan adanya perselingkuhan para suami di tempat kerja. Bagaimana mungkin? Tidak ada laki-laki yang dapat dipercaya, pun tidak ada perempuan yang dapat dipercaya, kalau mereka semua saling baur dan saling jumpa di luar rumah, di tempat kerja, di tempat di mana seluruh wanita mengembangkan emansipasi mereka.

Fakta hanya memperlihatkan bahwa setiap laki-laki maupun perempuan memang tidak dapat dipercaya, maka terdengarlah kasus selingkuh di mana-mana. Dan itu hanya menjelaskan betapa perempuan-bekerja (emansipasi perempuan) merupakan satu-satunya pemicu dan penyebab terjadinya selingkuh.

Islam mensyariatkan bahwa tempat hidup (lebensraum) perempuan adalah di rumahnya, bukan bekerja, bukan mencari nafkah, dan bukan juga mencari karir serta jabatan, sebagaimana halnya kaum lelaki. Alquran dan Alhadis sudah menegaskan bahwa terdapat perbedaan antara pria dan perempuan, tidak mungkin sama dan disama-samakan. Kalau perempuan teguh tinggal di rumahnya, sementara seluruh pria teguh berada di tempat kerjanya sepanjang siang, maka mustahil terjadi perselingkuhan.

Syariah Islam menghendaki terciptanya ketertiban dan kedisiplinan di dalam hidup, dan ketertiban tersebut adalah, bahwa harus terjadi pemisahan / segregation antara pria dan wanita pada sepanjang siang, di mana setiap laki-laki berada di tempat kerja mereka, sementara setiap perempuan teguh berada di dalam rumah; dan masing-masing mereka menjalankan kodrat mereka: kodrat pria adalah bekerja mencari nafkah, dan kodrat perempuan adalah domestik untuk menyelesaikan tugas rumahtangga. Dengan terciptanya pemisahan / segregation ini, maka telah dimustahilkan terjadinya perzinahan maupun perselingkuhan.

Syariah Islam menghendaki, bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bertemu di tempat mana pun, kecuali tempat tersebut adalah bingkai rumahtangga: di tempat tersebutlah seorang pria dewasa dan wanita dewasa saling bertemu, yaitu pertemuan yang halal dan diridhai Allah Swt: rumahtangga dan pernikahan.

Sudah jelas apa yang akan terjadi kalau syariah dilanggar, yaitu kesia-siaan; di dalam hal ini adalah perselingkuhan, bahkan juga berzinahan, karena umat melalui program emansipasi wanita telah memungkinkan terjadinya saling jumpa / pertemuan antara pria dan wanita secara bebas di luar bingkai rumahtangga, dan tempat tersebut adalah bekerja.

Kalau seluruh umat, seluruh perempuan tidak menginginkan adanya selingkuh, maka satu-satunya cara adalah menghentikan dan memadamkan gerakan emansipasi perempuan, dan mengembalikan seluruh perempuan kepada kodratnya, yaitu kodrat domestik. Teguhkanlah seluruh perempuan dengan kodrat domestik mereka, yaitu tetap tinggal di dalam rumah mereka, supaya tidak terjadi perbauran gaul antara pria dan perempuan di tempat kerja.

Wallahu A’lam bishawab.

Fakta Wanita Rumahan Di Sekitar Kita

RumahANIslam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuh buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, atau sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya?

Di dalam kehidupan ini banyak terdapat ibu rumahtangga yang tidak bekerja, yaitu kelompok wanita atau ibu-ibu yang berteguh tinggal di rumahnya untuk menyelesaikan seluruh tugas rumahtangganya, sementara untuk urusan nafkah dan keuangan, sudah ditanggung oleh suami atau ayah-ayah mereka. Mereka biasa disebut dengan istilah wanita rumahan, karena tidak pernah keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, uang mau pun karir. Kelompok ibu-ibu ini sudah benar jalan hidupnya menurut syariah dan logika, serta hukum alam.

Di lain pihak, dunia sekarang ini dihadapkan pada adanya gelombang emansipasi perempuan, suatu gerakan untuk mempersamakan antara pria dan wanita, khususnya di dunia kerja. Gelombang emansipasi perempuan ini menghendaki agar-supaya kaum perempuan juga turut aktif untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan publik, sebagaimana halnya kaum pria. Intinya, kalau pria menjadi pejabat, maka perempuan juga harus menjadi pejabat. Kalau kaum pria menjadi direktur perusahaan, dokter, pilot, jenderal, manager, pengacara, dsb, maka perempuan juga harus dapat menduduki jabatan-jabatan publik tersebut. Singkat kata, kaum perempuan menginginkan persamaan dan kesejajaran antara pria dan wanita khususnya di tempat kerja dan sektor publik.

Demikianlah, berkat adanya gelombang emansipasi perempuan ini, BANYAK perempuan yang begitu gigih untuk bekerja di sektor publik, demi menjadi sama dan sejajar dengan kaum pria.

Satu ketimpangan terlihat jelas di sini. Di satu pihak banyak perempuan yang gigih berjuang untuk dapat bekerja di sektor publik demi bisa menikmati gaji, karir dan jabatan sebagaimana halnya kaum pria, seolah tanpa bekerja, tanpa membina karir, tanpa memperoleh gaji, maka perempuan-perempuan tersebut akan menemui ajalnya, seolah kalau tidak bekerja maka perempuan-perempuan tersebut tidak dapat hidup dengan layak. Namun di pihak lain, toh kenyataan di dalam kehidupan ini memperlihatkan ada banyaknya kaum ibu yang tidak keluar rumah untuk bekerja, yaitu kelompok perempuan / para ibu yang teguh diam di rumah untuk menjalani peran mereka sebagai ibu rumahtangga. Mereka adalah kaum perempuan yang tidak ambil peduli dengan gerakan emansipasi perempuan, karena bagi mereka yang terpenting adalah tinggal di rumah sementara suami mereka berangkat kerja di pagi hari untuk mencari uang dan nafkah. Mereka kaum ibu ini lebih suka tinggal di dalam rumah untuk mengasuh anak-anak mereka, kemudian memasak untuk seluruh keluarg, dsb. Dan mereka terlihat sejahtera, damai, hidup layak dan penuh gairah.

Inilah ketimpangan itu. Kalau faktanya banyak perempuan yang tetap setia dan makmur bahagia dengan kodrat domestik mereka yaitu tetap tinggal di rumah dengan tidak bekerja mencari uang dan karir, maka mengapa banyak perempuan yang jungkir-balik menuntut emansipasi perempuan terhadap pria? Mengapa banyak perempuan yang gigih mencari kerja dan posisi publik agar dapat dipersamakan dengan kaum pria dan kemudian memperoleh uang dan gaji, kalau toh terbukti menjadi wanita rumahan pun juga mendatangkan kebahagiaan dan kemakmuran?

Banyak perempuan yang begitu gigih mempropagandakan gelombang emansipasi perempuan, seolah emansipasi perempuan adalah sebuah harga mati, dan seolah emansipasi perempuan adalah hak asasi manusia, dan apakah mereka tidak melihat kenyataan bahwa sebenarnya dengan hanya menjadi ibu rumahtangga pun mendatangkan kemakmuran dan kesejatian yang hakiki?

Banyak perempuan yang memilih menjadi ibu rumahtangga, yang setiap hari setia dengan kodrat domestik mereka, tinggal di rumah untuk membesarkan anak-anak dan kemudian masak, dan ternyata jalan hidup yang mereka pilih dan mereka tempuh itu sedikit pun tidak mencelakai mereka, bahkan kebalikannya pilihan tersebut membuat mereka bahagia dan bergairah …… Maka kemudian apakah kenyataan ini sama sekali tidak menjadi bahan renungan buat kelompok perempuan yang gigih memperjuangkan emansipasi?

Seharusnya kaum perempuan yang mengusung emansipasi melihat, bahwa menjadi ibu rumahtangga alias wanita rumahan sebenarnya patut untuk dipilih, dijalani dan dinikmati: menjadi wanita rumahan, menjadi ibu rumahtangga, yang tidak bekerja maupun berkarir, sama sekali tidak menyakiti siapa pun. Sudah seharusnya menjadi wanita rumahan, yang senantiasa domestik, yang tidak bekerja mencari uang dan karir, menjadi tujuan dan pandangan hidup seluruh perempuan, bukannya malah jungkir-balik memperjuangkan emansipasi perempuan, yang seujung kuku pun tidak mempunyai maslahat dan dasar argumentasi yang kokoh.

Fakta keseharian yang memperlihatkan bahwa menjadi wanita rumahan dan menjadi ibu rumahtangga merupakan suatu keindahan dan kemakmuran, adalah bukti itu sendiri bahwa pilihan menjadi ibu rumahtangga adalah layak untuk ditempuh. Dan pada akhirnya, gerakan emansipasi perempuan ternyata tidak mempunyai urgensi dan dasar filsafat yang kuat. Hanya ego dan kepongahan saja yang mendorong banyak perempuan mengingkari kodrat domestik mereka.

Wallahu a’lam bishawab.

Angka Perceraian Meningkat, Menteri Agama Sarankan Ikuti Seminar Pra-Nikah

Jembatan-putusAhad, 14 September 2014 – 05:33 WIB

Kondisi makin memprihatinkan dengan gugatan cerai yang terlebih dahulu dilayangkan pihak perempuan (khulu’). Jumlahnya lebih dari 60 persen.

Hidayatullah.com – Menteri Agama (Menag) RI, Lukman Hakim Saifuddin, menyoroti tingginya angka perceraian dari tahun ke tahun. Data yang didapatnya dari Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4), menunjukkan tingginya tingkat perceraian dari tahun ke tahun.

“Saya baru saja bertemu dengan BP4. Ini meresahkan, angka perceriaan meningkat dan inisiatif dari kalangan perempuan,” ungkapnya pada sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam “Kelompok Tolak Pernikahan Beda Agama” hari Jum’at (12/09/2014).

Kondisi makin memprihatinkan dengan gugatan cerai yang terlebih dahulu dilayangkan pihak perempuan (khulu’). Jumlahnya lebih dari 60 persen.

Pada mereka, Lukman menyarankan agar mengadakan seminar pra-nikah. Hal tersebut bertujuan memberi pemahaman tujuan berumah tangga serta menekan tingkat perceraian.

“Menurut saya, kursus pra-nikah menjadi semakin penting. Anak muda sekarang ini, kan, kalau suka, nikah. Kalau nggak suka, ya cerai saja. Nanti bisa kawin lagi. Kesakralannya sudah mulai hilang. Ini justru meresahkan”, ujarnya ketika ditemui di kantor Kementrian Agama RI, JL. Lapangan Banteng, Jakarta.

Lebih lanjut Lukman mengatakan, hal ini mendesak diadakan terutama sejak pengajuan gugatan Pasal 2 Ayat 1, UU Perkawinan 1974 oleh lima orang yang mengaku dari Fakultas Hukum UI. Mereka yang datang ke Mahkamah Konstitusi (MK), mengajukan permohonan pernikahan berbeda agama.

Menanggapi hal itu, Sekjen Aliansi Cinta Keluarga (AILA) Indonesia, Rita Soebagio, mengatakan, pengadaan seminar pra-nikah sangat dibutuhkan. Sebagai peneliti di The Center for Gender Studies (CGS), Ia mendapati fakta, salah satu peningkatan perceraian karena sudah termakan wacana feminisme dan kesetaraan gender. Mengembalikan keutuhan keluarga perlu dikawal dengan pemahaman yang benar tentang esensi pernikahan.

“Salah satu anggota aliansi kami di AQL Islamic Center sudah mengadakan Ar-Rahman Pre Wedding Academy (APWA) sejak tahun 2010. Saat ini telah masuk angkatan ke-9 dan telah meluluskan ribuan orang,” jelas Rita.*

Rep: Rias Andriati.

-o0o-

ANNISANATION– Apa yang dipaparkan pada artikel di atas seutuhnya benar dan tepat. Terdapat kekhawatiran di tengah masyarakat, berkenaan dengan gaya hidup yang dijalani kaum perempuan. Gaya hidup itu adalah maraknya perempuan yang mengajukan gugat cerai – sehinggakan tampaknya pernikahan telah kehilangan kesakralannya.

Sudah tidak dapat dibantah lagi, bahwa tingginya angka gugat-cerai yang diajukan pihak perempuan (pihak istri) seutuhnya berkorelasi dengan geliat Emansipasi Wanita (EW), alias persamaan gender. Ketahuilah, bahwa geliat Emansipasi Wanita (EW) – alias persamaan gender, telah menimbulkan banyak masalah sosial dan juga bencana umat di atas muka bumi ini. Artinya, kalau di atas muka bumi ini tidak pernah bergeliat Emansipasi Wanita (EW), dapat dipastikan bahwa seluruh masalah sosial tidak pernah terjadi juga.

Kalau terjadi bencana sosial di tengah masyarakat, apapun itu, maka hal pertama yang paling tepat untuk dikemukakan adalah, salahkanlah geliat Emansipasi Wanita (EW). Maka demikian jugalah dengan tingginya angka gugat cerai ini, yang merupakan salah satu muntahan dari Emansipasi Wanita (EW) ini.

Kronologi yang menghubungkan Emansipasi Wanita (EW) dengan tingginya gugat-cerai pihak istri.

Pertama, umat melumrahkan perempuan keluar rumah untuk memperoleh pemberdayaan, yaitu beroleh pendidikan, dan juga pekerjaan – supaya beroleh sumber keuangannya sendiri. Islam sejak awal melarang umatnya mengijinkan perempuan keluar rumah, karena lebensraum dan kodrat perempuan adalah domestik, yaitu senantiasa tinggal di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, dan juga supaya kesuciannya terjaga. Sejak awalnya umat telah salah jalan, yaitu melumrahkan perempuan keluar rumah, yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Dengan keluar rumah maka perempuan akan beroleh pendidikan, pekerjaan, jabatan dan karir. Dengan kata lain perempuan akan segera memperoleh power, yang tidak pernah diperoleh perempuan pada jaman Siti Nurbaya. Power tersebut akan membuatnya menjadi individu / sumberdaya yang terpisah dari patriakhatnya,. Bukan saja otonom dan terpisah dari kerangka patriarkhat, namun juga telah merasa sejajar dengan pria. Dengan kata lain, di samping otonom, maka pemberdayaan juga membuat perempuan merasa / menuntut sejajar dengan pria.

Islam mengajarkan bahwa wanita adalah tulang rusuk laki-laki, dan ini artinya, setiap perempuan adalah tulang rusuk bagi keluarga laki-lakinya, untuk selama-lamanya. Hikmat dari ajaran ini adalah, bahwa perempuan adalah internis seorang pria, yang tidak boleh keluar dari rumah seorang pria: perempuan adalah bawahan pria, karena perempuan adalah bagian dari pria. Apakah mungkin tulang rusuk dari suatu badan keluar dari badan, untuk mencari makan sendiri? Maka demikian jugalah kaum perempuan. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Asal Mula Mengapa Wanita Adalah Mahluk Domestik.

Kemudian, kalau pun ia menikah, besar kemungkinannya ia akan bercerai, karena ia dan suaminya merupakan dua individu yang sama-sama mempunyai otoritas (otonom, ego) atas diri masing-masing.

Pertama, dengan memberdayakan wanita sejak awal, maka wanita itu telah menjadi individu yang mempunyai egonya sendiri secara mandiri (pemberdayaan membangkitkan ego-nya sebagai individu). Kedua, dengan memberdayakan wanita, maka wanita itu telah mempunyai powernya sendiri secara mandiri (seperti uang, jabatan, hargadiri, sumber rejeki, dsb).

Gabungan kedua hal ini membuat seorang istri akan lebih memilih bercerai kalau ada masalah kecil sekali pun, di dalam rumahtangganya. Harus diperhatikan, bahwa rumahtangga yang istrinya merupakan wanita yang diberdayakan, merupakan rumahtangga yang mempunyai dua ego: kalau terjadi selisih maka sulit dan mustahil untuk dipersatukan kembali. Berbeda kalau wanita tidak diberdayakan (wanita domies), maka di dalam rumahtangganya hanya ada satu ego, yaitu ego sang suami, sehingga amanlah rumahtangga tersebut dari ancaman gugat-cerai dari pihak istri, sementara istri tetap aman karena sang suami pastilah sayang kepada sang istri dan anak-anaknya (tidak mungkin suami merupakan orang-gila).

Wanita yang diberdayakan, merupakan individu yang mempunyai idealisme sendiri, ditambah dengan munculnya jiwa kritis terhadap segala hal, khususnya seperti apa suaminya berbuat, dan terkadang itu dinilai secara subjektif oleh si istri, karena sang istri merasa telah mempunyai otoritasnya sendiri untuk menilai. Ini memberi kontribusi signifikan di dalam memicu perceraian.

Itulah sebabnya, jaman yang diwarnai maraknya persamaan gender / emansipasi wanita, angka perceraian dicatat tinggi sekali, dan kebanyakan dari perceraian tersebut (65-persen) merupakan gugatan pihak istri. Hal ini dikarenakan para istri merupakan perempuan yang diberdayakan, yang telah mempunyai ego-nya sendiri, dan mempunyai jiwa kritis, alias keras-tengkuk.

Ada pertanyaan. Mengapa pada jaman Siti Nurbaya di mana geliat Emansipasi Wanita (EW) belum mewabah, kasus gugat-cerai sangat minim (atau bahkan tidak ada)? Jawabannya adalah, karena pada jaman Siti Nurbaya, kaum perempuan belum diberdayakan di dalam kerangka Emansipasi Wanita (EW) atau persamaan gender. Itulah sebabnya para istri pada jaman tersebut hidup di dalam spirit yang manut dan bersahaja, sementara istri tetap aman karena sang suami pastilah sayang kepada sang istri dan anak-anaknya (tidak mungkin suami merupakan orang-gila).

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa tingginya angka gugat-cerai merupakan efek langsung dari diberdayakannya perempuan, yang memang sudah ditegaskan di dalam paparan di atas ini. Hal ini membuat kita berfikir, bahwa pemberdayaan perempuan ternyata merupakan MUSUH bagi pernikahan yang agung, MUSUH bagi kesetiaan perempuan kepada pernikahannya sendiri. Kalau perempuan diberdayakan sejak awal, maka itu merupakan formula dan medikasi baginya untuk mempunyai kemampuan gugatcerai pada pernikahannya kelak.

Dapat diumpamakan seorang anak kepada ayahnya. Sang anak akan tetap patuh dan hormat kepada ayahnya, selama, sekali lagi, selama, sang anak tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri – sehinggakan rejeki dan kebutuhan makannya ada di dalam tanggungan sang ayah.

  • Segala perintah sang ayah dipatuhi sang anak;
  • Segala kekecewaan sang ayah diterima sang anak sebagai bagian dari cinta-kasih;
  • Dan segala kekurangan sang ayah diterima sang anak sebagai manusiawi.

Tak terlintas sedikit pun di dalam fikiran sang anak, untuk pergi meninggalkan rumah dan meninggalkan sang ayah, kalau di matanya sang ayah tampak mengecewakan. Tidak terlintas sedikit pun untuk pergi meninggalkan sang ayah, karena, kalau ia pergi meninggalkan sang ayah, maka bagaimana sang anak dapat memperoleh makan dan tempat tinggal? Uang tak punya, pekerjaan tidak punya, rumah gubug pun tidak punya.

Sebesar apapun kekurangan dan cacad sang ayah, hal tersebut tidak akan TAMPAK di mata sang anak. Ke-TIDAK-TAMPAK-an cacad sang ayah di mata sang anak, merupakan efek “psikologis langsung” dari fakta lain, bahwa sang anak tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri: ia betul-betul tergantung pada sang ayah.

Namun bagaimana kalau sang anak mempunyai sumber keuangannya sendiri? Pastilah ceritanya akan berbeda. Sedikit saja ia kecewa kepada sang ayah, pastilah sang anak akan lebih memilih untuk pergi meninggalkan ayahnya, dan mencari rumah sendiri dan makan sendiri. Yang ada di dalam fikiran sang anak adalah, bahwa lebih baik ia hidup dengan harga-dirinya, daripada terus-menerus merasa kecewa atau dikecewakan sang ayah. Itu, kalau sang anak mempunyai sumber keuangannya sendiri. Sementara semua orang pun tahu, bahwa kesalahan sang ayah tidaklah mendasar, bahkan bisa jadi yang salah justru adalah sang anak. Namun ego sang anak telah berbicara lain.

Demikian jugalah dengan istri yang diberdayakan. Karena istri merupakan perempuan yang diberdayakan, dan mempunyai keuangannya sendiri, maka sebenarnya sang istri telah mempunyai otoritas dan pendapatnya sendiri, ego-nya sendiri. Satu hal kecil pada suami yang tidak ia sukai akan dianggap sebagai kesalahan fatal bagi sang istri. Dan itu artinya, kalau suami tidak bersedia mengubahnya, maka sang istri akan lebih memilih bercerai. Bukankah ia sebenarnya tidak tergantung kepada suaminya? Ia mempunyai keuangannya sendiri, ia mempunyai powernya sendiri, ia mempunyai pendapatnya sendiri.

Berbeda dengan perempuan / istri pada jaman Siti Nurbaya. Karena seluruh perempuan tidak diberdayakan, alias tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri, tidak mempunyai power sendiri, maka mereka akan berada pada sifat manut yang luarbiasa kepada suami. Seluruh kesalahan suami akan dianggap sebagai manusiawi. Tidak terlintas sedikit pun di dalam fikiran para istri untuk menuntut cerai, karena toh mereka tidak tahu akan tinggal dan makan di mana. Akhirnya, mereka menganggap bahwa pernikahan adalah di atas segala-galanya: pun manut kepada suami adalah di atas segala-galanya, sementara istri tetap aman karena sang suami pastilah sayang kepada sang istri dan anak-anaknya (tidak mungkin suami merupakan orang-gila).

Di atas sudah disebutkan, bahwa “sang anak tidak mempunyai sumber keuangannya sendiri: ia betul-betul tergantung pada sang ayah”. Itulah dia, yang merupakan kata kunci dari masalah maraknya gugat-cerai dari pihak istri: KETERGANTUNGAN.

Kalau seorang perempuan / istri diberdayakan, berarti ia telah mempunyai sumber keuangannya sendiri. Ini berarti ia tidak (lagi) tergantung kepada suaminya. Dan pada dasarnya, kalau seorang perempuan telah diberdayakan, maka ia akan:

  1. Mempunyai sumber keuangannya sendiri, sehingga ia tidak lagi tergantung kepada suami di dalam hal keuangan mau pun nafkah.
  2. Mempunyai jiwa kritis, keras-tengkuk, engkar kepada suami. Apa yang sebenarnya tidak salah, akan dianggap dan dinilai salah. Itu semua karena sang istri merasa telah mempunyai otoritasnya sendiri untuk menilai.
  3. Mempunyai ego-nya sendiri. Ego-nya-lah yang harus menang, bukan ego sang suami. Dan kalau suami tidak mau memenangkan egonya, maka sang isri akan lebih memilih untuk meninggalkan suaminya.
  4. Karena mempunyai sumber keuangan dan intelektualitas-nya sendiri, istri tidak lagi merasa bahwa dirinya merupakan subordinat sang suami (yang harus patuh kepada suami), melainkan berada di dalam kesejajaran dengan suami (sehingga merasa dan berhak untuk membantah suami).

Keempat hal inilah yang merupakan bahan-bakar maraknya gugat-cerai isri melawan suami. Dengan kata lain, pemberdayaan perempuan merupakan satu-satunya hal yang bertanggungjawab atas banyaknya gugat-cerai.

Menikah, atau mempertahankan keutuhan keluarga, bukanlah suatu hal yang mudah. Banyak aspek, hal dan faktor yang harus ada dan harus dikelola dengan baik untuk mencapai utuhnya rumahtangga buat selama-lamanya. Namun yang jelas adalah, pada jaman Siti Nurbaya, di mana pemberdayaan perempuan belum bangkit, gugat-cerai tidak pernah menjadi fenomena seperti sekarang ini. Maka ini mau tidak mau membuat semua orang berfikir, bahwa terdapat hubungan lurus antara pemberdayaan perempuan dengan melonjaknya gugat-cerai.

Baiklah kita perhatikan dengan seksama. Apakah pada jaman Siti Nurbaya, setiap rumahtangga tidak mempunyai masalah di dalam hubungan suami-istri? Yap, tentu saja ada, karena dua manusia yang dipersatukan tidak mungkin selamanya rukun, mengingat setiap mereka mempunyai fikiran yang berbeda-beda. Namun apakah setiap masalah itu pasti berakhir dengan gugat-cerai? Ini dia yang menjadi pokok pembicaraan.

Di kedua jaman, yaitu jaman Siti Nurbaya dan jaman Emansipasi Wanita (EW), setiap pernikahan pastilah mempunyai masalah, tidak mungkin tidak mempunyai masalah. Namun setiap masalah yang muncul pada pernikahan jaman Siti Nurbaya tidak berakhir pada gugat-cerai, karena setiap istri bukanlah perempuan yang diberdayakan. Sementara itu, setiap masalah yang muncul pada pernikahan jaman Emansipasi Wanita (EW) PASTI berakhir dengan gugat-cerai, karena setiap istri merupakan perempuan yang diberdayakan.

Artinya, yang menjadi masalah bukanlah pada pernikahannya, bukan juga pada masalah itu sendiri, MELAINKAN pada PREDIKAT pihak istri: diberdayakan atau TIDAK DIBERDAYAKAN. Apa yang menjadi predikat sang istri, akan menentukan keutuhan dan keabadian rumahtangga. Itu mudahnya.

Hubungan antara pemberdayaan perempuan dan gugat-cerai.

Sampai di sini sudah jelas, bahwa satu-satunya hal yang harus dipersalahkan mengenai maraknya gugat-cerai adalah pemberdayaan perempuan (atau Emansipasi Wanita, atau kesetaraan gender antara pria dan perempuan). Artinya adalah, perempuan yang diberdayakan pasti akan mempunyai kecenderungan yang besar untuk mengajukan gugat-cerai.

Sekarang timbul pertanyaan, mengapa perempuan yang diberdayakan mempunyai kecenderungan besar untuk mencerai suaminya?

Jawabannya ada dua:

Pertama. Perempuan mempunyai hubungan darah dengan bangsa Iblis. Nama ‘perempuan’ berasal dari suatu kata yang juga melahirkan kata ‘Iblis’. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Wanita Dan Hubungannya Dengan Iblis.

Karena mempunyai hubungan darah dengan Iblis, maka itu berarti perempuan mempunyai kecenderungan untuk menentang kebajikan, sama seperti Iblis yang selalu menentang kebajikan. Di sini pastilah jelas, bahwa mengajukan gugat-cerai kepada suami merupakan suatu penentangan terhadap kebajikan.

Maka dari itu, perempuan yang diberdayakan hanya akan mengembangkan gelagat-gelagat Iblis di muka bumi ini. Dan ini artinya, kalau umat ingin perempuan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengembangkan gelagat-gelagat Iblis, maka cara terbaiknya adalah dengan tidak memberdayakan perempuan sejak awal dan untuk selama-lamanya.

Ingatlah, sekali perempuan memperoleh pemberdayaan, maka selamanya perempuan itu tidak akan menginsafi roh kebenaran dan hidup di dalam karunia Tuhan, melainkan mengikuti langkah Iblis, yaitu memerangi kebajikan dan kesalehan. Di dalam hal ini, memerangi kebajikan itu adalah dalam bentuk begitu marak dan mudahnya menceraikan suami, semudah meninggalkan pasar-malam.

Kedua. Perempuan yang diberdayakan akan lebih mementingkan egosentrisme-nya sendiri, ketimbang berfikir secara bijaksana dan rohani. Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa tidak ada kebijaksanaan di dalam keputusan seorang perempuan untuk menceraikan suaminya.

Ingatlah, bahwa biar bagaimana pun perempuan merupakan organisme yang tidak dapat berfikir. Pun, perempuan adalah organisme yang hanya berpedoman pada emosi dan perasaannya, bukan kepada kesadaran dan logika kebijaksanaan.

Oleh karena itu, kalau perempuan diberdayakan, maka satu-satunya kecenderungan yang akan mereka kembangkan adalah kecenderungan yang egosentris, dan emosional, suatu hal yang bertentangan dengan kebajikan dan kesalehan.

Logikanya adalah, perempuan tidak dilengkapi akal nan sempurna. Kebalikannya, perempuan hanya dianugrahi emosi dan hawa-nafsu. Bagaimanakah keadaannya kalau suatu organisme yang tidak dilengkapi akal nan sempurna, kemudian diberi pemberdayaan (yaitu pendidikan dan pekerjaan)? Apakah ilmu dan uang yang ia peroleh melalui pemberdayaan akan membuat ia bijaksana dan agung?

Bagaimana mungkin? Bukankah ia tidak mempunyai akal nan sempurna? Bukankah hanya yang berakal sempurna saja yang dapat berbuat bijaksana dan agung (kalau sudah diberdayakan)? Dan sementara itu bukankah perempuan merupakan organisme yang hanya dianugrahi emosi dan hawanafsu, bukan akal sempurna?

Tepat sekali! Kalau suatu organisme yang tidak dianugrahi akal sempurna diberi pemberdayaan, maka kelak pemberdayaan tersebut hanya mematangkan emosi dan hawa-nafsunya saja, lain tidak. Tidak mungkin suatu organisme yang tidak berakal sempurna bisa berbuat agung dan luhur kalau diberdayakan.

Singkat kata, organisme tersebut (yaitu perempuan) akan berbuat kerusakan dengan (dan atasnama) pemberdayaan tersebut, bukan kemaslahatan. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Wanita Dan Hubungannya Dengan Iblis.

Angka Perceraian Meningkat-001-o0o-

Angka Perceraian Meningkat-002Banyak dijumpai, perempuan yang diberdayakan, alias perempuan sophis, lebih suka menceraikan suaminya, seenak dan semudah ia meninggalkan pasar-malam. Padahal masalah yang ia hadapi dengan suaminya hanya sebatas masalah uang, atau cara menyelesaikan pekerjaan rumah, atau perselisihan di dalam hal pekerjaan istri, atau bahkan hanya karena sudah tidak ada lagi cinta. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikel,

)) Lembaga Pernikahan Ala Jamban.

Perempuan yang diberdayakan, berparalel dengan tingginya angka perceraian, yang kebanyakan gugat-cerai diajukan pihak istri. Ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan yang berakibat munculnya perempuan-perempuan otonom, benar-benar membuat perempuan telah kehilangan kesantunan dan manutnya pada kebajikan dan kewarasan.

Pemberdayaan perempuan akan berakibat pada engkar dan keras-tengkuknya perempuan terhadap suami, nilai agama, tradisi leluhur, hukum alam, kodrat, firman Allah Swt, dan kesucian dirinya sendiri. Itu belum semua.

Itulah kejinya kalau perempuan dibiarkan mendapatkan pemberdayaan sehingga mendapatkan otonominya.

Penutup.

Emansipasi Wanita (EW) adalah akar dari seluruh masalah di dunia ini. Emansipasi Wanita (EW) tidak pernah menjadi dan merupakan solusi untuk setiap masalah, justru membuat dunia kehilangan keseimbangan dan kewarasannya. Dari point-point di atas sudah dapat diungkapkan hubungan antara Emansipasi Wanita (EW) dengan seluruh masalah di dunia ini, seperti maraknya gugat-cerai, pelacuran, aborsi, kelahiran bayi yang tidak diinginkan, pornografi, dekadensi moral perempuan, dsb.

Satu-satunya cara untuk menyelesaikan seluruh masalah tersebut, adalah, kembalikan perempuan kepada alamnya, yaitu kodrat domestik.

Teknisnya adalah, perteguh mereka dengan kodrat domestik, dan tidak memberi mereka akses pendidikan dan pekerjaan publik. Stop pemberdayaan perempuan; stop sekolah untuk anak perempuan, dan kemudian juga, stop memberi pekerjaan kepada perempuan.

Hati perempuan lemah sekali dan tidak dapat melakukan perlawanan, sekali pun untuk melawan kecendrungan mentalitas mereka sendiri jika telah disesatkan dengan pemberdayaan. Maka satu-satunya cara adalah dengan tidak menyesatkan mentalitas mereka, yaitu jangan sekolahkan mereka, dan jangan ijinkan mereka bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kembalikan kesejukan udara pada jaman Siti Nurbaya, yaitu kehidupan ketika tidak ada kasus gugat-cerai, sehingga seluruh rumahtangga dapat menikmati keabadian mereka. Dan kembalikanlah kaum perempuan kepada kesejukan nurani mereka, yaitu nurani yang sederhana, manut dan bersahaja, tepat seperti leluhur mereka pada jaman Siti Nurbaya. Itu artinya, tumpaslah Emansipasi Wanita (EW); tumpaslah geliat kesetaraan gender.

Wallahu a’lam bishawab.