Ketika Wanita Berkuasa Atas Laki-laki dan Melawan Kodrat

lawankodrat

8 Oktober 2014

Survey tahun ini, kasus gugatan cerai dari pihak istri kepada suami dua kali lebih banyak daripada kata talak dari suami kepada istrinya. Disebutkan bahwa trend tersebut terus meningkat sejak beberapa tahun terakhir. Wanita semakin berani protes, semakin suka membantah, dan semakin melawan kepada suaminya.

Di antara faktor penyebab hal ini adalah:

  • Dunia sekarang telah sampai kepada zaman di mana hiburan, bermalas-malasan, dan teknologi yang membuat dunia semakin instan telah menjadi trend utama yang terus diperjuangkan. Faktor-faktor tersebut telah menggerogoti wibawa laki-laki dan menjadikan wanita semakin dikedepankan. Contoh: biduwan (penghibur) justru didominasi oleh penyanyi atau group band laki-laki, sedangkan pekerjaan melinting rokok dan mengisi BBM di pom bensin dikerjakan oleh perempuan.
  • Banyak prestasi yang diraih kaum perempuan dan mengungguli kaum lelaki. Juara kelas, mahasiswa teladan, dan bidang lain yang mengedepankan kemampuan verbal telah didominasi kaum perempuan. Ini yang menjadikan perempuan semakin merasa di atas angin dan semakin meremehkan lelaki. Kemampuan verbal memang secara kuantitatif cukup dibutuhkan di zaman dunia instan ini. Sedangkan kepemim -pinan dan kemampuan non-verbal hanya sedikit dibutuhkan (secara kuantitatif).
  • Persaingan bisnis semakin ketat membuat para pengusaha cenderung meman-faatkan tenaga kerja dari kaum hawa, karena standar upah mereka lebih rendah tetapi etos kerja dan loyalitas mereka lebih tinggi. Akhirnya suami yang tidak laku-laku di dunia kerja harus menjadi tukang ojek bagi istrinya.
  • Dunia yang semakin liberal menjadikan para pemuja dunia semakin getol mempro-pagandakan keadilan gender. Salah satunya dengan memperjuangkan feminisme.

Faktor-faktor di atas merupakan fitnah hebat yang melanda laki-laki maupun wanita. Laki-laki semakin berkurang wibawanya, semakin tidak terpakai kemampuannya, dan semakin tertekan.

Wanita semakin merasa berkuasa, semakin bebas, semakin menentang doktrin agama (laki-laki dilebihkan daripada wanita dalam hukum waris, kepemimpinan, syariat poligami, dll.), sehingga pada akhirnya wanita semakin mudah untuk dieksploitasi. Dan,… SECARA TIDAK SADAR wanita (istri) semakin merasa tertekan dan merasa tidak bahagia, justru ketika merasa punya kuasa terhadap laki-laki (suami).

Cukuplah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai dari melaksanakan shalat gerhana, sebagai bukti pendukung akan hal ini:

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari no. 5197 dan Muslim no. 907).

Sumber, https://pengusahamuslim. com /4258-ketika-wanita-berkuasa-atas-laki-laki-dan-melawan-kodrat.html

ANNISANATIONAnnisanation,

Orang bilang, Emansipasi Wanita adalah kemajuan dan kebajikan bagi semua individu, baik laki maupun perempuan. Orang  bilang bahwa Emansipasi Wanita adalah demi kesejah-teraan dan ketentraman seluruh keluarga. Orang bilang bahwa perempuan bekerja adalah hak azazi bagi perempuan itu sendiri, oleh karena itu harus dipenuhi dan dijamin. Orang bilang bahwa Islam dan seluruh agama mengajarkan Emansipasi Wanita, bahwa perem-puan sama dan sederajat kedudukannya dengan kaum pria.

Namun sungguh setelah itu, ternyata Emansipasi Wanita, atau perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, justru telah membahayakan seluruh sendi kehidupan di tengah masyarakat. Dengan mempunyai sumber keuangan sendiri, perem-puan justru menjadi pongah dan tinggi hati, melawan kepada suami, melawan kepada kodrat, kepada fitrah, kepada pesan orang tua-tua, kepada hukum kepantasan, dsb.

Dengan pemberdayaan di dalam Emansipasi Wanita, perempuan menjadi begitu berani melawan agama, bahkan menyusun teori mereka sendiri tentang apa itu agama. Dengan latar Emansipasi Wanita, perempuan menuntut untuk menjadi kepala rumahtangga bersa-ma suami, dan kemudian menuntut untuk menjadi imam dan pemimpin shalat atas seluruh jemaah laki-laki; perempuan emansipasi begitu lantang menuntut untuk menjadi Paus dan uskup di dalam hierarki Gereja Katholik Roma. Bahkan atas dasar Emansipasi Wanita, perempuan menuntut hak untuk mengaborsi kandungan tanpa persetujuan suami.

Perempuan yang keluar rumah sehingga terpapar bebas kepada pria-pria asing di tengah kota, telah terjerumus kepada bencana syahwat: selingkuh, pacaran, aborsi, pamer aurat, kondomisasi, dsb. Perempuan yang keluar rumah sehingga terpapar pria asing, telah kehilangan rasa malu mereka sebagai perempuan, padahal bukan perempuan namanya kalau tidak mempunyai rasa malu.

Paparan di atas secara gamblang membuktikan bahwa ternyata Emansipasi Wanita meru-pakan sumber malapetaka kehidupan, yang menyengsarakan baik pada level individual, keluarga, dan pada akhirnya seluruh masyarakat dan Negara. Meningkatnya angka perceraian tentunya merupakan malapetaka bagi anak-anak, dan itu disebabkan oleh perempuan sendiri, perempuan yang emansipasi. Dan semakin beraninya perempuan menentang doktrin agama, membuat perempuan berani mengajukan gagasan mereka sendiri tentang kebebasan di dalam hal berpakaian, pergaulan, hal membesarkan anak, menghormati keluarga, dsb.

Pada aspek lain, Emansipasi Wanita berbanding lurus dengan merebaknya fenomena laki-laki yang menjadi pengangguran, karena sungguh seluruh lapangan kerja telah diserobot perempuan, tanpa memikirkan bahwa sebenarnya pekerjaan lebih dibutuhkan kaum pria, karena mencari nafkah adalah tanggungjawab kaum pria, dan bahwa nafkah kaum perem-puan ada di dalam tanggungan para ayah dan suami. Pekerjaan lebih dibutuhkan kaum pria, sementara pekerjaan bagi perempuan sebenarnya hanya untuk gagah-gagahan saja.

Dengan latar ini, maka jelaslah kubu perempuan berkelimpahan uang dan karir, sementara kubu pria serba defisit, menjadi pengangguran dan tidak mempunyai uang dan karir, sehingga lepaslah wibawa dan kehormatannya di depan perempuan. Terkenang Alhadis Nabi saw, bahwa salah satu tanda kiamat adalah seorang ibu yang melahirkan tuan-nya. Ungkapan tersebut sebenarnya adalah analogi, yang artinya adalah bahwa laki-laki yang sebenarnya adalah tuan atas perempuan, terbalik menjadi perempuanlah yang menjadi tuan atas laki-laki, padahal semua kemudahan bekerja, semua bentuk teknologi, semua teori dan sistem tata kerja ditemukan dan diperjuangkan laki-laki, tidak ada satu pun perempuan yang terlibat. Namun akhirnya semua teknologi dan kemudahan bekerja tersebut telah diserobot perempuan dengan cara mendepak seluruh laki-laki. Itulah yang disebut dengan Emansipasi Wanita.

Apakah Emansipasi Wanita menguntungkan? Apakah Emansipasi Wanita merupakan suatu amal saleh? Benarlah Islam, bahwa tempat perempuan adalah di rumahnya, dan jangan sekali-sekali membenarkan atau membiarkan perempuan keluar rumah, apalagi kalau tujuannya untuk pemberdayaan. Kalau Islam mengharamkan Emansipasi Wanita, maka berarti seluruh umat harus menumpas Emansipasi Wanita, karena hal tersebut justru menyesatkan kaum perempuan itu sendiri. Hanya ada tiga hal yang kentara bagi akal:

  • Emansipasi Wanita itu berbahaya, bukannya bermanfaat dan menguntungkan. Islam dan agama mana pun tidak mengajarkan Emansipasi Wanita.
  • Bukti berbahayanya Emansipasi Wanita sudah ada di mana-mana. Korban pun sudah berjatuhan di mana-mana, baik dari kalangan perempuan sendiri, dari kalangan laki-laki, dan juga anak-anak.
  • Maka tumpaslah Emansipasi Wanita. Jadikan perempuan sebagai mahluk rumahan lagi, mahluk domestik lagi, dengan tidak memberi pemberdayaan atas mereka.

Alam Semesta sejak awal mengajarkan, bahwa laki-laki adalah berkuasa, sementara perem-puan adalah objek kekuasaan laki-laki: pun tidak mungkin perempuan itu berkuasa, karena pada dasarnya perempuan adalah mahluk lemah dan penakut. Maka biarkanlah hal tersebut terus berlangsung, karena Alam hanya memberikan yang terbaik. Artinya, jangan “perbuat suatu hal” yang dapat mengakibatkan perempuan berkuasa atas laki-laki. Sungguh perempuan tidak dapat berlaku amanah kalau diberi kekuasaan (atas laki-laki). Terkenang Alhadis Nabi saw, bahwa perempuan adalah bengkok, dan kalau hendak diluruskan akan patahlah dia. Artinya adalah, perempuan tidak amanah, karena hanya akan  selalu berbuat menyimpang, alias bengkok.

Sebenarnya “perbuat suatu hal” itu adalah Emansipasi Wanita.

Wallahu a’lam bishawab.

Advertisements

Menyaksikan Klimaks Test Lamaran Kerja

frfrf

Saya sebagai penulis annisanation, suatu saat menyaksikan klimaks proses rekrutmen karyawan pada suatu perusahaan bonafit mulitnasional yang berkantor di Jl. Kuningan Jakarta Selatan. Yang ingin ditekankan pada paparan ini adalah betapa kaum pria adalah mahluk yang sangat pengalah kepada kaum perempuan, sangat berlapang dada kepada kaum perempuan. Namun kemudian, bagaimana sikap kaum perempuan terhadap kaum pria?

Latar belakang kisah.

Alkisah kala itu saya sedang melamar suatu posisi di perusahaan tersebut. Seingat saya, saya harus bolak-balik ke kantor PT tersebut sebanyak 4 kali untuk mengikuti serangkaian test.

Pada kunjungan yang kedua kali, seingat saya, ketika saya masih ‘cupu’ di ruangan resepsionis-nya, saya melihat seorang pelamar pria dan seorang pelamar perempuan. Jadi, saya berada pada klimaks atau ‘pertandingan final’ untuk mendapatkan suatu posisi yang mereka perebutkan.

Kita bisa mereka-reka kejadian awalnya seperti apa. Pasti sejak awal, pelamar yang melamar posisi yang dilowongkan, jumlahnya tentunya banyak. Anggaplah terdapat 20 pelamar, terdari sekian laki-laki dan sekian perem-puan. Tentunya ke 20 pelamar tersebut mengikuti serangkaian test, dan pada setiap tahap pasti terdapat pelamar yang gugur. Jadi, dari 20 orang, menge-rucut menjadi 15 orang, kemudian mengerucut menjadi 10 orang, dan lama kelamaan hanya menjadi dua orang, yaitu satu perempuan dan satu laki-laki. Nah kedua orang itulah yang sekarang sedang berdiri di depan saya di ruang resepsionis perusahaan. Mereka tampak sedang menunggu dipanggil oleh tim penguji.

Tentunya kedua orang tersebut sudah saling mengenal, karena selama ini pasti mereka sudah saling bertemu saat mengikuti test sebelum-nya. Saya dapat mafhum atas apa yang saya lihat, yaitu di mana seorang laki-laki dan seorang perempuan memperebutkan satu posisi / jabatan di PT tersebut. Kalau laki-laki yang gagal test final, maka posisi tersebut akan jatuh kepada si perempuan. Begitu juga sebaliknya. Namun kalau laki-laki yang berhasil pada test final-nya, berarti si perempuan akan tersingkir, alias gagal diterima bekerja. Dan itu artinya si perempuan harus melamar kerja lagi di tempat lain, di kantor lain, di perusahaan lain, di waktu yang lain. Begitu juga sebaliknya.

Apa kemudian yang saya lihat, sehingga saya merasa perlu untuk memaparkan kisah tersebut di sini di dalam bentuk artikel?

Ketika mereka saling mengobrol tertawa-tawa di dalam senda gurau menung-gu dipanggil tim penguji, tiba-tiba yang laki-laki berkata kepada yang perem-puan, “oke …. Good luck yaa ….”. Kemudian ditimpali oleh yang perempuan, “oke ….. makasih makasih banget niiihhh …..”. Pasti yang dimaksud si perem-puan dengan ucapan terima-kasihnya adalah karena si pelamar pria bersedia mengalah supaya posisi tersebut jadi milik si perempuan. Kemudian yang laki-laki pun pergi meninggalkan ruang resepsionis. Tidak lama kemudian tim penguji muncul dari balik pintu, dan memanggil mereka berdua untuk mengikuti test. Tapi tim penguji bertanya-tanya kemana yang laki-lakinya? Si perempuan berkata bahwa yang laki-laki sudah pergi mengundurkan diri.

Alhasil, test terakhir tidak perlu digelar, karena peminatnya tinggal seorang saja, yaitu si perempuan itu. Berarti posisi yang dilowongkan itu otomatis jatuh kepada si perempuan, dengan mudahnya, karena yang laki-laki secara sukarela mengundurkan diri, demi supaya yang perempuan dapat diterima bekerja. Aroma yang tercium di sini adalah, bahwa pelamar yang laki-laki sudah mengorbankan karir dan seluruh usahanya demi mengalah kepada yang perempuan. Intinya, ‘yang namanya laki-laki harus mengalah kepada perempuan’, begitu kata orang.

Mari kita ulas.

Pertama, laki-laki kerja untuk apa? Jelas untuk menafkahi keluarganya. Yang dimaksud keluarganya adalah, ayah bundanya (yang sudah tua renta), adik-adiknya; dan di lain dimensi, yang dimaksud keluarga adalah anak dan istrinya. Jadi, penting sekali bagi seorang laki-laki untuk bekerja mencari uang, karena uang yang mereka dapatkan dari bekerja adalah untuk kehidu-pan, untuk biaya makan minum seluruh keluarganya; untuk uang sekolah anak-anaknya, untuk menyambung hidup keluarganya, dan demi keluarganya tidak melarat, tidak kelaparan. Jadi, bukan untuk main-main.

Di lain pihak, perempuan bekerja untuk apa? Fakta yang sering ditemui di lapangan adalah, perempuan bekerja adalah untuk gagah-gagahan semata, karena keluarganya dan suaminya adalah manusia-manusia yang kaya raya dengan uang yang melimpah. Perempuan bekerja hanya supaya punya duit banyak untuk shopping, untuk beli barang-barang mewah, untuk punya kartu kredit, dsb. Sangat sering ditemui, perempuan yang bekerja dengan gaji besar, padahal suami mereka juga bekerja dengan gaji yang besar pula. Jadi, buat apa si perempuan bekerja? Untuk gagah-gagahan saja.

Jadi kesimpulannya adalah, bahwa perempuan bekerja tujuannya bukanlah untuk menafkahi atau menghidupi keluarga. Pada kasus ini juga tampak, bahwa perempuan yang melamar kerja tersebut tidak berasal dari keluarga miskin papa yang hampir mati kelaparan, karena dilihat dari dandanannya, ia tampak berasal dari keluarga berada, yang ayah dan suaminya mempunyai uang yang melimpah. Dari gaya nya pun, tampak ia lulusan univ bonafid, yang artinya perempuan ini sanggup keluar uang dalam jumlah besar untuk biaya kuliah. Artinya perempuan ini bukan orang miskin dan bukan dari keluarga miskin yang hampir mati kelaparan. Lantas buat apa perempuan ini masih mencari kerja? Jawabannya adalah hanya untuk gagah-gagahan saja.

Ada aspek lain yang juga harus dilibatkan di sini. Jumlah pangker (lapangan kerja) tidaklah banyak, atau dengan kata lain tidak sebanding dengan tenaga kerja. Lebih banyak jumlah tenaga kerja dibanding pangker. Itu artinya, di satu pihak perempuan merebut pangker yang tujuannya hanya untuk gagah-gagahan, sementara di lain pihak ada laki-laki yang menganggur tidak mem-punyai pekerjaan dan penghasilan, padahal dirinya adalah tulang punggung dan sumber nafkah bagi keluarganya. Maka apakah adil kalau satu pangker diserahkan kepada perempuan, yang penggunaannya hanya untuk gagah-gagahan saja, sementara kalau pangker itu diserahkan pria, maka pangker itu jelas akan sangat berarti baginya, karena itu adalah sumber nafkah bagi keluarganya. Untuk lebih jelasnya silahkan baca Pengangguran Antara Pria Dan Wanita.

Ibaratnya, ada sebuah rumah layak namun kosong tak berpenghuni. Di dekatnya ada keluarga A yang kayaraya, dan keluarga B yang miskin papa, sangat butuh rumah untuk tempat berteduh. Kalau rumah tersebut diberikan kepada keluarga A, maka rumah tersebut digunakan oleh keluarga A hanya untuk dansa-dansi dan berbagai aktivitas yang tidak penting. Bukankah rumah tersebut selayaknya diberikan kepada keluarga B, yang miskin papa, sehingga rumah tersebut dapat diambil manfaatnya sebesar mungkin? Masalahnya di sini adalah, keluarga A ngotot untuk menguasai rumah tersebut, yang artinya keluarga A tidak perduli dengan nasib keluarga B yang miskin papa dan butuh tempat berteduh.

Seperti itulah cara berfikir kaum perempuan mengenai pangker. Ketika mereka merebut pangker, mereka melakukannya hanya untuk gagah-gagahan dan untuk mempunyai titel jabatan yang mentereng, dan mereka tidak pernah sampai kepada faham bahwa pangker sebenarnya akan lebih berman-faat kalau diberikan kepada para pria, karena pria adalah tulang punggung keluarga di dalam hal nafkah. Dan perempuan-perempuan tersebut, bukankah nafkah mereka sudah dijamin oleh keluarga mereka, ayah-ayah mereka, suami-suami mereka? Lantas mengapa mereka selalu ngotot untuk menguasai dan menyerobot pangker dari tangan kaum pria, kalau tujuannya hanya untuk gagah-gagahan, dan bahwa nafkah mereka sebenarnya sudah ditanggung keluarga dan suami mereka?

Ketidak-berakalan perempuan merupakan satu-satunya andil yang mengaki-batkan perempuan tidak pernah berfikir sampai ke sana, yaitu kepada faham bahwa pangker sangat dibutuhkan kaum pria, dan kaum perempuan tidak pernah butuh pangker secuil apapun, karena nafkah mereka sudah dijamin keluarga dan suami-suami mereka; dan bahwa perempuan butuh pangker hanya untuk gagah-gagahan –sementara bagi kaum pria pangker selalu berarti hidup dan mati.

Dan kalau pangker itu sudah diduduki perempuan, lalu apa yang akan terjadi? Fakta mengungkapkan: terjadi banyak selingkuh di kantor, pamer aurat, khalwat di ruang kerja, kemudian sex after lunch, kemudian kondomisasi. Yang jelas, ketika perempuan pergi bekerja, maka tugas mengasuh anak di rumah dilemparkan kepada babysitter, pekerjaan domestik dilempar kepada pembantu rumahtangga, sehingga perempuan-perempuan itu tidak mau tahu lagi urusan tetek-bengek di rumah, karena keseluruhannya sudah dilempar-kan kepada babysitter dan pembantu. Pulang di rumah anak-anak sudah rapi dimandikan babysitter, kemudian nasi panas sudah tersedia di meja makan disediakan pembantu, lalu makan, dan pergi tidur. Sementara di luar sana, pria-pria menjadi pengangguran, dan berimbas kepada semakin banyak kelu-arga yang miskin kelaparan dan anak-anak yang putus sekolah, karena ayah-ayah mereka tidak kunjung mendapat pekerjaan yang layak, karena pangker sudah keburu direbut perempuan, melalui apa yang disebut kesetaraan.

Atas nama kesetaraan antara pria dan perempuan di dalam pekerjaan dan karir, kaum perempuan hanya mementingkan diri mereka sendiri untuk gagah-gagahan dan titel jabatan, padahal nafkah mereka sudah dijamin oleh keluarga dan suami. Dan atas nama kesetaraan, mereka membuka diri pada potensi selingkuh, khalwat, pamer aurat, potensi perceraian, dan bahkan fenomena single parent yang keji. Fakta sudah di mana-mana. Atas nama kesetaraan, kaum perempuan menjerumuskan banyak pria kepada status pengangguran dan pensia-siaan umur, sehingga banyak pria usia produktif terseret kepada dunia kriminalitas yang mencederai kehidupan masyarakat.

Dan atas nama kesetaraan, kaum perempuan menolak dan mengutuki kodrat domestik, yaitu untuk senantiasa tinggal di rumah untuk menyelesaikan tugas domestik, bahwa sebenarnya perempuan diciptakan sebagai mahluk domestik. Dan paling terakhir, atas nama kesetaraan, perempuan memberontak terhadap ajaran Illahi, bahwa tempat perempuan adalah di rumah, untuk senantiasa tingggal di rumah agar terhindar dari segala fitnah dunia. Terkenang akan Alhadis Nabi Muhammad Saw, “sebagian besar penghuni Neraka adalah kaum perempuan ….”.

Kedua, sifat kepengalahan laki-laki kepada perempuan, merupakan sesuatu yang alami. Pada kisah ini tampak sekali seorang pelamar pria yang mengalah begitu saja kepada pelamar perempuan, sehingga sang pelamar pria rela mundur dari rekrutmen tersebut dengan resiko harus bersusah payah lagi untuk mencari kerja di tempat lain, mulai dari nol lagi.

Tapi kemudian, apa yang diberikan kaum perempuan kepada kaum pria, dikarenakan sifat kepengalahan laki-laki ini? Apakah kaum perempuan berterima kasih kepada para pria? Atau apakah kaum perempuan sangat mensukuri kebaikan hati para pria –sehingga dengan kebaikan hati itu kaum perempuan jadi bisa bekerja dan mempunyai banyak uang? Fakta mengung-kapkan, kaum feminist merupakan kaum yang paling gencar mengutuki dan mencibiri kaum pria, khususnya alam patriarkhat.

Kaum pria sudah kenyang dimaki-maki perempuan di setiap lini kehidupan, dan jangan lupa maraknya fenomena suami takut istri, merupakan stasiun terbesar terjadinya kaum perempuan memaki-maki para pria sesuka hati …. padahal di banyak tempat kaum pria telah dengan tulus memperlihatkan kepengalahan mereka kepada kaum perempuan, contoh termudahnya adalah pada kasus ini, yang dilihat langsung oleh annisanation pada suatu ketika di sebuah Perusahaan yang berkantor di Jl. Kuningan Jakarta Selatan.

Kaum perempuan khususnya para feminist, secara normatif telah menyatakan bahwa pada jaman dahulu kala, kaum pria tidak pernah bisa menerima keung-gulan kaum perempuan, dan bahkan kaum pria dituduh telah memasung seluruh potensi kaum perempuan, supaya kaum perempuan tidak bisa menyaingi pria di dalam menguasai sumber ekonomi. Kata kaum feminist, pada jaman dahulu kaum pria mengurung perempuan di dalam rumah supaya tidak bisa kemana-mana, supaya dengan demikian kaum perempuan tidak bisa mengasah seluruh potensi alami mereka, maka menjadilah sekarang perempuan sebagai mahluk kelas dua, yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Jadi, kata kaum feminist, sebenarnya perempuan adalah mahluk yang seunggul pria di dalam segala hal, namun mengapa sekarang kaum perempuan tampak sebagai mahluk kelas dua di bawah pria? Kata para feminist, itu merupakan hasil kerja kekejian kaum pria pada masa purbakala, yang modusnya adalah mengurung perempuan di dalam rumah saja, agar dengan demikian potensi keunggulan kaum perem-puan terkubur hidup-hidup sehingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyaingi kaum pria di dalam merebut sumber penghidupan.

Sampai sekarang pun tudingan tersebut yang diarahkan kepada kaum pria masih didengungkan kaum perempuan khususnya kaum feminist. Dan bagai-mana tanggapan kaum pria mendengar tuduhan kaum perempuan ini? Sekali lagi kaum pria menunjukkan sifat lapang dada mereka, sifat kepengalahan mereka kepada kaum perempuan. Kaum pria tidak pernah membalas menghukumi kaum perempuan dan menggeruduk mereka habis-habisan. Kasih sayang kaum pria kepada kaum perempuan, tidak pernah putus sampai akhir jaman, kendati kaum perempuan bertubi-tubi menuduh kaum pria segala hal yang tidak pantas dan tidak enak didengar.

Banyak kaum pria yang menganggur, sementara kaum perempuan banyak yang menguasai pangker atau pekerjaan. Apa kata kaum perempuan hal laki-laki yang menganggur ini? Kata kaum perempuan, pria menganggur tidak kunjung mendapat kerja, adalah karena kaum pria itu bodoh, karena mereka tidak pernah kuliah dengan sungguh-sungguh, atau tidak mempunyai ketram-pilan untuk bekerja. Kata perempuan, pria menganggur karena Perusahaan melihat bahwa perempuan lebih terampil dan cerdas daripada pelamar pra, jadi artinya pria itu bodoh. Dengan kata lain, kata perempuan kebodohan pria lah yang membuat pengangguran membengkak.

Ada juga perempuan yang berkata, pria menganggur karena mereka mau-nya kerja kantoran yang enak-enak dengan gaji besar. Fakta mengungkapkan, bahwa kaum pria banyak menganggur justru karena mereka mengalah kepada kaum perempuan, supaya kaum perempuan dapat kerja enak di kantor-kantor, seperti yang disaksikan annisanation sendiri. Kaum pria menganggur, bukan karena mereka bodoh dan kuliah tidak sungguh-sungguh, namun justru karena pangker telah keburu diserobot kaum perempuan, tanpa kaum perempuan sadar bahwa pangker amat berarti bagi para pria, karena pria bekerja tujuannya adalah untuk menafkahi keluarga, sementara perempuan bekerja tujuannya hanya untuk gagah-gagahan saja, demi banyak punya uang dan shopping sepuas-puasnya, padahal keluarga dan suami mereka kayaraya dan bonafid.

Jadi, setelah pria berbaik hati mau mengalah kepada perempuan supaya perempuan bisa kerja, justru setelah itu perempuan-perempuan men-disgrace para pria dengan kata-kata yang tidak pantas. Itukah imbalan kaum perem-puan atas kepengalahan kaum pria? Kenyataan memang demikian.

Penutup.

Intisari dari pemaparan ini adalah, bahwa pangker amat dibutuhkan kaum pria untuk mencari nafkah, sementara di tangan perempuan pangker hanya untuk gagah-gagahan dan ambisi untuk mempunyai / menyandang titel jabatan yang mentereng, yang di dalam Islam disebut riya, dan riya adalah dosa. Kaum perempuan tidak sadar, bahwa ketika mereka mendapat pangker, maka mereka terbuka untuk potensi selingkuh, khalwat, pamer aurat, sifat loba alias serakah, karena sebenarnya keluarga mereka, ayah mereka, suami mereka, sudah berkelimpahan uang untuk biaya hidup. Dan keseluruhan hal tersebut adalah dosa di mata Illahi.

Dan ketika mereka mendapat kerja atau posisi di Perusahaan, maka pada saat yang sama mereka mengingkari kodrat dan tugas domestik mereka, untuk membesarkan dan mengasuh anak, untuk masak, dan untuk menjaga anak dan keluarganya di rumah; kaum perempuan melempar tugas domestik kepada pembantu rumahtangga dan juga babysitter. Dan hal tersebut jelas merupakan dosa, dan merupakan pembangkangan terhadap kodrat.

Intinya, dengan perempuan infiltrasi ke dunia kerja, maka berimbas pada membengkaknya angka pengangguran di kalangan pria usia produktif, dan itu berarti akan terjadi pensia-siaan umur, pensia-siaan aset negara, dan lebih lanjut akan berimplikasi pada tingginya angka kriminalitas. Apakah demi perempuan bisa bekerja, maka seluruh potensi unggul yang ada pada setiap pria harus dan boleh disia-siakan begitu rupa?

Pada akhirnya, Islam dan agama mana pun tidak mengajarkan Emansipasi Wanita, dan itu artinya Emansipasi Wanita harus ditumpas dari kehidupan umat Illahi, dan mengembalikan perempuan sebagai mahluk domestik. Hanya dengan mendomestikalisasi perempuan lah, seluruh umat tetap di dalam kebaikan dan kebajikannya, dan kaum perempuan itu sendiri juga akan tetap di dalam kebajikan dan kesuciannya. Itulah mardhotillah, keridhaan Illahi.

Wallahu a’lam bishawab.

Wweeeiiii…. Koyak Rok, Pamer Paha, Siswi SMU Alah Perempuan Pesanan Unggah Fhoto Ke Medsos

66siswidiperkosa

RIAUPUBLIK.COM, JAKARTA– Hancur sudah ahlak siswa- siswi jaman sekarang sudah berjiwa tempe, pamer body pampangankan ke media sosial, bukan nya malu tapi bangga akan hal itu, salah satu siswi sekolah di jakarta ini, setelah usai ujian kelulusan, belum tau penguman lulus atau tidak nya, malah mencoret baju seragam nya, dan parah nya lagi seperti menjajahkan diri, berpose alah wanita pesanan, dengan merobek Rok nya memamerkan ke media sosial.

Keritikan siswi dengan di unggah nya Pose alah wanita Pesanan Om..Om, mengecam prilaku, siswa- siswi yang mengunggah Fhoto Merayakan Kelulusan nya, ini salah satu keritikan Netizen pada murid Siswa/ Siswai Dengan merayakan kelulusan nya dengan Fose alah Wanita Panggilan.

Riza Muliani Dari gaya nya bukanlah sebuah kebahagiaan tapi keangkuhan dan kesombongan menyobek rok dan mempertontonkan paha mulus seperti nunggu antrian untuk diboking aja…tak ada tatakrama dan sopan santun dan rasa segan sedikit pun…. maaf klo ada orang tuanya y baca …. apa seperti ini etika dan aklak anak smu ….. dimana penerapan etika dan ilmu agamanya…. dasar gak tau malu…

Lenny IskandarSyah Baruu lulus SMA aja dh gaa punya moral,,gimanaa di dunia kuliah dan kerja,,iman ama moral di jual semua x tuh,,kyk judul lagu dangdut,,gadis tapi bukan perawan

Mega Juliani Hahahaha Dasar pda Soplak yah Jaman Sekarang mah, Mmbri Contaoh yang Gak Moral Bwt Anak2 Remaja Yang Lain y, Msh Mnding yG Remes y Cewe Coba kllo Cowo Haduuhh dwah bkn di Remes lg Tpi Udah Di Ajak Maksiaat tuuhh

oppy Novelia Youvandyni Calon psk

Izzy De Doors

Izzy De Doors Calon ubex ni anak..

Murahan banget…

Paling dkasi 10.000 bsa dapet dkaceng xxx

Raatusan Ribu mengomentari prilaku siswa- Siswi di zaman sekarang, dengan  dengan prilsku murid SMU yang merayakan kelulusan nya ini.

Sumber, http://www.riaupublik.com/2016/05/wweeeiiii-koyak-rok-pamer-paha-siswi.html

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation,

Inilah apa yang harus dialami umat Tuhan kalau Gerakan Emansipasi Wanita terus digelorakan. Sungguh, isme yang ingin memberi akses pendidikan kepada kaum perempuan, merupakan suatu perbuatan sia-sia, yang jelas-jelas menentang hukum alam dan menentang hukum kebajikan ….

Dan akhirnya, inikah yang diinginkan semua pihak dari kebijakan memberdayakan kaum perempuan??? ***

Untuk lebih memahami kekuatan artikel ini, silahkan lanjut membaca artikel “66 Siswa Hamil Di Luar Nikah“.

66 Siswa Hamil Di Luar Nikah

66siswidiperkosa

Tangerang, Wartakota:

Sebanyak 66 pelajar di Kab. Tangerang hamil di luar nikah sepanjang tahun 2016. Jumlah siswa hamil ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang berjumlah 106 siswa hamil di luar nikah.

“Kami telah melakukan evaluasi data selama tahun 2016 ada sebanyak 66 kasus dari 72 kasus di luar nikah”, kata kepala Seksi Perlindungan Perempuan Dan Anak Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan (DPAP) Kab. Tangerang, Banten, Siti Zahro di Tangerang, seperti dikutip Antara, Selasa (31/1).

Siti mengatakan, kasus tersebut terjadi karena para siswa menganut pola hidup pergaulan bebas. Akibatnya mereka melakukan seks sebelum menikah.

Upaya yang dilakukan agar siswa tidak mengikuti gaya hidup pergaulan bebas dengan melakujan penguatan fungsi keluarga. Ortu, kata Siti, juga harus berperan aktif dalam mengawasi pergaulan anak2nya.

Pergaulan anak di bawah usia 17 tahun sepenuhnya oleh ortu. Misal, tidak membiarkan Sitianak pergi dengan orang lain yang belum dikenal. Upaya tersebut juga untuk mengurangi tindakan kekerasan seksual pada anak maupun  perempuan lainnya.

Pendampingan.

Pelajar yang hamil di luar nikah diberi pendampingan psikologi oleh Dinas Perlindungan Anak Dan Perempuan Kab. Tangerang. Pendampingan psikologi ini dilakukan agar mental anak yang hamil di luar nikah tidak goyah.

Pasalnya, anak yang hamil di luar nikah kerap menghindari keluarga dan lingkungannya. Siti mengatakan, petugas DPAP juga berupaya mendampingi korban dalam pendidikan karena menyangkut hak anak.

“Biasanya korban hamil di luar nikah kami pindahkan sekolah ke tempat lain setelah melahirkan, demi mengurangi beban psikologi”, katanya.

Contohnya, satu siswa sekolah negeri di Siti Mauk, dipindah ke sekolah swasta yang berbeda kecamatan. Biaya pindah sekolah ini berasal dari sekolah asal siswa.

Dia berharap, anak korban kekerasan dan anak yang hamil di luar nikah dapat melapor ke DPAP. Identitas mereka , kata Siti, akan dirahasiakan.

Sumber, Wartakota, Rabu 1 Peb 2017.

-o0o-

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini membahas bencana sosial yang menggejala di jaman modern ini, yaitu maraknya angka perzinahan, khususnya di kalangan anak muda, dan tentunya hal ini menjadi keprihatinan semua kalangan. Dapat dikatakan, bahwa salah satu maksud yang terkandung di dalam paparan ini adalah, adanya usaha dari berbagai pihak, untuk menghilangkan, atau paling tidak meminimalisir, terjadinya perzinahan …., karena biar bagaimana pun, perzinahan tidak dapat diterima secara moral, agama dan akal sehat.

Namun bagaimanakah caranya untuk menghilangkan tindak zina ini? Apakah ada usaha nyata dan efektif untuk menghilangkan terjadinya perzinahan ini? Dan apakah itu berhasil? Sama diketahui bahwa usaha untuk menghilangkan perzinahan sudah dikembangkan sejak jaman dahulu, namun apakah keseluruhan usaha tersebut berhasil secara menggembirakan?

Satu hal yang jelas dan pasti mengenai bencana perzinahan ini. Satu-satunya faktor pencetus terjadinya perzinahan adalah, digalakkannya program pendidikan untuk anak perempuan, di mana (anak) perempuan dikondisikan untuk berangkat ke sekolah (setiap hari), untuk berada di luar rumah, dan sejurus kemudian anak-anak perempuan ini diperbaurkan dengan teman-teman pria. Tak ayal lagi, perbauran bebas telah menjadi faktor pencetus utama terjadinya perzinahan.

Selama (anak-anak) perempuan terus keluar rumah, untuk tujuan pendidikan, sekolah, apalagi kemudian diperbaurkan secara bebas dengan teman-teman pria, maka selama itu perzinahan akan terus terjadi di tengah masyarakat, tidak dapat dielakkan lagi dengan cara apa pun. Oleh karena itu, kalau suatu masyarakat ingin memberantas perzinahan sampai ke akar-akarnya, maka satu-satunya cara adalah mendomestikalisasi seluruh perempuan, khususnya perempuan sejak dari usia remaja hingga dewasa: kebijakan Emansipasi Wanita harus dihentikan.

Pada jaman dulu kala, ketika dengung Emansipasi Wanita belum menggejala, ketika masyarakat masih memegang prinsip bahwa kaum wanita adalah mahluk domestik sehingga perempuan tidak dibenarkan dan tidak diadatkan untuk keluar rumah, praktis angka perzinahan begitu rendah, bahkan dapat dikatakan tidak ada. Bagaimana mungkin terjadi zina, kalau seluruh perempuan kukuh di dalam rumah mereka sepanjang waktu, sementara kaum pria di siang hari sibuk di tempat kerja, seperti sawah, kebun, kantor Pemerintah dsb. Kaum pria di tempat kerja hanya menemui sesama pria, sementara kaum perempuan di rumah hanya menemui anak-anak mereka, ayah, abang, bahkan suami mereka saja. Bagaimana mungkin ada perzinahan?

Namun ketika Pemerintah / masyarakat mulai membijakkan Emansipasi Wanita di mana kaum perempuan dikondisikan untuk keluar rumah, baik untuk sekolah maupun untuk bekerja, maka lambat laun perzinahan mulai menggejala, karena perempuan dan pria yang tidak mempunyai hubungan keluarga, dikondisikan untuk terus bertemu. Itulah awal tumbuhnya rasa suka dan nyaman, dan pada akhirnya menyeret mereka kepada perzinahan. Dan itu pun sudah menjadi fakta.

Benarlah kata para tetua, bahwa tempat perempuan adalah di rumah saja, karena kalau perempuan keluar rumah, maka akan terjadi banyak fitnah besar. Bukankah petuah tersebut sekarang menjadi kenyataan? Dengan perempuan terus keluar rumah, maka fitnah mahabesar terus terjadi, yaitu maraknya perzinahan, bahkan perzinahan sudah dianggap biasa dan lumrah, sudah dianggap keniscayaan jaman. Inikah yang diinginkan dari digalakkannya gerakan Emansipasi Wanita?

Pernahkah terjadi pada suatu umat, pada suatu masyarakat, di mana perempuan-perempuan bebas berbaur dengan teman-teman pria di luar rumah secara intens, namun perzinahan sama sekali tidak pernah terjadi? Pernahkah? Jawabannya adalah tidak. Di mana kaum perempuan bebas keluar rumah sehingga berbaur dengan teman-teman pria, maka di sana kasus zina sudah menjadi kelumrahan, sudah menjadi kejamakan. Namun kebalikannya, di mana kaum perempuan kukuh diam di dalam rumah, sementara kaum pria bekerja di tempat bekerja, maka perzinahan tidak pernah terjadi, karena kaum pria hanya menemui sesama pria di tempat publik, sementara kaum perempuan hanya menemui anak-anak dan orangtua mereka di tempat domestik.

Kalau pun memang pernah terjadi di mana kaum perempuan keluar rumah dan berbaur bebas dengan teman-teman pria secara intens, namun tidak pernah terjadi perzinahan di antara mereka, maka pastilah itu merupakan keanehan, suatu keganjilan, karena BERTENTANGAN DENGAN HUKUM ALAM. Bagaimana mungkin masuk akal, di mana perempuan dewasa dan pria dewasa terus bertemu secara intens namun di antara mereka tidak pernah tercetus rasa suka dan nyaman yang diparipurnakan dengan berhubungan intim?

Benarlah kata tua-tua pada masa dahulu, bahwa tempat perempuan adalah di rumah, dan tidak pernah izinkan perempuan keluar rumah, karena kalau perempuan keluar rumah maka akan terjadi fitnah besar. Namun sekarang, petuah tua-tua pada masa dahulu begitu lancangnya dilanggar dan dihiraukan, khususnya oleh pemangku Pemerintahan, dan juga para aktifis perempuan. Maka maraklah sudah bencana perzinahan di mana-mana! ***

Bagaimana mungkin masyarakat dapat memberantas perzinahan, sementara anak-anak perempuan terus keluar rumah, khususnya di dalam hal ini ke sekolah? Justru pada dasarnya kebijakan menyekolahkan anak-anak perem-puan pasti berimplikasi pada maraknya perzinahan, tidak bisa tidak. Patut direnungkan, buat apa mendapatkan anak-anak perempuan yang cerdas, intelektual, mempunyai banyak ketrampilan, dsb, kalau toh itu semua membuat anak-anak perempuan kehilangan kesucian dan kemurnian mereka? Buat apa mengusahakan untuk mencerdaskan anak-anak perempuan, kalau itu semua berimplikasi pada maraknya perzinahan, kasus hamil di luar nikah, pergaulan bebas antara pria dan perempuan?

Apakah mencerdaskan generasi perempuan adalah jauh lebih penting dan di atas segala-galanya, sedangkan bencana perzinahan dianggap sepele dan remeh-temeh? Dan apakah demi mencerdaskan generasi perempuan, maka kehormatan dan kesucian umat patut dikorbankan dan ditumbangkan begitu rupa? Apakah kesucian dan keagungan umat tidak lagi penting bagi masyarakat?

Pendidikan perempuan, untuk apa?

Terdapat dua hal yang berparalel di jaman sekarang. Di satu pihak, masyarakat dan Pemerintah giat menggalakkan Emansipasi Wanita, untuk memberdayakan kaum perempuan, yang gelagatnya adalah dengan mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, untuk sekolah maupun bekerja mencari nafkah. Di lain pihak, pecahnya bencana perzinahan yang merajalela di setiap kampung dan kota, yang mana bencana perzinahan tersebut satu-satunya pemicu adalah perempuan yang keluar rumah, baik untuk pendidikan maupun bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan. Kedua hal tersebut adalah dan selalu berparalel, tepatnya adalah bahwa perempuan keluar rumah akan selalu berimplikasi pada statistik perzinahan dan sexbebas. Dengan kata lain, harga yang harus dibayar oleh kaum perempuan, masyarakat dan Pemerintah, ketika menggalakkan Emansipasi Wanita, adalah terlampau mahal dan tidak masuk akal: yaitu pembumi-rataan perzinahan dan sexbebas.

Patut untuk direnungkan, apakah faedah yang akan diperoleh dengan menggalakkan Emansipasi Wanita? Apakah faedah dan manfaat yang ingin dirasakan masyarakat dan Pemerintah dengan adanya Emansipasi Wanita? Pun juga bagi perempuan itu sendiri, apakah tercerabutnya mereka dari nilai-nilai suci dan agung, merupakan apa yang mereka cari dengan bekerja dan berkarir? Dengan perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan di dalam bingkai Emansipasi Wanita, maka …..,

  1. Setidaknya, akan terjadi perbauran antara pria dan perempuan di sektor publik secara intens dan permanen, hal mana akan memicu terjadinya perzinahan. Dengan perempuan terus bertemu dan berbaur dengan pria-pria kota, maka rasa malu dan enggan yang alaminya tertanam pada mental setiap perempuan, akan tergerus dan terkikis secara sistematis, dan akhirnya akan diganti dengan rasa suka dan nyaman dengan pria-pria tersebut. Harus diingat, bahwa setiap pria asing, biar bagaimana pun adalah pria-pria yang manis, tampan, menggemaskan, lucu dan menghangatkan. Mustahil untuk terus berkeyakinan bahwa perempuan mana pun tidak akan jatuh di dalam perasaan suka dan kangen pada pria-pria tersebut: ini adalah hukum alam, akan selalu ada sensasi indah saat perempuan-perempuan tersebut bersama pria-pria kota, baik di sekolah maupun di tempat kerja. Tanpa disadari perempuan sudah kehilangan rasa malu dan enggannya kepada pria asing: yang semula setiap perempuan diperlengkapi rasa malu dan enggan terhadap pria asing (saat perempuan masih merupakan perempuan rumahan), pada akhirnya rasa / sense tersebut hilang seketika saat perempuan sudah intens berbaur bebas dengan pria-pria asing di luar rumah. Keseluruhan hal tersebut akan berakhir pada tindak zina dan sexbebas.
  2. Dengan perempuan keluar rumah secara intens, maka fenomena PACARAN akan menjadi lumrah, sementara pacaran itu sendiri adalah gerbang utama terjadinya Dengan diberdayakan, maka artinya perempuan akan menuntut untuk menikah setelah adanya pacaran. Dan ini jelas artinya perzinahan.
  3. Dengan perempuan diberdayakan baik di dalam bentuk pendidikan maupun pekerjaan, akan membuat perempuan membenci kodrat dan tugas domestik: mereka akan segera mempekerjakan pembantu rumahtangga dan babysitter untuk membenahi seluruh tetek-bengek urusan domestik, sementara perempuan-perempuan tersebut memilih asyik bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan di luar rumah, sambil berbaurbebas dengan pria asing di tengah kota, yang mana hal tersebut memicu terjadinya perzinahan dan sexbebas, dengan segala turunannya: kondomisasi, perselingkuhan, hamil di luar nikah, mayat bayi buangan di tempat sampah, marak perceraian, pornografi dan pornoaksi, penyakit kelamin, dsb.
  4. Dan akibat dari Emansipasi Wanita, juga pemberdayaan perempuan, akan banyak perempuan yang menuntut pekerjaan, dan ini artinya akan ada infiltrasi perempuan ke dalam pangker (lapangan kerja). Implikasinya, kaum pria akan tercerabut dan akan terdepak dari lapangan kerja. Sejurus kemudian adalah, akan banyak pria pengangguran, karena sumberdaya mereka tidak lagi tertampung di lapangan-kerja, karena lapangan kerja sudah dipenuhi dan diserobot perempuan. Ingat, pengangguran pria akan berimplikasi pada angka kriminalitas, dan pensia-siaan aset bangsa. Ingat juga, bahwa pria adalah tulang punggung keluarga, karena setiap pria berkewajiban untuk menafkahi anak dan keluarga. Artinya, kalau seorang pria menganggur, maka akan ada satu keluarga full yang kelaparan dan tidak mempunyai masa depan. Itu semua jelas, diakibatkan pemberdayaan perempuan, alias Emansipasi Wanita. Secerdas dan sesukses apa pun seorang pria pada studinya, tetap mereka akan menjadi pengangguran dan akan ditolak di lapangan kerja, karena ini bukan masalah kecerdasan dan ijazah cemerlang, namun melainkan seluruh pangker sudah direbut dan diserobot perempuan: begitu banyak pria yang berijazah cemerlang, toh akhirnya menjadi pengangguran alias tidak diterima di tempat kerja, karena banyak posisi pangker sudah dijarah perempuan.
  5. Dengan perempuan diberdayakan, maka mental perempuan akan berubah dramatis: mereka akan kuat dan kritis melawan titah agama, titah moral, titah para tua-tua, titah Nabi saw, titah leluhur, titah kodrat, titah kefitrahan, titah alam, dsb. Mereka akan terus mencibiri dan mengutuki seruan adat dan seruan agama. Yang benar hanya mereka seorang, yaitu perempuan, untuk terus keluar rumah, berbaur bebas dengan pria-pria kota, berangkat pagi pulang malam, berbusana mengumbar aurat, menolak mengurus pekerjaan domestik, menolak mengasuh anak, dsb. Padahal pendirian mereka tersebut sudah berimplikasi pada maraknya perzinahan dan sexbebas, namun tetap mereka tidak perduli, bahkan mereka berkeyakinan bahwa tidak ada hubungan apa pun antara jalan hidup mereka (yaitu Emansipasi Wanita, bekerja, berkarir, berbaur bebas dengan pria asing di tengah kota dsb), dengan pecahnya bencana perzinahan dan sexbebas.
  6. Dengan perempuan diberdayakan, maka bukannya perempuan semakin komit pada kodrat domestik dan kodrat kewanitaan, mereka malah semakin menjauh dan mengutuki kodrat-kodrat tersebut. Tidak pernah kejadian di mana perempuan yang sudah diberdayakan, membuat mereka semakin mencintai dan mentaati kodrat kewanitaan. Yang tampak adalah sebaliknya, yaitu ketika perempuan sudah diberdayakan (baik berpendidikan tinggi, maupun sudah bekerja dan karir yang mantap), mereka berbalik menjadi begitu menghujat dan mengingkari kodrat-kodrat tersebut. Faktanya di dalam kehidupan ini, tampak berkem-bang profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, karena kehadiran mereka dibutuhkan oleh perempuan-perempuan karir, untuk menggantikan keberadaan perempuan-perempuan tersebut di dapur, di rumah, dan di kamar bayi. Perempuan-perempuan karir sudah tidak ingin faham lagi akan fungsi domestik dan fungsi keibuan untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka. Yang mereka inginkan hanyalah bekerja mencari nafkah dan karir, seperti halnya laki-laki. Maraknya profesi pembantu rumahtangga dan babysitter, adalah bukti betapa perempuan yang diberdayakan (seperti perempuan karir), begitu membenci dan mengingkari kodrat domestik dan kodrat keibuan mereka sendiri ….. Dengan pemberdayaan perempuan, bukannya kodrat kewanitaan yang mereka taati, justru berbalik, kodrat laki-laki yang mereka tuntut, kodrat laki-laki yang mereka inginkan, kodrat laki-laki yang mereka jarah …..

Keenam  point ini, adalah beberapa point yang akan diderita masyarakat saat mereka mengkondisikan perempuan untuk terus keluar rumah, khususnya untuk pendidikan. Bukti sudah di depan mata, seperti yang dipaparkan pada berita harian Wartakota ini, di mana angka perzinahan terus merebak di tengah kota, yang harus disadari bahwa hal tersebut hanya dipicu dan diakibatkan oleh pemberdayaan perempuan. Tidak ada untungnya memberdayakan perempuan, tidak ada untungnya mensekolahkan perempuan, dan tidak ada untungnya mempekerjakan perempuan di dunia kerja, karena keseluruhan hal tersebut merupakan perbuatan sia-sia. Bukti sudah di depan mata, dan sepanjang tahun, sepanjang kehidupan, perzinahan akan terus merebak sepanjang perempuan dikondisikan untuk keluar rumah.

Penutup.

Satu pertanyaan harus diajukan. Bagaimanakah cara untuk memberantas perzinahan dan sexbebas di tengah masyarakat? Apakah ada satu cara untuk menjauhkan generasi muda dari perbuatan asusila tersebut? Jawabannya hanya satu: dengan kuatnya tekad dan komitmen untuk mendomestikalisasi perempuan. Emansipasi Wanita dan pemberdayaan perempuan (memberi akses pendidikan setinggi-tingginya, dan akses ke dunia kerja) harus dihentikan, dan berganti arah untuk mendomestikalisasi seluruh perempuan. Hanya dengan cara itu, perzinahan dan sexbebas, dapat ditumpas sampai ke akar-akarnya.

Satu hal yang harus direnungkan adalah, bahwa tidak ada gunanya sama sekali untuk mengkondisikan perempuan untuk keluar rumah, baik untuk tujuan pendidikan maupun bekerja dan berkarir, seperti halnya laki-laki. Bukti sudah di depan mata: dengan mengkondisikan perempuan keluar rumah, hanya akan berimplikasi pada bencana zina dan sexbebas.***

Untuk lebih memahami kekuatan artikel ini, silahkan lanjut membaca artikel “Wweeeiiii…. Koyak Rok, Pamer Paha, Siswi SMU Alah Perempuan Pesanan Unggah Fhoto Ke Medsos“.

Tanggapan Islam Mengenai Wanita Karir

gedung-kantor

Gelombang Emansipasi yang ditiupkan oleh Barat pada awal abad 20 ini mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan wanita Islam. Dikemas dalam bentuk yang amat menarik, hingga mampu menyeret kaum Hawa untuk terjun ke bidang yang selama ini diisi oleh lelaki. Tak heran apabila sekarang banyak dijumpai wanita di jalan-jalan, lapangan sepak bola, berdesakan dalam bis kota, kereta api bahkan sampai luar angkasa sekalipun. Tidak ada bidang yang tidak dimasuki oleh para wanita saat ini. Ditunjukkan bahwa posisi wanita harus setara dengan lelaki bahkan kalau mungkin melebihi.

Sebenarnya mereka tidak sadar hanyut dalam kehidupan peradaban modern yang semu dan melalaikan. Sebagian besar berbangga hati dengan gerakan emansipasi wanita. disebutnya persamaan hak antara lelaki dan wanita sekarang merupakan produk serta indikator kemajuan.

Gerakan emansipasi yang dipelopori Barat menganggap bahwa pembagian manusia menjadi dua golongan laki-laki dan wanita dalam peranan sosial adalah suatu tindakan yang tidak adil.Selama ini mereka mempunyai hak dan dirampas oleh lelaki. Atau dengan kata lain bukan kodrat seorang wanita apabila harus menekuni tugas-tugas keibuan di rumah, mengasuh anak, menyusui dan membesarkan, tetapi hal itu merupakan politik bagi kaum lelaki untuk menindas wanita. Pekerjaan keibuan di rumah bukan berarti merupakan tanggung jawab wanita, bisa saja kaum lelaki yang mengerjakan. Juga pekerjaan berkarier di luar bukan semata-mata milik kaum lelaki tetapi kaum wanita juga berhak untuk mengerjakan.

Itulah awal wanita kehilangan cintanya pada rumah. Mereka berduyun-duyun memasuki tugas-tugas yang selama ini di geluti oleh pria. Hatinya telah terpaut pada instansi-instansi, kantor, pabrik, dan kertas-kertas yang tak bernyawa. Sulit membedakan tugas dan fungsi lelaki dan wanita. Rumah tak lain hanya sebagai pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Hubungan antar anggota keluarga satu dengan lain menjadi tidak hangat. Bapak sibuk mencari nafkah, demikian pula ibu pun tak mau kalah dengan alasan meningkatkan kesejateraan keluarga atau untuk mengaktialisasikan diri ke tengah masyarakat.

Akibatnya anak-anak sedari kecil hingga beranjak dewasa kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tua khususnya ibu. Para ibu akan lebih bangga apabila berhasil menjadi seorang wanita karier yang sukses ketimbang menjadi ibu rumah sukses yang mampu mendidik anak-anak dengan tuntunan akhlaq yang baik, melayani suami, serta mendorong karier suami.

Corong pertama yang menyuarakan gerakan emansipasi wanita adalah Barat kini sedang berusaha dengan giat meng’eksport’ ke negara-negara Timur Tengah atau negara-negara dengan berpenduduk mayoritas muslim. Barat menilai bahwa ajaran Islam telah ‘memperkosa’ hak-hak wanita. Islam tidak memberi kebebasan pada wanita untuk berkreasi dan berkarier di luar rumah. Ajaran Islam memasung keberadaan wanita hanya di dalam rumah. Ironisnya pemikiran-pemikiran tentang emansipasi yang dipelopori oleh gerakan feminisme sedikit banyak merasuki kalangan wanita Islam itu sendiri.

Banyak tokoh-tokoh wanita dari negara-negara muslim justru merasa terpasung dengan ajaran Islam yang dianutnya. Sehingga banyak yang melontarkan ide-ide yang ‘nyeleneh’ tentang wanita dalam ajaran islam. Bahkan ada yang jelas-jelas mengatakan bahwa Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW harus mengalami revisi sehubungan penempatan posisi wanita dalam Islam. Na’udzu billahi min dzalik. Contohnya adalah Taslima Nasreem seorang tokoh feminisme radikal yang berasal dari Bangladesh dan dianggap figur ideal bagi Barat dalam upayanya menyuarakan ide deislamisasi.

Apakah benar apa yang di suarakan Barat lewat gerakan emansipasinya? Kalau diperhatikan secara seksama, negara-negara Barat yang kerap menyuarakan gerakan emansipasi acap kali memetik buah yang pahit. Banyak isyu-isyu yang berkembang mulai dari kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang bekerja, kenakalan remaja akibat kurang kasih sayang kedua orang tua, meningkatnya angka perceraian sampai pada kecemasan menurunnya angka kelahiran yang disebabkan kecilnya angka wanita yang melahirkan. Atau dengan kata lain banyak wanita yang tidak mau repot punya anak sampai menunda usia perkawinan.

Dari laporan majalah Time disebutkan bahwa pada tahun 1950-an 9 % wanita (Amerika) berusia produktif ternyata tak memilliku seorang anakpun. Malah sekarang tahun 1980-1990-an 25 % dari wanita pekerja berlatar belakang perguruan tinggi dan berusia 35-45 tahun tidak memiliki anak. Jika saudara-saudara mereka yang lebih muda (25-35 tahun) juga tidak mau melahirkan, maka persentase wanita yang tidak mau melahirkan di Amerika luar biasa tingginya. Gerakan emanipasi bukan melahirkan suatu tatanan kehidupan yang harmonis justru yang di dapat adalah limbah yang amat kotor dan beracun.

Ternyata apa yang selama ini ditempuh oleh kebanyakan wanita di dunia dengan mengikuti arus emansipasi Barat ternyata bukan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita namun justru sebaliknya. Islam lah yang justru menenmpatkan wanita sesuai dengan porsinya, tidak menghinakan dan tidak pula mendewakan dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Wanita menurut Islam adalah makhluk yang mulia dan mempunyai tugas, fungsi dan peran menurut kodratnya. Benarkah Islam begitu menghalangi aktifitas wanita berkiprah di luar? Tidakkah ada kesempatan bagi musilimah untuk mengaktualisasikan dirinya? Islam, dien yang musyamil telah menempatkan peran muslimah dalam ummat ini.

  1. Sebagai ibu 

Sejarah tidak pernah mengenal adanya agama atau sistem yang menghargai keberadaan wanita sebagai ibu yang lebih mulia dari pada Islam. Islam menjadikan berbuat kebaikan kepada wanita termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu lebih kuat daripada hak seorang bapak. Karena beban yang dirasakan amat berat ketika hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku, hanya kepada Kulah kembalimu” (Luqman 14).

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga pulu bulanan ….” (AlAhqaf 15).

Peran muslimah amat menentukan bagi kualitas generasi muslim yang tangguh. Pada saat Rasulullah SAW ditanya siapa yang paling patut dihormati dan dimuliakan, maka Rasulullah SAW menjawab “Ibumu”. Hal itu di ulang tiga kali, sebelum akhirnya beliau menjawab “bapak”-mu. Peran ibu bagi anak tak hanya sebatas melahirkan dan mengasuhnya, tetapi lebih dari itu perkembangan iman, psikologi, intelektual, sosial dan fisik amat ditentukan oleh ibunya. Dan ini menuntut ketrampilan bagaimana menjadi ibu yang baik. Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam dengan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan mereka dari kerendahan.

  1. Sebagai isteri 

Sebagian agama dan sistem menganggap bahwa wanita sebagai barang najis atau sesuatau yang menjijikkan, sebagian yang lain mengnggap bahwa kedudukan isteri sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya dan menjadikan pelayan dalam rumah tangganya. Islam datang untuk mensyiarkan bahwa kedudukan isteri adalah pelakasanaan hak-hak suami isteri sebagai jihad di jalan Allah SWT. Islam juga menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan yang paling berharga bagi suami setelah beriman kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertakwa kepada Allah azza wa jalla yang lebih baik setelah isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya ia taat, jika dipandang ia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya ia mengiyakan, dan jika suami pergi jauh maka dia memelihara diri dan harta suaminya” (HR.Ibnu Majah). Rasulullah SAW bersabda, “Demi Rabb yang menguasai diriku, seorang wanita belum melakasanakan hak Rabbnya sebelum memenuhi hak suaminya” (HR. Ibnu Hibban). Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Andai saja aku dapat menyuruh seseorang bersujud pada manusia, niscaya aku perintahkan wanita sujud pada suaminya” (HR.At-Turmudzi). Melayani suami merupakan prioritas utama bagi seorang isteri. Tak hanya waktu yang disediakan, tapi juga kualitas pelayanan dan ketekunan yang menakjubkan.

  1. Sebagai anak 

Bangsa Arab jahiliyyah pesimis dengan kelahiran anak-anak wanita dan mereka merasa hina. Sehingga ada tradisi yang memperbolehkan seorang ayah untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut miskin dan menganggap aib di mata kaumnya. Islam datang dengan menganggap anak wanita seperti anak lelaki yaitu merupakan pemberian dan karunia Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.

Allah befirman:

“Kepunyaan Allah kerajaan di langit dan bumi. Dia menciptakan apa saja yang ia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki danperempuan (kepada yang Dia kehendaki), dan Dia menjadikan mandul kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia MAha Menegetahui lagi Maha Kuasa” (Asy-Syuara:49-50).

  1. Berperan dalam masyarakat.

Tersebar di kalangan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam bahwa Islam telah memenjarakan wanita dalam rumah tidak boleh keluar. Apakah demikan ajaran Islam? Tidak… sama sekali tidak, karena Alquran   sebagai sandaran utama muslim menjadikan laki-laki dan wanita partner dan memiliki tanggung-jawab yang terbesar dalam kehidupan, yaitu beramar ma’ruf dan nahi munkar. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya….” (At Taubah 71).

Apabila kita mempelajari shiroh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, banyak ditemui kiprah shahabiyah dalam dakwah dan memajukan Islam. Seperti Ummu Athiyah sebagai perawat dalam peperangan Rasulullah SAW, Ummu “Imarah pernah teruji dalam perang Uhud dan pada waktu peperangan dengan Musailammah AlKadzhab ia kembali dengan sepuluh luka di tubuhnya.

Jika di suatu masa wanita telah terkungkung jauh dari ilmu pengetahuan dan dijauhkan dari kancah kehidupan, dibiarkan terus menerus tinggal di dalam rumah, tidak diberi kesempatan untuk belajar, maka dasarnya adalah kebodohan serta penyimpangan dari petunjuk Islam. Sesungguhnya tabiat Islam adalah tawazzun dan adil dalam segala aturannya serta segala seruannya, berupa hukum-hukum dan tata cara kehidupan. Islam tidak membesar-besarkan sesuatu dan tidak berlebihan terhadap yang lain. Oleh karena itu Islam tidak memanjakan wanita dan tidak memperturutkan keinginan-keeinginan wanita lebih di atas risalahnya. Sikap Islam terhadap wanita adalah:

  1. Islam memelihara tabiat kodrati wanita yang telah diciptakan Allah SWT. Islam memelihara wanita dari cengkeraman orang-orang yang buas dan menginginkan secara haram. Memelihara wanita untuk dijadikan alat pengeruk keuntungan yang haram.
  2. Islam menghormati tugas wanita yang mulia sesuai dengan fitrahnya. Diberikan kelebihan wanita daripada pria dalam perasaannya, yaitu rasa kasih sayangnya untuk menunaikan risalah keibuan.
  3. Islam mengangap bahwa rumah sebagai kerajaan besar bagi wanita. Di sini wanita sebagai pengelolanya, ia sebagai isteri bagi suaminya, partner hidup, pelipur lara dan ibu bagi anak-anaknya. Sesungguhnya setiap aliran yang ingin mencabut wanita dari kerajaannya atas nama kebebasan dan lain sebagainya, sebenarnya merupakan musuh bagi waita yang merampas segala sesuatu yang ada padanya. Islam ingin membangun keluarga yang bahagia merupakan azas masyarakat yang bahagia pula. Keutuhan rumahtangga ditentukan dari kepercayaan antara suami dan isteri, bukan atas keraguan.
  4. Islam mengizinkan wanita untuk bekerja di luar rumah sepanjang pekerjaan yang dilakukan sesuai tabiatnya, spesialisasinya dan kemampuannya serta tidak menghilangkan naluri kewanitannya. Maka kerjanya diperbolehkan selama dalam batas-batas dan persyaratan yang ada. Terutama jika keluarganya atau dia sendiri membutuhkan bekerja di luar rumah atau masyarakat memerlukan kerja khusus.

Sebenarnya tugas wanita yang pertama dan utama dan tidak ada pertentangan di dalamnya adalah mendidik generasi yang telah di persiapkan oleh Allah SWT. Tetapi bukan berarti profesi di luar rumah diharamkan, karena kadang masyarakat sendiri menuntut kiprah wanita dalam rangka memajukan ummat ini. Apabila memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu:

  1. Pekerjaanya itu halal dan bukan pekerjaan yang haram, atau secara pasti mendukung tersebarnya sesuatu yang haram. Seperti bekerja sebagai sekertaris yang mengharuskan berkhalwat dengan direkturnya, penari yang mengundang syahwat, menjual barang haram seperti bir walaupun tidak ikut meminumnya,
  2. Pekerjaan itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaan.
  3. Memenuhi adab wanita muslim ketika keluar rumah. Seperti dalam berpakaian harus menutup seluruh auratnya, menghindari khalwah (berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya), berbicara tidak berlebihan, menghindari ikhtilath (Perbauran antara wanita dan pria), selalu menjaga pandangan (tawadhu’) dan melakukan gerak-gerik yang dapat menimbulkan syahwat lelaki.
  4. Tetap menjaga hukum-hukum Islam sedapat mungkin dan berhati-hati agar tidak terjerembab pada jebakan-jebakan syaiton
  5. Penebar dan penyebar nilai-nilai Islam.

Yang dituntut oleh masyarakat Islami adalah mengatur segala persoalan dan mempersiapkan sarana sehingga wanita dapat bekerja apabila membawa kemaslahatan bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya tanpa menghilangkan rasa malu atau bertentangan dengan kewajiban terhadap Rabbnya, dirinya, dan rumahnya.

Sumber,

http://moulizieenoval.blogspot.co.id/2014/01/tanggapan-islam-mengenai-wanita-karir.html?m=1

 

Fokus Urus Anak Dan Suami

fokus rumahtanggaSejak menikah dengan Ferry Indrayudha medio Pebruari 2010, pesinetron dan bintang film Virnie Ismail (36) memutuskan untuk fokus mengurusi suami. Dia pun enggan kembali ke industri televisi dan film setelah mempunyai anak.

“Saya memprioritaskan anak. Keluarga nomor satu sekarang”, kata Virnie di sela pemutaran perdana film The Wedding Dan Bebek Betutu di bioskop XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/10).

Film itu menjadi ajang reunian Virnie bersama teman-teman di sitkom Extravaganza (EV). Sitkom tayangan Transtv ini pernah populer medio 2014. Setelah lebih dari 10 tahun berpisah, Virnie berkumpul kembali bersama para pemain EV lainnya dalam film.

Bermain dalam The Wedding Dan Bebek Betutu awal tahun ini, menurut Virnie karena waktu syutingnya sebentar. “Saya hanya syuting satu hari di film ini”, ujarnya.

Setelah berkeluarga, Virnie memang ‘menghilang’ dari panggung akting. “Saya gak ngoyo lagi sama karier. Saya gak mau melewatkan golden moment bersama anak-anak”, ujar perempuan Yang pernah berakting film Koper.

Wartakota, Jumat 9 Oktober 2015.

ANNISANATIONAnnisanation – artikel ini sudah benar di dalam hal menjalani kehidupan ini, yaitu adanya seorang perempuan sekaligus istri yang akhirnya memilih untuk mundur dari dunia karir demi fokus untuk membenahi keluarganya,khususnya mengasuh anak-anaknya. Sama diketahui bahwa tugas dan kodrat setiap perempuan adalah domestik, yaitu berteguh tinggal di dalam rumahnya, khususnya untuk mengasuh anak-anaknya. Nafkah setiap anggota keluarga sudah menjadi tanggungan para lelaki, khususnya suami maupun ayah. Oleh karena itu setiap perempuan tidak mempunyai urgensi apa pun untuk bekerja mencari uang. Terlebih kalau mencari uangnya itu sampai harus mengorbankan tugas, tanggungjawab dan kodratnya sebagai perempuan, istri dan ibu.

Sama sekali tidak dibenarkan bagi perempuan mana pun untuk bekerja mencari uang dan karir di luar rumah, selain dilarang di dalam Islam, pun juga hal tersebut tidak mempunyai landasan logika dan falsafah yang jelas. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikelnya di sini, “Isteri Diperintahkan Untuk Tinggal Di Rumah Dan Mengurus Rumah Tangga Dengan Baik”.

Semoga keputusan dan pilihan yang dibuat oleh artis atas nama Virnie Ismail ini (yaitu berhenti dari karir dan memilih fokus untuk mengurus keluarganya) menjadi inspirasi segar bagi seluruh umat Muslim khususnya kaum Muslimah, bahwa apa yang dilakukan oleh Virnie Ismail ini sudah sangat sesuai dengan ajaran Islam.

Wallahu a’lam bishawab.

Selingkuh Terbuat Dari Apa

selingkuhIslam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti setiap wanita haruslah berteguh tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuh buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, atau sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir, apa pun alasannya.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya?

Di luar itu, terdapat satu masalah yang cukup pelik di dalam hidup berumah-tangga, yaitu isu selingkuh, yang kerap menyerang keharmonisan rumahtangga. Umumnya selingkuh terjadi pada lingkungan kantor atau tempat kerja lainnya, di mana suami mempunyai selingkuhan seorang wanita yang sesama karyawan di kantor.

Ketika di rumah seorang suami tampak penyayang kepada istri dan anak-anaknya. Namun siapa sangka ternyata sang suami menyimpan wanita lain rapat-rapat di dalam hatinya, dan jelaslah istri tidak pernah mengetahuinya. Yang istri ketahui adalah bahwa suaminya merupakan suami yang jujur dan tidak pernah menghianati cinta sang istri.

Timbul pertanyaan: mengapa sampai terjadi perselingkuhan? Dan apakah setiap perselingkuhan itu merupakan hal baik, khususnya untuk jaman sekarang ini?

Jawabannya adalah satu hal: perselingkuhan terjadi – dan hanya terjadi, karena masyarakat modern dewasa ini mengadopsi faham Emansipasi Wanita (EW), di mana wanita diberi hak dan akses untuk bekerja sehingga sejajar dengan kaum pria di tempat kerja.

Ini artinya, ketika seluruh / banyak perempuan bekerja di tempat kerja, maka akan terjadilah perbauran gaul antara pria dan perempuan, atau dengan kata lain, akan ada banyak perempuan yang setiap hari terpapar pria asing, dan bisa jadi pria asing tersebut adalah pria beristri. Dari perbauran gaul inilah, benih dan bibit cinta kerap bersemi antara seorang karyawan perempuan dengan karyawan pria, dan bisa jadi pria tersebut adalah pria yang telah beristri. Itulah perselingkuhan.

Parahnya lagi, kerap terjadi di mana perselingkuhan ini sampai melampaui batas kewajaran di dalam hal bergaul, seumpama sampai tidur bersama di hotel (berzina), atau piknik bersama ke pantai berdua-duaan dengan suami orang, dsb. Intinya, selingkuh terjadi hanya karena setiap pria di tempat kerja, DAPAT MENEMUI wanita mana pun secara bebas dan terbuka; dan wanita tersebut pastilah sesama karyawan di tempat kerja.

Ingatlah, bahwa biar bagaimana pun setiap karyawan pria itu adalah seorang pria yang sehat, waras dan masih muda. Apakah mungkin setiap karyawan pria dapat diharapkan untuk memejamkan mata ketika bertemu dengan perempuan-perempuan yang cantik dan penuh cinta? Jawabannya tentulah tidak. Sangat sulit untuk mendapatkan seorang (karyawan) pria yang dapat menolak cinta seorang karyawan perempuan di tempat kerjanya. Maka terjadilah selingkuh yang terkadang berakhir dengan tindak perzinahan.

Pembicaraan pun beralih menuju hal berikutnya: mengapakah perempuan harus bekerja, yang mana itu mengakibatkan perempuan berbaur gaul dengan karyawan pria di tempat kerja? Bukankah perempuan-bekerja hanya membuat perempuan-perempuan tersebut berbaur dengan kaum pria di tempat kerja secara intens dan permanen? Haruslah difahami bahwa dengan bertemunya karyawan perempuan dengan karyawan pria di tempat kerja, merupakan pemicu tunggal atas terjadinya selingkuh, lain tidak.

Oleh karena itu, kalau terjadi suami selingkuh, bahkan selingkuh tersebut berujung pada tindakan zina, maka kelompok pertama dan satu-satunya yang harus dipersalahkan adalah kaum perempuan sendiri, yaitu mengapa mereka bekerja dan berkarir? Bukankah bekerja dan berkarir membuat mereka menjadi berbaur gaul dengan kaum pria di tempat kerja?

Suatu prasangka menyatakan, bahwa kalau suami berselingkuh di kantor, maka suami-lah yang harus dipersalahkan, karena hal itu membuktikan bahwa sang suami tidak lagi setia kepada anak-anak dan rumahtangganya sendiri. Ingatlah, bahwa hal pertama yang harus dicermati adalah, bahwa setiap suami adalah pria yang sehat dan waras. Dan kemudian yang harus dipertanyakan adalah, mengapa bisa sampai ada pekerja perempuan di tempat kerja sehingga bercampur-gaul dengan pria-pria di tempat kerja? Apakah kaum perempuan mutlak harus bekerja mencari uang seperti halnya kaum pria? Apakah kaum perempuan akan mati kelaparan kalau tidak bekerja mencari karir? Bukankah rejeki dan nafkah seluruh perempuan sudah dijamin oleh suami / ayah mereka?

Daripada mempersalahkan pihak suami / laki-laki atas terjadinya perselingkuhan, maka adalah lebih tepat untuk mempersalahkan kaum perempuan dengan program emansipasi mereka atas terjadinya perselingkuhan, karena program itulah yang menghantarkan banyak perempuan ke domain laki-laki, yaitu tempat kerja. Maka terjadilah perselingkuhan. Pepatah menyatakan, kalau tidak ingin dilamun ombak maka jangan berumah di tepi pantai.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun hal / alasan yang membuat perempuan harus bekerja mencari uang / nafkah. Intinya, nafkah dan kebutuhan setiap perempuan, secara alami sudah ditanggung oleh keluarga laki-laki mereka (suami, ayah, abang dsb). Oleh karena itu kalau nafkah kaum perempuan sudah dijamin oleh keluarga laki-laki, maka mengapa perempuan-perempuan masih harus bekerja?

Banyak perempuan (dan juga kaum pria yang mendukung faham Emansipasi Wanita) sama sekali tidak mempertimbangkan dasar kehidupan, yaitu bahwa nafkah mereka sudah dijamin oleh keluarga. Akibatnya banyak perempuan yang terjerumus kepada faham bahwa mereka ingin bekerja (juga) sebagaimana halnya kaum pria, agar dapat memperoleh gaji, uang, karir, jabatan dsb. Dan pada ujung yang lain, bekerjanya perempuan memicu terjadinya perselingkuhan, karena kalau perempuan bekerja, maka ini berarti perempuan akan bercampur gaul dengan kaum pria secara leluasa di tempat kerja.

Kalau di dunia ini seluruh perempuan tidak bekerja dan tidak terjerumus kepada faham Emansipasi Wanita (EW), maka dapat dipastikan tidak pernah terjadi perselingkuhan, karena di tempat kerja kaum pria tidak pernah menemui satu perempuan pun, karena yang ada di tempat kerja hanyalah melulu kaum pria. Pria ketemua pria, mana mungkin terjadi perselingkuhan? Maka amanlah setiap rumahtangga dari perselingkuhan.

Ironis sekali, bahwa ketika seluruh perempuan begitu membenci perselingkuhan, namun ketika itu juga seluruh perempuan berjuang untuk emansipasi wanita yang membuat banyak perempuan berbaur dengan kaum pria di tempat kerja, hal mana itu mengakibatkan berseminya benih-benih perselingkuhan. Artinya, kalaulah seluruh perempuan tidak menginginkan adanya perselingkuhan yang menyerang suami-suami mereka, maka pada saat yang sama mereka seharusnya menuntut agar emansipasi wanita dipadamkan, karena hanya emansipasi perempuan lah yang mensemikan benih-benih perselingkuhan, lain tidak.

Mereka menginginkan api, namun mereka tidak menginginkan ada asap. Bagaimana mungkin? Kalau mereka tidak menginginkan ada asap, maka janganlah mereka menyalahkan api. Mereka menginginkan seluruh perempuan sukses dengan emansipasi mereka, yaitu mempunyai karir dan jabatan sebagaimana halnya kaum pria. Namun kemudian mereka tidak menginginkan adanya perselingkuhan para suami di tempat kerja. Bagaimana mungkin? Tidak ada laki-laki yang dapat dipercaya, pun tidak ada perempuan yang dapat dipercaya, kalau mereka semua saling baur dan saling jumpa di luar rumah, di tempat kerja, di tempat di mana seluruh wanita mengembangkan emansipasi mereka.

Fakta hanya memperlihatkan bahwa setiap laki-laki maupun perempuan memang tidak dapat dipercaya, maka terdengarlah kasus selingkuh di mana-mana. Dan itu hanya menjelaskan betapa perempuan-bekerja (emansipasi perempuan) merupakan satu-satunya pemicu dan penyebab terjadinya selingkuh.

Islam mensyariatkan bahwa tempat hidup (lebensraum) perempuan adalah di rumahnya, bukan bekerja, bukan mencari nafkah, dan bukan juga mencari karir serta jabatan, sebagaimana halnya kaum lelaki. Alquran dan Alhadis sudah menegaskan bahwa terdapat perbedaan antara pria dan perempuan, tidak mungkin sama dan disama-samakan. Kalau perempuan teguh tinggal di rumahnya, sementara seluruh pria teguh berada di tempat kerjanya sepanjang siang, maka mustahil terjadi perselingkuhan.

Syariah Islam menghendaki terciptanya ketertiban dan kedisiplinan di dalam hidup, dan ketertiban tersebut adalah, bahwa harus terjadi pemisahan / segregation antara pria dan wanita pada sepanjang siang, di mana setiap laki-laki berada di tempat kerja mereka, sementara setiap perempuan teguh berada di dalam rumah; dan masing-masing mereka menjalankan kodrat mereka: kodrat pria adalah bekerja mencari nafkah, dan kodrat perempuan adalah domestik untuk menyelesaikan tugas rumahtangga. Dengan terciptanya pemisahan / segregation ini, maka telah dimustahilkan terjadinya perzinahan maupun perselingkuhan.

Syariah Islam menghendaki, bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh saling bertemu di tempat mana pun, kecuali tempat tersebut adalah bingkai rumahtangga: di tempat tersebutlah seorang pria dewasa dan wanita dewasa saling bertemu, yaitu pertemuan yang halal dan diridhai Allah Swt: rumahtangga dan pernikahan.

Sudah jelas apa yang akan terjadi kalau syariah dilanggar, yaitu kesia-siaan; di dalam hal ini adalah perselingkuhan, bahkan juga berzinahan, karena umat melalui program emansipasi wanita telah memungkinkan terjadinya saling jumpa / pertemuan antara pria dan wanita secara bebas di luar bingkai rumahtangga, dan tempat tersebut adalah bekerja.

Kalau seluruh umat, seluruh perempuan tidak menginginkan adanya selingkuh, maka satu-satunya cara adalah menghentikan dan memadamkan gerakan emansipasi perempuan, dan mengembalikan seluruh perempuan kepada kodratnya, yaitu kodrat domestik. Teguhkanlah seluruh perempuan dengan kodrat domestik mereka, yaitu tetap tinggal di dalam rumah mereka, supaya tidak terjadi perbauran gaul antara pria dan perempuan di tempat kerja.

Wallahu A’lam bishawab.