Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang Bag02

 

marah-ini-orang_20150706_103704Ketiga.

Perempuan yang bekerja, yang marah ketika melihat uang yang mereka hasilkan dihambur-hamburkan / digunakan di luar keinginannya, kerap berkata yang pada intinya seperti ini ……,

“ …… Apakah kalian tidak mengerti susahnya cari uang? Apakah kangmas tidak mengerti susahnya cari uang seharian banting tulang dimarahi atasan -tugas menumpuk -bawahan pada bawel -pulang pergi jalanan macet ….”.

Kalau perempuan itu benar-benar faham betapa susahnya cari uang, maka bukankah lebih baik baginya untuk berhenti dan tidak bekerja lagi? Ia sudah faham bahwa kerja mencari uang benar-benar sulit, lantas mengapa ia masih juga bekerja? Faktanya ia masih juga bekerja, namun mengapa kemudian ia komplain mengenai betapa susahnya kerja cari uang? Bukankah tidak ada yang memaksanya untuk bekerja mencari uang? Bukankah ia bekerja seutuh-nya atas dasar inisiatif dan ideologinya saja?

Suaminya adalah pria yang bekerja dan mempunyai penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga sebenarnya sang istri tidak perlu bekerja mencari uang. Bukankah hal tersebut bisa menjadi alasan bagi sang istri untuk menjadi iburumahtangga biasa dan tidak bekerja? Namun faktanya sang istri tetap kukuh ingin bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Dan namun tiba-tiba ia begitu marah ketika melihat bahwa uang yang ia hasilkan diperguna-kan tidak menurut keinginannya, sampai ia mengeluarkan adagium-adagium seperti di atas, seolah keluarganya tidak faham betapa susah-nya banting tulang kerja seharian cari duit. Ada apa dengan perem-puan?

Pertama, suaminya bekerja, yang penghasilannya cukup untuk kebutuhan keluarga. Kedua, dengan demikian sang istri sebenarnya tidak perlu bekerja mencari uang. Ketiga, pun sang istri kukuh tetap ingin bekerja, dan itu atas dasar keinginannya sendiri. Dan aneh, ketika ia melihat bahwa uang yang ia hasilkan digunakan tidak menurut perintahnya, tiba-tiba ia marah sehingga ia mengeluarkan adagium-adagium mengenai susahnya bekerja mencari uang. Bukankah fikiran perempuan memang sulit untuk dimengerti?

Mungkin jadi lain ceritanya kalau sang suami tidak bekerja alias penganggu-ran, mungkin karena pekerjaan susah didapat, atau sang suami dipecat dari tempatnya bekerja, sehingga sang istri-lah yang kemudian harus bekerja cari duit menggantikan suami sebagai pencari nafkah.

Penting untuk difahami, mengapa bisa terjadi seorang pria susah mendapat pekerjaan? Faktanya di dalam kehidupan ini banyak dijumpai sarjana mumpuni yang menganggur. Pengangguran menjadi masalah pelik yang dihadapi banyak negara, dan itu HANYA TERJADI pada alam Emansipasi Wanita. Jadi, sejak tercetusnya Emansipasi Wanita, masalah pengangguran (di kalangan pria) pecah di banyak negara, dan pada sisi lain pengangguran itu pun juga mencetus banyak kriminalitas lainnya. Mengapa hal tersebut tidak pernah menjadi pertanyaan bagi publik?

Kembali ke masalah. Sang istri ngomel-ngomel kepada suaminya yang pengangguran, lantaran sang suami menggunakan gaji sang istri tidak menurut rencana sang istri, sehingga sang istri memarahi suami sedemikian rupa, dan sampai mengeluarkan adagium-adagium mengenai susahnya kerja cari uang. Satu hal harus diperhatikan, mengapa bisa terjadi sang suami menjadi pengangguran?

Berarti ada satu masalah, yaitu suaminya adalah pria pengangguran, yang tidak bisa menghasilkan nafkah untuk keluarganya. Dan kemudian, apakah yang menjadi pangkal dari masalah itu sendiri? Apakah masalah suami menganggur datang begitu saja dengan sendirinya?

Jawabannya justru terletak pada sang istri yang terus-terusan mengomel pada suami. Sang istri adalah seorang perempuan, yang bekerja mencari uang, karir dan jabatan. Harap diperhatikan dengan baik, penyebab mengapa banyak laki-laki yang menganggur, adalah justru karena perempuan melakukan INFILTRASI ke dunia kerja, hal tersebut mengakibatkan banyak laki-laki yang terdepak dari dunia kerja, lantaran setiap pangker (lapangan kerja) sudah keburu direbut dan DIRAMPAS perempuan, melalui apa yang dinamakan Emansipasi Wanita.

Dunia kerja, atau pangker, adalah dunia tempat para lelaki bekerja mencari nafkah, dan nafkah itu adalah untuk keluarganya juga. Sementara itu, tempat dan lebensraum perempuan adalah di rumah, karena perempuan adalah mahluk domestik; di rumah itu kaum perempuan menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka.

Namun karena kecanggihan teknologi (yang mana kecanggihan teknologi tersebut adalah hasil jerih-payah para lelaki juga untuk memudahkan kehidupan), perempuan menjadi terperdaya, keseleo, dan over-acting, yang wujudnya adalah menuntut persamaan hak untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan. Akibat lurus dari kisah pahit ini adalah, perempuan merangsek masuk ke dunia kerja, dan akibatnya TERCAMPAKNYA kaum laki-laki dari pangker, karena pangker telah banyak DISEROBOT kaum perempuan. Maka menjadilah kaum pria pengangguran, tidak bekerja, dan tidak mempunyai penghasilan. Itulah Emansipasi Wanita!

Dengan kata lain, kalau sejak awal tidak ada Emansipasi Wanita, dan kalau sejak awal kaum perempuan tidak over-acting sehingga menuntut persamaan akses ke dunia kerja, maka dipastikan tidak akan ada satu pun pria yang menganggur.

Kembali ke masalah ….. kalau kaum perempuan TIDAK DIBERI hak dan akses kepada dunia kerja (alias Emansipasi Wanita), maka ….

  • Tidak ada satu pun pria dan suami yang menganggur di dunia ini, karena mereka pasti beroleh kerja: karena pangker tidak pernah DISEROBOT DAN DIRAMPAS kaum perempuan. Itu sudah jaminan.
  • Dan tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, melainkan tetap tinggal di rumahnya sebagai istri dan Bunda Rumah Tangga (BRT).
  • Dan kalau perempuan tidak bekerja (melainkan menjadi BRT belaka), maka tetaplah mereka menjadi jiwa-jiwa lembut yang manut dan patuh kepada ayah dan suami, dan pada giliriannya maka mustahil mereka menjadi galak dan bengis kepada suami, mustahil!
  • Dan akhirnya, tidak akan pernah terjadi fenomena SUTARI alias Suami Takut Istri.

Singkat kata, kalau tidak ada perempuan yang bekerja, maka tidak akan ada pria / suami yang menganggur. Dan kalau tidak ada Emansipasi Wanita, maka tidak akan ada perempuan yang bekerja, yang berakibat pada tabiat suka memarahi suaminya yang pengangguran ….. Itu juga jelas!!

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang-01

Kembali ke masalah istri tadi yang mendominasi dan memarahi suaminya, yang mana suaminya adalah pria pengangguran. Mengapa ia harus marah dan memarahi sang suaminya yang pengangguran, sampai-sampai ia mengeluar-kan adagium mengenai betapa susahnya cari duit? Bukankah seluruh masalah tersebut justru sebenarnya berasal dari dirinya sendiri?

Pertama, ia sebagai perempuan dan istri yang bekerja dan mempunyai penghasilan uang. Bukankah posisi demikian membuatnya menjadi begitu liar dan ganas di dalam keluarganya sendiri? Bekerja telah membuat mental perempuan menjadi begitu kasar dan bengis, kritis dan curam. Tidak jarang posisi, jabatan dan gaji yang dimiliki perempuan membuatnya mudah tersulut emosi, terkhusus kalau uang yang ia peroleh dari kerjanya ternyata digunakan tidak menurut rencananya. Atau, apakah mungkin sang suami untuk selamanya tunduk kepada amarah sang istri? Tentu hal tersebut sangat tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal.

Kalau sang istri tetaplah seorang Bunda rumahtangga, maka tidak mungkin ia menjadi pribadi yang bengis dan kritis terhadap suaminya, apalagi mendominasi sang suami lewat aneka kemarahan dan nada bicara tinggi. Jadi, mengapa tercetus seorang istri yang gigih memarahi sang suami? Tidak lain karena ia merupakan pribadi yang bekerja dan menguasai gaji, pun di kantor ia dikondisikan sebagai superior. Nah apakah mungkin ia sebagai istri akan tetap manut dan takut kepada suaminya di rumah?

Kedua, masalah suami yang merupakan pria pengangguran. Apa sebabnya sehingga suaminya dan banyak pria lain menjadi pengangguran? Tidak lain adalah karena AKSES DAN INFLITRASI sang istri dan perempuan lain ke dunia kerja, yang mana tentu saja membuat kesempatan kerja bagi pria TER-ELIMINASI. Intinya, kalau tidak ada satu pun perempuan yang masuk ke dunia kerja, maka mengapa masih ada pria pengangguran? Kalau tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, maka pasti seluruh pria akan memperoleh pekerjaan, sehingga tidak akan ada satu pun pria yang menganggur.

Publik selalu menghayalkan suatu utopia, bahwa pangker (lapangan kerja) selamanya akan melimpah, sehingga seberapa pun banyaknya kaum perem-puan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak akan meng-eliminasi kesempatan dan hak kaum pria untuk bekerja. Itulah utopia dan hayalan publik. Namun mana fakta dan buktinya? Bukankah pengangguran di kalangan pria mewabah di seluruh dunia? Dan bukankah terjadi paralelitas antara perempuan yang bekerja dengan pecahnya isu pengangguran di kalangan pria? Tidak, jumlah pangker di dalam kehidupan ini sangatlah ter-batas, tidak semelimpah yang dihayalkan publik. Untuk itulah ide perem-puan bekerja merupakan satu-satunya alasan mengapa banyak pria mengang-gur, otomatis perempuan bekerja adalah suatu tirani yang mengerikan.

Jadi, isu pria pengangguran, sebenarnya dosa dan kesalahan siapa? Tidak lain adalah dosanya kaum perempuan, yang begitu lancangnya merampas dan menyerobot pangker, yang mana hal tersebut membuat banyak kaum pria terdepak dari pangker, maka jadilah mereka pengangguran. Karena dosa siapa tercetusnya pengangguran di kalangan pria atau suami? Jawabannya adalah karena dosa Emansipasi Wanita.

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang-02

Si istri tadi, harus faham bahwa kemarahannya selama ini kepada suaminya yang pengangguran, adalah karena kesalahan sendiri, yaitu karena ia merebut pangker dari kalangan pria, sehingga pada satu sisinya membuat suaminya menganggur. Ia sendiri yang memantik api, dan justru dia sendiri yang terbakar oleh api itu.

Penutup.

Di bawah ini terdapat beberapa lembaga berwibawa di dalam kehidupan ini,

  • Akal sehat dan kewarasan.
  • Hukum Alam.
  • Hukum fitrah dan nurani.
  • Petuah dan ajaran orang tua-tua.
  • Agama, agama mana saja: Islam, Kristen, Yahudi dsb …

Kesemua lembaga tersebut mengajarkan dan menghendaki, bahwa seluruh perempuan haruslah tetap tinggal di rumah, supaya berteguh diam di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik. Kesemua lembaga berwibawa tersebut mengajarkan bahwa tugas dan kodrat perempuan adalah tinggal di rumah, membesarkan anak-anak dan berbakti kepada suami, bukannya keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kesemua lembaga tersebut sejak awal mengajarkan, bahwa perempuan tidak boleh bekerja, perempuan tidak boleh mendapat pember-dayaan, dan bahwa perempuan harus dipingit di dalam rumah. Terdapat bahaya dan kekejian kalau perempuan keluar rumah, karena dunia luar rumah bukanlah ditujukan kepada kaum perempuan, melainkan ditujukan kepada kaum pria, dan sementara itu kaum perempuan hanya fokus tinggal di dalam rumah.

Namun dikarenakan teknologi (yang mana teknologi tersebut tidak lain adalah hasil jerih-payah kaum pria juga) yang memudahkan segala urusan, perempuan menjadi kehilangan arah, perempuan menjadi terpedaya, mabuk kepayang, dan menjadilah mereka gigih memajukan gigi-gigi mereka untuk menuntut Emansipasi Wanita yang berujung pada penghasilan uang dan gaji, dan berakhir pada khayalan bahwa kaum pria wabil khusus para suami, harus tunduk dan patuh serta tidak melawan kepada para istri, karena sumber uang dan nafkah keluarga ada di tangan mereka ….

Mereka para perempuan dan istri yang ber-emansipasi tidak lagi berpatokan kepada nurani insani, bahwa tidak sepantasnya seorang pria tunduk dan patuh kepada perempuan, karena justru perempuanlah yang harus tunduk dan tidak melawan kepada pria dan suaminya. Kebalikannya, perempuan yang ber-emansipasi hanya ingin berpatokan kepada, bahwa perempuan / istri adalah sumber nafkah keluarga, oleh karena itu suami harus manut dan tidak melawan kepada istrinya. Perempuan sudah terpedaya oleh gaji dan jabatan, sehingga khayalan mereka begitu berani melawan nurani insani ….. bahkan berani melawan dan memarahi para lelaki wabil khusus suami mereka sendiri ….

Islam mengajarkan bahwa tempat perempuan adalah di rumah, dan dengan demikian Islam mengajarkan bahwa Emansipasi Wanita adalah suatu dosa dan kekejian. Fenomena yang menggejala di tengah masyarakat telah membuktikan kekejian Emansipasi Wanita, dan membuktikan bahwa perempuan bekerja telah menjungkirbalikkan ruh kaum perempuan ….

Tidak bisa ditawar-tawar lagi, Emansipasi Wanita harus segera dipadamkan, harus segera ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena pada segala aspeknya faham ini menimbulkan bahaya, chaos dan kekejian yang mengerikan. Benarlah Islam dengan seluruh ajarannya mengenai perempuan dan perannya secara domestik ….

Wallahu a’lam bishawab.

Kembali ke Bagian 01.

Advertisements

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang Bag01

rupa-rupa.marah-709

Perempuan yang bekerja mencari uang (karir dan jabatan), tentulah mau tidak mau harus terlibat di dalam hal penggunaan uangnya di lingkup rumah-tangganya, khususnya di dalam hubungannya dengan anak-anaknya, suaminya dan juga keluarganya. Dan karena si perempuan itu yang mencari uang, maka tampaknya penggunaan uang tersebut di tengah keluarga haruslah menurut kehendak si perempuan tersebut. Artinya, anak dan suaminyalah yang harus taat dan tunduk kepada si perempuan tersebut di dalam cara penggunaan uang.

Ringkasnya, sang suami harus tunduk pada istrinya di dalam hal bagaimana uang tersebut digunakan, karena uang tersebut merupakan hasil pencarian sang istri. Sekali lagi, sang suami harus tunduk kepada sang istri di dalam hal bagaimana uang tersebut dibelanjakan.

Bagaimana kalau sang anak, dan atau juga sang suami, ternyata menghabiskan / menggunakan uang tersebut di dalam cara yang tidak direncanakan sang istri? Bagaimana kalau ternyata untuk suatu alasan uang tersebut habis tiba-tiba? Tentulah sang istri akan marah-marah, ngamuk, ngedumel, ngomel-ngomel tidak karuan ….. dsb. Untuk sekedar dicatat di sini, sang istri pasti ngomel-ngomelnya kepada sang suami, marah-marahnya kepada sang suami. Kalau marah kepada sang anak lantaran penggunaan uang yang tidak sesuai rencana, mungkin masih bisa dibenarkan: marah kepada anak masih dapat dikatakan pantas dan wajar. Namun kalau sang istri marah-marah kepada sang suami?

Sang istri akan marah-marah kepada suami, memarahi sang suami tidak karuan, dan tentulah dari mulut sang istri akan keluar kata-kata yang tidak pantas …. Pada intinya, sang istri akan berkata,

“……… Mamah kerja banting tulang cari uang, ternyata uang itu tidak dihargai dihambur-hamburkan seenaknya saja, seolah uang boleh petik di pohon sepanjang jalan …. Apakah kalian tidak mengerti susahnya cari uang? Apakah kangmas tidak mengerti susahnya cari uang seharian banting tulang dimarahi atasan -tugas menumpuk -bawahan pada bawel -pulang pergi jalanan macet ….eh sekarang uang tersebut dibuang-buang kangmas dan anak-anak seperti tidak ada harganya saja …… Apa gak bisa kangmas sedikit saja menghargai mamah yang sudah capek kerja seharian cari uang di kantor?”.

Mari kita bahas ………..

Potongan cerita di atas, tentulah bukan isapan jempol belaka, pastilah cerita tersebut merupakan cermin dan fakta kehidupan sehari-hari yang dilalui rumahtangga yang istrinya bekerja mencari uang (karir dan jabatan). Tidak semua rumahtangga berakhir dengan cerita seperti itu, tentunya. Namun pastilah cerita tersebut sudah akrab bagi masyarakat mana saja, yang menganut Emansipasi Wanita, di mana perempuan dan istri diberi akses seluas-luasnya untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Pertama.

Sang istri …….,

  • karena bekerja mencari uang (karir dan jabatan),
  • pun karena (merasa) mempunyai posisi formal dan juga otoritas di kantornya,
  • terlebih karena merasa dirinya adalah sumber nafkah keluarga ……,

…… tiba-tiba berubah menjadi sosok yang merasa mempunyai hak untuk memarahi dan memaki-maki sang suami –untuk alasan apa pun. Tidak sampai di situ, justru sang istri menuntut sang suami untuk tunduk kepada sang istri, manut kepada sang istri, tidak melawan kepada istri, dan merasa sudah sepantasnya sang suami manut serta tidak melawan kepada sang istri (kalau dimarahi), karena sang istri bukanlah perempuan sembarangan (bukan ibu rumahtangga thok), melainkan perempuan pejabat formal di kantor, yang mempunyai penghasilan uang untuk nafkah, dsb.

Secara sempit, pastilah sang istri, perempuan yang bekerja mencari dan mempunyai gaji dan jabatan formal itu, mau-tidak-mau akan merasa bahwa dirinya harus dihormati dan dipatuhi, dan di dalam lingkup rumahtangga-nya, sang suamilah yang harus tunduk dan patuh kepada sang istri, karena istrilah yang bekerja dan cari duit. Itu memang sudah logikanya.

Logikanya, dia (siapa saja) yang bekerja dan yang mempunyai uang, maka dialah yang merasa yang harus dipatuhi dan dituruti, dan kalau tidak, kemarahanlah yang akan terjadi. Logikanya, itu uang adalah uang dia, dia yang cari, dia yang kerja, maka dialah yang mengatur bagaimana cara uang tersebut dibelanjakan. Jadi, dia-lah yang mengatur segala-galanya, termasuk yang mengatur suami, karena sumber uang dia yang pegang. Ini artinya: sumber konflik ….. kalau uang tersebut digunakan di luar rencana yang mencari uang, maka pastilah kemarahan yang terjadi, tidak perduli bahwa yang menjadi sasaran kemarahan adalah suaminya sendiri, yang adalah laki-laki dan kepala keluarga.

Analoginya, tidak ada manusia yang ingin terbang ke langit. Namun kalau sepasang sayap diberikan kepada manusia, tiba-tiba manusia tersebut ingin terbang melintasi langit setiap hari …. Begitu jugalah keadaannya dengan perempuan yang bekerja dan mempunyai gaji: sebenarnya tidak ada perempuan yang ingin dan berani memarahi laki-laki, namun kalau perem-puan tersebut diberi akses bekerja mencari uang (karir dan jabatan), maka tiba-tiba perempuan tersebut ‘berubah haluan’, memajukan gigi-giginya supaya laki-laki mana saja patuh dan tunduk kepadanya, apalagi suaminya, dan supaya laki-laki itu tidak melawan kepadanya saat dimarahi, karena sumber uang istri-lah yang pegang.

Dia seorang perempuan, dia seorang wanita. Dia tidak sadar, siapa yang dia lawan, siapa yang dia tuntut untuk tunduk kepadanya. Dia seorang perem- puan biar bagaimana pun, namun dia yang menuntut suaminya yang laki-laki untuk tunduk kepadanya, patuh kepadanya, dan harus diam kalau dia memarahinya …. Apakah pantas seorang perempuan menuntut dan memerintah laki-laki untuk tunduk dan patuh kepadanya, untuk tidak melawan kepadanya kalau sedang memarahinya? Apakah pantas di mata insan mana pun seorang pria tunduk dan manut kepada perempuan, apalagi perempuan tersebut adalah istrinya?

Jelas, Emansipasi Wanita telah membuat psikologi perempuan jungkir-balik, dan karenanya hirarki rumahtangga menjadi jungkir-balik. Sungguh luar biasa efek Emansipasi Wanita terhadap perempuan. Sungguh luar biasa efek yang ditimbulkan oleh karir dan jabatan kalau diserahkan kepada perempuan!!!

Sama-sama diketahui, bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang membuat perempuan jadi ingin dan berani memarahi dan mengatur-atur pria dan suaminya sedemikian rupa, kecuali Emansipasi Wanita! …… kecuali Persamaan Gender! Hanya Emansipasi Wanita-lah satu-satunya kekuatan yang dapat mengubah perempuan dari mahluk yang segan, manut dan tunduk kepada ayah dan suami, menjadi mahluk yang begitu berani dan garang memarahi suami, dan menuntut suami untuk tunduk kepadanya, dan menuntut suami untuk tidak melawan kalau ia memarahinya.

Singkat kata, alam Emansipasi Wanita telah melumrahkan seorang suami atau laki-laki dimarahi dan dibentak-bentak para istri, kendati nurani insani mana pun tidak mensahkannya.

Kedua.

Sudah jamak terjadi di dalam kehidupan ini di mana seorang istri pekerja -berani dan terbiasa- memarahi sang suami lantaran soal uang, karena uang itu adalah hasil pencarian sang istri. Di satu sisi uang tersebut adalah hasil pencarian sang istri, maka itu berarti sang suami harus patuh kepada (cara) sang istri di dalam membelanjakannya. Dan kalau untuk suatu alasan uang tersebut habis di tangan suami, atau uang tersebut digunakan tidak menurut rencana sang istri, maka pastilah sang istri akan marah dan memarahi suami. Namun di sisi lain, suami adalah seorang laki-laki, seorang kepala keluarga, ia mempunyai harga diri seorang laki-laki, harga diri seekor elang penguasa langit. Baiklah sang suami tidak bekerja dan oleh karena itu tidak mempunyai penghasilan, namun toh tetap saja  dia adalah seorang pria.

Jadi, kalau satu sisi (istri mempunyai gaji, dan kemudian marah kepada sang suami) berbenturan dengan sisi lainnya (suami adalah seorang pria dengan harga diri seekor elang), maka pecahlah konflik yang harus dialami sang suami. Kalau ia berdiam diri, itu sulit, karena dirinya adalah seorang laki-laki lengkap dengan harga diri seorang laki-laki: bukan pada tempatnya seorang laki-laki tertunduk kalau dimarahi perempuan atau istrinya sendiri. Namun kalau ia tersulut emosi lantaran dimarahi sang istri, maka itu berarti terjadi cekcok rumahtangga, adu mulut, dan bahkan adu fisik. Latar belakang ini akan memunculkan tiga kondisi yang ironis:

Kondisi pertama, sang suami tersulut emosinya, maka terjadilah KDRT. Kalau hargadiri seorang suami yang adalah laki-laki tersinggung karena kemarahan dan arogansi seorang perempuan, maka pasti bangkitlah amarahnya, dan ini berarti akan terjadi kekerasan. Sang suami secara alamiah akan ‘main tangan’ kepada sang istri, hanya untuk istrinya sadar bahwa ia hanyalah seorang perempuan -supaya jangan lancang dan melampaui batas keperempuanan-nya, supaya perempuan itu tahu diri bahwa emosi dan kesabaran laki-laki ada batasnya, dan tidak mungkin laki-laki akan bersedia tertunduk untuk selama-lamanya kalau dimarahi perempuan. Laki-laki dimarahi laki-laki lain saja tidak mau, apalagi dimarahi perempuan, walau pun perempuan itu adalah istrinya. Dan adalah suatu yang keterlaluan (yang amat sangat) kalau perempuan berkhayal bahwa laki-laki yang baik adalah laki-laki yang selamanya akan bersedia untuk tertunduk kalau dimarahi perempuan.

Singkat kata, akan terjadi KDRT terhadap istri. Kalau sudah begini, maka urusannya adalah kepada aparat kepolisian, di mana sang istri dan keluarga-nya akan melaporkan suaminya ke pihak yang berwajib. Kalau sudah begini, suami akan berdalih apa? Intinya, publik dan polisi akan tutup mata dan tutup telinga bahwa seluruh kekacauan itu sebenarnya terjadi hanya karena sang istri yang begitu lancang dan ‘gagah berani’ memarahi sang suami begitu rupa, dan itu kembali ke masalah uang sang istri, dan pada gilirannya akan kembali kepada alam emansipasi wanita, karena telah memberi akses pekerjaan kepada kaum perempuan.

Kondisi kedua, sang suami begitu memikirkan resiko pidana dan kekerasan, oleh karena itu sang suami lebih memilih untuk tertunduk dan manut kepada amarah sang istri, untuk selama-lamanya. Dari sini lahirlah fenomena SUTARI alias SUAMI TAKUT ISTRI yang seujung dunia pun tidak akan pernah bersesuaian kepada logika dan nurani insan mana pun. Pada fenomena SUTARI inilah, kaum perempuan sudah merasa menang, karena berhasil melumpuhkan para lelaki. Namun harus diingat, bahwa menang tidak otomatis berarti benar. Di sinilah letak praharanya. Bagi perempuan yang mempunyai gaji dan mengendalikan keuangan keluarga, melumpuhkan suami merupakan bentuk kemenangan egosentrisme-nya. Namun bukankah di pihak lain, adalah tidak bersesuaian dengan fitrah kalau perempuan menuntut laki-laki tunduk kepada perempuan?

Dan egosentrime perempuan itu pun juga tumbuh karena ditumbuhkan oleh alam emansipasi perempuan, di mana perempuan diberdayakan baik secara intelektual dan finansial, yaitu diberi akses untuk bekerja. Dan seluruh egosentrime perempuan itu kembali ke masalah pemberdayaan perempuan sejak semula, alias alam emansipasi wanita. Artinya, kalau sejak semula Emansipasi Wanita tidak pernah menggejala, kalau sejak semula anak-anak perempuan tidak diberdayakan baik secara intelektual mau pun finansial, maka praktis kelak jiwa egosentrisme perempuan untuk memarahi para suami –sehingga menciptakan fenomena SUTARI- tidak akan pernah eksis.

Tidak jarang kita temui di tengah masyarakat di mana para suami yang begitu penurut kepada istri. Ada sesuatu yang harus diperhatikan, bahwa takut penurut-nya sang suami kepada sang istri, benar-benar mengindikasikan dua hal yaitu,

  1. Suami menjadi penurut, karena sebenarnya suami memikirkan implikasi pidana dan kekerasan kalau ia memilih untuk menindak kemarahan sang istri. Baiklah, sang suami hanya memandang satu hal: yang penting rumahtangga tetap damai, walau pun hargadiri-nya harus menjadi tumbal.
  2. Sang istri, karena sudah diperdaya oleh pemberdayaan, oleh emansipasi perempuan, sudah merasa pada tempatnya untuk memarahi suami, untuk menuntut suami patuh kepadanya. Perempuan ini sudah kelewat batas, dan itu semua berkat Emansipasi Wanita, dan itu semua berkat gaji dan keuangan yang ia peroleh dari akses bekerja.

Di dalam kehidupan yang TIDAK mengadopsi Emansipasi Wanita, gejala SUTARI ini tidak pernah menggejala, tidak pernah eksis …. karena keuangan dan sumber nafkah tidak berada di pihak istri, melainkan sang istri tetap berada di bawah bayang-bayang dominasi sang suami, khususnya di dalam hal keuangan dan nafkah. Dengan istri yang bukan sebagai sumber keuangan dan nafkah (karena tidak bekerja mencari uang), maka hal tersebut membuat psikologi perempuan menjadi datar dan lembut bersahaja – maka jadilah sang istri penurut dan manut kepada sang suami. Memang demikianlah seharusnya. Justru pada alam ini (yang tidak mengadopsi Emansipasi Wanita) kaum perempuan sadar bahwa memarahi laki-laki adalah kelancangan …

Kondisi ketiga, suami, atau istri, akan memilih lebih baik bercerai. Karena setiap hari dipenuhi agenda cekcok, maka pada akhirnya mereka memilih untuk bercerai, baik kehendak bercerai itu berasal dari sang istri mau pun dari suami. Cekcok itu pun di-trigger oleh kelancangan mulut pihak perem-puan, di dalam hal ini istri, dan kelancangan tersebut berkat (gara-gara) dan berpulang kepada akses bekerja yang diberikan kepadanya untuk menguasai gaji, dan pada akhirnya semua ini berpulang pada alam Emansipasi Wanita. Jadi, dengan kata lain, cekcok itu sendiri bukan digara-garai sang suami, bukan. Justru sang suami adalah korban dari kelancangan mulut si istri, karena menuntut supaya suaminya tunduk kepada sang istri, dan menuntut sang suami terdiam saja kalau dimarahi sang istri. Apa itu masuk akal? Apa hal tersebut fitrah?

Pada level inilah, statistik melaporkan bahwa angka perceraian sangat tinggi terjadi pada masyarakat perkotaan, karena umumnya perempuan di perkota-an mempunyai / diberi akses untuk bekerja. Pun statistik melaporkan bahwa gugat-cerai lebih banyak diajukan pihak istri. Ini benar-benar menunjukan bahwa perempuan yang diberdayakan melalui faham Emansipasi Wanita sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk menjadi perempuan yang fitrah dan alamiah, yang benar-benar perempuan. Sekali perempuan diberdayakan, maka selamanya ia melawan hukum ke segala arah, akan melihat bahwa suami harus tunduk pada kemarahannya untuk selama-lamanya, dan itu semua atas dasar uang. Kalau tidak tunduk kepadanya, berarti cekcok dan perceraian.

Itu semua berkat Emansipasi Wanita. Kalau di muka bumi ini tidak ada Emansipasi Wanita, dan kalau di dalam kehidupan ini perempuan tidak diberi akses kepada dunia kerja, maka seluruh kekacauan ini tidak akan pernah terjadi, melainkan kehidupan akan berlangsung harmonis, luhur, agung, sesuai fitrah, dan adem-ayem.

Lanjut ke Bagian 02.

Mengapa Perempuan Gemar Menjarahi Kodat Pria?

Pria dan perempuan tentunya adalah dua mahluk yang berbeda, apalagi berbeda di mata Illahi. Dari sisi Illahi, perbedaan antara perempuan dan pria khususnya tampak di dalam hal kodrat: kodrat pria berbeda dari kodrat kaum perempuan, dan perbedaan tersebut berdasar pada perbedaan fisik, mental sprititual, akal fikiran, dan yang terutama, beda berdasar fitrah kemanusiaan, yang akan terus berlaku sepanjang jaman.

Fakta kehidupan masa sekarang memperlihatkan banyaknya kaum wanita yang menjarahi kodrat pria, dan dengan serta-merta perempuan-perempuan tersebut meninggalkan kodrat mereka sendiri. Emansipasi Wanita, atau juga faham persamaan gender, sebenarnya adalah saat di mana kaum perempuan berdiri dengan kokoh untuk menentang kodrat kewanitaan mereka, dan pada saat yang bersamaan menjarahi kodrat kaum pria. Secara visual, hal perempuan menjarahi kodrat pria tampak pada,

  • Keluar rumah untuk pemberdayaan,
  • Bekerja mencari uang,
  • Karir dan jabatan,
  • Memimpin rapat di kantor,
  • Mengepalai pekerja yang keseluruhannya adalah pria,
  • Menerima gaji,
  • Menjadi politisi,
  • Melakukan perjalanan dinas,
  • Membuat peraturan perusahaan,
  • Membayar gaji karyawan,
  • Menerima tamu bisnis,
  • Menandatangani perjanjian kerjasama perusahaan,
  • Memerintah bawahan,
  • Pulang sore dan di rumah nasi sudah tersedia …..,

…….. kemudian mereka makan malam, lantas tidur istirahat, totalnya sudah menjadi layaknya seorang pria, bagaikan tuan-besar yang harus selalu dilayani (bukan yang melayani keluarga!!). Mereka tidak lagi memikirkan atau berkutat di dalam hal mencuci piring, memasak, membersihkan rumah, memandikan anak, dsb, karena seluruh pekerjaan tersebut sudah dilimpahkan kepada pembantu rumahtangga dan babysitter. Intinya, gaya kehidupan ini benar-benar diarahkan oleh kaum perempuan demi bisa menjarahi kodrat pria, yang hanya memikirkan pekerjaan dan karir, pun di rumah tidak memikirkan / berkutat di dalam hal pekerjaan domestik atau pun juga mengasuhi anak.

Timbul pertanyaan. Mengapa perempuan begitu berambisi untuk menjarahi kodrat kaum pria, dan pada saat yang bersamaan mengutuki kodrat kewanitaan mereka sendiri? Di bawah ini akan diajukan beberapa faktor penyebab perempuan cenderung menjarahi kodrat kaum pria, bukannya menekuni dan taat-setia kepada kodrat mereka sendiri.

Diberdayakan secara intelektual.

Sistem sosial seluruh Pemerintah di dunia tampaknya meniscayakan pembangunan intelektual bagi kaum perempuan, mulai dari anak hingga setinggi-tingginya, dan keniscayaan ini melahirkan perempuan-perempuan yang diberdayakan secara intelektual. Faktanya, perempuan yang diberdayakan secara intelektual berbanding lurus dengan tingginya ambisi mereka untuk menjarahi kodrat pria –sambil– mengutuki kodrat domestik yang menjadi kealamiahan mereka. Dengan kata lain, pemberdayaan perempuan hanya melahirkan perempuan-perempuan yang engkar terhadap kodrat domestik, kodrat kewanitaan, yang berlanjut kepada tuntutan untuk menjarahi kodrat pria, seolah mereka minta dan menuntut untuk dipandang sebagai pria juga, diperlakukan sebagai pria juga, diberi hak dengan haknya kaum pria, dan diberi kewajiban dengan kewajiban kaum pria juga.

Hanya dengan diberdayakan secara intelektual sajalah, perempuan menjadi ganas untuk merebut dan menjarahi kodrat pria, sementara perempuan-perempuan sederhana, alias perempuan domies, yang tidak mengalami pembangunan intelektual, alias tidak disekolahkan setinggi-tingginya, tetap tinggal sebagai perempuan yang taat-setia kepada kodrat domestik dan kodrat kewanitaan.

Tidak mungkin dan tidak masuk akal, ilmu dan kesarjanaan yang diraih seorang perempuan membuatnya ingin kembali ke rumah untuk menjalani peran domestik, buat selama-lamanya. Tidak mungkin bahwa kesarjanaan yang diraih seorang perempuan membuatnya sadar akan kodrat kewanitaannya untuk berteguh kepada peran domestik. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca artikel “Metodologi Pendidikan Yang Tepat Untuk Kaum Wanita”.

Itulah kalau perempuan diberdayakan secara intelektual.

Penting untuk disampaikan, bahwa faktor pemberdayaan perempuan secara intelektual ini, akan terus berperan di dalam faktor-faktor berikutnya. Dengan kata lain, faktor lain yang menyebabkan perempuan menjarahi kodrat pria, tetap berpangkal pada pemberdayaan perempuan secara intelektual ini.

Kaum perempuan memiliki Iman yang lemah.

Perempuan, selain mempunyai akal yang lemah, juga disepakati mempunyai Iman yang lemah. Kelemahan Iman inilah yang membuat perempuan gampang sekali menyimpang jauh dari kodrat alamiahnya setelah mereka mendapat pemberdayaan intelektual. Menyimpang jauh dari kodrat alamiah, maksudnya adalah bahwa perempuan begitu mudahnya mendustai kodrat domestik dan kemudian menjarahi kodrat pria. Mudah sekali perempuan memberontak terhadap tuntutan kodrat demi mendapat-kan akses kepada kodrat pria.

Sungguh pun demikian, patut untuk dikemukakan di sini, bahwa lemahnya Iman yang diderita kaum perempuan, sebenarnya juga merupakan tanda alam, karena secara takdir perempuan memang diciptakan dengan Iman yang lemah. Namun karena intelektual mereka telah terbangun lantaran mereka diberi pendidikan formal nan setinggi-tingginya, maka kelemahan Iman yang mereka derita pun menjadi bumerang, tidak saja bagi diri mereka sendiri, namun juga bagi seluruh umat dan keluarga.

Iri kepada kodrat kaum pria.

Lemahnya mental perempuan, juga ditandai dengan begitu mudahnya perempuan merasa iri terhadap kodrat kaum pria, ketika mereka melihat kaum pria maju sebagai pemimpin yang sukses, raja yang agung, matematikawan yang cerdas, penemu teknologi yang mumpuni, filsuf yang berkharisma, dsb. Mereka melihat kaum pria setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, yang dengan uang dan karir tersebut sang pria menjalani kehidupan yang cerlang-cemerlang …  Akibatnya, kaum perempuan menjadi begitu gigih berjuang untuk mendapatka hal-hal yang didapat kaum pria, untuk menjadi sama dengan kaum pria (padahal kodrat mereka jelas berbeda dari kaum pria).

Sifat iri yang ada pada diri seorang perempuan sudah termaktub di dalam Alquran,

[4:32] Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat ini mengkonfirmasi bahwa salah satu sifat alami perempuan adalah adanya perasaan iri kepada kaum pria. Dengan demikian sifat iri ini sebenarnya adalah tanda alam yang menyertai penciptaan seorang perem-puan, namun karena intelektualitas seorang perempuan terbangun melalui pemberdayaan, maka efeknya sifat iri ini menjadi bencana dan kesalahan yang menghancurkan sendi kehidupan. Dengan kata lain, kalau seorang perempuan tidak mendapatkan pemberdayaan –khususnya pendidikan formal nan setinggi-tingginya- dapat dipastikan kecil kemungkinannya seorang perempuan dijerumuskan oleh rasa irinya kepada kaum pria.

Pekerjaan pria sudah dipermudah teknologi.

Di jaman dahulu ketika manusia belum menemukan teknologi, kaum pria sebagai pencari nafkah keluarga harus bekerja susah payah demi anak-anaknya. Pada masa tersebut tidak ada satu pun perempuan yang tergerak untuk menjadi seperti pria, yang setiap hari keluar rumah bekerja untuk mencari uang, karir dan jabatan …. Justru kala itu seluruh perempuan teguh dengan kodrat domestik, lantaran ketiadaan teknologi membuat pekerjaan menjadi susah dan berat, sehingga alam fikiran kaum perempuan tidak sampai ke sana, yaitu berfikir ke arah menjarahi kodrat pria, untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Namun jaman berubah, dan perubahan itu tampaknya dominan dipengaruhi kemajuan teknologi yang membuat banyak pekerjaan yang semula sukar dan berat menjadi mudah dan menyenangkan. Pada jaman inilah alam fikiran perempuan terbuka untuk menuntut akses kepada pekerjaan, karena mereka melihat seluruh pekerjaan sudah menjadi mudah dikarenakan teknologi yang serba ajaib. Untuk lebih lanjut mengenai hubungan antara teknologi dan Emansipasi Wanita, silahkan baca Para Pria Penemu Teknologi Para Wanita Yang Mabuk Kepayang.

Hanya karena teknologi yang canggih, kaum perempuan jadi berbalik mengutuki alam domestik, dan juga menghujat kodrat kewanitaan –termasuk di dalamnya menghujat kodrat untuk mengasuhi dan mengasihi anak-anak darah-daging mereka sendiri. Dan hanya karena teknologi, perempuan jadi berambisi untuk menjarahi kodrat kaum pria, yaitu keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, menjadi Presiden, Menteri, karyawan, pemimpin agama, direktur, peneliti dsb. Itu semua hanya karena teknologi yang serba memudahkan pekerjaan.

Ketika perempuan mendapat pemberdayaan intelektual, kecanggihan teknologi membuat mereka begitu berambisi untuk menjarahi kodrat pria, karena dengan teknologi seluruh pekerjaan pria menjadi mudah dan menyenangkan, sehingga kaum perempuan juga terkesan untuk turut menikmatinya. Perempuan yang diberdayakan, plus teknologi, adalah resep rumit yang mengakibatkan mengganasnya gerakan Emansipasi Wanita dan juga persamaan gender. Bisa dibayangkan, jika perempuan tidak mengalami pemberdayaan intelektual, maka perempuan akan tetap taat-setia kepada kodrat domestik, kendati  teknologi canggih telah banyak memudahkan pekerjaan kaum pria: sehebat dan seajaib apa pun teknologi mempermudah pekerjaan pria untuk mencari nafkah, maka tetap kaum perempuan tidak akan terpengaruh, selama kaum perempuan tidak mengalami pemberdayaan, khususnya secara intelektual.

Pekerjaan domestik dianggap terbelakang.

Ketika seorang perempuan telah paripurna mendapatkan kesarjanaan (diberdayakan dan berintelektual), maka dengan sendirinya psikologi sang perempuan akan merasakan aroma ketertinggalan dan keterbelakangan pada kodrat domestik yang hanya berkutat pada pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci baju, merapikan rumah, mengurusi anak dsb. Dengan kata lain, pemberdayaan membuat perempuan berfikir bahwa sudah saatnya perempuan meninggalkan ranah domestik menuju ranah publik untuk mencari uang, karir dan jabatan, sebagaimana halnya kaum pria. Perempuan yang diberdayakan sudah tidak sudi lagi untuk terus tinggal di rumah dan bekerja di dapur sambil membersihkan cirit sang anak. Singkat kata, pemberdayaan telah menjadikan psikologi kewanitaan ‘terkilir’ (twisted) sedemikian rupa. Pemberdayaan membuat perempuan berfikir, bahwa kodrat domestik adalah kesalahan.

Kebalikannya, perempuan yang dijauhkan dari pemberdayaan, perempuan yang tidak diberi hak dan akses kepada pendidikan formal (setinggi-tingginya) tetap akan menjadi perempuan yang sederhana, yang taat-setia kepada kodrat domestik, untuk terus tinggal di rumah, memasak bagi keluarga, mencuci baju, merapikan rumah, mengasuhi anak-anak, menunggu suami pulang, dsb.

Pada point ini sudah jelas, bahwa bangkitnya kaum perempuan untuk berfikir bahwa peran domestik merupakan ketertinggalan (sehingga harus dilawan dengan cara keluar rumah menuju ranah publik untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, sebagaimana halnya kaum pria), hanya disebabkan oleh pemberdayaan intelektual. Perempuan tidak mempunyai Iman yang kuat, di mana jiwanya akan tetap taat-setia kepada kodrat domestik walau pun ia telah mempunyai tingkat kesarjanaan setinggi gunung mahameru: itu tidak mungkin. Begitu seorang perempuan telah menjadi bintang di kelasnya, di kampusnya, maka sontak ia akan memvonis bahwa kodrat domestik merupakan ketertinggalan, sehingga kodrat tersebut harus ditinggalkan, untuk kemudian dapat menyamakan diri dan derajatnya dengan kaum pria, yang setiap hari keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kemandirian keuangan dianggap kesuksesan.

Ketika seorang perempuan telah mendapatkan pemberdayaan intelektual, maka secara alamiah akan tertanam di dalam psikologinya suatu faham bahwa kehidupan yang sukses adalah ketika seseorang telah mandiri di dalam hal keuangan. Oleh karena itu, perempuan yang diberdayakan mempunyai orientasi berfikir untuk selalu bekerja dan mencari uang sebanyak-banyaknya, agar dengan demikian ia akan mempunyai kemandirian keuangan, sebagaimana halnya kaum pria. Terlebih, perempuan yang diberdayakan melihat, bahwa ketergantungan keuangan terhadap kaum pria merupakan suatu ketimpangan dan ketidakadilan.

Perempuan yang diberdayakan (yang beroleh pendidikan setinggi-tingginya) melihat, bahwa sudah saatnya perempuan terbebas dari ketergantungan terhadap pria, dan salah satu aspeknya adalah terbebas dari ketergantungan keuangan terhadap pria. Tidak ada yang ingin dicapai kaum perempuan yang diberdayakan, kecuali mempunyai kemandirian terhadap pria, khususnya kemandirian secara keuangan.

Kebalikannya, perempuan yang sederhana, yang tidak beroleh pendidikan setinggi-tingginya, tidak akan membiarkan alam fikiran sampai kepada faham bahwa mereka harus memandirikan keuangan mereka terhadap kaum pria. Mendapatkan limpahan keuangan dari keluarga, merupakan bentuk kasih-sayang yang dirasakan kaum perempuan dari keluarga.

Untuk lebih jauh mengenai point ini, silahkan baca artikel berikut, Mengapa Perempuan Harus Mandiri Dan Terlepas Dari Lelaki.

Untuk psikologi itulah, perempuan menjadi begitu ganas untuk keluar rumah untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan, semua itu mereka lakukan dengan cara menjarahi kodrat kaum pria, dan jelas sekali mereka ingin dan harus melupakan bahwa mereka adalah kaum perempuan, yang seutuhnya berbeda dari lelaki.

Penutup.

Beberapa point di atas menunjukkan pandangan mengapa perempuan begitu ganas untuk menjarahi kodrat pria, dan faktor-faktor penyebab yang membuat perempuan berorientasi untuk menjarahi kodrat pria, sama sekali bukanlah hal yang poisitif secara nurani dan filosofi. Sungguh, kaum perempuan telah terlibat dalam tindakan yang tidak terpuji, sikap yang sembrono dan brutal …..

Intinya, terjerumusnya perempuan kepada sikap yang ingin menjarahi kodrat pria, benar-benar dipicu oleh adanya program pemberdayaan yang ditujukan kepada kaum perempuan, dan sekali lagi, program tersebut adalah suatu kesalahan fatal, karena sama sekali tidak membawa maslahat bagi siapa pun.

Wallahu a’lam bishawab.

Pengangguran Antara Pria Dan Wanita

penganggurannWanita secara alamiah merupakan mahluk yang lemah, dan pasif; belum lagi sangat bergantung, dan sensitif; kemudian manja. Kenyataan di dalam hidup menunjukkan bahwa kaum wanita merupakan spesies yang tidak terlalu menonjol di dalam hal intelektual, atau dapat dikatakan tidak kreatif, tidak panjang akal, dsb. Yang jelas, perempuan bukanlah mahluk yang pemberani. Penekanan kewanitaan justru pada ketidakberanian ini. Karena tidak beranilah, maka ia disebut perempuan. Wanita berasal dari kata /wani/ dan /ta/; di mana /wani/ adalah berani, dan /ta/ adalah tidak. Jadi wanita berarti tidak berani. Kata lainnya adalah, penakut.

Berbeda dengan kaum pria. Kaum pria merupakan mahluk yang kuat secara otot dan fisik. Belum lagi ditambah fakta bahwa kaum pria merupakan spesies yang menonjol di dalam hal intelektual, alias cerdas, mandiri, dan banyak akal. Sifat laki-laki adalah tidak mau mengalah, sementara sifat alami perempuan adalah selalu mengalah, dari sinilah sering diperkatakan bahwa perempuan adalah mahluk yang pasif. Berkebalikan dengan kaum perempuan, kaum pria adalah spesies yang pemberani, berani menantang maut, berani menantang alam semesta, berani berjalan di malam hari, dsb.

Sekarang timbul pertanyaan, apakah yang akan terjadi kalau seorang pria menganggur, dan kalau seorang perempuan menganggur? Apakah pengangguran akan memberi efek yang sama kalau terjadi pada seorang pria dan perempuan?

Wanita pengangguran:

Kalau seorang wanita tidak mempunyai pekerjaan, alias menganggur, atau kalau seorang perempuan tidak mempunyai / diberi akses dan hak untuk mendapatkan pekerjaan, maka apakah hal tersebut akan membahayakan? Apakah pengangguran membuat perempuan menjadi berbahaya?

Wanita secara alami merupakan mahluk domestik. Dengan kata lain, kodrat perempuan adalah senantiasa tinggal dan diam di dalam rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya. Perempuan juga dikenal sebagai mahluk yang lemah, dan secara intelektual tidaklah menonjol. Pun perempuan selalu dikenal sebagai mahluk yang tidak berdaya, tidak mempunyai otot yang kuat, dsb.

Jadi, kalau seorang perempuan menganggur alias tidak bekerja, maka hal tersebut tidaklah membahayakan siapa pun. Perempuan kalau menganggur, toh ia akan senantiasa tinggal di dalam rumahnya, dan justru di dalam rumahnya-lah perempuan tersebut akan kembali kepada kodratnya, yaitu kodrat domestik.

Perempuan yang menganggur, tidak akan melakukan hal-hal yang meresahkan masyarakat, seperti keluyuran tidak karukaruan, atau membuat onar di kampung sebelah. Hal ini dikarenakan perempuan merupakan mahluk yang lemah, dan juga pemalu. Oleh karena itu mustahil perempuan dengan kelemahan mental, fisik dan ototnya dapat berbuat onar di kampung orang, atau keluyuran kemana-mana, kalau tidak mempunyai pekerjaan.

Sebenarnya-lah, kalau perempuan menganggur, justru itu menguntungkan baginya dan bagi keluarganya –as well as- bagi masyarakatnya. Dengan menganggur, ia akan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Ini artinya ia akan lebih banyak mengasah ketrampilannya sebagai perempuan, seperti memasak, mencuci baju dan piring, merapikan rumah, kemudian melatih diri membesarkan dan memomong dedek kecilnya di rumah. Seorang perempuan tampaknya haruslah pandai menjahit baju, dan kepandaian tersebut hanya akan dapat ditanam dengan lebih baik kalau setiap perempuan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

Terlebih, kalau seorang perempuan menganggur –alias selalu diam di rumah –karena tidak mempunyai pekerjaan, maka itu artinya perempuan tersebut akan terbebas dari fitnah kota, akan terbebas dari fitnah pacaran. Sama diketahui bahwa pacaran itu sendiri merupakan gerbang besar bagi terjadinya: perzinahan, perselingkuhan, aborsi, kondomisasi, hamil di luar nikah, pembuangan bayi di tempat sampah, pamer aurat, freesex, berkhalwat, perceraian pasangan muda, dsb. Dari sini sebenarnya dapat dikatakan, menganggur buat perempuan justru menguntungkan perempuan tersebut (dan seluruh umat tentunya), karena dengan menganggur, karena dengan tinggal dan diam di rumah, maka amanlah ia dari segala fitnah kota, dan fitnah reproduksi.

Di lain pihak, kalau seorang perempuan menganggur, maka masalah nafkah dan kebutuhan keuangannya akan tetap terjamin dengan baik, karena nafkahnya sudah dijamin oleh keluarganya, apakah ayahnya, suaminya, abangnya, paman dan kakeknya, dsb. Tidak mungkin seorang ayah mau pun paman misalnya, merasa terganggu dan terbebani karena harus membiayai dan memberi makan anak perempuannya yang selalu menganggur di rumah. Mustahil ada seorang ayah mau pun kakek yang berfikiran demikian. Justru setiap ayah, paman, kakek, abang dsb bekerja adalah untuk memberi nafkah anggota keluarganya, termasuk si perempuan ini, apakah ia anak perempuannya, adik perempuannya, dsb.

Jadi singkat kata, kalau seorang perempuan menganggur, toh kebutuhan hidup dan nafkahnya akan tetap terjamin, ia tidak akan terlunta-lunta. Dan di lain pihak, perempuan yang menganggur justru mengamankan dirinya dari fitnah kota, seperti pacaran, pemerkosaan, perzinahan, dsb. Tambahan, kalau perempuan menganggur, maka akan semakin baiklah ketrampilannya sebagai perempuan, seperti memasak, menjahit, dsb.

Pada intinya, sebenarnya tidak ada istilah menganggur buat perempuan. Dengan kata lain, perempuan tidak pernah dan tidak mungkin menjadi pengangguran, karena pengangguran hanya terjadi pada pria. Bagaimana mungkin seorang perempuan dapat dikatakan pengangguran –hanya karena ia tidak mempunyai pekerjaan, sementara kalau ia tinggal di rumah justru ia lebih bermanfaat, dan selalu mempunyai hal-hal domestik yang dapat ia selesaikan dengan baik. Ingatlah, domestik merupakan kodrat kaum perempuan. Jadi tidak ada istilah pengangguran untuk perempuan.

Dengan kata lain, kalau sekiranya di suatu kota, angka pengangguran mencapai 6000 orang, dengan perincian pengangguran pria berjumlah 4000 orang, dan pengangguran perempuan berjumlah 2000, maka sebenarnya yang menjadi masalah pengangguran di kota tersebut hanyalah yang 4000 saja, yaitu pengangguran di kalangan pria. Jadi pengangguran di kalangan perempuan tidak dapat dikategorikan sebagai pengangguran. Perempuan yang tidak bekerja, alias selalu tinggal di rumah, jangan dihitung dan dilihat sebagai pengangguran, melainkan harus dilihat sebagai sinyal bahwa perempuan-perempuan tersebut sedang mengikuti alur kodrat mereka, yaitu kodrat domestik.

Penekanannya adalah, dengan tinggal di rumah, perempuan-perempuan tersebut justru memberi kontribusi alamiah kepada keluarganya, yaitu dengan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, sekaligus menjauhkan dirinya dari fitnah kota, sembari memperkuat basis keperempuanannya.

Belum ada terdengar berita, bahwa perempuan yang pengangguran menimbulkan masalah kriminal di tengah kota, seperti pencuri, penodong, pemerkosa, perampokan, dsb. Hal tersebut dikarenakan perempuan yang menganggur pastilah akan lebih banyak tinggal di rumah, dan itu pun juga bagus buat mereka, karena tinggal di rumah memang sudah kodrat mereka. Pun perempuan adalah mahluk lemah, sehingga tidak mungkin dengan kelemahannya perempuan dapat menjadi pelaku kriminal seperti merampok mau pun memalak orang lewat dengan menodongkan senjata tajam.

Lelaki pengangguran:

Kalau seorang laki-laki tidak mempunyai pekerjaan, alias menganggur, atau kalau seorang laki-laki tidak mempunyai / diberi akses dan hak untuk mendapatkan pekerjaan, maka apakah hal tersebut akan membahayakan? Apakah pengangguran membuat laki-laki menjadi berbahaya?

Laki-laki secara alami merupakan mahluk publikal. Dengan kata lain, kodrat laki-laki adalah senantiasa pergi keluar rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas publiknya. Laki-laki juga dikenal sebagai mahluk yang kuat, dan secara intelektual sangatlah menonjol. Oleh karena itu, kalau seorang pria menganggur yang mana itu berarti akan selalu berdiam di rumahnya, maka akan sia-sialah semua sumberdaya kecerdasannya, karena tidak dimanfaatkan.

Jadi, kalau seorang laki-laki menganggur alias tidak bekerja, maka hal tersebut akan membahayakan siapa pun. Laki-laki kalau menganggur, toh ia akan senantiasa tinggal di dalam rumahnya, dan itu artinya terdapat bom-waktu di dalam dirinya yang akan meledak sebagai suatu kekuatan yang negatif dan destruktif.

Lelaki yang menganggur, pasti akan melakukan hal-hal yang meresahkan masyarakat, seperti keluyuran tidak karu-karuan, atau membuat onar di kampung sebelah. Hal ini dikarenakan laki-laki merupakan mahluk yang kuat, dan juga pemberani. Oleh karena itu mustahil laki-laki dengan kekuatan mental, fisik dan ototnya tidak berbuat onar di kampung orang, atau tidak keluyuran kemana-mana, kalau ia menganggur. ***

Oleh karena itu, penting sekali untuk memastikan bahwa setiap laki-laki yang dewasa mendapatkan pekerjaan, karena dengan mendapat pekerjaan maka seluruh sumberdaya yang ada pada diri seorang laki-laki akan dapat tersalurkan untuk hal-hal yang positif dan konstruktif. Dengan kata lain, memberi pekerjaan kepada laki-laki adalah prioritas seluruh masyarakat, dan ini artinya adalah jangan sampai ada seorang laki-laki yang menganggur.

Namun di luar itu semua, ada hal lain yang harus dipertimbangkan.

  1. Laki-laki adalah sumber nafkah bagi keluarga, sementara perempuan tidaklah demikian. Justru nafkah perempuan ada di dalam tanggungan lelaki keluarganya. Maka penting sekali untuk memprioritaskan pang-ker (lapangan pekerjaan) bagi laki-laki, karena nafkah keluarganya ada di punggungnya.
  2. Laki-laki adalah mahluk dengan otot dan intelektualitas yang kuat, sementara perempuan adalah mahluk dengan kelemahan baik fisik mau pun mental. Oleh karena itu kalau seorang laki-laki menganggur, maka besar kemungkinan kekuatan otot dan kecerdasannya justru akan tersalur kepada hal-hal yang negatif. Sementara itu kalau perempuan menganggur, maka tidak ada yang perlu khawatir bahwa ia akan berbuat hal-hal yang negatif, karena toh perempuan tidak mempunyai otot dan kecerdasan yang menonjol.
  3. Status menganggur pastilah akan menjadi aib sosial bagi setiap pria. Namun kebalikannya, status menganggur sama sekali tidak pernah menjadi aib sosial bagi perempuan. Hal ini dikarenakan tinggal di rumah memang sudah menjadi kodrat perempuan. Oleh karena itu, adalah berbahaya kalau pria menganggur, sementara di lain pihak, adalah tidak mengapa kalau perempuan menganggur.

Bagaimana memprioritaskan pang-ker kepada pria?

Memberi pekerjaan kepada laki-laki adalah (dan haruslah) prioritas seluruh masyarakat, dan ini artinya adalah jangan sampai ada seorang laki-laki yang menganggur. Satu-satunya cara untuk mencapai prioritas tersebut adalah, dengan mengamalkan faham Domestikalisasi Wanita (DW), yaitu sistem di mana masyarakat tidak lagi memberi hak dan akses job kepada kaum perempuan –karena perempuan justru harus berteguh dengan kodrat domestik mereka, bukannya keluar rumah untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Dengan tidak memberi job kepada kaum perempuan, berarti seluruh pang-ker akan dapat disediakan / diberikan kepada kaum pria saja, dan pada akhirnya hal ini akan mengakibatkan tidak ada satu pun pria yang menganggur.

Kalau tidak ada pria yang menganggur, maka akan amanlah kehidupan masyarakatnya, karena tidak ada lagi pelaku kriminal, seperti penodongan, perampokan, preman pasar, penipu, pemalak orang lewat, pengusaha aneka judi, laki-laki stress, dsb. Pun tidak akan ada lagi keluarga yang miskin, karena seluruh ayah, seluruh suami, telah mempunyai job dan sumber nafkah, untuk anak, istri dan seluruh anggota keluarganya.

Selama ada perempuan yang bekerja, maka selama itu juga akan ada pria pengangguran. Dan selama ada pria pengangguran, maka selama itu juga akan terjadi masalah sosial dan kriminal. Kebalikannya, kalau tidak ada perempuan yang bekerja, maka tidak ada pria yang menganggur; karena seluruh pang-ker hanya disedikan dan diberikan kepada kaum pria saja. Dan kalau tidak ada pria yang menganggur, maka tidak akan ada masalah sosial dan kriminalitas. Sementara di lain pihak, perempuan itu sendiri pun tidak urgen untuk bekerja, tidak mendasar, karena toh nafkah dan kebutuhan keuangan setiap perempuan sudah terjamin oleh keluarga mereka masing-masing.

Pengangguran antara pria dan wanitaIntinya, seluruh masalah sosial dan pelaku kriminal, pasti berhulu pada pria pengangguran. Dengan kata lain, hanya laki-laki yang menganggur saja yang dapat berakhir sebagai pelaku kriminal. Bagaimana mungkin seorang pria yang sudah bekerja karena sudah mempunyai pekerjaan, masih juga berbuat kriminal?

Di lain pihak pun, mengamalkan faham Domestikalisasi Wanita (DW) ini, yang mensyaratkan perempuan tidak diberi hak dan akses job (supaya dengan demikian pang-ker dapat diberikan kepada kaum pria saja), tidak akan membuat perempuan menjadi pengangguran. Ingatlah, tidak ada istilah perempuan menganggur, karena perempuan yang tidak mempunyai pekerjaan pasti akan tinggal dan diam di dalam rumahnya, dan itu sudah sesuai dengan kodrat alami mereka yaitu kodrat domestik. Terlebih, perempuan yang menganggur tidak akan berakhir sebagai pelaku kriminal.

Kesimpulan.

  1. Seluruh lapangan pekerjaan, pang-ker, haruslah di-prioritaskan kepada pria saja. Ini artinya perempuan jangan dan tidak perlu diberi pekerjaan, agar dengan demikian setiap pang-ker dapat diberikan kepada pria saja.
  2. Untuk mencapai prioritas tersebut adalah dengan mengamalkan faham Domestikalisasi Wanita (DW). Di dalam sistem ini, perempuan tidak diberi akses dan hak kepada pekerjaan, supaya dengan demikian lapangan pekerjaan dapat diberikan dan disediakan kepada pria saja. Hal ini dapat memastikan tidak ada satu pun pria yang menganggur.
  3. Perempuan yang tidak mempunyai pekerjaan, bukanlah pengangguran. Perempuan yang tidak bekerja, akan terus tinggal di dalam rumahnya, dan itu sudah baik karena sudah sesuai dengan kodrat dan fitrah mereka, yaitu kodrat domestik. Dengan terus tinggal dan diam di dalam rumah, maka akan terbebaslah seluruh perempuan dari fitnah kota, sembari di rumah tersebut setiap perempuan akan mengasah ketrampilannya di dalam hal pekerjaan domestik.
  4. Laki-laki yang tidak mempunyai pekerjaan, alias pengangguran, merupakan bom-waktu, karena seluruh tenaga dan kecerdasan intelektual yang ada pada diri setiap pria justru akan tersalurkan kepada hal-hal yang meresahkan masyarakat.
  5. Tidak ada istilah menganggur untuk perempuan; tidak ada istilah perempuan menganggur. Istilah pengangguran hanya dapat dilekatkan kepada pria saja. Dan menganggur merupakan aib bagi setiap pria, sementara menganggur bukanlah aib sama sekali bagi setiap perempuan.

Wallahu a’lam bishawab.

Menempuh Berbagai Cara Untuk Menghormati Perempuan

Perempuan adalah pasangan lelaki, dan merupakan bagian dari hukum alam. Di mana ada lelaki, pasti di sana ada perempuan. Semua agama mengajarkan untuk menghormati perempuan, karena kehormatan seorang lelaki pasti selalu berarti kehormatan untuk perempuan juga. Tidak terkecuali Islam, juga mengajarkan penghormatan kepada perempuan.

Di antara sekian milyar perempuan di muka bumi ini, satu orangnya adalah ibu kita, anak perempuan kita, nenek kita, dsb. Kalau bukan karena cintakasih perempuan-perempuan tersebut, mustahil lelaki dapat mengecap kenikmatan hidup di dunia ini.

Islam telah menyampaikan kebenaran kepada seluruh umat manusia, khususnya mengenai kaum perempuan. Ketika di satu pihak Islam mengajarkan umatnya untuk menghormati perempuan, di pihak lainnya Islam juga mengajarkan karakteristik perempuan, yang merupakan bagian dari hukum alam juga, dan tidak dapat dielakkan.

Melihat karakteristik perempuan secara hukum alam, maka sebenarnya adalah susah untuk bisa memberi penghormatan kepada perempuan. Secara tabiat, perangai, cara berfikir (ingat, perempuan adalah organisme yang tidak dapat berfikir), kebiasaan, kecenderungan, dsb, perempuan sebenarnya merupakan masalah di dalam kehidupan ini. Maka dari itu Allah Swt sebenarnya telah ‘menyerahkan’ perempuan ke tangan lelaki, supaya lelaki dapat mengelola perempuan dengan baik dan benar, karena hanya melalui pengelolaan yang baik dan benar saja, maka perempuan bisa menjadi organisme yang baik.

Berikut di bawah ini akan dipaparkan salah satu kecenderungan keperempuanan yang membuat kita susah untuk dapat menghormati perempuan.

Rumahtangga yang sederhana.

Terdapat sebuah rumahtangga yang sederhana, di mana sang suami di dalam rumahtangga tersebut merupakan seorang pekerja yang bergaji tidak lebih dari dua juta rupiah (untuk ukuran tahun sekarang, 2015). Uang dua-juta rupiah tentulah jumlah uang yang sangat ‘ngepas’ untuk biaya hidup sepasang suami istri tersebut, yang baru mempunyai satu anak yang masih bayi.

Ketika pagi hari, sang istri melepas suami berangkat ke tempat kerja. Kemudian sang istri terlihat mulai memberi makan si anak. Setelah itu, sang istri bersibuk diri bekerja di dapur. Setelah selesai dengan urusan dapur, ia lanjut mencuci pakaian, dan kemudian beranjak ke teras untuk menjemur seluruh cuciannya. Setelah itu, sang istri lanjut membersihkan rumah, membersihkan tempat tidur, dsb.

Tidak terasa hari telah siang. Sang istri memilih untuk tidur siang bersama sang bayi, karena kedua mahluk tersebut memang butuh tidur siang.

Hari beranjak sore, sang suami pulang dari bekerja. Rumah sudah rapi, makanan telah terhidang, anak pun sudah bersih dimandikan sang ibu.

Begitulah seterusnya hari demi hari yang dijalani tiga manusia anak-beranak.

Yang harus diungkapkan di sini adalah mengenai sang istri. Sang istri tampak begitu taat kepada kodrat kewanitaannya, yaitu kodrat domestik, mulai dari membesarkan si anak, memasak di dapur, mencuci baju, membersihkan rumah, menunggu suami pulang, dst. Tidak terlihat sedikit pun sang istri mengeluh atau mengutuk kodrat domestik yang ia jalani setiap hari. Terlihat sekali bahwa sang istri, wanita tersebut, bahagia menjalani perannya sebagai istri dan ibu dari anaknya, anak dari suaminya.

Singkat kata, sang istri begitu tulus memancarkan cinta dan baktinya kepada keluarganya. Ia memperlihatkan kesejatian seorang wanita, seorang istri, seorang ibu terhadap anaknya, yaitu kodrat domestik.

Tapi tunggu. Di bagian lain dari kota tersebut terdapat kawasan elit yang terdiri dari deretan puluhan rumah mewah yang mentereng, penuh kemewahan. Di setiap rumah tersebut pastilah tinggal keluarga-keluarga yang merupakan pasangan suami istri dengan sekian anak, nenek, ipar, dsb.

Adalah fakta, bahwa dapur di setiap rumah mewah tersebut dihuni oleh para pembantu rumahtangga. Setiap anak kecil di rumah mewah tersebut ditangani oleh para babysitter. Pertanyaannya adalah, apakah setiap istri yang tinggal di dalam rumah-rumah mewah tersebut turun langsung ke dapur untuk masak makanan sekeluarga, setiap hari? Apakah setiap istri dan setiap ibu yang tinggal di dalam rumah mewah tersebut mengasuh anak-anak mereka sendiri tanpa bantuan babysitter? Jawabannya adalah TIDAK.

Apakah setiap istri yang tinggal di dalam rumah mewah tersebut, apakah setiap anak perempuan yang tinggal di dalam rumah mewah tersebut, apakah setiap ibu, nenek, mbak, kakak perempuan, bibi, tante, yang tinggal di dalam rumah-rumah mewah tersebut, turun langsung memasak di dapur, mencuci baju, membesarkan anak, membersihkan rumah, mencuci piring, membereskan tempat tidur, TANPA ADANYA DAN TANPA BANTUAN PARA PEMBANTU RUMAHTANGGA DAN BABYSITTER? Jawabannya, adalah tidak.

Setiap perempuan yang hidup di dalam rumah-rumah mewah tersebut, apakah ia istri, ibu, mbak, kakak perempuan, nenek, tante, bibi, BERPANTANG untuk turun ke dapur untuk masak makanan keluarga, berpantang untuk mencuci sendiri baju anak, suami, adik dsb. Semua pekerjaan domestik sudah mereka alihkan dan mereka bebankan kepada para pembantu rumahtangga dan babysitter.

Sekarang muncul pertanyaan. Mengapa terdapat perbedaan perilaku, antara perempuan-perempuan yang hidup di dalam rumahtangga dengan suami bergaji pas-pasan, dengan perempuan-perempuan yang hidup di dalam rumah mewah yang para suami dan ayah-ayah mereka mempunyai gaji berpuluh-puluh juta?

Ternyata ini adalah masalah uang. Ketika suami bergaji pas-pasan, sang istri tampak setia menjalani kodrat mereka yaitu domestik. Itu semua karena gaji sang suami tidak cukup untuk membayar gaji pembantu rumahtangga dan babysitter.

Namun ketika suami atau ayah atau abang-abang mereka mempunyai gaji berpuluh-puluh juta, maka setiap istri dari pria-pria tersebut BERPANTANG untuk menjalani kodrat domestik mereka. Alih-alih mereka setia menjalani kodrat domestik, justru mereka mencampakkan dan membebankan seluruh pekerjaan domestik mereka kepada para pembantu rumahtangga dan babysitter. Itu semua karena gaji ayah dan suami mereka adalah lebih dari cukup untuk menggaji para pembantu dan babysitter.

Itulah rumus kehidupan yang berlaku atas kaum perempuan.

Perempuan, kesejatian dan ketulusan.

Akhirnya harus diungkapkan, bahwa ternyata di muka bumi ini tidak pernah ada mahluk perempuan yang sejati dan tulus di dalam menjalankan kodrat domestik, di dalam melayani anak dan keluarga sendiri.

Ketahuilah, boleh jadi seorang wanita, seorang istri, tampak setia menjalani kodrat kewanitaan mereka yaitu kodrat domestik: masak, mencuci piring, mencuci baju, membesarkan anak, membereskan rumah, dsb. Namun ingatlah, bahwa kesetiaan mereka itu adalah SEMU, karena kesetiaan tersebut (yaitu masak di dapur,mencuci baju dan piring, membesarkan anak, dsb) hanya dikarenakan suami tidak mempunyai gaji yang besar. Sungguh, tidak pernah ada kesetiaan dan kesejatian pada diri seorang perempuan.

Ketika suami mereka bergaji kecil – sehingga tidak bisa mempekerjakan dan menggaji pembantu rumahtangga dan babysitter, “mau tidak mau” sang istri bekerja di dapur untuk masak, mencuci baju, membesarkan anak, dsb. Namun ketika suami atau ayah-ayah mereka mempunyai gaji yang besar, maka itulah saatnya istri-istri MENOLAK untuk masak, mencuci baju, mengurus anak, dsb. Artinya, ketika suami atau ayah-ayah mereka mempunyai gaji yang besar, maka itulah saatnya sang istri meminta didatangkan pembantu rumahtangga dan babysitter, sehingga agar dengan demikian para istri dan wanita bisa berleha-leha sepanjang hari tanpa harus lelah bekerja di dapur, atau mencuci baju, atau mengurus anak.

Tidak mungkin, pada suatu rumah, pada suatu rumahtangga, pada suatu keluarga, di mana sang ayah mau pun suami bergaji besar, sang istri atau ibu yang tinggal di dalam rumah tersebut tetap SETIA SETIA BEKERJA DI DAPUR DAN MENCUCI BAJU, tanpa ada pembantu. TIDAK MUNGKIN. Karena, begitu sang suami atau ayah mempunyai gaji yang besar, serta-merta para istri pasti akan meminta didatangkan para pembantu dan babysitter, karena toh gaji sang suami cukup untuk menggaji para pembantu rumahtangga tersebut.

Baiklah apa yang dipaparkan di dalam artikel ini merupakan suatu fitnah terhadap kaum perempuan, untuk menjelek-jelekkan perempuan, anti perempuan. Namun bukankah fakta di pemukiman elit membuktikan hal demikian? Bukankah setiap suami yang bergaji besar pasti diminta sang istri untuk mempekerjakan pembantu? Bukankah setiap suami yang bergaji besar pasti mempunyai pembantu rumahtangga di rumahnya?

Apakah ada suatu rumah elit nan mewah yang tidak mempunyai dan tidak mempekerjakan pembantu dan babysitter untuk melayani tuan-tuan perempuan mereka? Tidak ada, dan tidak pernah ada. Sejak seorang suami mau pun ayah mempunyai gaji besar, maka sejak saat itu perempuan yang ada pada keluarga tersebut meminta pembantu rumahtangga. Sejak seorang suami mau pun ayah mempunyai gaji besar, maka sejak saat itu perempuan dari keluarga tersebut enggan untuk masak dan mempekerjakan seluruh tugas domestik, mau-nya hanya berleha-leha nonton tv dan shopping berketerusan, karena gaji besar yang dimiliki ayah mau pun suami mereka, adalah lebih dari cukup untuk menggaji pembantu.

Jatah kebahagiaan suami / ayah dsb.

Tersebut seorang suami yang mempunyai gaji pas-pasan. Karena gaji sang suami tidak cukup untuk menggaji pembantu, maka mau-tidak-mau sang istri sendiri yang bekerja untuk masak di dapur. Artinya, makanan yang dimakan sang suami setiap hari adalah makanan yang dimasak oleh sang istri, yang dimasak dengan rasa cinta dari sang istri. Sang suami setiap hari makan-cinta.

Karena gaji suami tidak cukup untuk menggaji pembantu, maka istri sendirilah yang mencuci baju suami. Baju suami dicuci sendiri oleh istri, yang dicuci dengan rasa cinta. Artinya, setiap baju bersih yang dikenakan suami merupakan baju yang dicuci sendiri oleh istri. Sang suami mengenakan baju-cinta.

Karena gaji suami tidak cukup untuk menggaji pembantu, maka istri sendirilah yang membuatkan kopi untuk suami. Setiap pagi sang istri membuatkan kopi untuk suami, yang diseduh dengan rasa cinta. Artinya, sang suami setiap hari minum-cinta.

Namun takdir berubah, rejeki bertambah. Gaji suami yang semula kecil dan pas-pasan, bertambah sekian kali lipat, lebih dari cukup. Tentunya hal ini merupakan kabar gembira buat suami dan sekeluarga.

Apakah yang terjadi selanjutnya bada kenaikan gaji sang suami? Tidak sampai di dalam hitungan bulan, sang istri, yang semula setia melayani dan berbakti kepada suami, akhirnya meminta suaminya untuk mempekerjakan pembantu rumahtangga, karena gaji yang diperoleh suami adalah lebih dari cukup untuk keperluan menggaji pembantu.

Apakah mungkin suami berkata tidak kepada istri tercinta? Entahlah, yang jelas sejak suami memperoleh kenaikan gaji, maka di rumahnya sudah ada seorang pembantu yang menyelesaikan seluruh pekerjaan istri.

Dan tidak pelak lagi, sejak ada pembantu rumahtangga di rumahnya, maka suami tidak lagi pernah memakan makan-cinta, karena yang masak makanan suami bukan istri, melainjan pembantu. Suami tidak lagi pernah mengenakan baju-cinta, karena baju suami tidak lagi dicucikan oleh istri, melainkan dicuci pembantu. Suami tidak pernah lagi menghirup minum kopi-cinta, karena keseluruhan itu dibuat dan disediakan oleh pembantu rumahtangga, bukan istri tercinta …..

Mungkin akan lebih baik, kalau suami memperoleh kenaikan gaji di tempatnya bekerja, maka hal tersebut tidak perlu diberitahukan kepada istri di rumah. Biarlah sang istri tetap berfikiran bahwa suami terus bergaji kecil, sehingga tidak cukup untuk menggaji pembantu. Dengan demikian, sang istri tidak akan pernah mempunyai pfikiran untuk meminta dipekerjakan pembantu rumahtangga. Kalau begitu, maka setiap hari sang suami akan terus memakan makan-cinta, mengenakan baju-cinta, menghiru kopi-cinta, dsb.

Kesimpulan.

Tidak ada ketulusan dan kesejatian pada diri seorang perempuan.

Ketika sebuah keluarga mempunyai pendapatan keuangan yang besar, maka perempuan yang diam di dalam keluarga tersebut pasti menggunakan jasa pembantu rumahtangga dan babysitter untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik keluarga tersebut. Intinya, perempuan dalam keluarga tersebut pasti berpantang untuk turun langsung bekerja menyelesaikan tugas-tugas domestic yang menjadi kodrat mereka.

Namun ketika sebuah keluarga mempunyai pendapatan keuangan yang kecil, maka terlihat sekali bahwa perempuan yang diam dalam keluarga tersebut turun langsung menyelesaikan seluruh pekerjaan domestik, sehingga tampak seolah perempuan-perempuan itu tulus berbakti kepada anak dan keluarganya, padahal sebenarnya tidak. Yang benar adalah, perempuan-perempuan pada keluarga tidak-berduit tersebut terpaksa bekerja menjalani tugas domestiknya, karena ketiadaan uang untuk menggaji para pembantu dan babysitter.

Perempuan akan dikatakan mahluk yang penuh ketulusan di dalam berbakti kepada anak dan keluarganya, kalau keadaan yang melingkupi perempuan tersebut adalah:

  • pertama, keluarga tersebut merupakan keluarga yang mempunyai pendapatan keuangan yang besar,
  • namun kedua, keluarga tersebut pun tidak menggunakan jasa pembantu dan babysitter, karena seluruh pekerjaan domestik pada keluarga tersebut tetap ditangani oleh perempuan-perempuan mereka di dalam keluarga itu.

Pertanyaannya adalah, apakah pernah ada perempuan-perempuan yang seperti itu? Jawabannya adalah: TIDAK PERNAH ADA.

Penutup.

Nabi Muhammad Saw bersabda: “perempuan itu tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Dan tulang rusuk laki-laki itu adalah bengkok”.

Arti dari phrase bengkok adalah, bahwa selamanya perempuan TIDAK PERNAH BERLAKU LURUS …… selamanya perempuan tidak akan pernah sanggup untuk berlaku konsisten ….

Itulah makna dari Alhadis Nabi tersebut, yaitu bahwa perempuan adalah mahluk yang bengkok ….

Wallahu a’lam bishawab.

Meringkas Larangan Perempuan Diberdayakan

meringkasIslam mengajarkan umatnya untuk melarang perempuan keluar rumah, seperti yang termaktub di dalam surah Al-ahzab ayat 33, ayat-ayat lainnya, dan juga di dalam beberapa Alhadis sahih. Di luar naskah suci itu, tampaknya ajaran Islam mengenai larangan perempuan-keluar-rumah juga didukung oleh kodrat dan logika. Dengan kata lain, larangan perempuan keluar rumah bukan saja merupakan ajaran Islam, melainkan juga merupakan titah alam semesta dan juga fitrah.

Namun yang jelas, mengapa Islam melarang perempuan keluar rumah, tampaknya karena memang terdapat begitu banyak mudharat yang tercipta kalau perempuan keluar rumah. Mudharat bukan untuk perempuan itu saja, melainkan untuk seluruh umat, dan seluruh bangsa. Kebalikannya, akan terdapat hikmat dan nikmat yang mahabesar kalau seluruh perempuan tetap senantiasa tinggal di dalam rumah, karena itulah, Allah Swt menciptakan perempuan sebagai mahluk domestik. Dan hal tersebut merupakan hukum alam, tidak dapat diubah mau pun dihindari.

Terdapat 5 (lima) ide mendasar dari larangan perempuan keluar rumah:

Pertama. Tugas domestik.

Kodrat perempuan adalah domestik, supaya dengan domestik tersebut perempuan dapat menyelesakan seluruh tugas domestiknya. Ingatlah, bahwa tugas perempuan seluruhnya berada di dalam rumahnya, yaitu:

  • memasak,
  • mencuci baju,
  • menjemur baju,
  • menyeterika baju,
  • merapikan rumah,
  • menenun, menjahit kain,
  • membesarkan anak,
  • mendidik dan mengasuh anak,
  • memandikan anak,
  • mencuci piring, dsb.

Alangkah patutnya untuk direnungkan, bahwa biar bagaimana pun pekerjaan domestik tersebut merupakan pekerjaan yang pantas untuk digeluti perempuan. Dengan kata lain, melimpahkan atau mempercayakan pekerjaan domestik kepada perempuan bukanlah suatu paksaan atau penganiayaan atas perempuan, melainkan mengembalikan perempuan kepada fitrahnya.

Perempuan adalah mahluk yang lemah, maka dari itu Allah Swt tidak pernah melimpahkan pekerjaan yang berat kepada perempuan. Sementara itu di lain pihak, sama diketahui bahwa pekerjaan domestik merupakan pekerjaan ringan, merupakan pekerjaan yang tidak berat. Demikianlah maka Allah Swt telah menitahkan bahwa sudah sepantasnya perempuan mengerjakan pekerjaan yang tidak berat kepada perempuan, yaitu pekerjaan domestik.

Hal lain yang harus diperhatikan di sini adalah, bahwa pekerjaan domestik sama sekali tidak menghinakan perempuan. Tidak ada dan tidak pernah suatu masyarakat memandang rendah dan hina kepada perempuan yang teguh dengan pekerjaan domestik. Justru kebalikannya, masyarakat akan menaruh hormat dan sayang kepada setiap perempuan yang teguh dengan pekerjaan domestik.

Pun juga harus diungkapkan, bahwa tidak ada satu anak pun yang membenci Bunda-nya kalau Bunda-nya merupakan perempuan domestik. Tidak ada seorang anak yang ingin (bahkan memaksa) supaya ibu-nya haruslah seorang wanita pekerja yang menyandang jabatan mentereng di lini publik.

Mari direnungkan dengan baik. Kalau perempuan keluar rumah untuk bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan – berdampingan dengan kaum pria di tempat kerja (lini publik), maka pertanyaannya adalah, siapakah yang akan menyelesaikan seluruh pekerjaan domestik di rumah? Siapakah yang akan mengurus dan membesarkan anak-anak?

Apakah tugas membesarkan dan mengasuh anak-anak tidak begitu penting bagi seorang perempuan, sehingga yang lebih penting baginya adalah bekerja mencari uang demi mengejar persamaan gender dengan kaum pria?

Ingatlah, pembantu rumahtangga dan babysitter tidak dapat dijadikan jawaban dan solusi bagi perempuan untuk mengatasi masalah pekerjaan domestik. Untuk lebih jelas mengenai keharaman profesi pembantu rumahtangga ini, silahkan baca artikel ini,

)) Pembantu Rumahtangga Adalah Haram Dalam Islam.

Kedua. Jangan memberanikan perempuan.

Dengan domestik alias senantiasa tinggal di dalam rumahnya, maka akan terjagalah manut, kelembutan dan kesantunannya sebagai wanita. Ingatlah, bahwa perempuan adalah mahluk lemah, mahluk yang tidak berdaya. Dan hal tersebut merupakan fitrah atas kehidupan. Maka dari itu, adalah jauh lebih penting untuk memelihara mau pun mempertahankan perempuan sebagai mahluk lemah dan tidak berdaya, agar dengan demikian perempuan tetap berada di dalam mentalitas manut, lembut dan penuh kesantunan. Itulah fitrah perempuan.

Dengan terus domestik alias diam di dalam rumahnya, maka perempuan akan terus mempertajam intuisi kewanitaannya, akan semakin lembut, pemalu, low-profile, penyayang, rendah-hati, simple-mind, sayang kepada anak-anak, innocent, penurut, dsb.

Kebalikannya, kalau perempuan dilumrahkan untuk keluar rumah (untuk diberdayakan) maka dipastikan perempuan akan kehilangan fitrahnya sebagai mahluk yang tidak berdaya, lemah penuh kelembutan dan kesantunannya. Ingatlah bahwa dunia di luar rumah merupakan dunia yang keras dan kejam. Dan siapa saja yang berkiprah di luar rumah secara terus-menerus pastilah akan menjadi kasar-hati dan penuh kebengisan.

Bagaimana dengan perempuan yang terus keluar rumah sehingga lama kelamaan kehilangan kesantunan dan kelembutannya sebagai perempuan? Perempuan yang awalnya lembut, manut, sejuk, penuh kesantunan, sebagai mahluk lemah dan tidak berdaya, pasti akan berubah menjadi manusia yang penuh kebengisan dan kekasaran, baik kasar-hati mau pun kasar perilaku. Dan bukankah pada akhirnya kebiasaannya keluar rumah setiap hari menjadi satu-satunya sebab kerusakan tersebut?

Adalah salah untuk membuat perempuan berani. Banyak lembaga pencak-silat menjadikan perempuan sebagai target keanggotaannya. Ada pula lembaga kemiliteran yang merekrut perempuan untuk dijadikan berani, supaya berani menghadapi musuh. Jelaslah bahwa pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan yang melanggar fitrah dan kodrat perempuan yang telah Allah Swt tetapkan atas sekalian alam.

Kalaulah perempuan berhasil dibuat berani, dengan mengajarinya teknik pencak-silat, atau menjadikannya tentara tangguh, maka apakah tujuannya apa? Apakah dunia kerja kekurangan laki-laki untuk dipekerjakan sebagai tenaga pengaman atau tentara? Atau, apakah supaya perempuan menjadi lebih sering berada di luar rumah untuk menjaga keamanan kota dengan memanggul senjata? Dan apakah pernah ada tertulis di dalam sejarah manusia bahwa tentara perempuan berhasil merebut kota atau melumpuhkan musuh bersenjata?

Renungkanlah, kalau perempuan yang berhasil dibuat berani kemudian ditempatkan di luar rumah untuk menjaga keamanan kota dengan memanggul senjata, maka bagaimana dengan tugasnya merawat dan membesarkan anak-anaknya? Bagaimana dengan tugasnya untuk memasak dan membuat makan untuk ayahbunda dan keluarga di rumah? Apakah tugas-tugas tersebut bukan tugas perempuan?

Ada ide yang dikembangkan manusia ketika mereka ingin memberanikan perempuan dengan cara melatih mereka pencak-silat atau lainnya. Tujuannya adalah, kalau perempuan berjalan sendirian mendapat ancaman pemerkosaan, atau pelecehan seksual, atau penodongan, maka perempuan tersebut akan dapat melumpuhkan penjahat tersebut. Pertanyaannya adalah, mengapa perempuan tersebut keluar rumah? Apakah ada hal yang penting sehingga perempuan itu harus keluar rumah? Kalau seorang perempuan terus berada di dalam rumahnya (seperti yang Allah Swt titahkan di dalam Alquran, dan juga banyak Alhadis), maka bagaimana mungkin seorang perempuan menjadi sasaran kejahatan di luar rumah?

Ingatlah, bahwa bahkan karena perempuan keluar rumah-lah maka muncul kejahatan pemerkosaan, pelecehan seksual, penodongan dsb. Dengan kata lain, kalau tidak ada perempuan yang keluar rumah, maka bagaimana mungkin kejahatan tersebut dapat muncul di tengah masyarakat?

Ringkasnya, perempuan ditakdirkan Allah Swt sebagai mahluk yang lemah dan tidak berdaya. Pertahankanlah perempuan sebagai mahluk yang demikian. Namun ada kalanya perempuan menjadi mahluk yang berani dikarenakan beberapa hal:

  • selalu keluar rumah (untuk memperoleh pemberdayaan). Dunia di luar rumah merupakan dunia yang penuh kebengisan dan kekasaran. Maka kalau perempuan yang awalnya tercipta sebagai mahluk yang lemah dan tidak berdaya, akan berubah menjadi mahluk yang keras dan bengis.
  • Pemberdayaan itu sendiri membuat perempuan menjadi berani, engkar, kerasa-tengkuk, dikarenakan sang perempuan sudah merasa menjadi individu yang berduit dan berjabatan. Itu semua membuatnya, sekali lagi, engkar, keras-tengkuk, dan penselisih. Kadang dari point inilah muncul perempuan yang begitu mudahnya menceraikan suami. Itu semua karena perempuan sudah berhati kasar, engkar, keras-tengkuk dan penselisih.
  • Merekrut atau melatih perempuan pencak-silat mau pun menjadi anggota kemiliteran untuk tujuan keamanan.

Allah Swt telah menjadikan perempuan sebagai mahluk lemah dan tidak berdaya, maka apakah itu salah di dalam pandangan manusia? Apakah itu salah sehingga manusia harus membetuli kesalahan tersebut dengan membuat perempuan jadi berani – melalui salah satu cara di atas?

Tidaklah demikian. Kalau Allah Swt telah menjadikan perempuan sebagai mahluk lemah dan tidak berdaya, maka itu akan membawa hikmat yang besar bagi kaum yang beriman dan berakal lagi bersyukur. Maka tetapkan dan pertahankanlah perempuan sebagai mahluk yang lemah dan tidak berdaya tersebut.

Perempuan pemberani vs perempuan manut dan santun.

Perempuan yang berketerusan keluar rumah, akan menjadi perempuan yang kasar, bukan lagi lembut, manut dan santun. Apapun alasannya, apapun latar-belakangnya, apapun filosofinya, perempuan berhati-kasar tetaplah merupakan pembangkangan terhadap nilai kodrati, dan melanggar kepantasan. Tepat sekali untuk dikatakan bahwa perempuan berhati kasar adalah bencana.

Di mana pun manusia hidup, pastilah mereka berjalan di bawah bayang-bayang nurani, naluri dan fitrah. Fitrah di dalam hal ini pasti menuntun manusia untuk menilai, bahwa yang benar dan luhur adalah perempuan itu manut, taat dan takut kepada (seluruh laki-laki, dan khususnya di sini adalah) suaminya. Tidak ada alasannya perempuan untuk berani kepada laki-laki, laki-laki mana pun. Hal ini harus dilihat dari kekuatan fisik sebagai dasar: sekuat apapun seorang perempuan, pasti jauh lebih kuat laki-laki terlemah sekali pun. Tidak pernah ada perempuan yang menang berkelahi dengan laki-laki (kalau pun ada, itu hanya kasuistik, untung-untungan).

Perempuan sekali hempas oleh tangan pria pasti tersungkur ke tanah dan tidak berkutik lagi. Maka mengapa ada perempuan yang berani melawan laki-laki, atau galak terhadap laki-laki? Tidak pernah perempuan diciptakan untuk menjadi pemberani dan galak, khususnya galak terhadap pria. Untuk menjadi galak kepada anaknya saja tidak pantas, apalagi kepada para lelaki. Perempuan diciptakan hanya untuk menjadi lembut dan penuh kesantunan, dan untuk dapat melihat bahwa pria adalah pelindung perempuan karena pria adalah kuat fisiknya.

Kalau pria, memang diciptakan untuk menjadi galak dan pemberani, karena memang itulah alamnya kaum lelaki: bukan lelaki namanya kalau tidak pemberani. Dan kemudian ada pertanyaan, apakah harus sama antara pria dan wanita? Anggaplah perempuan memang diciptakan untuk menjadi galak dan pemberani, maka kemudian apakah perempuan mempunyai modal untuk sifatnya itu, yaitu kekuatan fisik dan mental tahan-banting, tidak cengeng, sebagaimana layaknya seorang pria?

Fitrah menuntun manusia untuk berfikir, bahwa adalah luhur kalau perempuan takut kepada pria, dan kemudian manut kepada pria, khususnya di dalam hal ini pria dari keluarganya, abangnya, adiknya, pamannya, suaminya, dsb. Sudah tepat kalau seorang perempuan takut kepada pria, takut yang artinya adalah manut dan tidak galak terhadap pria.

Terjadi suatu keadaan yang sungsang, kalau seorang perempuan bersikap berani dan galak kepada pria, pria mana pun. Perempuan tersebut pasti tidak waras, tidak berfikir dengan baik (pun pada dasarnya perempuan tidak bisa berfikir, karena mereka hanya digerakkan oleh emosi dan hati). Ia tidak memikirkan keselamatannya, dan tidak memikirkan kefitrahannya sebagai perempuan.

Perempuan kalau ia waras, pasti akan memilih untuk minggir dari lintasan laki-laki, memilih untuk mundur dari depan seorang laki-laki. Dan kalau sikap itu yang ditunjukkan seorang perempuan, maka hal tersebut adalah pantas sekali, sejuk sekali.

Namun kalau perempuan tidak waras, egois, engkar, pasti ia berfikir bahwa melawan pria merupakan langkah terbaik. Di dalam fikirannya (yang sesat dan lemah itu), pria harus dilawan di dalam suatu konflik, karena pria selalu salah, menurutnya. Namun kalau konflik tersebut sudah begitu matang dan kritis sehingga terkadang membuat si pria maju untuk berkelahi, tiba-tiba si perempuan mengambil sikap seolah pria ini hanya beraninya kepada perempuan. Tunggu, bukankah sejak awal si perempuan yang menantang? Dan apakah itu berarti seorang pria harus takut kepada perempuan – supaya tidak dikatakan beraninya hanya kepada perempuan?

Namun yang jelas, dari kejadian ini, si perempuan betul-betul tidak waras, betul-betul tidak berfikir secara proporsional (ingat, pada dasarnya perempuan tidak bisa berfikir, karena mereka hanya digerakkan oleh emosi dan hati). Hal ini disebabkan karena perempuan telah berhati-kasar, keras-tengkuk dan engkar, yang mana keseluruhan hal tersebut merupakan akibat dari senantiasa keluar rumah.

Tidak perlu membahas atau menyangkut-pautkan keberanian perempuan (untuk galak terhadap pria), dengan kebenaran. Bukan itu pointnya. Perempuan tidak mempunyai alasan apapun untuk galak atau bersitegang terhadap seorang pria, demi suatu kebenaran. Kebenaran apa? Ini bukan masalah benar atau salah, ini adalah masalah bahwa perempuan yang luhur adalah perempuan yang selalu memilih untuk menghindari laki-laki di dalam konflik. Ini adalah masalah kepantasan, masalah kodrat dan fitrah.

Sebenar apapun seorang perempuan, itu bukan alasan untuk bersitegang dengan pria. Buat apa benar, kalau akhirnya kekuatan fisik pria menghempaskannya ke tanah dan tidak berkutik lagi untuk selama-lamanya? Memang benar bahwa pria tersebut akan berurusan dengan polisi atau apalah, namun bukankah si perempuan akhirnya beristirahat di kamar mayat?

Tidak ada ruginya kalau perempuan selalu di dalam keadaan / posisi / mentalitas takut terhadap pria. Banyak dijumpai perempuan yang takut kepada pria (pria mana pun), namun bukankah justru perempuan-perempuan tersebut tetap di dalam keadaan diberkati, penuh keberuntungan, disayang keluarganya, bahagia bersama ayah dan suaminya, dsb? Dan intinya, bukankah itu sudah sesuai dengan fitrah dan kepantasan?

Tidak pernah ada suatu pembicaraan yang menyalahkan seorang perempuan kalau ia takut kepada pria. Justru suatu pembicaraan akan menilai wajar kepada seorang perempuan kalau takut kepada pria. Karena memang itulah fitrah, itulah kepantasan.

Kebalikannya malah, akan banyak pembicaraan yang menyalahkan seorang perempuan yang galak dan engkar terhadap pria (sehingga pria-nya ketakutan). Pasti perempuan itu akan dinilai tidak waras, keras-tengkuk, engkar, dsb. Ujung-ujungnya, pembicaraan tersebut pasti menuntut atau menginginkan perempuan untuk low-profile dan berhati lembut. Karena, bukankah itu inti dari keperempuanan?

Apakah perempuan itu?

Perempuan adalah mahluk yang penakut. Wanita berasal dari bahasa Jawa, yaitu ‘wani’ dan ‘tak’. ‘Wani’ berarti berani, dan ‘tak’ berarti tidak. Jadi wanita berarti ‘tidak berani’. Hal ini untuk diperbalikkan dengan pria, yang berani, gagah dan perkasa.

Ia bahkan takut kepada malam yang gelap gulita. Jangankan malam, sendirian di siang hari pun perempuan merasa ketakutan sangat. Apakah perempuan mempunyai keberanian untuk membunuh? Tidak. Jangankan membunuh manusia, membunuh kecoak dan tikus pun perempuan tidak berani, bahkan ketakutan. Susah memikirkannya, namun begini: melihat tikus saja perempuan sudah ketakutan.

Mendengar suara petir yang membahana saja seorang perempuan langsung ketakutan dan ciut hatinya bukan kepalang, padahal itu hanya suara petir. Melihat darah nyamuk yang memberkas di lengannya saja perempuan sudah ketakutan dan merinding, bagaimana dengan menjadi seorang pejuang di medan pertempuran, yang pekerjaannya membunuh musuh satu persatu tanpa ampun? Adakah perempuan yang berani memegang pisau kemudian menyembelih ayam atau kambing sehingga melihat darah merahnya menyembur dan mengalir ke tanah? Tidak ada. Itulah se-penakutnya perempuan.

Intinya, fitrah perempuan adalah manut kepada alam patriarkhat, dan adalah tidak pantas kalau perempuan mempunyai sifat berani seperti laki-laki. Sementara itu, melumrahkan perempuan untuk terus keluar rumah akan mengubah perempuan yang santun dan penuh kelembutan menjadi perempuan berhati kasar dan berperangai keras.

Pada masyarakat atau sistem sosial yang melumrahkan perempuan keluar rumah, sudah lumrah melihat perempuan yang berhati kasar dan berperangai kasar, engkar dan keras-tengkuk. Mereka tanpa pikir panjang membentak orang lain dengan suara tinggi, tidak mau mengalah, bersitegang, dsb. Apakah perempuan seperti ini yang dikehendaki Allah Swt?

Itulah sebabnya Islam melarang perempuan keluar rumah, agar dengan demikian perempuan tetap berada di dalam manut, santun dan kelembutannya sebagai perempuan.

Ketiga. Menjaga kesucian jiwa dan raga perempuan.

Dengan domestik, maka perempuan tidak akan terpapar pria asing di lini publik. Ingatlah, bahwa berbahaya untuk membiarkan atau menempatkan perempuan untuk terpapar pria asing di lini publik.

Perempuan yang dilumrahkan keluar rumah sehingga terpapar pria asing, akan berakibat pada mematikan rasa malu, jengah dan segannya kepada pria-pria asing tersebut, dan kemudian akan tergantikan dengan munculnya rasa suka, damba dan sayang kepada pria-pria asing. Dari sinilah akan muncul gejala pacaran, perilaku genit, selingkuh, dan tabiat murahan.

Ingatlah bahwa pada awalnya setiap perempuan mempunyai hati yang malu, jengah dan segan kepada pria asing mana pun. Dan hal tersebut merupakan fitrah dan keindahan seorang perempuan. Namun kemudian adalah bencana kalau membiarkan perempuan keluar rumah sehingga terpapar pria asing, yang mana akibatnya perempuan-perempuan tersebut menggeser keadaan hati dan jiwanya, dari malu, jengah dan segan kepada pria asing, ke keadaan menyukai, mendamba dan menyayangi pria-pria.

Dengan selalu keluar rumah sehingga terpapar pria asing di lini publik, mulai tercemarlah kesucian hati dan ruh perempuan. Dengan kata lain, perempuan-keluar-rumah merupakan pangkal dan sumber terjadinya ‘kejahatan tulang sulbi’, yaitu kejahatan / penyimpangan yang berhubungan dengan kelamin, atau syahwat. Untuk lebih jelas mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Mendengar Isak Tangis Mempelai Perempuan Di Pelaminan.

Ingatlah, bahwa pria-pria asing yang ditemui kaum wanita di luar rumah, biar bagaimana pun adalah pria-pria manis, baik-hati, menggemaskan, bersih, wangi, penuh dedikasi, tampan, simpatik, gentlemen, dsb: tidak mungkin dan tidak pernah Tuhan menciptakan pria-pria di dalam bentuk seperti tikus-got yang menjijikkan, penuh koreng-keropeng, bau, bajingan dan rupa yang tidak jelas.

Bagaimana mungkin wanita-wanita yang mempunyai perasaan, dan pada fitrahnya membutuhkan belaian kekar seorang pria – dapat mengabaikan nilai-nilai indah yang ada para pria asing di luar rumah? Kalau sudah terbit rasa suka, damba dan sayang kepada pria-pria kota (setelah matinya rasa malu, jengah dan segan), pasti perempuan-perempuan ini akan berbuat apa saja untuk dapat bertemu pria-pria itu – untuk memulai suatu hubungan yang lebih emosional, mengikat dan pribadi. Ketahuilah bahwa hal tersebut adalah keji dan nista. Mereka akan enggan berbicara mengenai pernikahan yang suci dan agung untuk menaungi kesucian diri dan tubuh mereka, manakala mereka sudah keluar rumah setiap hari, dan kemudian bertemu pria-pria asing ini.

Islam mengajarkan bahwa perempuan harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya. Praktis, karena terbukti di dalam sejarah kehidupan ini, bahwa penerapan larangan ini berimplikasi pada tetap terpeliharanya perempuan-perempuan Muslim akan jiwa pemalu, segan dan jengah terhadap pria asing. Dan itu artinya seluruh perempuan akan terjaga dari perbuatan nista.

Keempat. Perempuan otonom akan menentang tuntunan moral.

Perempuan keluar rumah yang bertujuan pemberdayaan, baik di dalam hal pendidikan mau pun pekerjaan, akan mengakibatkan perempuan memperoleh otonominya sebagai individu. Perempuan yang mempunyai sumber keuangannya sendiri segera akan menjadi otonomi, mandiri, dan itu artinya ia akan ber-oposisi (menentang) terhadap frame patriarkhat, wewenang atau tuntunan moral apapun.

Ingatlah, bahwa perempuan mempunyai hubungan geneologis dengan bangsa Iblis. Artinya, sekali perempuan memperoleh pemberdayaan, maka pemberdayaan tersebut sama sekali tidak membuat perempuan menginsafi roh kebenaran dan hidup di dalam karunia Tuhan, melainkan mengikuti langkah Iblis, yaitu memerangi kebajikan dan kesalehan.

Perempuan yang diberdayakan akan lebih mementingkan egosentrisme-nya sendiri, ketimbang berfikir secara bijaksana dan rohani. Ingatlah, bahwa biar bagaimana pun perempuan merupakan organisme yang tidak dapat berfikir. Lebih dari itu, perempuan adalah organisme yang hanya berpedoman pada emosi dan perasaannya, bukan kepada kesadaran dan logika kebijaksanaan.

Oleh karena itu, kalau perempuan sudah diberdayakan, maka satu-satunya kecenderungan yang akan mereka tempuh adalah kecenderungan yang egosentris, dan emosional, suatu hal yang bertentangan dengan kebajikan dan kesalehan.

Logikanya adalah, perempuan tidak dilengkapi akal nan sempurna. Kebalikannya, perempuan hanya dianugrahi emosi dan Hawa-nafsu. Bagaimana keadaannya kalau suatu organisme yang tidak diperlengkapi akal nan sempurna kemudian diberi pemberdayaan (yaitu pendidikan dan pekerjaan)? Apakah ilmu dan uang yang ia peroleh melalui pemberdayaan akan membuat ia bijaksana dan agung?

Bagaimana mungkin? Bukankah ia tidak mempunyai akal nan sempurna? Bukankah hanya yang berakal sempurna saja yang dapat berbuat bijaksana dan agung kalau sudah diberdayakan? Dan sementara itu bukankah perempuan merupakan organisme yang hanya dianugrahi emosi dan hawanafsu, bukan akal sempurna?

Tepat sekali! Kalau suatu organisme yang tidak dianugrahi akal sempurna diberi pemberdayaan, maka kelak pemberdayaan tersebut hanya mematangkan emosi dan hawa-nafsunya saja, lain tidak. Tidak mungkin suatu organisme yang tidak berakal sempurna bisa berbuat agung dan luhur kalau sebelumnya diberdayakan.

Singkat kata, organisme tersebut (yaitu perempuan) akan berbuat kerusakan dengan pemberdayaan tersebut, bukan kemaslahatan. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Wanita Dan Hubungannya Dengan Iblis.

Banyak dijumpai, perempuan yang diberdayakan, alias perempuan sophis, lebih suka menceraikan suaminya, seenak dan semudah ia memutuskan meninggalkan pasar malam. Padahal masalah yang ia hadapi dengan suaminya hanya sebatas masalah uang, atau cara menyelesaikan pekerjaan rumah, atau perselisihan di dalam hal pekerjaan istri, atau bahkan hanya karena sudah tidak ada lagi cinta. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikel,

)) Lembaga Pernikahan Ala Jamban.

Jelas sekali, perempuan yang diberdayakan, berparalel dengan tingginya angka perceraian, yang kebanyakan gugat-cerai diajukan pihak istri. Ini membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan yang berakibat munculnya perempuan-perempuan otonom, benar-benar membuat perempuan telah kehilangan kesantunan dan manutnya pada kebajikan dan kewarasan. Itulah kejinya kalau perempuan dibiarkan mendapat otonominya.

Di lain kasus, perempuan yang otonomi, begitu bebas untuk menentukan style mereka di dalam hal busana. Belum lagi perangai yang rendah dan negatif.

Jaman yang ditandai dengan perempuan yang maksimal di dalam hal otonominya (karena diberdayakan), merupakan jaman kelumrahan melihat wanita tampil dengan gaya “semau-gue” yang mencerminkan perilaku negatif dan rendahan. Hal itu tampak seperti:

  • Berbusana serba minim (rokmini, celana superpendek, baju ‘youcansee’, busana serba ketat, dsb),
  • Memangkas rambutnya dengan gaya trondol,
  • Merokok,
  • Pulang malam.
  • Atau mengambil gaya duduk yang tidak pantas untuk wanita (seperti duduk ngangkang, lutut naik ke atas, atau kaki naik ke atas),
  • Joget-joget di depan publik,
  • Gemar menjadi pusat perhatian publik (seperti karena kecantikannya, keberaniannya pamer aurat, suara-nya), dsb.

Sepertinya mereka ingin membuat pesan, bahwa ‘ini hidup adalah hidupku, gaya adalah gayaku, badan ini adalah badanku …. uang ini uangku juga, maka terserah aku …..”.

Kalau diperhatikan lebih seksama, sebenarnya perangai perempuan sekarang ini (yang rendahan dan ‘semau gue’) berbeda jauh dari perangai perempuan pada jaman Siti Nurbaya, di mana semua perempuan pada masa itu hidup dengan ketaatan kepada norma masyarakat dan norma kepantasan, termasuk norma keperempuanan yang agung dan luhur.

Perempuan pada jaman Siti Nurbaya teguh mengenakan busana yang sopan, berkerudung, berkain panjang, pemalu, dan serba tertutup. Mereka pantang mengenakan celana, apalagi celana pendek, dsb. Di dalam hal gaya rambut, mereka teguh ber-rambut panjang, dan selalu duduk dengan gaya yang pantas untuk seorang perempuan, yaitu duduk bersimpuh.

Islam mengajarkan bahwa pemberdayaan perempuan adalah haram, memberdayakan perempuan merupakan kemaksiatan, yang hanya akan mencelakakan perempuan itu sendiri. Islam mengajarkan bahwa perempuan harus berteguh dengan kodrat domestiknya, maka dengan demikian ia tidak akan diberdayakan, dan dengan tidak diberdayakan, maka perempuan akan tetap hidup dengan kesantunan dan kesederhanaan spiritualnya.

Ingatlah, adalah mustahil melihat perempuan yang diberdayakan (sehinggakan ia menjadi otonom) tetap merupakan perempuan yang manut dan patuh pada hukum kepantasan. Mustahil perempuan yang diberdayakan berteguh dengan pekerjaan domestiknya, manut kepada kodrat dan fitrahnya, melahirkan banyak anak, mencuci sendiri baju keluarga, masak makanan sendiri untuk keluarganya, tetap tinggal di rumah, dsb. Yang hanya nampak adalah, setiap perempuan yang diberdayakan sehinggakan menjadi perempuan yang otonom, pasti menuntut persamaan gender, menolak membesarkan anak, menolak melahirkan banyak anak, menolak untuk terus tinggal di rumah, menolak tuntuan moral sosial untuk mengenakan busana yang pantas, mereka mengenakan busana yang menabrak norma kesusilaan, berkelakuan yang negatif dan nista, dsb.

Itulah sebabnya Islam melarang umatnya untuk melumrahkan perempuan keluar rumah, atau melumrahkan pemberdayaan perempuan. Itu semua karena bukti sudah tersedia melimpah di alam raya ini.

Kelima. Emansipasi Wanita meledakkan pengangguran.

Perempuan yang keluar rumah untuk tujuan bekerja, secara langsung mau pun tidak langsung telah mendepak laki-laki dari lapangan kerja. Ini akibatnya laki-laki akan menjadi pengangguran, karena tempatnya bekerja telah di-aneksasi perempuan.

Ingatlah, bahwa adalah berbahaya untuk membiarkan atau mengakibatkan laki-laki menjadi pengangguran, karena laki-laki sungguh mempunyai tenaga yang kuat dan akal yang panjang. Itu berarti adanya satu sumberdaya yang siap membuat kerusakan di tempat lain kalau ia adalah laki-laki yang menganggur. Maraknya perempuan bekerja, pasti berparalel dengan meledaknya angka pengangguran di tengah masyarakat. Dan akhirnya, tingginya angka pengangguran pasti berkorelasi dengan kerawanan sosial, seperti perampokan, peredaran miras, perjudian, penipuan, premanisme, penodongan, pemerkosaan, dsb.

Emansipasi Wanita (EW), atau perempuan yang senantiasa keluar rumah, atau juga persamaan gender, pasti akan berakhir pada lingkungan di mana wanita memenuhi tempat kerja: persamaan gender akan membuat lapangan pekerjaan dikuasai oleh kaum wanita. Dapat dikatakan, bahwa pada awalnya emansipasi wanita adalah gelombang sosial ketika para wanita MENJARAHI (mencaplok, meng-aneksasi, meng-invasi) lapangan pekerjaan yang sebenarnya adalah milik alami kaum pria.

Akibat praktisnya adalah, bahwa kaum pria (yang sebenarnya merupakan pemilik alami lapangan kerja) menjadi TERUSIR DAN TERDEPAK dari lapangan pekerjaan, karena tempat mereka bekerja telah di-aneksasi kaum wanita. Ini berarti gelombang wanita-bekerja menimbulkan ledakan pengangguran dari kalangan kaum pria.

Harus disadari, bahwa laki-laki yang menjadi pengangguran merupakan ancaman yang serius bagi sosialnya. Adalah tidak mungkin untuk memikirkan dan mewujudkan, bahwa meledaknya gelombang wanita-bekerja di satu pihak TIDAK AKAN berdampak pada meledaknya angka pengangguran di pihak lain.

Kita seperti membayangkan percobaan yang dilakukan Archimedes ketika dirinya masuk ke dalam bak yang penuh berisi air: ketika ia masuk ke dalam bak, akibatnya sejumlah air terdesak sehingga keluar dari bak tersebut: jumlah air yang keluar dari bak air tersebut ADALAH SAMA dengan besar tubuh sang Archimedes …..

Jadi, kalau saja Archimedes tidak masuk ke dalam bak air, DIPASTIKAN tidak ada air yang keluar atau tumpah dari bak. Demikian jugalah dengan hal pengangguran. Kalau tidak ada gelombang wanita-bekerja yang masuk ke dunia kerja, maka tidak akan pernah ada pengangguran di tengah masyarakat.

Intinya, buat apakah wanita bekerja? Apakah urgensinya sehingga seorang wanita harus bekerja? Apakah kalau seorang wanita tidak keluar rumah untuk bekerja, maka ia akan mati? Dan ingatlah, bahwa TIDAK ADA SATU PUN JENIS PEKERJAAN yang hanya cocok untuk wanita: seluruh pekerjaan adalah hanya untuk pria, dan cocok untuk pria.

Cobalah lihat kenyataan di dalam kehidupan ini. Terdapat begitu banyak keluarga dan rumahtangga yang istri-istri dan wanitanya tidak bekerja, melainkan senantiasa tinggal di dalam rumah untuk membesarkan anak-anak dan membereskan seluruh pekerjaan domestik. Jumlah mereka banyak, banyak sekali di dalam kehidupan ini. Tanpa pandang apapun agama mereka, apapun suku mereka, apapun latar belakang pendidikan mereka, baik di kota mau pun di desa. Apapun latar-belakang ekonomi mereka, ……. mereka semua tidak bekerja mencari uang, jabatan dan karir. Mereka semua senantiasa setia dengan kodrat kewanitaan mereka yaitu domestik. Namun apa yang terjadi?

  • Apakah mereka semua jatuh miskin?
  • Apakah mereka menjadi bodoh?
  • Apakah mereka selalu menjadi bulan-bulanan kemalangan?
  • Apakah mereka menjadi gagal melahirkan anak-anak mereka?
  • Apakah mereka jadi dibenci oleh suami dan ayah-ayah mereka?
  • Apakah mereka menjadi penjahat di tengah keluarga?

Tidaklah demikian. Justru mereka tetap menjalani kehidupan ini dengan penuh bahagia bersama keluarga dan anak-anak mereka, padahal mereka semua tidak bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Maka bukankah hal ini merupakan pertanda dan hikmat bagi seluruh umat madani, bahwa Emansipasi Wanita (EW) tidak seharusnya ada? Bukankah ini merupakan logika bahwa perempuan tidak perlu bekerja, tidak perlu menuntut persamaan gender?

Itulah sebabnya, tidak ada urgensi apapun bagi perempuan untuk bekerja, karena toh dengan tidak bekerja, mereka tetap dapat menjalani kehidupan ini dengan normal tidak kekurangan suatu apapun. Akhirnya ada pertanyaan, mengapa harus bekerja? Mengapa harus tegang-bergelimpangan menuntut persamaan gender dengan pria di tempat kerja?

Ingatlah, bekerja buat lelaki adalah harga diri dan maslahat seluruh keluarga, sementara bekerja buat kaum perempuan tidak ada hubungannya dengan itu semua. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai urgensi wanita bekerja, baca di sini,

)) Gradasi Larangan Wanita Bekerja.

Bagi sebagian wanita, bekerja tidak lebih merupakan prestige dan gengsi; dan selebihnya hanya dijadikan kesempatan untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya (padahal mereka sudah mempunyai jaminan keuangan dari keluarga mereka). Dengan kata lain, bekerja mencari uang dan jabatan bagi kelompok wanita sophis TIDAKLAH URGEN DAN MENDASAR. Sementara itu di lain pihak, adalah urgen dan mendasar bagi setiap laki-laki untuk bekerja dan mencari uang, karena mereka adalah laki-laki, mereka adalah kepala keluarga, tugas mereka adalah mencari nafkah untuk memberi makan anggota keluarga.

Meledaknya angka pengangguran merupakan situasi darurat, tidak bisa DIBASA-BASIKAN dengan wacana lain. Ingat, pengangguran (yang pasti mereka adalah kaum pria) merupakan ancaman bagi masyarakat: pelaku kriminal, pemerkosa, penjudi, penipu, preman, pemalak, penghangusan umur produktif / usia kerja, menggerogoti sumberdaya negara secara percuma, dsb. Dan yang jelas, pengangguran merupakan pensia-siaan aset negara dan bangsa.

Banyak keluarga yang telah keluar biaya besar untuk mensekolahkan anak-anak pria mereka ke jenjang pendidikan setinggi-tingginya, dan ternyata di kemudian hari dipaksa untuk menjadi pengangguran – karena lapangan pekerjaan yang seharusnya menampung mereka telah lebih dulu dikuasai wanita-bekerja.

Mereka semua (pelajar dan calon pekerja laki-laki) harus diberdayakan, harus diberi lapangan kerja yang layak, dan diberi kesempatan untuk berkarya bagi nusa dan bangsa. Namun toh usaha tersebut akan sia-sia kalau terdapat kelompok wanita yang menuntut persamaan gender. Kelompok inilah (wanita-bekerja) yang akan merampas, menjarahi dan merampok lapangan pekerjaan dari calon pekerja pria yang sejak awal sudah disekolahkan tinggi-tinggi oleh keluarga mereka.

Banyak orang yang mengira, bahwa kelak suatu saat, jumlah lapangan kerja akan berbanding lurus dengan jumlah tenaga kerja, sehingga tidak akan terjadi masalah pengangguran. Oleh karena itu, menurut pandangan sementara orang, tidak mengapa kalau perempuan melakukan infiltrasi ke dalam dunia kerja – yang sejatinya merupakan milik alami kaum pria.

Ingatlah, bahwa hal tersebut adalah utopia murahan. Selamanya tidak mungkin akan tercapai keseimbangan antara jumlah lapangan kerja dengan jumlah tenaga kerja. Dan sungguh, infiltrasi perempuan ke tempat kerja telah menyungkurkan kaum pria sebagai pengangguran.

Renungkanlah dengan baik. Anggaplah Pemerintahan dunia telah berhasil menciptakan lapangan kerja yang melimpah (itu pun mustahil!!) sehingga tercipta keseimbangan antara jumlah tenaga kerja dengan jumlah kesempatan kerja, sehingga dengan demikian tidak ada lagi masalah pengangguran. Namun bukankah bekerja itu sendiri berbahaya buat perempuan? Untuk lebih jauh mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Memperingkas Destruktivitas Emansipasi Wanita.

)) Mari Merusak Dan Menyesatkan Mental Perempuan.

)) Artis Tahun 80an Dan Gejolak Sosialnya.

)) Wanita Mengingkari Kodrat Sementara Pria Taat Kodrat.

Intinya, tetaplah perempuan adalah terlarang untuk bekerja. Kodrat dan fitrah perempuan adalah domestik, dan hal tersebut tidak dapat diubah mau pun direvisi oleh siapa pun. Kalau akan diubah, maka bencanalah yang akan menimpa harmoni kehidupan.

Kalau perempuan menjadi pengangguran, maka apakah hal tersebut merupakan bahaya? Ingatlah, perempuan yang menjadi pengangguran tetaplah seorang perempuan yang bermanfaat di sektor domestiknya, membesarkan anak-anaknya, memasak makanan keluarganya, menyelesaikan seluruh pekerjaan domestiknya, dan akhirnya menjaga kesucian tubuh dan hatinya. Dan yang jelas, seluruh nafkah dan rejekinya sudah ditanggung oleh keluarganya.

Sejak ada Emansipasi Wanita (EW), sejak itu pula banyak pria yang tersungkur sebagai pengangguran di tengah kota. Dan kebalikannya, ketika umat madani belum mengadopsi geliat Emansipasi Wanita (EW), maka ketika itu juga tidak ada satu lelaki pun yang menjadi pengangguran, karena tempatnya untuk bekerja mencari nafkah dan berkarya, aman dan utuh.

Kalau ada kejadian di mana seorang lelaki menjadi pengangguran, yang mana hal itu merupakan masalah sosial, maka tudinglah Emansipasi Wanita (EW) sebagai biang keladinya.

Namun satu hal yang harus direnungkan, bahwa jaman ketika manusia belum mengadopsi geliat Emansipasi Wanita (EW), toh tidak ada satu lelaki mau pun perempuan yang sengsara. Namun ketika jaman telah mengadopsi geliat Emansipasi Wanita (EW), demi Tuhan, telah banyak perempuan mau pun lelaki yang tersungkur di dalam kesengsaraan dan kesia-siaan ……

Itulah sebabnya Islam melarang perempuan keluar rumah, baik untuk tujuan pendidikan mau pun bekerja mencari nafkah, karir, dan jabatan ….. , agar dengan demikian setiap lapangan dan kesempatan bekerja tetap tersedia untuk semua lelaki: dan pengangguran tidak pernah menumbangkan lelaki mana pun. Dan pun perempuan akan tetap utuh dengan kesantunan dan kesederhanaan rohani mereka di dalam rumah-rumah mereka.

Untuk lebih lanjut mengenai pengangguran ini, silahkan baca artikel,

)) https://annisanation.wordpress.com/2015/06/04/emansipasi-wanita-satu-satunya-pencetus-masalah-pengangguran/

Penutup.

Kedomestikan perempuan tidak pernah menganiaya perempuan mana pun, dan kedomestikan perempuan tidak merugikan mau pun menghancurkan peradaban mana pun. Kapan pun dan di mana pun. Bahkan, kedomestikan perempuan itu menguntungkan perempuan itu sendiri, menguntungkan seluruh perempuan, dan akhirnya menguntungkan semua elemen masyarakat. Dengan mendomestikalisasi perempuan, maka perempuan dan masyarakatnya berada di dalam keagungan dan kesuciannya.

Sama diketahui, bahwa langkah-langkah peradaban manusia di muka bumi ini, sebelum diracuni oleh geliat Emansipasi Wanita (EW), telah dan tetap berjalan dengan baik dan agung, tidak ada kekurangan satu apapun. Dan sekarang mengapa umat membutuhkan Emansipasi Wanita (EW), yang hanya menghancurkan peradaban itu sendiri? Dan bukankah itu semua merupakan pertanda dan hikmat bagi umat madani bahwa Emansipasi Wanita (EW) sama sekali tidak seharusnya terjadi?

Dari kelima point di atas, tampak sekali bahwa ternyata Emansipasi Wanita (EW) mau pun persamaan gender, tidak memberi manfaat sekecil apapun, justru geliat tersebut hanya mendatangkan sebesar-besarnya mudharat dan kehancuran umat.

Alangkah patut untuk direnungkan, bahwa semua kesengsaraan dan kehancuran yang dipaparkan melalui kelima point di atas, seutuhnya telah mencakup kehancuran dan kesia-siaan semua aspek kehidupan. Intinya, kalau perempuan dilumrahkan keluar rumah, baik untuk tujuan disekolahkan mau pun bekerja, maka mutlak akan terjadi …….

  • Pelacuran.
  • Perzinaan.
  • Halalisasi dan lumrahnisasi perzinaan.
  • Pornografi.
  • Aborsi.
  • Freesex.
  • Striptis.
  • Eksebisionisme (wanita pamer aurat).
  • Pemerkosaan.
  • Perselingkuhan.
  • Khalwat.
  • Pacaran.
  • Mayat bayi di tempat sampah.
  • Kelahiran anak jadah.
  • Hamil di luar nikah.
  • Kondomisasi.
  • Kumpul kebo.
  • Perawan tua.
  • Bujang lapuk
  • Hidup membujang (perjaka tua, perawan tua, menjanda, menduda).
  • Single-parent.
  • Genitisasi / Ganjenisasi.
  • Maraknya perceraian pasangan muda.
  • Sutari (Suami Takut Istri).
  • Profesi pembantu rumah tangga.
  • Profesi babysitter.
  • Pengangguran.
  • Aneka kriminalitas “putra dari” pengangguran.
  • Dsb.

Mengapa seluruh bencana umat tersebut merebak? Jawabannya adalah kiprah perempuan keluar rumah. Satu-satunya cara supaya bencana-bencana tersebut berhenti, maka hentikanlah juga geliat Emansipasi Wanita (EW). Tumpaslah Emansipasi Wanita (EW) dan persamaan gender, dan perteguhlah perempuan dengan kodrat domestik mereka.

Wallahu a’lam bishawab.

Saat Perempuan Kota Mengenakan Busana Supermini

rokminiJaman sekarang ini, yang ditandai dengan maraknya geliat Emansipasi Wanita (EW), sudah merupakan kelumrahan melihat wanita tampil dengan gaya “semau-gue” yang mencerminkan perilaku negatif dan rendahan. Hal itu tampak seperti:

  • Berbusana serba minim (rokmini, celana superpendek, baju ‘youcansee’, busana serba ketat, dsb),
  • Memangkas rambutnya dengan gaya trondol,
  • Merokok,
  • Pulang malam.
  • Atau mengambil gaya duduk yang tidak pantas untuk wanita (seperti duduk ngangkang, lutut naik ke atas, atau kaki naik ke atas),
  • Joget-joget di depan publik,
  • Gemar menjadi pusat perhatian publik (seperti karena kecantikannya, keberaniannya pamer aurat, suara-nya), dsb.

Sepertinya mereka ingin membuat pesan, bahwa ‘ini hidup adalah hidupku, gaya adalah gayaku, badan ini adalah badanku …. uang ini uangku juga, maka terserah aku …..”.

Kalau diperhatikan lebih seksama, sebenarnya perangai perempuan sekarang ini (yang rendahan dan ‘semau gue’) berbeda jauh dari perangai perempuan pada jaman Siti Nurbaya, di mana semua perempuan pada masa itu hidup dengan ketaatan kepada norma masyarakat dan norma kepantasan, termasuk norma keperempuanan yang agung dan luhur.

Perempuan pada jaman Siti Nurbaya teguh mengenakan busana yang sopan, berkerudung, berkain panjang, pemalu, dan serba tertutup. Mereka pantang mengenakan celana, apalagi celana pendek, dsb. Di dalam hal gaya rambut, mereka teguh ber-rambut panjang, dan selalu duduk dengan gaya yang pantas untuk seorang perempuan, yaitu duduk bersimpuh.

Hidup manusia dilengkapi dan dikawal oleh nurani, dan nurani setiap orang pastilah sama, yaitu menginginkan wanita hidup di dalam kepantasan dan kepatutan. Sementara itu, kepantasan dan kepatutan seorang wanita pastilah mengacu pada gaya kehidupan jaman Siti Nurbaya, yang anggun, luhur dan agung. Jaman Siti Nurbaya adalah jamannya ketika perempuan tidak mendapat pemberdayaan, dalam bentuk memperoleh @-pendidikan dan @-pekerjaan mau pun karir dan jabatan. Pada jaman inilah perempuan hidup di dalam kepantasan dan kepatutan perangai. Praktis, pada jaman Siti Nurbaya seluruh perempuan adalah perempuan yang sederhana.

Berkebalikan dengan itu, jaman sekarang yang merupakan jaman Emansipasi Wanita (EW), merupakan jamannya perempuan hidup di dalam perangai yang negatif, seperti yang telah diutarakan di atas. Pada jaman Emansipasi Wanita (EW) ini, setiap perempuan mendapat pemberdayaan, yaitu pendidikan dan pekerjaan (untuk mendapatkan uang sendiri, jabatan dan karir).

Dari sini akhirnya kita dapat melihat suatu hubungan atau korelasi, antara pemutuan perempuan di satu pihak, dengan gaya dan perangai perempuan itu, di pihak lain.

Pada jaman Siti Nurbaya, perempuan tidak mendapat pemberdayaan. Pada saat yang bersamaan, perempuannya hidup di dalam perangai dan tindak-tanduk yang agung dan luhur. Sementara itu, pada jaman Emansipasi Wanita (EW), perempuan mendapat pemberdayaan, mereka mendapat @-pendidikan, dan mereka mendapat @-pekerjaan. Pada jaman Emansipasi Wanita (EW) inilah, kita dihubungkan dengan fenomena banyak perempuan yang berperilaku negatif, seperti exhibitionisme (pamer aurat), ceraikawin sana-sini, rambut gaya trondol, suka merokok, dsb.

Saat perempuan kota mengenakan busana superminI-BAGAN01-o0o-

Saat perempuan kota mengenakan busana superminI-BAGAN02Demikianlah, fakta sosial apa yang kita saksikan dan kita cermati di tengah masyarakat, baik masyarakat kita sendiri mau pun masyarakat bangsa lain. Fakta tersebut adalah, kalau suatu masyarakat telah memunculkan gejala perempuan berbusana tidak pantas dan berperangai rendah, pastilah masyarakat tersebut telah mengadopsi pemberdayaan perempuan (atau geliat Emansipasi Wanita – EW). Atau kalau dibalik, kalau suatu masyarakat telah memberdayakan perempuan, maka akan bermunculan-lah perempuan-perempuan yang berbusana ‘semau-gue’ dan berperangai rendah. Dengan kata lain, pemberdayaan perempuan PASTI BERKORELASI dengan munculnya perempuan berperangai negatif dan rendah.

Saat perempuan kota mengenakan busana superminI-BAGAN03Kronologis kehancuran moral dan perangai perempuan.

Pada awalnya, kaum perempuan yang berabad-abad hidup di dalam kesantunan dan kepantasan jaman Siti Nurbaya, tiba-tiba dihadapkan pada perkembangan sosial yang lain, yaitu menggelegarnya arus pemberdayaan perempuan, yang lebih dulu menggejala di Eropa, lengkap dengan seluruh efek negatifnya.

Perkembangan ini mewacanakan bahwa kaum perempuan berhak mendapat kesetaraan dengan pria, baik di dalam hal pendidikan, pekerjaan, sumber keuangan, mau pun di dalam hal keterwakilan. Mulailah Pemerintah pada suatu negara melibatkan perempuan di dalam proses pendidikan formal, misalnya, sebagai tahap pertama kesetaraan.

Kalau tahap pertama sudah paripurna, maka kelak perempuan akan menuntut pekerjaan. Itu adalah tahap berikutnya. Tahap ini adalah, menyediakan lapangan pekerjaan yang banyak dan melimpah kepada perempuan yang sudah disekolahkan. Pemerintah akan turut mewacana-kan bahwa perempuan berhak untuk mandiri, berhak untuk menentukan nasibnya sendiri. Pemerintah tidak akan lupa mewacana-kan bahwa perempuan juga mempunyai hak untuk membangun bangsa dan masyarakat – selepas mereka menuntut ilmu di bangku sekolah.

Artinya mereka kelak akan permanen meninggalkan kodrat dan fitrah domestik supaya bisa keluar rumah setiap hari untuk bekerja.

Dari bekerja, apa yang mereka cari adalah mempunyai sumber keuangan sendiri. Ini artinya mereka akan menjadi individu yang otonom, mandiri, independen, terlepas dari frame patriarkhat.

Kalau perempuan sudah mempunyai pekerjaan dan keuangannya sendiri – sehingga menjadi individu yang otonom dan independen, maka itu artinya mereka akan bebas menentukan ukuran moral apa yang mereka sukai: bebas berzina, bebas menentukan dengan siapa mereka akan menikah, atau bahkan menolak menikah.

Merekalah yang akan menentukan, bahwa pacaran adalah baik, dan dengan siapa mereka akan pacaran. Mereka-lah yang menentukan, bahwa mereka tidak bersedia lagi menjadi pengemban tugas domestik yang kerjanya setiap hari adalah menyapu rumah, memasak, mencuci piring, mencuci baju dsb. Mereka-lah yang menentukan bahwa berhubungan intim dengan pria pujaan mereka adalah urusan mereka sendiri, keluarga dan publik tidak usah ikut campur (untuk lebih jelas silahkan baca artikel Akibat Dan Konsekwensi Lurus Dari Persamaan Gender –dan- Perbedaan Perilaku Wanita Dari Jaman Ke Jaman).

Tidak ketinggalan, perempuan yang sudah menjadi mandiri dan independen ini, akan mengenakan fashion style hanya yang sesuai dengan selera dan citarasa mereka. Mereka akan mengenakan rokmini, atau celana superpendek, baju kemben, celana superketat, berbikini di pantai, dsb. Dan mereka akan menganggap bahwa hal tersebut merupakan kebebasan dan kemerdekaan mereka sebagai individu, sehingga orang lain termasuk keluarga dan agama, tidak boleh melarang dan menghalangi kebebasan mereka khususnya di dalam hal berbusana.

Intinya, memberi anugrah pendidikan dan pekerjaan kepada perempuan luhur pada jaman Siti Nurbaya, akan mengubah mereka menjadi perempuan-perempuan sophisticated, perempuan yang mandiri, independen, otonom terhadap wewenang patriarkhat. Ini artinya mereka akan ber-oposisi terhadap patriarkhat, dan kemudian akan memperjuangkan kebebasan mereka sendiri secara gender.

Nah, pada salah satu sisi yang merupakan hasil / efek dari pemberdayaan perempuan adalah, maraknya perempuan yang berperangai negatif dan rendah: gemar pamer aurat, merokok, rambut trondol, bahkan memotong rambut dengan gaya laki-laki, gemar menjadi perhatian publik, khususnya publik laki-laki, dsb. Hal ini disebabkan dari otonom (dan beroposisi)-nya kaum perempuan terhadap patriarkhat, dan juga terhadap tuntunan moral mau pun agama. Dan otonomi itu sendiri datang dari hasil pemberdayaan kaum perempuan.

Apakah perangai yang aneh yang diperlihatkan kaum perempuan ini, sudah ada pada jaman Siti Nurbaya? Tidaklah demikian. Seluruh perempuan pada jaman Siti Nurbaya justru memperlihatkan perilaku yang anggun, agung dan luhur, mereka merupakan perempuan yang: pemalu, pemalu, dan pemalu. Mereka malu dan pantang menampakkan aurat mereka; mereka malu dan pantang terpapar pria asing di lini publik; mereka malu dan pantang memotong rambut pendek dan trondol; mereka malu dan pantang merokok; dsb.

Hanya karena seluruh perempuan pada jaman Emansipasi Wanita (EW) ini telah diberdayakanlah, maka perempuan-perempuan tersebut telah tercerabut dari sifat-sifat luhur.

Perangai perempuan, antara kesadaran dan otoritas.

Tengoklah suasana yang biasa tercipta di lingkungan sekolah. Pada setiap kelas akan tercipta keheningan dan ketertiban, KALAU, di dalam kelas tersebut ada guru yang menjaganya. Namun bagaimana kalau sang guru keluar meninggalkan kelas dan meninggalkan anak-anak didiknya? Apa yang akan terjadi dengan kelas tersebut? Yang terjadi adalah gaduh dan suara dengung anak-anak didik ….. Itu semua karena ketiadaan sang guru.

Jadi, kalau suatu kelas diliputi keheningan dan ketertiban, maka itu semua disebabkan ada guru yang sedang mengajar di dalam kelas. Dan kebalikannya, kalau tidak ada guru yang sedang bertugas di dalam kelas, maka anak-didik di dalam kelas akan berbuat gaduh dan kebisingan. Kalau dibalik: kalau suatu kelas kedapatan gaduh dan bising, dapat dipastikan bahwa pada kelas tersebut tidak ada guru yang sedang bertugas.

Intinya? Setiap anak-didik di mana pun di muka bumi ini tidak mempunyai kesadaran akan keheningan dan ketertiban: kalau tidak ada guru di dalam kelas, pastilah anak-didik akan menggunakan kesempatan tersebut untuk berbuat gaduh. Yang ada di dalam fikiran setiap anak-didik adalah berbuat gaduh dan kebisingan. Tidak mungkin, dan mustahil, setiap kelas akan terus di dalam keheningan WALAUPUN tidak ada guru di dalam kelas.

Bukan kesadaran yang membuat anak-didik duduk manis dan tertib di dalam kelas, melainkan ada otoritas yang bekerja atas mereka, yaitu kehadiran sang guru. Kita tidak bisa mengharapkan kesadaran anak-didik, karena hal tersebut adalah mustahil.

Demikian jugalah halnya dengan kaum perempuan.

Mengapa perempuan pada jaman Siti Nurbaya mempunyai perangai yang agung dan luhur? Jawabannya adalah, karena seluruh perempuan pada jaman Siti Nurbaya tidak diberikan pemberdayaan (beroleh @-pendidikan dan @-pekerjaan). Dengan tidak diberdayakan ini, maka otoritas patriarkhat berlaku efektif atas mereka: maka perempuan pada jaman Siti Nurbaya berteguh tinggal di dalam rumah dari waktu ke waktu. Dan karena tidak diberdayakan, kaum perempuan tidak mempunyai otonomi atas diri mereka sendiri, alias tidak independen, alias tidak mandiri: melainkan patuh pada otoritas patriarkhat.

Keseluruhan hal tersebut membuat kaum perempuan patuh dan manut pada ajaran dan tuntunan moral, khususnya di dalam hal perangai. Itu semua karena kaum perempuan tidak otonom atas diri mereka sendiri, sehinggakan mereka tidak ber-oposisi terhadap frame patriarkhat, dan juga agama.

Dengan kata lain, bukan kesadaran yang membuat perempuan pada jaman Siti Nurbaya berperilaku anggun, melainkan efektinya fungsi patriarkhat atas mereka. Sementara itu, wewenang patriarkhat dapat berfungsi efektif atas kaum perempuan, seutuhnya karena kaum perempuan tersebut tidak diberdayakan.

Kemudian, mengapa kaum perempuan pada jaman Emansipasi Wanita (EW) mempunyai perangai yang negatif dan rendah? Jawabannya adalah, karena kaum perempuan ini mendapat pemberdayaan, yang mana pemberdayaan itu membuat perempuan mempunyai keuangan dan intelektualitasnya sendiri. Hal inilah yang membuat perempuan menjadi otonom (bahkan ber-oposisi) terhadap frame dan otoritas patriarkhat, dan kerangka ajaran moral. Dengan diberdayakan, perempuan merasa bahwa mereka siap untuk ber-oposisi terhadap apapun yang menghalangi kebebasan mereka, karena toh, mereka telah mempunyai uang mereka sendiri, power mereka sendiri: uang – uang saya, badan – badan saya, hidup – hidup saya …. terserah saya …. Dengan diberdayakan maka perempuan jauh lebih siap untuk menyingkirkan dan mengingkari wewenang patriarkhat.

Apakah pernah kaum perempuan pada jaman Siti Nurbaya berkata seperti perkataan kaum perempuan pada jaman Emansipasi Wanita (EW)? Apakah pernah kaum perempuan pada jaman Siti Nurbaya berkata: “uang – uang saya, badan – badan saya, hidup – hidup saya …. terserah saya ….”? Dan apakah pernah kaum perempuan pada jaman Siti Nurbaya hidup dengan perangai yang rendah dan negatif? Tidaklah demikian adanya.

Sama seperti anak sekolah yang duduk manis di dalam keheningan dan ketertiban kelas –bukan- karena kesadarannya, maka begitu juga dengan kaum perempuan pada jaman Siti Nurbaya. Kaum perempuan pada jaman Siti Nurbaya mempunyai perangai yang agung dan anggun –bukan- karena kesadaran, melainkan karena adanya otoritas patriarkhat yang bekerja efektif atas mereka. Dan itu semua karena:

  • mereka (kaum perempuan) tidak diberdayakan,
  • mereka tidak mempunyai sumber keuangan mereka sendiri,
  • mereka tidak mempunyai pendidikan.
  • mereka tidak mempunyai pekerjaan.

Dan sekarang, perempuan yang teguh dengan pemberdayaan, akan ber-orientasi untuk menolak dan mengkudeta otoritas patriarkhat. Jelas sekali, pemberdayaan yang dianugrahkan kepada perempuan pada jaman Emansipasi Wanita (EW) ini –membuat perempuan mempunyai power untuk mengingkari otoritas patriarkhat. Ini artinya, setiap perempuan yang diberdayakan, alias perempuan sophis (sophisticated), terkhusus lagi perempuan feminist, akan menyatakan bahwa:

  • Allah Swt adalah salah,
  • Muhammad Saw adalah salah,
  • Alquran adalah salah,
  • Alhadis adalah salah,
  • Hukum alam adalah salah,
  • Hukum kepantasan adalah salah,
  • Ajaran leluhur adalah salah,
  • Patriarkhat adalah salah,
  • Kaum pria adalah salah,
  • Dsb.

Kemudian, satu-satunya yang benar, hanyalah kaum perempuan yang memperjuangkan kesetaraan gender, yang menolak dan mengingkari patriarkhat, dsb. Inilah saatnya masyarakat melihat perempuan begitu bebasnya berperangai yang negatif, seperti berbusana rokmini, celana superpendek, berbusana serba terbuka (pamer aurat), berbusana serba ketat, ber-rambut trondol, perilaku tomboy, merokok, berpacaran demikian bebas, mentato tubuh, pulang larut malam, gemar menjadi pusat perhatian publik laki-laki, dsb.

Saat perempuan kota mengenakan busana superminI-BAGAN04Pada bagian awal sudah dipaparkan, bahwa, “setiap anak-didik di mana pun di muka bumi ini tidak mempunyai kesadaran akan keheningan dan ketertiban: kalau tidak ada guru di dalam kelas, pastilah anak-didik akan menggunakan kesempatan tersebut untuk berbuat gaduh. Yang ada di dalam fikiran setiap anak-didik adalah berbuat gaduh dan kebisingan. Tidak mungkin, dan mustahil, setiap kelas akan terus di dalam keheningan WALAUPUN tidak ada guru di dalam kelas”. Demikian juga dengan kaum perempuan.

Seketika kaum perempuan mendapat pemberdayaan sehinggakan kaum perempuan itu mempunyai otonomi dan independensi, maka seketika itu juga perempuan akan segera mengingkari otoritas patriarkhat atas mereka. Itu artinya seekor kuda akan berlepas dari tali-kekangnya: mereka akan berbuat apa saja yang mereka ingin, dan itulah perangai negatif kaum perempuan yang telah disaksikan banyak orang pada jaman Emansipasi Wanita (EW) ini. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini, silahkan baca artikel,

)) Artis Tahun 80-an Dan Gejolak Sosialnya.

Penutup.

Nabi Muhammad Saw bersabda, “sungguh aku takut pada akhir jaman, karena pada masa itu seluruh wanita telah kehilangan rasa malunya ……” – Alhadis.

Alhadis ini merupakan nubuat, bahwa pada akhir jaman, yaitu jaman sekarang ini, seluruh perempuan sudah kehilangan rasa malunya. Nubuat ini betul-betul terbukti, dan itu sudah menjadi fakta kehidupan.

Jelas sekali, kita tidak bisa mengharapkan kesadaran dari kaum perempuan supaya tetap berperangai anggun, agung, luhur dan mulia, karena hal tersebut adalah mustahil. Intinya, otoritas patriarkhat harus menemui jalan untuk dapat diberlakukan efektif atas kaum perempuan, karena otoritas patriarkhat sajalah yang dapat memastikan kaum perempuan tetap berperilaku mulia. Otoritas patriarkhat sebenarnya sudah dan selalu ada di dalam kehidupan ini, namun kemudian masalahnya adalah, apakah kaum perempuan berada di dalam posisi untuk siap menerima otoritas patriarkhat tersebut? “Berada di dalam posisi untuk siap menerima otoritas patriarkhat”, artinya adalah bahwa perempuan harus di dalam keadaan tidak diberdayakan, artinya berpantang dari emansipasi. Ini artinya domestikalisasi perempuan, bukan Emansipasi Wanita (EW).

Pada akhir jaman ini, pemberdayaan perempuan merupakan keniscayaan, yang berimbas pada hilangnya rasa malu dari sanubari perempuan. Sama diketahui, bahwa hilangnya rasa malu dari sanubari perempuan tidak terjadi begitu saja tanpa sebab. Yang benar adalah, hilangnya rasa malu dari sanubari perempuan merupakan ending-point dari suatu hal, sementara starting-point-nya adalah, pemberdayaan perempuan. Kalau selamanya tidak ada pemberdayaan atas perempuan, maka selamanya pula perempuan tidak akan kehilangan rasa malunya, melainkan kaum perempuan akan tetap hidup di dalam keagungan dan keanggunannya. Itulah yang terjadi pada jaman Siti Nurbaya, karena pada masa itu perempuan tidak mendapat pemberdayaan, melainkan berteguh di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti pesan pada Kitabsuci.

Wallahu a’lam bishawab.