Seenak Perutnya Perempuan: Implikasi Hamil Di Luar Nikah

595810_620

Manusia adalah umat yang beradab, di mana kehidupan mereka pasti membutuhkan hukum untuk mengatur tata-perilaku di antara mereka. Mereka membutuhkan hukum, kemudian mereka membuat hukum tersebut, dan pada akhirnya mereka jugalah yang mentaati hukum tersebut. Namun umat manusia juga tunduk kepada hukum yang dicipta-kan Illahi, di mana mereka yakin bahwa hukum Illahi merupakan hukum yang terbaik dan ter-adil.

Mungkin pada mulanya, terdapat masyarakat manusia yang hidup tanpa hukum. Monarki absolut misalnya. Mereka hidup tanpa hukum, karena yang mereka sebut hukum adalah Raja mereka sendiri, di mana sang Raja menerapkan peraturan dan hukuman sesuka hati Raja saja. Namun yang jelas, gaya hidup seperti itu mendatangkan ketidakpastian, dan hal tersebut membuat sang Raja semena-mena. Itu semua masyarakat manusia tidak mau. Latar belakang ini lah yang membuat manusia semakin membutuhkan hukum.

Secara universal, setiap hukum pasti mempunyai ciri bahwa hukum tersebut bersifat konsisten, dan kemudian adil. Bukan hukum namanya kalau tidak konsisten dan tidak adil, karena yang mengakibatkan tercetus-nya hukum adalah kebutuhan manusia akan konsistensi dan keadilan.

-o0o-

Kemudian di sisi lain, Islam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Illahi pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum logika dan kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan (kelur rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita ini. Namun faktanya tidaklah demikian.

Intinya, selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah secara permanen untuk mencari ilmu dan juga bekerja. Dan karena alasan tersebut-lah maka Islam melarang umatnya untuk mengadopsi Emansipasi Wanita (keluar rumah untuk bekerja), dan memerintahkan umatnya untuk menegakkan domestikalisasi perempuan, karena perempuan seutuhnya adalah mahluk domestik, mahluk rumahan.

“….. Selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah”, dan salah satu kekejian tersebut adalah munculnya fenomena di mana hukum jadi berkiblat kepada ‘seenak perutnya’ perempuan, kalau masyarakat mengadopsi Emansipasi Wanita.

Kehidupan umat manusia tentunya diatur oleh beberapa hukum, dan salah satu hukum tersebut adalah moralitas, Alquran dan Alhadis. Namun sungguh pun begitu, karena umat telah mengadopsi Emansipasi Wanita di mana perempuan diberi ijin untuk keluar rumah secara permanen, maka seluruh hukum tersebut menjadi kadaluwarsa, dan digantikan oleh ‘hukum perempuan’. Maksud dari hukum perempuan adalah, bahwa benar-salah segala sesuatu TIDAK lagi diatur oleh hukum dan undang-undang, MELAIN-KAN didasarkan pada kenyamanan dan kehendak kaum perempuan. Kalau sesuatu dinilai nyaman dan sesuai kehendak perempuan, maka suatu perkara tersebut dianggap benar, dan kebalikannya suatu perkara akan dikatakan salah kalau hal tersebut membuat perempuan tidak nyaman..

Artinya, dengan diadopsinya Emansipasi Wanita, maka lambat laun hukum dan Undang-undang tergeser oleh hukum perempuan, dan menganggap bahwa perempuan selalu benar dengan apa yang mereka fikirkan dan mereka inginkan: perempuan lah sekarang yang menjadi patokan dan dasar hukum. Nahas, hukum, agama dan syariah tergeser oleh hukum perempuan, karena masyarakat mulai melihat bahwa perempuan tidak pernah salah, bahwa perempuan adalah mahluk lemah, lembut, innocent, bahwa perempuan adalah ibu dari seluruh manusia, maka dari itu kaum perempuan selalu benar, di dalam harus selalu dibela. Dan predikat ‘tidak pernah salah’ di sini berarti bahwa perempuan adalah sumber hukum, perempuanlah yang menjadi dasar benar salah-nya segala sesuatu. Satu hal yang pasti, bahwa hukum perempuan ini SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL KONSISTENSI DAN KEADILAN …. padahal hukum yang sebenarnya hukum, seperti agama mau pun perundangan, pasti berdasarkan konsistensi dan keadilan.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan01

-o0o-

Seenak Perutnya Perempuan: Implikasi hamil di luar nikah.  

Dengan perempuan keluar rumah secara permanen, baik untuk menuntut ilmu mau pun untuk bekerja mencari nafkah (karir dan jabatan), praktis kaum perempuan akan terpapar secara bebas dan luas kepada banyak pria asing di luar rumah. Dengan terpapar secara intens, maka proses kemistri berikutnya adalah muncul dan bangkitnya rasa suka kepada salah seorang pria tersebut, yang tidak jarang berujung pada hubungan asmara.

Apakah yang akan terjadi setelah merebaknya asmara? Angka statistik mengungkapkan, bahwa hubungan asmara yang mereka bina berujung pada hubungan intim, suatu hubungan seks, yang berarti terjadinya hubungan sex di luar nikah, alias berzina. Kemudian, kalau sudah terjadi hubungan seksual layakya suami istri, hal berikutnya adalah kehamilan; ya kehamilan di luar nikah, kehamilan hasil perzinahan. Setelah hamil, kemudian apa?

Sang perempuan akan mengambil salah satu sikap sebagai berikut,

  1. Menuntut sang pria untuk menikahinya secepat mungkin.
  2. Melakukan aborsi dengan cara apapun.
  3. Tidak menuntut nikah, namun hendak melahirkan bayi di desa terpencil.
  4. Tidak menuntut nikah, dan memilih menjadi single-parent.
  5. Tidak menuntut nikah, justru menikahi pria lain yang lebih ia cintai.
  6. Tidak menuntut nikah, kemudian hendak melahirkan bayinya, dan kemudian memberikan bayinya kepada orang lain.
  7. Lain-lain kemungkinan.

Perzinahan, seujung dunia mana pun tetaplah salah. Namun karena perzinahan tersebut ‘diinginkan’ sang perempuan (melalui dan karena pacaran), maka tiba-tiba saja TIDAK ada yang menyatakan bahwa perzina-han tersebut adalah keji dan fatal. Hal ini membuktikan, bahwa hukum kewarasan tidak lagi berfungsi, karena sekarang yang berfungsi adalah hukum perempuan: seenak perutnya perempuan: karena perzinahan tersebut ‘diinginkan’ si perempuan, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang keji dan terkutuk.

Huruf (a) …. “Menuntut sang pria untuk menikahinya secepat mungkin”. Pada babak ini, sang perempuan menuntut sang pria untuk menikahinya. Sebenarnya, apa yang harus terjadi atas perempuan ini (dan juga pria-nya) adalah, bahwa ia harus dihukum menurut hukum positif (termasuk juga hukum agama). Faktanya tidak ada satu pun individu yang menuntut hukuman tersebut diberlakukan, dan justru yang diberlakukan adalah perkataan sang perempuan, bahwa sang pria harus menikahinya.

Dan apakah yang akan terjadi kalau sang pria menolak menikahinya? Publik akan marah kepada pria tersebut, dan publik akan bersikap, yang intinya bahwa sang pria bukanlah pria jantan, karena tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri ….

Bukankah ini berarti sang pria harus menuruti kehendak si perempuan yang hamil tersebut (yaitu menikahinya)? Dan juga bukankah ini berarti publik membenarkan dan menuruti perempuan hamil tersebut? Ini adalah bukti, bahwa yang menjadi pedoman hukum sekarang adalah ‘seenak perutnya perempuan’, bukan hukum Tuhan mau pun hukum kewarasan. Hukum Tuhan berbunyi, “hukumlah dengan hina laki dan perempuan yang berzina”. Jelas hukum tersebut sudah dimatikan, dan digantikan dengan hukum seenak perutnya perempuan!

Tidak ada satu pun individu yang menvonis bahwa si perempuan telah berbuat dosa dan harus dihukum, tidak ada. Justru yang terjadi adalah publik menuruti tuntutan si perempuan, yaitu bahwa sang pria harus menikahinya. Dan sang pria pun harus tunduk pada tuntutan si perempuan, karena perempuan tersebut benar dengan tuntutannya. Dan kalau sang pria tidak ‘mematuhinya’, maka publik akan menghujatnya sebagai pria yang tidak jantan karena tidak berani bertanggungjawab atas perbuatan-nya sendiri (yaitu menghamili sang perempuan).

Babak ini membuktikan, bahwa kehidupan manusia sudah diatur oleh seenak perutnya perempuan, bukan hukum Tuhan mau pun hukum kewarasan lainnya. Dan itu semua berkat Emansipasi Wanita!

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan02

Huruf (b) ….. “melakukan aborsi dengan cara apapun”.

Aborsi adalah suatu hal yang keji dan tidak berperikemanusiaan. Namun kemudian apakah kalimat tersebut akan diberlakukan secara konsisten oleh masyarakat?

Ketika terjadi zina yang mengakibatkan wanita hamil, masyarakat cende-rung membenarkan keinginan sang wanita untuk aborsi. Intinya, jika wanita tersebut menginginkan aborsi, maka publik tidak akan menghala-nginya. Publik akan bersikap, yang pada intinya adalah bahwa kandungan dan bayinya seutuhnya adalah urusan sang wanita, maka orang lain tidak akan ikut campur.

Inilah bukti betapa hukum Tuhan dan moralitas telah mati, dan digantikan dengan hukum seenak perutnya perempuan. Tidak ada satu pun orang yang mengutuk mau pun menegur sang perempuan bahwa ia telah berbuat salah karena telah berzina, dan telah salah karena ingin mengaborsi kandungannya.

Mengapa hukum ‘seenak perutnya perempuan’ ini dapat eksis dan memutuskan bahwa sang perempuan tidak bersalah dengan berzinanya dan keputusannya untuk aborsi? Dan mengapa juga tidak ada satu pun orang yang mengutuknya bersalah berdasarkan ajaran agama dan hukum lainnya? Jawabannya adalah mudah: karena keseluruhan hal tersebut terjadi dalam tatanan Emansipasi Wanita.

Huruf (c) …. Tidak menuntut nikah, namun hendak melahirkan sang bayi di desa terpencil.

Sang perempuan yang sudah hamil karena berzina, namun ia tidak menuntut dinikahi. Apakah hal ini adalah benar, atau justru salah? Pada bagian terdahulu yaitu huruf (a), sang wanita yang hamil karena zina, menuntut pria-nya untuk menikahinya, dan itu pun publik melihat bahwa tuntutan perempuan tersebut adalah benar, sehingga sang pria harus bersedia menikahinya.

Namun pada babak ini (c), sang perempuan tidak menuntut dinikahi. Dan luar biasa, pada babak ini sang perempuan lagi-lagi tetap benar dengan pendiriannya, yaitu tidak menuntut dinikahi. Hal ini membuktikan bahwa benar dan salahnya segala sesuatu itu harus menurut kehendak sang perempuan.

Jadi ringkasnya begini: kalau sang perempuan menuntut dinikahi, maka perempuan tersebut adalah benar dengan tuntutannya, dan sang pria harus menurut. Namun kebalikannya, kalau sang perempuan tidak menuntut dinikahi, lagi-lagi sang perempuan benar dengan pendiriannya, yaitu tidak menuntut dinikahi. Bukankah ini benar-benar membuktikan bahwa kehidupan ini bukan diatur oleh hukum Tuhan, melainkan oleh hukum seenak perutnya perempuan?

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan03

Lebih tajamnya lagi adalah, pada babak ini, sang perempuan tidak menuntut untuk dinikahi, namun sang pria ingin menikahinya karena tengah mengandung anaknya, namun kemudian sang perempuan menolak, maka tetap yang benar adalah sang perempuan, yaitu pernikahan tidak boleh terjadi, karena sang perempuan tidak menginginkan pernikahan. Bagaimana kalau ternyata sang pria memaksa nikah? Dapat dipastikan publik akan menekan dan menindak sang pria, karena dinilai memaksakan kehendaknya kepada sang perempuan.

Jelas dan terbukti sekali, bahwa hukum ‘seenak perutnya perempuan’ lah yang tengah diberlakukan, bukan hukum Tuhan mau pun hukum logika. Ringkasnya begini,

Terjadi perzinahan yang mengakibatkan kehamilan. Maka kemudian …..,

  • Karena perzinahan tersebut diinginkan sang perempuan, maka publik tidak mengutuk sang perempuan. Ini membuktikan, bahwa benar dan salahnya perzinahan menurut publik, adalah tergantung si perempuannya. Dan karena perempuannya menginginkan zinah tersebut, maka hal itu bukanlah dosa dan terkutuk. Padahal sebenarnya, zinah adalah terkutuk dan keji, terlepas apakah zinah tersebut diinginan sang perempuan. Namun sekarang hukum mana yang berlaku? Jawabannya adalah, hukum seenak perutnya perempuan!
  • Perempuan yang hamil tersebut menuntut sang pria-nya untuk menikahinya. Bagaimana opini publik? Ya, lagi-lagi publik melihat bahwa (tuntutan) perempuanlah yang benar, yaitu sang pria harus menikahinya. Kalau sang pria tidak bersedia menikahinya, maka pria tersebut-lah yang bersalah dan kurang ajar. Pria tersebut pasti ditindak dengan keras oleh publik, karena tidak mengindahkan tuntutan perempuan. Pada level ini terbukti, bahwa perempuan-lah yang benar, dan si laki-lakinya harus tunduk pada tuntutan sang perempuan. Padahal menurut agama dan moralitas, si perempuan harus dirajam dan dikutuk karena telah berzina. Namun apakah hukum agama dan moralitas diberlakukan atas kasus ini? Tidak. Yang diberlakukan adalah hukum seenak perutnya perempuan!!
  • Perempuan yang hamil tersebut tidak menuntut dinikahi pria-nya. Bagaimana tanggapan publik? Ya, kali ini perempuan tersebut tetap benar dengan pendiriannya, yang tidak menuntut di Publik malah mendukung pendirian sang perempuan untuk tidak menikah dengan pria yang adalah ayah dari janinnya. Artinya, lagi-lagi si perempuan benar, dan tidak ada satu pun individu yang menyatakan bahwa perempuan tersebut telah salah karena tidak menuntut dinikahi sang pria. Hukum mana yang berlaku? Hukum seenak perut perempuan!!
  • Kalau ternyata justru sang pria memaksa untuk menikahinya, bagaimana tanggapan publik? Ya, lagi-lagi tetap perempuan-lah yang benar, yaitu pernikahan tidak boleh terjadi, dan pria itulah yang salah, karena memaksa sang perempuan untuk menikahinya. Kembali terbukti, bahwa ukuran benar dan salah adalah mana yang enak menurut perut perempuan, bukan menurut agama dan syariahnya.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan04

Kesimpulannya adalah, Emansipasi Wanita memang benar-benar luar biasa! Kehidupan yang mengadopsi Emansipasi Wanita, adalah kehidupan yang mematikan ayat-ayat Illahi, yang mengubur moralitas hidup-hidup, dan kebalikannya memberlakukan hukum seenak perutnya perempuan.

Huruf (d) …. Tidak menuntut nikah, dan memilih menjadi single-parent

Pada babak ini, kisahnya berbeda, namun tetap dapat dibuktikan bahwa pada kisah ini perempuanlah yang selalu benar, padahal sebenarnya adalah salah dan harus dihukum menurut hukum agama dan moralitas.

Seorang perempuan hamil sebagai hasil perzinahannya. Pada point ini sebenarnya menurut agama ia bersalah, namun karena zinah ini diinginkan sang perempuan, maka karuan saja publik tidak ada yang menuduhnya berdosa. Kemudian apakah sampai di situ saja? Tidak.

Perempuan ini tidak menuntut dinikahi, namun ia memutuskan untuk melahirkan anaknya, dan kemudian menjadi single parent. Bagaimana tanggapan publik mengenai keputusan perempuan di dalam kasus ini? Tanggapannya adalah jelas, bahwa perempuan ini sama sekali tidak bersalah dengan keputusannya, yaitu tidak menuntut dinikahi, dan kemudian ingin menjadi single parent tanpa menjadi seorang istri. Jelas terbukti, apapun yang menjadi keinginan dan cara berfikir seorang perempuan, tetap hal tersebut adalah benar bagi publik, sehingga ini membuktikan bahwa hukum sudah berdasarkan perut perempuan. Dan itulah akibat dari Emansipasi Wanita.

Huruf (e) ….. Tidak menuntut sang pria menikahinya, justru menikahi pria lain yang lebih ia cintai.

Pada varian ini, perempuan lebih jauh lagi di dalam hal menikmati hidup sesuka hatinya, di mana ia berzina atas keinginannya sendiri, kemudian hamil dan melahirkan anaknya, namun sungguh pun begitu ia tidak menun-tut ayah sang bayi untuk menikahinya. Yang ia putuskan kemudian adalah ia menikahi pria lain yang ia cintai, kendati pria kedua ini faham bahwa sang perempuan membawa bayi hasil hubungannya dengan pria pertama.

Pria pertama, yang merupakan ayah dari bayi yang ia lahirkan, tentu ingin menikahinya, namun sang perempuan menolak. Kalau begini kondisinya, tentu saja sang pria pertama tidak dapat memaksa sang perempuan untuk menikah dengannya, sama sekali tidak bisa. Ini berarti, pria pertama harus melihat bahwa perempuan itu menikahi pria kedua yang lebih ia cintai.

Pada varian ini, apakah sang perempuan telah berbuat salah, sejak pertama ia berzina sehingga ia hamil, sampai ia memutuskan untuk meninggalkan pria yang menghamilinya, dan kemudian menikahi pria kedua yang lebih ia cintai? Jawabannya jelas: keputusan dan pendirian sang perempuan sudah pasti benar dan sahih. Publik tidak pernah mempersalahkan sang perempuan atas semua perbuatannya dan keputusannya. Publik melihat, bahwa perempuan berhak memutuskan dan menentukan jalan hidupnya sendiri …. Lebih tajam lagi adalah, publik akan mempersalahkan pria pertama kalau ia memaksakan kehendaknya untuk menikahi sang perem-puan. Jadi, pria pertama harus manut pada keinginan sang perempuan, yaitu tidak menuntutnya menikahinya, dan kemudian menikahi pria kedua yang lebih ia cintai.

Seharusnya lah, sejak pertama si perempuan harus dinyatakan bersalah karena telah berzina. Dan kemudian, si perempuan juga harus dinyatakan bersalah karena menolak dinikahi pria yang ayah dari kandungannya. Dan terakhir, si perempuan juga harus dinyatakan bersalah karena menikahi pria kedua. Namun begitu, fakta berbicara apa? Publik selalu membenarkan perempuan itu sejak kali pertama.

Itulah Emansipasi Wanita, dan itulah hukum seenak perutnya perempuan, yang disebabkan oleh Emansipasi Wanita.

Huruf (f) …. Tidak menuntut nikah, kemudian hendak melahirkan bayinya, dan kemudian memberikan bayinya kepada orang lain.

Varian dari kasus ini juga demikian, di mana seorang perempuan memilih untuk berzina, kemudian hamil, namun kemudian ia tidak menuntut sang pria untuk menikahinya. Setelah itu, ia memutuskan untuk melahirkan sang bayi di desa lain, lalu ia putuskan untuk memberikan bayi tersebut kepada orang lain. Bagaimana tanggapan publik untuk kisah ini??

Publik tidak akan menyatakan si perempuan berbuat salah, dan kebalikan-nya publik menilai bahwa hal tersebut adalah hak si perempuan, dan sepenuhnya adalah urusan si perempuan, publik tidak akan ikut campur. Seharusnya, menurut agama dan moralitas, si perempuan harus dinyatakan bersalah dan dihukum untuk kesalahannya. Dan kemudian, perempuan tersebut harus dikutuk karena telah membuang bayinya kepada orang lain. Namun itu adalah kata agama dan moralitas, yang tidak akan diberlakukan, karena yang diberlakukan adalah keinginan dan aspirasi si perempuan.

Perempuan tidak pernah bersalah untuk semua kesalahan yang mereka perbuat, dan angkat topi untuk Emansipasi Wanita; angkat topi untuk hukum seenak perutnya perempuan.

Berikut, Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan Status Hubungan Suami Istri Di Dalam Emansipasi Wanita.

Kembali Ke Artikel Utama.

Advertisements

Seenak Perutnya Perempuan: Pacaran Dan Pelecehan Seksual

wanita-karirrr_20141121_204809

Manusia adalah umat yang beradab, di mana kehidupan mereka pasti membutuhkan hukum untuk mengatur tata-perilaku di antara mereka. Mereka membutuhkan hukum, kemudian mereka membuat hukum tersebut, dan pada akhirnya mereka jugalah yang mentaati hukum tersebut. Namun umat manusia juga tunduk kepada hukum yang dicipta-kan Illahi, di mana mereka yakin bahwa hukum Illahi merupakan hukum yang terbaik dan ter-adil.

Mungkin pada mulanya, terdapat masyarakat manusia yang hidup tanpa hukum. Monarki absolut misalnya. Mereka hidup tanpa hukum, karena yang mereka sebut hukum adalah Raja mereka sendiri, di mana sang Raja menerapkan peraturan dan hukuman sesuka hati Raja saja. Namun yang jelas, gaya hidup seperti itu mendatangkan ketidakpastian, dan hal tersebut membuat sang Raja semena-mena. Itu semua masyarakat manusia tidak mau. Latar belakang ini lah yang membuat manusia semakin membutuhkan hukum.

Secara universal, setiap hukum pasti mempunyai ciri bahwa hukum tersebut bersifat konsisten, dan kemudian adil. Bukan hukum namanya kalau tidak konsisten dan tidak adil, karena yang mengakibatkan tercetus-nya hukum adalah kebutuhan manusia akan konsistensi dan keadilan.

-o0o-

Kemudian di sisi lain, Islam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Illahi pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum logika dan kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan (kelur rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita ini. Namun faktanya tidaklah demikian.

Intinya, selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah secara permanen untuk mencari ilmu dan juga bekerja. Dan karena alasan tersebut-lah maka Islam melarang umatnya untuk mengadopsi Emansipasi Wanita (keluar rumah untuk bekerja), dan memerintahkan umatnya untuk menegakkan domestikalisasi perempuan, karena perempuan seutuhnya adalah mahluk domestik, mahluk rumahan.

“….. Selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah”, dan salah satu kekejian tersebut adalah munculnya fenomena di mana hukum jadi berkiblat kepada ‘seenak perutnya’ perempuan, kalau masyarakat mengadopsi Emansipasi Wanita.

Kehidupan umat manusia tentunya diatur oleh beberapa hukum, dan salah satu hukum tersebut adalah moralitas, Alquran dan Alhadis. Namun sungguh pun begitu, karena umat telah mengadopsi Emansipasi Wanita di mana perempuan diberi ijin untuk keluar rumah secara permanen, maka seluruh hukum tersebut menjadi kadaluwarsa, dan digantikan oleh ‘hukum perempuan’. Maksud dari hukum perempuan adalah, bahwa benar-salah segala sesuatu TIDAK lagi diatur oleh hukum dan undang-undang, MELAIN-KAN didasarkan pada kenyamanan dan kehendak kaum perempuan. Kalau sesuatu dinilai nyaman dan sesuai kehendak perempuan, maka suatu perkara tersebut dianggap benar, dan kebalikannya suatu perkara akan dikatakan salah kalau hal tersebut membuat perempuan tidak nyaman..

Artinya, dengan diadopsinya Emansipasi Wanita, maka lambat laun hukum dan Undang-undang tergeser oleh hukum perempuan, dan menganggap bahwa perempuan selalu benar dengan apa yang mereka fikirkan dan mereka inginkan: perempuan lah sekarang yang menjadi patokan dan dasar hukum. Nahas, hukum, agama dan syariah tergeser oleh hukum perempuan, karena masyarakat mulai melihat bahwa perempuan tidak pernah salah, bahwa perempuan adalah mahluk lemah, lembut, innocent, bahwa perempuan adalah ibu dari seluruh manusia, maka dari itu kaum perempuan selalu benar, di dalam harus selalu dibela. Dan predikat ‘tidak pernah salah’ di sini berarti bahwa perempuan adalah sumber hukum, perempuanlah yang menjadi dasar benar salah-nya segala sesuatu. Satu hal yang pasti, bahwa hukum perempuan ini SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL KONSISTENSI DAN KEADILAN …. padahal hukum yang sebenarnya hukum, seperti agama mau pun perundangan, pasti berdasarkan konsistensi dan keadilan.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan01

-o0o-

Seenak Perutnya Perempuan: Pacaran dan pelecehan seksual.

Tidak berbeda dengan pembahasan pemerkosaan, benar salahnya pelece-han seksual juga berdasar pada mana yang enak menurut perut perempuan, bukan berdasar agama dan moralitas. Padahal sebenarnya, benar dan salahnya pelecehan seksual seharusnya hanya berdasar agama dan moral. Namun karena publik telah diperdaya Emansipasi Wanita yang membuat kebenaran jadi berkiblat kepada (seenak perut) perempuan, maka akhirnya rujukan agama dan moralitas dipendam jauh- jauh ke dalam tanah.

Sepasang anak manusia tampak berpacaran di sebuah taman, tati dan toto; mereka duduk berduaan menikmati bunga-bungaan beraneka warna. Mereka saling berpelukan, saling menjamah, saling membelai, saling berciuman, bahkan saling menyentuh bagian-bagian tubuh yang sangat pribadi.

Mengapa si tati tidak marah dan tidak sakit hati ketika bagian-bagian tubuhnya dijamah dan disentuh toto? Jawabannya hanya satu: karena tati mencintai dan menyukai toto, sehingga tati ridha jika tubuhnya dijamah dan disentuh toto. Padahal sebenarnya menurut agama, saling sentuh dan saling jamah adalah terlarang, dan merupakan dosa besar. Dan kemudian, bagaimana tanggapan publik atas kasus pacaran yang diwarnai saling jamah dan saling sentuh ini? Jawabannya juga hanya satu: publik mendukung dan merestui hubungan mereka berdua yang sudah seberani saling sentuh dan saling jamah ……… Publik mendukung dan merestui hubungan nan jadah tersebut, karena publik melihat bahwa si tati rela dan sudi disentuh dan dijamah toto, bahkan menyukai sentuhan dan jamahan toto, karena memang itulah yang tati dambakan, atas nama asmara birahi.

Singkat kata, hanya karena tati mendambakan dan rela disentuh dan dijamah toto pacarnya, maka spontan publik membiarkan dan mendukung hubungan jadah tersebut. Dengan kata lain, publik mendukung toto untuk selalu menjamah dan menyentuh tati. Padahal sebenarnya menurut agama, hubungan saling jamah adalah keji, terlarang dan dosa besar. Namun apakah publik setia dan taat kepada agama? Apakah publik selalu berpaling kepada agama untuk menentukan benar salah segala sesuatu? Jelaslah tidak. Publik hanya berpaling kepada apa yang enak menurut perut perempuan, dalam hal ini, tati. Itulah Emansipasi Wanita.

Namun di lain tempat, tati mengamuk angkara murka, karena ia telah dilecehkan secara seksual oleh seorang pria, dodo. Dodo dilaporkan telah menyentuh tubuh tati dengan penuh niat, dan spontan tati mengamuk tidak terima lantaran tubuhnya disentuh dan dijamah oleh dodo.

Mengapa tati mengamuk lantaran tubuhnya dijamah dodo? Jawaban-nya jelas, karena tati tidak sudi dan tidak mencintai dodo. Karena tati tidak mencintai dodo, maka tati tidak sudi disentuh olehnya. Kemudian, bagaimana tanggapan publik atas kasus ini? Pendirian publik jelas, bahwa dodo si pelaku pelecehan seksual tersebut adalah salah dan harus dihukum seberat-beratnya, kalau perlu dikeyorok hingga babak belur. Dan mengapa publik begitu mengutuk dodo pelaku pelecehan seksual tersebut? Jawabannya jelas: karena tati tidak sudi dan tidak rela tubuhnya dijamah dodo. Jawaban yang mudah sekali tentunya.

Timbul pertanyaan. Bagaimana keadaannya kalau tati sudi dan rela jika tubuhnya dijamah dan disentuh dodo? Keadaannya jadi terbalik. Si tati tidak mengamuk, dan ujungnya publik pun juga tidak mengutuk dodo. Itu semua hanya karena tati rela dan sudi tubuhnya dijamah oleh dodo. Jadi, hanya karena si perempuan tidak sudi dan tidak rela tubuhnya dijamah oleh si pria, maka praktis publik mengutuk si pria nya. Dan kebalikannya, karena si wanita sudi dan rela dijamah-jamah seorang pria, maka praktis publik tidak akan mengutuk si pria. Luar biasa hukum seenak perut perempuan ini, yang jelas berlatar belakang Emansipasi Wanita.

Statistik menyajikan data banyaknya angka zinah di tengah masyarakat, sekaligus betapa banyaknya para gadis yang kehilangan kesuciannya pada masa pranikah, dikarenakan mereka larut di dalam gaya hidup yang begitu permisif. Belum termasuk maraknya pasangan kumpulkebo yang mengge-jala di kota-kota besar. Dan lagi, sebenarnya zinah di sini bukan saja zinah yang berarti coitus, melainkan juga termasuk hubungan saling sentuh dan saling jamah pada masa pacaran maupun masa pranikah. Pun tidak sedikit artikel yang mengetengahkan laris manisnya kondom di pasaran, yang berarti frekswensi dan prevalensi coitus di luar nikah begitu menggelegar di tengah masyarakat.

Namun adakah kaum perempuan yang berbuat coitus tersebut, seperti zinah, kumpulkebo, freesex, selingkuh, menjual kesucian-nya demi uang, dsb, diperkarakan aparat? Apakah kaum perempuan pendukung coitus illegal ini diburu aparat? Dan kemudian dihukum aparat seberat mungkin? Dan juga, apakah perempuan-perempuan yang rela dan sudi tubuhnya dijamah-jamah pacar-pacar pria itu, dikejar aparat sampai ke ujung dunia, kemudian ditangkap, dan kemudian diberi hukuman? Sama sekali tidak. Mengapa? Jawabannya adalah, karena aparat melihat bahwa semua coitus tersebut, dan semua penjamahan tubuh tersebut, benar-benar direlakan dan disudikan perempuan nya sendiri. Jadi, hanya karena kaum perempuan sudi kepada coitusnya, dan sudi dengan jamah-jamahnya, maka hubungan tersebut sama sekali tidak diperkarakan aparat, dan juga tidak dikutuk publik.

Kalau diilustrasikan, berapa jumlah coitus illegal di tengah masyarakat? Anggaplah jumlahnya mencapai 1000.000. Dan kemudian, berapa jumlah kaum perempuan yang rela tubuhnya dijamah dan disentuh pacar-pacar pria mereka pada masa pranikah? Anggaplah jumlahnya mencapai 2 juta kejadian. Dengan kata lain terdapat 3000.000 hubungan badan yang keji dan illegal karena dilakukan di luar nikah. Tapi apakah publik mengutuk hubungan keji yang jumlahnya 3000.000 tersebut? Dan apakah angka tersebut diperkarakan oleh aparat? Tidak. Itu semua karena hubungan keji tersebut DIINGINKAN pihak perempuannya. Atas keinginan perempuan lah hubungan keji tersebut terjadi, dan atas keinginan perempuan lah, maka hubungan tersebut tidak dikutuk publik, dan tidak diperkarakan aparat. Maka amanlah pria nya berbuat mesum sepanjang waktu, karena diinginkan pihak perempuannya….. Maka aman pulalah praktek zinah (dengan segala mereknya) dan praktek jamah dan saling sentuhnya …. tidak disentuh aparat hukum sedikit pun, tidak dikutuk publik sedikit pun.

Di lain pihak, ada perempuan yang diperkosa, dan juga perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual. Intinya, perempuan-perempuan ini tidak sudi dan tidak rela dirinya diperkosa dan menjadi korban pelecehan seksual. Praktis, mereka meronta-ronta, angkara murka, mengamuk … sejurus kemudian mereka melapor ke aparat menuntut pelaku diseret ke penjara dan digebug habis-habisan hingga babak belur. Belum cukup, publik pun menunjukkan amarah dan kutukannya kepada pria-pria pelaku pemerkosaan dan pelaku pelecehan seksual atas perempuan.

Mengapa perempuan-perempuan ini mengamuk dan meronta-ronta? Karena mereka tidak mencintai dan tidak sudi kepada pria-pria pelakunya, yang memaksa bercoitus dengan mereka, atau menjamah-jamah tubuh mereka. Karena perempuan-perempuan ini tidak sudilah, maka publik angkara murka, dan kemudian diperkarakan oleh aparat.

Sebenarnya berapa jumlah kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual ini? Jawabannya, segelintir! Hanya segelintir kejadiannya di mana perempuan diperkosa dan dilecehkan. Namun jumlah yang segelintir tersebut, dikutuk habis-habisan oleh publik, dan diperkarakan aparat secara tegas. Sementara itu, zinah dan saling jamah pada masa pacaran, yang jumlahnya jutaan, SEDIKIT PUN tidak dikutuk publik dan tidak diperkarakan aparat.

Inilah yang menjadi inti pembahasan mengenai hukum seenak perut perempuan. Intinya, jutaan kasus zinah, jutaan kasus selingkuh, jutaan kasus kumpulkebo, dsb, ……. jutaan kasus saling jamah dengan pacar-pacar pria, karena semua itu diinginkan perempuannya, sama sekali tidak dikutuk dan diperkarakan. Sebaliknya, hanya segelintir kasus pemerkosaan dan pelecehan, dan karena semua itu tidak diinginkan perempuan nya, tetap dikutuk publik dan diperkarakan aparat. Singkat kata, gerakan Emansipasi Wanita telah menebar hawa racun kepada seluruh umat, sehingga umat meridhai zinah dan pacaran yang berbumbu saling jamah: atas nama Emansipasi Wanita, umat meridhai zinah dan pacaran.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan11

Itulah wabah yang disebabkan oleh alam Emansipasi Perempuan, yang hanya mencetuskan kesia-siaan dan kekejian bagi umat manusia. Tidak ada kata lain, penumpasan Emansipasi Wanita merupakan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan moralitas dan iman seluruh umat.

Berikut, Seenak Perutnya Perempuan: Antara Pacaran Dan Dijodohkan.

Kembali Ke Artikel Utama

Hukum Seenak Perutnya Perempuan

index

Manusia adalah umat yang beradab, di mana kehidupan mereka pasti membutuhkan hukum untuk mengatur tata-perilaku di antara mereka. Mereka membutuhkan hukum, kemudian mereka membuat hukum tersebut, dan pada akhirnya mereka jugalah yang mentaati hukum tersebut. Namun umat manusia juga tunduk kepada hukum yang dicipta-kan Illahi, di mana mereka yakin bahwa hukum Illahi merupakan hukum yang terbaik dan ter-adil.

Mungkin pada mulanya, terdapat masyarakat manusia yang hidup tanpa hukum. Monarki absolut misalnya. Mereka hidup tanpa hukum, karena yang mereka sebut hukum adalah Raja mereka sendiri, di mana sang Raja menerapkan peraturan dan hukuman sesuka hati Raja saja. Namun yang jelas, gaya hidup seperti itu mendatangkan ketidakpastian, dan hal tersebut membuat sang Raja semena-mena. Itu semua masyarakat manusia tidak mau. Latar belakang ini lah yang membuat manusia semakin membutuhkan hukum.

Secara universal, setiap hukum pasti mempunyai ciri bahwa hukum tersebut bersifat konsisten, dan kemudian adil. Bukan hukum namanya kalau tidak konsisten dan tidak adil, karena yang mengakibatkan tercetus-nya hukum adalah kebutuhan manusia akan konsistensi dan keadilan.

-o0o-

Kemudian di sisi lain, Islam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Illahi pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum logika dan kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan (kelur rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita ini. Namun faktanya tidaklah demikian.

Intinya, selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah secara permanen untuk mencari ilmu dan juga bekerja. Dan karena alasan tersebut-lah maka Islam melarang umatnya untuk mengadopsi Emansipasi Wanita (keluar rumah untuk bekerja), dan memerintahkan umatnya untuk menegakkan domestikalisasi perempuan, karena perempuan seutuhnya adalah mahluk domestik, mahluk rumahan.

“….. Selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah”, dan salah satu kekejian tersebut adalah munculnya fenomena di mana hukum jadi berkiblat kepada ‘seenak perutnya’ perempuan, kalau masyarakat mengadopsi Emansipasi Wanita.

Kehidupan umat manusia tentunya diatur oleh beberapa hukum, dan salah satu hukum tersebut adalah moralitas, Alquran dan Alhadis. Namun sungguh pun begitu, karena umat telah mengadopsi Emansipasi Wanita di mana perempuan diberi ijin untuk keluar rumah secara permanen, maka seluruh hukum tersebut menjadi kadaluwarsa, dan digantikan oleh ‘hukum perempuan’. Maksud dari hukum perempuan adalah, bahwa benar-salah segala sesuatu TIDAK lagi diatur oleh hukum dan undang-undang, MELAIN-KAN didasarkan pada kenyamanan dan kehendak kaum perempuan. Kalau sesuatu dinilai nyaman dan sesuai kehendak perempuan, maka suatu perkara tersebut dianggap benar, dan kebalikannya suatu perkara akan dikatakan salah kalau hal tersebut membuat perempuan tidak nyaman..

Artinya, dengan diadopsinya Emansipasi Wanita, maka lambat laun hukum dan Undang-undang tergeser oleh hukum perempuan, dan menganggap bahwa perempuan selalu benar dengan apa yang mereka fikirkan dan mereka inginkan: perempuan lah sekarang yang menjadi patokan dan dasar hukum. Nahas, hukum, agama dan syariah tergeser oleh hukum perempuan, karena masyarakat mulai melihat bahwa perempuan tidak pernah salah, bahwa perempuan adalah mahluk lemah, lembut, innocent, bahwa perempuan adalah ibu dari seluruh manusia, maka dari itu kaum perempuan selalu benar, di dalam harus selalu dibela. Dan predikat ‘tidak pernah salah’ di sini berarti bahwa perempuan adalah sumber hukum, perempuanlah yang menjadi dasar benar salah-nya segala sesuatu. Satu hal yang pasti, bahwa hukum perempuan ini SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL KONSISTENSI DAN KEADILAN …. padahal hukum yang sebenarnya hukum, seperti agama mau pun perundangan, pasti berdasarkan konsistensi dan keadilan.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan01

-o0o-

Hukum Seenak Perutnya Perempuan: Pemerkosaan.

Pemerkosaan adalah kosakata yang berarti, di mana seorang pria memaksakan hubungan seksual kepada seorang perempuan, tanpa pandang berapa pun umurnya. Dikatakan pemaksaan, berarti hubungan seksual tersebut TIDAK DIINGINKAN OLEH PEREMPUAN-nya. Seujung dunia mana pun pemerkosaan tidak dapat dibenarkan, karena kata ini berbasis pada kekerasan dan anti-perasaan, serta menindas kaum perempuan sebagai korban.

Ketika seorang perempuan diperkosa, ada kemungkinan ia akan melapor ke aparat. Sebagai tindak lanjut, aparat akan meringkus sang pelaku, untuk diseret ke muka hakim. Alkisah, sang pelaku berhasil diringkus, dan segera berurusan dengan aparat.

Kepada aparat, pemerkosa akan berdalih, bahwa hubungan intim yang terjadi antara dirinya dengan korban, seutuhnya atas dasar suka sama suka, yang artinya si korban sebenarnya menginginkan dan menikmati hubungan intim tersebut. Kalau aparat dapat diyakinkan dengan dalih sang pelaku (bahwa hubungan intim tersebut adalah atas dasar suka sama suka), maka besar kemungkinan sang pelaku akan terbebas dari segala tuduhan. Namun kalau aparat tidak dapat diyakinkan dengan dalih sang pelaku, maka sang pelaku akan dihukum atas tuduhan pemerkosaan. Ini artinya apa? Artinya adalah, kebenaran hanya berkiblat kepada keinginan sang perempuan, alias seenak perutnya perempuan.

Kalau perempuan TIDAK menginginkan hubungan intim tersebut, maka jatuhlah tuduhan pemerkosaan atas sang pelaku. Namun kebalikannya, kalau sang perempuan MENGINGINKAN dan bahkan menikmati hubungan intim tersebut dengan pelaku, maka artinya pelaku tidak dapat dijatuhi pasal apa pun, alias bebas murni, karena toh sama-sama menginginkan. Kalau dapat dibuktikan bahwa sang perempuan MENGINGINKAN (dan bahkan menikmati) hubungan intim tersebut dengan pelaku, maka akan diperkatakan bahwa hubungan intim tersebut adalah urusan antara mereka berdua, oleh karena itu aparat akan berfikir bahwa pelaku sama sekali tidak salah. Dosa tidak dibahas, perbuatan bejat tidak dibahas, karena yang mengemuka adalah terdapat seorang perempuan yang mencintai seorang pria, dan ingin memadu kasih dengannya, yaitu sang pelaku. Kalau sudah begitu, maka mengapa pria nya harus dipersalahkan?

Jadi, keberuntungan sang pelaku terletak pada apakah aparat dapat diyakinkan bahwa hubungan intim tersebut adalah murni atas dasar suka sama suka, atau tidak. Pelaku tahu benar bahwa semua kesalahan di dalam kehidupan ini hanya berdasar pada pendirian perempuan. Dan kalau perempuan menginginkan suatu hal, maka benarlah hal tersebut, walau pun sebenarnya secara agama adalah dosa dan bejat.

Antara pemerkosaan dan zinah, hanya dipisahkan satu garis tipis, dan garis tipis tersebut adalah kehendak si perempuan-nya. Kalau hubungan intim (khususnya di luar nikah) diinginkan dan merupakan kehendak perempuan-nya, maka hubungan tersebut dinamakan zinah, dan perbuatan tersebut bukanlah ranah dan tanggungjawab aparat untuk menanganinya. Kebalikannya, kalau suatu hubungan intim tidak diinginkan perempuan nya, maka hubungan tersebut dinamakan pemerkosaan, dan perbuatan tersebut merupakan ranah aparat untuk menanganinya. Jelas, hanya karena perempuan tidak menghendaki dan tidak menginginkan hubungan intim, maka pria di dalam hubungan intim tersebut akan diperkarakan.

Jadi, bukankah itu berarti bahwa perempuan lah yang menjadi tuan agung di atas bumi ini? Bukannya agama dan moralitas? Mana-mana hubungan intim yang diinginkan seorang perempuan, maka hubungan intim tersebut dinamakan zinah (atau juga kumpulkebo), dan zinah tersebut tidak akan diperkarakan aparat, pun juga tidak akan dikutuk publik yang berbasis Emansipasi Wanita. Dan ini artinya si pria akan bebas menikmati zinah ter-sebut, karena tidak akan diperkarakan aparat, juga tidak akan diperkara-kan publik. Namun mana-mana hubungan intim yang tidak diinginkan perempuan, maka hubungan intim tersebut dinamakan pemerkosaan, dan jelas akan DIPERKARAKAN aparat supaya laki-lakinya dieksekusi.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan10

Fenomena ini benar-benar membuktikan bahwa benar dan salah segala sesuatu seutuhnya berdasarkan seenak perutnya perempuan, lain tidak. Hukum agama dan moralitas sudah paripurna dilumpuhkan, dan kemudian datang lah hukum yang berdasar seenak perut perempuan. Ujung-ujungnya adalah, itu semua berkat gelagat Emansipasi Wanita yang beranak-pinak di kampung-kampung.

Berikutnya, Seenak Perutnya Perempuan: Pacaran Dan Pelecehan Seksual.

 

Seenak Perutnya Perempuan: Perempuan Bekerja Vs Perempuan Rumahan

 GenderDis3

Manusia adalah umat yang beradab, di mana kehidupan mereka pasti membutuhkan hukum untuk mengatur tata-perilaku di antara mereka. Mereka membutuhkan hukum, kemudian mereka membuat hukum tersebut, dan pada akhirnya mereka jugalah yang mentaati hukum tersebut. Namun umat manusia juga tunduk kepada hukum yang dicipta-kan Illahi, di mana mereka yakin bahwa hukum Illahi merupakan hukum yang terbaik dan ter-adil.

Mungkin pada mulanya, terdapat masyarakat manusia yang hidup tanpa hukum. Monarki absolut misalnya. Mereka hidup tanpa hukum, karena yang mereka sebut hukum adalah Raja mereka sendiri, di mana sang Raja menerapkan peraturan dan hukuman sesuka hati Raja saja. Namun yang jelas, gaya hidup seperti itu mendatangkan ketidakpastian, dan hal tersebut membuat sang Raja semena-mena. Itu semua masyarakat manusia tidak mau. Latar belakang ini lah yang membuat manusia semakin membutuhkan hukum.

Secara universal, setiap hukum pasti mempunyai ciri bahwa hukum tersebut bersifat konsisten, dan kemudian adil. Bukan hukum namanya kalau tidak konsisten dan tidak adil, karena yang mengakibatkan tercetus-nya hukum adalah kebutuhan manusia akan konsistensi dan keadilan.

-o0o-

Kemudian di sisi lain, Islam dengan tegas melarang Emansipasi Wanita, karena gerakan ini hanya membawa malapetaka kepada umat Illahi pada segala lini. Baik Alquran, Alhadis, peri kehidupan Nabi Muhammad Saw, peri kehidupan para sahabat, petuah leluhur, hukum Alam, hukum fitrah, hukum logika dan kepantasan, dsb, tidak mempunyai satu kalimat pun untuk membenarkan gerakan Emansipasi Wanita, bahkan kebalikannya kesemua lembaga agung tersebut melarang perempuan (kelur rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan.

Kalaulah Emansipasi Wanita, atau dengan kata lain ‘perempuan (keluar rumah untuk) bekerja mencari nafkah, karir dan jabatan’ -tidak membahayakan umat dan kaum perempuan sendiri, maka pasti sudah sejak awal Islam dan Alqurannya mengajarkan Emansipasi Wanita, dan memberi sinyal yang jelas dan gamblang tentang keutamaan Emansipasi Wanita ini. Namun faktanya tidaklah demikian.

Intinya, selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah secara permanen untuk mencari ilmu dan juga bekerja. Dan karena alasan tersebut-lah maka Islam melarang umatnya untuk mengadopsi Emansipasi Wanita (keluar rumah untuk bekerja), dan memerintahkan umatnya untuk menegakkan domestikalisasi perempuan, karena perempuan seutuhnya adalah mahluk domestik, mahluk rumahan.

“….. Selalu terdapat kekejian jika perempuan keluar rumah”, dan salah satu kekejian tersebut adalah munculnya fenomena di mana hukum jadi berkiblat kepada ‘seenak perutnya’ perempuan, kalau masyarakat mengadopsi Emansipasi Wanita.

Kehidupan umat manusia tentunya diatur oleh beberapa hukum, dan salah satu hukum tersebut adalah moralitas, Alquran dan Alhadis. Namun sungguh pun begitu, karena umat telah mengadopsi Emansipasi Wanita di mana perempuan diberi ijin untuk keluar rumah secara permanen, maka seluruh hukum tersebut menjadi kadaluwarsa, dan digantikan oleh ‘hukum perempuan’. Maksud dari hukum perempuan adalah, bahwa benar-salah segala sesuatu TIDAK lagi diatur oleh hukum dan undang-undang, MELAIN-KAN didasarkan pada kenyamanan dan kehendak kaum perempuan. Kalau sesuatu dinilai nyaman dan sesuai kehendak perempuan, maka suatu perkara tersebut dianggap benar, dan kebalikannya suatu perkara akan dikatakan salah kalau hal tersebut membuat perempuan tidak nyaman..

Artinya, dengan diadopsinya Emansipasi Wanita, maka lambat laun hukum dan Undang-undang tergeser oleh hukum perempuan, dan menganggap bahwa perempuan selalu benar dengan apa yang mereka fikirkan dan mereka inginkan: perempuan lah sekarang yang menjadi patokan dan dasar hukum. Nahas, hukum, agama dan syariah tergeser oleh hukum perempuan, karena masyarakat mulai melihat bahwa perempuan tidak pernah salah, bahwa perempuan adalah mahluk lemah, lembut, innocent, bahwa perempuan adalah ibu dari seluruh manusia, maka dari itu kaum perempuan selalu benar, di dalam harus selalu dibela. Dan predikat ‘tidak pernah salah’ di sini berarti bahwa perempuan adalah sumber hukum, perempuanlah yang menjadi dasar benar salah-nya segala sesuatu. Satu hal yang pasti, bahwa hukum perempuan ini SAMA SEKALI TIDAK MENGENAL KONSISTENSI DAN KEADILAN …. padahal hukum yang sebenarnya hukum, seperti agama mau pun perundangan, pasti berdasarkan konsistensi dan keadilan.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan01

-o0o-

Seenak Perutnya Perempuan: Perempuan bekerja vs perempuan rumahan.

Emansipasi Wanita mengidealkan kaum perempuan untuk keluar rumah dan bekerja mencari uang, karir dan jabatan, sebagaimana halnya kaum pria. Dan bagaimanakah caranya kaum perempuan menggelar Emansipasi Wanita di tengah kehidupan ini?

Patut diingat terlebih dahulu, bahwa sebenarnya tidak ada alasan urgen bagi perempuan untuk bekerja. Fakta menunjukkan perempuan bekerja sebenarnya hanya untuk tujuan materialistisme, gagah-gagahan, dan kesenangan / kepuasan semata, BUKAN untuk mencari nafkah atau untuk menopang hidup. Banyak perempuan yang bekerja, padahal suami mereka kaya-raya, atau ayah mereka kayaraya, atau bahkan keluarga mereka kayaraya, yang mana itu berarti kaum perempuan tidak perlu bekerja. Namun mengapa mereka masih bersikeras untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan?

Di lain pihak, pangker (lapangan kerja) –amat dibutuhkan para lelaki, karena mereka adalah tulang punggung keluarga, sumber nafkah keluarga. Oleh karena itu harus dikatakan bahwa pangker harus diprioritaskan untuk kaum pria, karena bekerjanya mereka bukan untuk tujuan materialisme, atau sekedar kepuasan batin, atau untuk gagah-gagahan, namun memang untuk menafkahi keluarga mereka, bayi-bayi mereka, dsb.

Pada titik inilah, kaum perempuan merangsek menduduki dan merebut pangker, dan menunjukkan bahwa mereka tidak perduli bahwa sebenarnya pangker akan lebih bermanfaat kalau diberikan kepada kaum pria. Mereka adalah perempuan yang ayah atau suami atau keluarga mereka adalah kayaraya, sehingga mereka sebenarnya tidak seharusnya bekerja. Sekarang saatnya membahas bagaimana hukum jadi berkiblat pada kenyamanan perempuan, kalau perempuan berkiprah di dalam alam Emansipasi Wanita.

Kaum perempuan yang kayaraya, karena suami, ayah mau pun keluarga nya kayaraya, bekerja mencari uang, karir dan jabatan. Atas nama hak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum pria, mereka keluar rumah untuk bekerja, dan mereka menilai salah kalau perempuan tetap tinggal di rumah. Di awal bulan, mereka bawa pulang gaji.

Sementara itu, di lain tempat, terdapat kaum perempuan yang kayaraya, namun toh mereka tidak bekerja: mereka memilih untuk menjadi Bunda rumahtangga, menjaga dan membesarkan anak di rumah. Secara berlawa-nan, juga terdapat kaum perempuan yang miskin dan melarat, karena lingkup mereka tidak mempunyai penghasilan yang besar. Namun toh mereka tidak bekerja, dan memilih untuk menjadi perempuan rumahan.

Jadinya, terdapat empat golongan,

  1. Perempuan dengan lingkup kayaraya, dan perempuan ini bekerja mencari uang dan karir.
  2. Perempuan dengan lingkup kayaraya, namun perempuan ini tidak bekerja, mereka setia menjadi perempuan rumahan sepanjang waktu.
  3. Perempuan dengan lingkup melarat, dan perempuan ini bekerja mencari uang, untuk membantu keuangan keluarga.
  4. Perempuan dengan lingkup melarat, namun perempuan ini tidak bekerja, mereka setia menjadi perempuan rumahan sepanjang waktu.

Berarti ada empat kasus pada empat latar berbeda. Dan atas keseluruhan kasus tersebut, bagaimana cara publik melihat posisi perempuannya? Apakah publik melihat ada satu kasus yang perempuan-nya dinilai salah sehingga harus dikecam? Dipastikan tidak. Publik melihat bahwa pada semua latar tersebut, apapun yang menjadi pilihan kaum perempuan, perempuan tetaplah benar, padahal antara satu dengan yang lainnya saling bertolak belakang.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan05

Varian 1.

Perempuan dengan lingkup kayaraya, mereka memilih bekerja untuk mencar uang, karir dan jabatan.

Pada varian ini, apakah publik mempersalahkan sang perempuan yang berkeras untuk bekerja, padahal lingkupnya kayaraya sehingga si perempuan sebenarnya tidak perlu bekerja cari uang dan sebaiknya diam di rumah saja? Tidak, publik tidak pernah mempersalahkan perempuan pada varian pertama ini, justru berkebalikan, publik mendukung aspirasi sang perempuan untuk bekerja: hak azasi manusia, kata mereka. Publik berkilah, bahwa perempuan harus diberi hak dan kesempatan untuk mensejajarkan diri dengan kaum pria. Untuk itulah publik tidak mempersalahkan perempuan pada varian ini.

Padahal sebenarnya, publik harus mempersalahkan kaum perempuan yang bekerja pada varian ini, karena agama dan moralitas berpesan bahwa fitrah perempuan adalah di rumah, apalagi mereka berasal dari keluarga yang kayaraya, buat apalagi mereka bekerja? Namun apakah publik patuh kepada agama dan moralitas? Tidak, jawabannya: publik berkiblat kepada apa yang membuat perempuan senang dan nyaman, dan itulah yang benar, kata mereka.

Varian 2.

Perempuan dengan lingkup kayaraya, namun mereka TIDAK bekerja, dan memilih untuk menjadi Bunda Rumahtangga, alias perempuan rumahan.

Bagaimana tanggapan publik atas varian nomor 2 ini, di mana perempuan dari lingkup kayaraya tidak bekerja cari uang karena lebih memilih menjadi Bunda Rumahtangga? Sama seperti sebelumnya, publik tidak mempersalahkan perempuan pada pilihan nomor 2 ini. Publik menilai bahwa mencari nafkah adalah tugas para suami dan ayah, sementara perempuan dan para ibu membesarkan anak di rumah.

Varian 3.

Perempuan dengan lingkup miskin, dan mereka bekerja mencari uang, dengan alasan untuk membantu suami mencari nafkah keluarga.

Pada varian ini, kembali publik tidak mempersalahkan perempuan yang memilih untuk bekerja dengan alasan membantu suami dalam menafkahi keluarga. Justru publik memuji dan mendukung perempuan yang bekerja karena alasan nafkah yang diberikan suami masih kurang memadai.

Padahal sebenarnya, publik harus mempersalahkan perempuan yang bekerja pada varian ini, karena fitrah perempuan tetaplah harus di rumah, sementara nafkah suami yang tidak seberapa haruslah diterima dengan tawakal. Ketahuilah, uang dan materi tidak pernah ada cukupnya. Di lain tempat pada waktu bersamaan, banyak istri yang setia di rumah, padahal nafkah suami jauh dari mencukupi, namun keluarga mereka tetap survive. Itu semua karena mereka bersyukur, mereka tidak menuntut lebih.

Varian 4.

Perempuan dengan lingkup miskin, namun mereka TIDAK bekerja, melainkan memilih untuk menjadi Bunda Rumahtangga, alias perempuan rumahan.

Bagaimana publik melihat varian ini? Apakah publik akan mempersalahkan perempuan pada varian ini, karena tidak bekerja membantu suami mencari nafkah? Sama sekali tidak. Publik menilai bahwa tugas mencari nafkah berada di pihak suami, bukan di pihak istri, dan oleh karena itu suami harus bekerja lebih keras lagi supaya ekonomi keluarga menjadi terangkat.

Hukum Menurut Seenak Perut Perempuan06

Pada diagram di atas tampak jelas, adanya perbedaan pendapat antara ajaran agama dengan pendapat publik mengenai sepak terjang kaum perempuan di dalam bingkai Emansipasi Wanita. Pandangan agama mempunyai sudut pandang yang adil dan objektif, sedangkan pandangan publik justru ‘main pukul rata’ dan begitu subektif, di mana seluruh sepak terjang kaum perempuan selalu DINILAI BENAR DAN SAHIH oleh publik. Publik tidak pernah melihat kaum perempuan berbuat salah, apapun yang dilakukan perempuan, sedangkan agama dan moralitas melihat perempuan melakukan kesalahan berdasarkan perspektif tertentu, dan kebalikannya berbuat hal yang benar menurut perspektif yang sama.

Mengapa publik begitu menerapkan standard ganda terhadap kaum perempuan? Jawabannya mudah, yaitu karena umat mengadopsi Eman-sipasi Wanita, di mana hal tersebut membuat publik jadi berkiblat kepada hukum ‘seenak perutnya perempuan’. Artinya, publikalisasi perempuan lambat laun membuat publik (umat) terpesona pada perilaku perempuan, hal mana itu membuat publik jadi ber-psikologi bahwa perempuan selalu benar, dikarenakan perempuan adalah mahluk lemah, dan ibu dari segala manusia. Publik yang semula berkiblat kepadap hukum agama dan moralitas, beralih berkiblat kepada hukum ‘seenak perutnya perempuan’.

Emansipasi Wanita membuat publik lambat laun berkiblat kepada hukum seenak perutnya perempuan, bukan lagi kepada hukum agama dan moralitas.

Berikut, Penutup.

Kembali Ke Artikel Utama.

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang Bag02

 

marah-ini-orang_20150706_103704Ketiga.

Perempuan yang bekerja, yang marah ketika melihat uang yang mereka hasilkan dihambur-hamburkan / digunakan di luar keinginannya, kerap berkata yang pada intinya seperti ini ……,

“ …… Apakah kalian tidak mengerti susahnya cari uang? Apakah kangmas tidak mengerti susahnya cari uang seharian banting tulang dimarahi atasan -tugas menumpuk -bawahan pada bawel -pulang pergi jalanan macet ….”.

Kalau perempuan itu benar-benar faham betapa susahnya cari uang, maka bukankah lebih baik baginya untuk berhenti dan tidak bekerja lagi? Ia sudah faham bahwa kerja mencari uang benar-benar sulit, lantas mengapa ia masih juga bekerja? Faktanya ia masih juga bekerja, namun mengapa kemudian ia komplain mengenai betapa susahnya kerja cari uang? Bukankah tidak ada yang memaksanya untuk bekerja mencari uang? Bukankah ia bekerja seutuh-nya atas dasar inisiatif dan ideologinya saja?

Suaminya adalah pria yang bekerja dan mempunyai penghasilan yang mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga sebenarnya sang istri tidak perlu bekerja mencari uang. Bukankah hal tersebut bisa menjadi alasan bagi sang istri untuk menjadi iburumahtangga biasa dan tidak bekerja? Namun faktanya sang istri tetap kukuh ingin bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri. Dan namun tiba-tiba ia begitu marah ketika melihat bahwa uang yang ia hasilkan diperguna-kan tidak menurut keinginannya, sampai ia mengeluarkan adagium-adagium seperti di atas, seolah keluarganya tidak faham betapa susah-nya banting tulang kerja seharian cari duit. Ada apa dengan perem-puan?

Pertama, suaminya bekerja, yang penghasilannya cukup untuk kebutuhan keluarga. Kedua, dengan demikian sang istri sebenarnya tidak perlu bekerja mencari uang. Ketiga, pun sang istri kukuh tetap ingin bekerja, dan itu atas dasar keinginannya sendiri. Dan aneh, ketika ia melihat bahwa uang yang ia hasilkan digunakan tidak menurut perintahnya, tiba-tiba ia marah sehingga ia mengeluarkan adagium-adagium mengenai susahnya bekerja mencari uang. Bukankah fikiran perempuan memang sulit untuk dimengerti?

Mungkin jadi lain ceritanya kalau sang suami tidak bekerja alias penganggu-ran, mungkin karena pekerjaan susah didapat, atau sang suami dipecat dari tempatnya bekerja, sehingga sang istri-lah yang kemudian harus bekerja cari duit menggantikan suami sebagai pencari nafkah.

Penting untuk difahami, mengapa bisa terjadi seorang pria susah mendapat pekerjaan? Faktanya di dalam kehidupan ini banyak dijumpai sarjana mumpuni yang menganggur. Pengangguran menjadi masalah pelik yang dihadapi banyak negara, dan itu HANYA TERJADI pada alam Emansipasi Wanita. Jadi, sejak tercetusnya Emansipasi Wanita, masalah pengangguran (di kalangan pria) pecah di banyak negara, dan pada sisi lain pengangguran itu pun juga mencetus banyak kriminalitas lainnya. Mengapa hal tersebut tidak pernah menjadi pertanyaan bagi publik?

Kembali ke masalah. Sang istri ngomel-ngomel kepada suaminya yang pengangguran, lantaran sang suami menggunakan gaji sang istri tidak menurut rencana sang istri, sehingga sang istri memarahi suami sedemikian rupa, dan sampai mengeluarkan adagium-adagium mengenai susahnya kerja cari uang. Satu hal harus diperhatikan, mengapa bisa terjadi sang suami menjadi pengangguran?

Berarti ada satu masalah, yaitu suaminya adalah pria pengangguran, yang tidak bisa menghasilkan nafkah untuk keluarganya. Dan kemudian, apakah yang menjadi pangkal dari masalah itu sendiri? Apakah masalah suami menganggur datang begitu saja dengan sendirinya?

Jawabannya justru terletak pada sang istri yang terus-terusan mengomel pada suami. Sang istri adalah seorang perempuan, yang bekerja mencari uang, karir dan jabatan. Harap diperhatikan dengan baik, penyebab mengapa banyak laki-laki yang menganggur, adalah justru karena perempuan melakukan INFILTRASI ke dunia kerja, hal tersebut mengakibatkan banyak laki-laki yang terdepak dari dunia kerja, lantaran setiap pangker (lapangan kerja) sudah keburu direbut dan DIRAMPAS perempuan, melalui apa yang dinamakan Emansipasi Wanita.

Dunia kerja, atau pangker, adalah dunia tempat para lelaki bekerja mencari nafkah, dan nafkah itu adalah untuk keluarganya juga. Sementara itu, tempat dan lebensraum perempuan adalah di rumah, karena perempuan adalah mahluk domestik; di rumah itu kaum perempuan menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka.

Namun karena kecanggihan teknologi (yang mana kecanggihan teknologi tersebut adalah hasil jerih-payah para lelaki juga untuk memudahkan kehidupan), perempuan menjadi terperdaya, keseleo, dan over-acting, yang wujudnya adalah menuntut persamaan hak untuk mendapatkan pekerjaan dan jabatan. Akibat lurus dari kisah pahit ini adalah, perempuan merangsek masuk ke dunia kerja, dan akibatnya TERCAMPAKNYA kaum laki-laki dari pangker, karena pangker telah banyak DISEROBOT kaum perempuan. Maka menjadilah kaum pria pengangguran, tidak bekerja, dan tidak mempunyai penghasilan. Itulah Emansipasi Wanita!

Dengan kata lain, kalau sejak awal tidak ada Emansipasi Wanita, dan kalau sejak awal kaum perempuan tidak over-acting sehingga menuntut persamaan akses ke dunia kerja, maka dipastikan tidak akan ada satu pun pria yang menganggur.

Kembali ke masalah ….. kalau kaum perempuan TIDAK DIBERI hak dan akses kepada dunia kerja (alias Emansipasi Wanita), maka ….

  • Tidak ada satu pun pria dan suami yang menganggur di dunia ini, karena mereka pasti beroleh kerja: karena pangker tidak pernah DISEROBOT DAN DIRAMPAS kaum perempuan. Itu sudah jaminan.
  • Dan tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, melainkan tetap tinggal di rumahnya sebagai istri dan Bunda Rumah Tangga (BRT).
  • Dan kalau perempuan tidak bekerja (melainkan menjadi BRT belaka), maka tetaplah mereka menjadi jiwa-jiwa lembut yang manut dan patuh kepada ayah dan suami, dan pada giliriannya maka mustahil mereka menjadi galak dan bengis kepada suami, mustahil!
  • Dan akhirnya, tidak akan pernah terjadi fenomena SUTARI alias Suami Takut Istri.

Singkat kata, kalau tidak ada perempuan yang bekerja, maka tidak akan ada pria / suami yang menganggur. Dan kalau tidak ada Emansipasi Wanita, maka tidak akan ada perempuan yang bekerja, yang berakibat pada tabiat suka memarahi suaminya yang pengangguran ….. Itu juga jelas!!

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang-01

Kembali ke masalah istri tadi yang mendominasi dan memarahi suaminya, yang mana suaminya adalah pria pengangguran. Mengapa ia harus marah dan memarahi sang suaminya yang pengangguran, sampai-sampai ia mengeluar-kan adagium mengenai betapa susahnya cari duit? Bukankah seluruh masalah tersebut justru sebenarnya berasal dari dirinya sendiri?

Pertama, ia sebagai perempuan dan istri yang bekerja dan mempunyai penghasilan uang. Bukankah posisi demikian membuatnya menjadi begitu liar dan ganas di dalam keluarganya sendiri? Bekerja telah membuat mental perempuan menjadi begitu kasar dan bengis, kritis dan curam. Tidak jarang posisi, jabatan dan gaji yang dimiliki perempuan membuatnya mudah tersulut emosi, terkhusus kalau uang yang ia peroleh dari kerjanya ternyata digunakan tidak menurut rencananya. Atau, apakah mungkin sang suami untuk selamanya tunduk kepada amarah sang istri? Tentu hal tersebut sangat tidak mungkin dan sangat tidak masuk akal.

Kalau sang istri tetaplah seorang Bunda rumahtangga, maka tidak mungkin ia menjadi pribadi yang bengis dan kritis terhadap suaminya, apalagi mendominasi sang suami lewat aneka kemarahan dan nada bicara tinggi. Jadi, mengapa tercetus seorang istri yang gigih memarahi sang suami? Tidak lain karena ia merupakan pribadi yang bekerja dan menguasai gaji, pun di kantor ia dikondisikan sebagai superior. Nah apakah mungkin ia sebagai istri akan tetap manut dan takut kepada suaminya di rumah?

Kedua, masalah suami yang merupakan pria pengangguran. Apa sebabnya sehingga suaminya dan banyak pria lain menjadi pengangguran? Tidak lain adalah karena AKSES DAN INFLITRASI sang istri dan perempuan lain ke dunia kerja, yang mana tentu saja membuat kesempatan kerja bagi pria TER-ELIMINASI. Intinya, kalau tidak ada satu pun perempuan yang masuk ke dunia kerja, maka mengapa masih ada pria pengangguran? Kalau tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, maka pasti seluruh pria akan memperoleh pekerjaan, sehingga tidak akan ada satu pun pria yang menganggur.

Publik selalu menghayalkan suatu utopia, bahwa pangker (lapangan kerja) selamanya akan melimpah, sehingga seberapa pun banyaknya kaum perem-puan infiltrasi ke dunia kerja, maka hal tersebut tidak akan meng-eliminasi kesempatan dan hak kaum pria untuk bekerja. Itulah utopia dan hayalan publik. Namun mana fakta dan buktinya? Bukankah pengangguran di kalangan pria mewabah di seluruh dunia? Dan bukankah terjadi paralelitas antara perempuan yang bekerja dengan pecahnya isu pengangguran di kalangan pria? Tidak, jumlah pangker di dalam kehidupan ini sangatlah ter-batas, tidak semelimpah yang dihayalkan publik. Untuk itulah ide perem-puan bekerja merupakan satu-satunya alasan mengapa banyak pria mengang-gur, otomatis perempuan bekerja adalah suatu tirani yang mengerikan.

Jadi, isu pria pengangguran, sebenarnya dosa dan kesalahan siapa? Tidak lain adalah dosanya kaum perempuan, yang begitu lancangnya merampas dan menyerobot pangker, yang mana hal tersebut membuat banyak kaum pria terdepak dari pangker, maka jadilah mereka pengangguran. Karena dosa siapa tercetusnya pengangguran di kalangan pria atau suami? Jawabannya adalah karena dosa Emansipasi Wanita.

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang-02

Si istri tadi, harus faham bahwa kemarahannya selama ini kepada suaminya yang pengangguran, adalah karena kesalahan sendiri, yaitu karena ia merebut pangker dari kalangan pria, sehingga pada satu sisinya membuat suaminya menganggur. Ia sendiri yang memantik api, dan justru dia sendiri yang terbakar oleh api itu.

Penutup.

Di bawah ini terdapat beberapa lembaga berwibawa di dalam kehidupan ini,

  • Akal sehat dan kewarasan.
  • Hukum Alam.
  • Hukum fitrah dan nurani.
  • Petuah dan ajaran orang tua-tua.
  • Agama, agama mana saja: Islam, Kristen, Yahudi dsb …

Kesemua lembaga tersebut mengajarkan dan menghendaki, bahwa seluruh perempuan haruslah tetap tinggal di rumah, supaya berteguh diam di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik. Kesemua lembaga berwibawa tersebut mengajarkan bahwa tugas dan kodrat perempuan adalah tinggal di rumah, membesarkan anak-anak dan berbakti kepada suami, bukannya keluar rumah setiap hari untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Kesemua lembaga tersebut sejak awal mengajarkan, bahwa perempuan tidak boleh bekerja, perempuan tidak boleh mendapat pember-dayaan, dan bahwa perempuan harus dipingit di dalam rumah. Terdapat bahaya dan kekejian kalau perempuan keluar rumah, karena dunia luar rumah bukanlah ditujukan kepada kaum perempuan, melainkan ditujukan kepada kaum pria, dan sementara itu kaum perempuan hanya fokus tinggal di dalam rumah.

Namun dikarenakan teknologi (yang mana teknologi tersebut tidak lain adalah hasil jerih-payah kaum pria juga) yang memudahkan segala urusan, perempuan menjadi kehilangan arah, perempuan menjadi terpedaya, mabuk kepayang, dan menjadilah mereka gigih memajukan gigi-gigi mereka untuk menuntut Emansipasi Wanita yang berujung pada penghasilan uang dan gaji, dan berakhir pada khayalan bahwa kaum pria wabil khusus para suami, harus tunduk dan patuh serta tidak melawan kepada para istri, karena sumber uang dan nafkah keluarga ada di tangan mereka ….

Mereka para perempuan dan istri yang ber-emansipasi tidak lagi berpatokan kepada nurani insani, bahwa tidak sepantasnya seorang pria tunduk dan patuh kepada perempuan, karena justru perempuanlah yang harus tunduk dan tidak melawan kepada pria dan suaminya. Kebalikannya, perempuan yang ber-emansipasi hanya ingin berpatokan kepada, bahwa perempuan / istri adalah sumber nafkah keluarga, oleh karena itu suami harus manut dan tidak melawan kepada istrinya. Perempuan sudah terpedaya oleh gaji dan jabatan, sehingga khayalan mereka begitu berani melawan nurani insani ….. bahkan berani melawan dan memarahi para lelaki wabil khusus suami mereka sendiri ….

Islam mengajarkan bahwa tempat perempuan adalah di rumah, dan dengan demikian Islam mengajarkan bahwa Emansipasi Wanita adalah suatu dosa dan kekejian. Fenomena yang menggejala di tengah masyarakat telah membuktikan kekejian Emansipasi Wanita, dan membuktikan bahwa perempuan bekerja telah menjungkirbalikkan ruh kaum perempuan ….

Tidak bisa ditawar-tawar lagi, Emansipasi Wanita harus segera dipadamkan, harus segera ditumpas sampai ke akar-akarnya, karena pada segala aspeknya faham ini menimbulkan bahaya, chaos dan kekejian yang mengerikan. Benarlah Islam dengan seluruh ajarannya mengenai perempuan dan perannya secara domestik ….

Wallahu a’lam bishawab.

Kembali ke Bagian 01.

Perempuan Pekerja Dan Ketika Marahnya Soal Uang Bag01

rupa-rupa.marah-709

Perempuan yang bekerja mencari uang (karir dan jabatan), tentulah mau tidak mau harus terlibat di dalam hal penggunaan uangnya di lingkup rumah-tangganya, khususnya di dalam hubungannya dengan anak-anaknya, suaminya dan juga keluarganya. Dan karena si perempuan itu yang mencari uang, maka tampaknya penggunaan uang tersebut di tengah keluarga haruslah menurut kehendak si perempuan tersebut. Artinya, anak dan suaminyalah yang harus taat dan tunduk kepada si perempuan tersebut di dalam cara penggunaan uang.

Ringkasnya, sang suami harus tunduk pada istrinya di dalam hal bagaimana uang tersebut digunakan, karena uang tersebut merupakan hasil pencarian sang istri. Sekali lagi, sang suami harus tunduk kepada sang istri di dalam hal bagaimana uang tersebut dibelanjakan.

Bagaimana kalau sang anak, dan atau juga sang suami, ternyata menghabiskan / menggunakan uang tersebut di dalam cara yang tidak direncanakan sang istri? Bagaimana kalau ternyata untuk suatu alasan uang tersebut habis tiba-tiba? Tentulah sang istri akan marah-marah, ngamuk, ngedumel, ngomel-ngomel tidak karuan ….. dsb. Untuk sekedar dicatat di sini, sang istri pasti ngomel-ngomelnya kepada sang suami, marah-marahnya kepada sang suami. Kalau marah kepada sang anak lantaran penggunaan uang yang tidak sesuai rencana, mungkin masih bisa dibenarkan: marah kepada anak masih dapat dikatakan pantas dan wajar. Namun kalau sang istri marah-marah kepada sang suami?

Sang istri akan marah-marah kepada suami, memarahi sang suami tidak karuan, dan tentulah dari mulut sang istri akan keluar kata-kata yang tidak pantas …. Pada intinya, sang istri akan berkata,

“……… Mamah kerja banting tulang cari uang, ternyata uang itu tidak dihargai dihambur-hamburkan seenaknya saja, seolah uang boleh petik di pohon sepanjang jalan …. Apakah kalian tidak mengerti susahnya cari uang? Apakah kangmas tidak mengerti susahnya cari uang seharian banting tulang dimarahi atasan -tugas menumpuk -bawahan pada bawel -pulang pergi jalanan macet ….eh sekarang uang tersebut dibuang-buang kangmas dan anak-anak seperti tidak ada harganya saja …… Apa gak bisa kangmas sedikit saja menghargai mamah yang sudah capek kerja seharian cari uang di kantor?”.

Mari kita bahas ………..

Potongan cerita di atas, tentulah bukan isapan jempol belaka, pastilah cerita tersebut merupakan cermin dan fakta kehidupan sehari-hari yang dilalui rumahtangga yang istrinya bekerja mencari uang (karir dan jabatan). Tidak semua rumahtangga berakhir dengan cerita seperti itu, tentunya. Namun pastilah cerita tersebut sudah akrab bagi masyarakat mana saja, yang menganut Emansipasi Wanita, di mana perempuan dan istri diberi akses seluas-luasnya untuk bekerja mencari uang, karir dan jabatan.

Pertama.

Sang istri …….,

  • karena bekerja mencari uang (karir dan jabatan),
  • pun karena (merasa) mempunyai posisi formal dan juga otoritas di kantornya,
  • terlebih karena merasa dirinya adalah sumber nafkah keluarga ……,

…… tiba-tiba berubah menjadi sosok yang merasa mempunyai hak untuk memarahi dan memaki-maki sang suami –untuk alasan apa pun. Tidak sampai di situ, justru sang istri menuntut sang suami untuk tunduk kepada sang istri, manut kepada sang istri, tidak melawan kepada istri, dan merasa sudah sepantasnya sang suami manut serta tidak melawan kepada sang istri (kalau dimarahi), karena sang istri bukanlah perempuan sembarangan (bukan ibu rumahtangga thok), melainkan perempuan pejabat formal di kantor, yang mempunyai penghasilan uang untuk nafkah, dsb.

Secara sempit, pastilah sang istri, perempuan yang bekerja mencari dan mempunyai gaji dan jabatan formal itu, mau-tidak-mau akan merasa bahwa dirinya harus dihormati dan dipatuhi, dan di dalam lingkup rumahtangga-nya, sang suamilah yang harus tunduk dan patuh kepada sang istri, karena istrilah yang bekerja dan cari duit. Itu memang sudah logikanya.

Logikanya, dia (siapa saja) yang bekerja dan yang mempunyai uang, maka dialah yang merasa yang harus dipatuhi dan dituruti, dan kalau tidak, kemarahanlah yang akan terjadi. Logikanya, itu uang adalah uang dia, dia yang cari, dia yang kerja, maka dialah yang mengatur bagaimana cara uang tersebut dibelanjakan. Jadi, dia-lah yang mengatur segala-galanya, termasuk yang mengatur suami, karena sumber uang dia yang pegang. Ini artinya: sumber konflik ….. kalau uang tersebut digunakan di luar rencana yang mencari uang, maka pastilah kemarahan yang terjadi, tidak perduli bahwa yang menjadi sasaran kemarahan adalah suaminya sendiri, yang adalah laki-laki dan kepala keluarga.

Analoginya, tidak ada manusia yang ingin terbang ke langit. Namun kalau sepasang sayap diberikan kepada manusia, tiba-tiba manusia tersebut ingin terbang melintasi langit setiap hari …. Begitu jugalah keadaannya dengan perempuan yang bekerja dan mempunyai gaji: sebenarnya tidak ada perempuan yang ingin dan berani memarahi laki-laki, namun kalau perem-puan tersebut diberi akses bekerja mencari uang (karir dan jabatan), maka tiba-tiba perempuan tersebut ‘berubah haluan’, memajukan gigi-giginya supaya laki-laki mana saja patuh dan tunduk kepadanya, apalagi suaminya, dan supaya laki-laki itu tidak melawan kepadanya saat dimarahi, karena sumber uang istri-lah yang pegang.

Dia seorang perempuan, dia seorang wanita. Dia tidak sadar, siapa yang dia lawan, siapa yang dia tuntut untuk tunduk kepadanya. Dia seorang perem- puan biar bagaimana pun, namun dia yang menuntut suaminya yang laki-laki untuk tunduk kepadanya, patuh kepadanya, dan harus diam kalau dia memarahinya …. Apakah pantas seorang perempuan menuntut dan memerintah laki-laki untuk tunduk dan patuh kepadanya, untuk tidak melawan kepadanya kalau sedang memarahinya? Apakah pantas di mata insan mana pun seorang pria tunduk dan manut kepada perempuan, apalagi perempuan tersebut adalah istrinya?

Jelas, Emansipasi Wanita telah membuat psikologi perempuan jungkir-balik, dan karenanya hirarki rumahtangga menjadi jungkir-balik. Sungguh luar biasa efek Emansipasi Wanita terhadap perempuan. Sungguh luar biasa efek yang ditimbulkan oleh karir dan jabatan kalau diserahkan kepada perempuan!!!

Sama-sama diketahui, bahwa tidak ada satu pun hal di dunia ini yang membuat perempuan jadi ingin dan berani memarahi dan mengatur-atur pria dan suaminya sedemikian rupa, kecuali Emansipasi Wanita! …… kecuali Persamaan Gender! Hanya Emansipasi Wanita-lah satu-satunya kekuatan yang dapat mengubah perempuan dari mahluk yang segan, manut dan tunduk kepada ayah dan suami, menjadi mahluk yang begitu berani dan garang memarahi suami, dan menuntut suami untuk tunduk kepadanya, dan menuntut suami untuk tidak melawan kalau ia memarahinya.

Singkat kata, alam Emansipasi Wanita telah melumrahkan seorang suami atau laki-laki dimarahi dan dibentak-bentak para istri, kendati nurani insani mana pun tidak mensahkannya.

Kedua.

Sudah jamak terjadi di dalam kehidupan ini di mana seorang istri pekerja -berani dan terbiasa- memarahi sang suami lantaran soal uang, karena uang itu adalah hasil pencarian sang istri. Di satu sisi uang tersebut adalah hasil pencarian sang istri, maka itu berarti sang suami harus patuh kepada (cara) sang istri di dalam membelanjakannya. Dan kalau untuk suatu alasan uang tersebut habis di tangan suami, atau uang tersebut digunakan tidak menurut rencana sang istri, maka pastilah sang istri akan marah dan memarahi suami. Namun di sisi lain, suami adalah seorang laki-laki, seorang kepala keluarga, ia mempunyai harga diri seorang laki-laki, harga diri seekor elang penguasa langit. Baiklah sang suami tidak bekerja dan oleh karena itu tidak mempunyai penghasilan, namun toh tetap saja  dia adalah seorang pria.

Jadi, kalau satu sisi (istri mempunyai gaji, dan kemudian marah kepada sang suami) berbenturan dengan sisi lainnya (suami adalah seorang pria dengan harga diri seekor elang), maka pecahlah konflik yang harus dialami sang suami. Kalau ia berdiam diri, itu sulit, karena dirinya adalah seorang laki-laki lengkap dengan harga diri seorang laki-laki: bukan pada tempatnya seorang laki-laki tertunduk kalau dimarahi perempuan atau istrinya sendiri. Namun kalau ia tersulut emosi lantaran dimarahi sang istri, maka itu berarti terjadi cekcok rumahtangga, adu mulut, dan bahkan adu fisik. Latar belakang ini akan memunculkan tiga kondisi yang ironis:

Kondisi pertama, sang suami tersulut emosinya, maka terjadilah KDRT. Kalau hargadiri seorang suami yang adalah laki-laki tersinggung karena kemarahan dan arogansi seorang perempuan, maka pasti bangkitlah amarahnya, dan ini berarti akan terjadi kekerasan. Sang suami secara alamiah akan ‘main tangan’ kepada sang istri, hanya untuk istrinya sadar bahwa ia hanyalah seorang perempuan -supaya jangan lancang dan melampaui batas keperempuanan-nya, supaya perempuan itu tahu diri bahwa emosi dan kesabaran laki-laki ada batasnya, dan tidak mungkin laki-laki akan bersedia tertunduk untuk selama-lamanya kalau dimarahi perempuan. Laki-laki dimarahi laki-laki lain saja tidak mau, apalagi dimarahi perempuan, walau pun perempuan itu adalah istrinya. Dan adalah suatu yang keterlaluan (yang amat sangat) kalau perempuan berkhayal bahwa laki-laki yang baik adalah laki-laki yang selamanya akan bersedia untuk tertunduk kalau dimarahi perempuan.

Singkat kata, akan terjadi KDRT terhadap istri. Kalau sudah begini, maka urusannya adalah kepada aparat kepolisian, di mana sang istri dan keluarga-nya akan melaporkan suaminya ke pihak yang berwajib. Kalau sudah begini, suami akan berdalih apa? Intinya, publik dan polisi akan tutup mata dan tutup telinga bahwa seluruh kekacauan itu sebenarnya terjadi hanya karena sang istri yang begitu lancang dan ‘gagah berani’ memarahi sang suami begitu rupa, dan itu kembali ke masalah uang sang istri, dan pada gilirannya akan kembali kepada alam emansipasi wanita, karena telah memberi akses pekerjaan kepada kaum perempuan.

Kondisi kedua, sang suami begitu memikirkan resiko pidana dan kekerasan, oleh karena itu sang suami lebih memilih untuk tertunduk dan manut kepada amarah sang istri, untuk selama-lamanya. Dari sini lahirlah fenomena SUTARI alias SUAMI TAKUT ISTRI yang seujung dunia pun tidak akan pernah bersesuaian kepada logika dan nurani insan mana pun. Pada fenomena SUTARI inilah, kaum perempuan sudah merasa menang, karena berhasil melumpuhkan para lelaki. Namun harus diingat, bahwa menang tidak otomatis berarti benar. Di sinilah letak praharanya. Bagi perempuan yang mempunyai gaji dan mengendalikan keuangan keluarga, melumpuhkan suami merupakan bentuk kemenangan egosentrisme-nya. Namun bukankah di pihak lain, adalah tidak bersesuaian dengan fitrah kalau perempuan menuntut laki-laki tunduk kepada perempuan?

Dan egosentrime perempuan itu pun juga tumbuh karena ditumbuhkan oleh alam emansipasi perempuan, di mana perempuan diberdayakan baik secara intelektual dan finansial, yaitu diberi akses untuk bekerja. Dan seluruh egosentrime perempuan itu kembali ke masalah pemberdayaan perempuan sejak semula, alias alam emansipasi wanita. Artinya, kalau sejak semula Emansipasi Wanita tidak pernah menggejala, kalau sejak semula anak-anak perempuan tidak diberdayakan baik secara intelektual mau pun finansial, maka praktis kelak jiwa egosentrisme perempuan untuk memarahi para suami –sehingga menciptakan fenomena SUTARI- tidak akan pernah eksis.

Tidak jarang kita temui di tengah masyarakat di mana para suami yang begitu penurut kepada istri. Ada sesuatu yang harus diperhatikan, bahwa takut penurut-nya sang suami kepada sang istri, benar-benar mengindikasikan dua hal yaitu,

  1. Suami menjadi penurut, karena sebenarnya suami memikirkan implikasi pidana dan kekerasan kalau ia memilih untuk menindak kemarahan sang istri. Baiklah, sang suami hanya memandang satu hal: yang penting rumahtangga tetap damai, walau pun hargadiri-nya harus menjadi tumbal.
  2. Sang istri, karena sudah diperdaya oleh pemberdayaan, oleh emansipasi perempuan, sudah merasa pada tempatnya untuk memarahi suami, untuk menuntut suami patuh kepadanya. Perempuan ini sudah kelewat batas, dan itu semua berkat Emansipasi Wanita, dan itu semua berkat gaji dan keuangan yang ia peroleh dari akses bekerja.

Di dalam kehidupan yang TIDAK mengadopsi Emansipasi Wanita, gejala SUTARI ini tidak pernah menggejala, tidak pernah eksis …. karena keuangan dan sumber nafkah tidak berada di pihak istri, melainkan sang istri tetap berada di bawah bayang-bayang dominasi sang suami, khususnya di dalam hal keuangan dan nafkah. Dengan istri yang bukan sebagai sumber keuangan dan nafkah (karena tidak bekerja mencari uang), maka hal tersebut membuat psikologi perempuan menjadi datar dan lembut bersahaja – maka jadilah sang istri penurut dan manut kepada sang suami. Memang demikianlah seharusnya. Justru pada alam ini (yang tidak mengadopsi Emansipasi Wanita) kaum perempuan sadar bahwa memarahi laki-laki adalah kelancangan …

Kondisi ketiga, suami, atau istri, akan memilih lebih baik bercerai. Karena setiap hari dipenuhi agenda cekcok, maka pada akhirnya mereka memilih untuk bercerai, baik kehendak bercerai itu berasal dari sang istri mau pun dari suami. Cekcok itu pun di-trigger oleh kelancangan mulut pihak perem-puan, di dalam hal ini istri, dan kelancangan tersebut berkat (gara-gara) dan berpulang kepada akses bekerja yang diberikan kepadanya untuk menguasai gaji, dan pada akhirnya semua ini berpulang pada alam Emansipasi Wanita. Jadi, dengan kata lain, cekcok itu sendiri bukan digara-garai sang suami, bukan. Justru sang suami adalah korban dari kelancangan mulut si istri, karena menuntut supaya suaminya tunduk kepada sang istri, dan menuntut sang suami terdiam saja kalau dimarahi sang istri. Apa itu masuk akal? Apa hal tersebut fitrah?

Pada level inilah, statistik melaporkan bahwa angka perceraian sangat tinggi terjadi pada masyarakat perkotaan, karena umumnya perempuan di perkota-an mempunyai / diberi akses untuk bekerja. Pun statistik melaporkan bahwa gugat-cerai lebih banyak diajukan pihak istri. Ini benar-benar menunjukan bahwa perempuan yang diberdayakan melalui faham Emansipasi Wanita sudah tidak dapat diharapkan lagi untuk menjadi perempuan yang fitrah dan alamiah, yang benar-benar perempuan. Sekali perempuan diberdayakan, maka selamanya ia melawan hukum ke segala arah, akan melihat bahwa suami harus tunduk pada kemarahannya untuk selama-lamanya, dan itu semua atas dasar uang. Kalau tidak tunduk kepadanya, berarti cekcok dan perceraian.

Itu semua berkat Emansipasi Wanita. Kalau di muka bumi ini tidak ada Emansipasi Wanita, dan kalau di dalam kehidupan ini perempuan tidak diberi akses kepada dunia kerja, maka seluruh kekacauan ini tidak akan pernah terjadi, melainkan kehidupan akan berlangsung harmonis, luhur, agung, sesuai fitrah, dan adem-ayem.

Lanjut ke Bagian 02.

Kesetaraan Gender Dalam Alkitab

ibudankanak

Oleh Ellys Sudarwati., SH, YLPHS.

Dalam tulisan kali ini kita akan membahas keteraan gender dalam Aklitab, tetapi rasanya tidak tepat kalau kita berbicara tentang perempuan tanpa menyinggung laki-laki, hal ini dikarenakan perempuan lah yang sering menjadi korban atau mengalami kekerasan baik dalam rumah tangga, lingkungan maupun dalam lingkup organisisasi dan masyarakat. Tulisan ini akan mengarah kepada pandangan Kristen tentang perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.

Di dalam Alkitab pada Kejadian 1:27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka“, di sini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, di samping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta.

Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan “Segambar” dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.

Jika demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa.

Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya peran perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang diskriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini“. Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).

Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuan hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai  ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita.

Kini kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran melihat pejabat di Republik ini diisi kaum perempuan. Contoh paling dekat adalah adanya Presiden, bupati, Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.

Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30% kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.  Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau Isteri.

Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya.

Kaum perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai pemelihara pertumbuhan (keturunan). Peran ibu adalah hal yang menakjubkan. Ibu dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan sebagai ibu telah masuk ke dalam “rekan sekerja” dengan Bapa kita di Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang juga merupakan pewaris kerajaan Surga.

Anak-anak yang dikaruniakan adalah berkat dari surga. Dengan demikian seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan dalam pertumbuhan mereka di dunia ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang ibu. Bukankah ini tugas mulia?

Sebagai rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus yaitu memelihara, mendidik anak-anaknya dari masih dalam kandungan sampai sudah di dunia. Tugas itu sangat penting oleh karena itu Allah memilih perempuan untuk menjalankan tugas tersebut.

Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Pada masa sekarang menghadapi era informasi di mana kedudukan kaum perempuan di banyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal di mana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan di sinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji.

Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier dinomor-duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.

Oleh karena itu apabila dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki tidak adanya diskriminasi, maka kemungkinan besar kasus kekerasan dalam rumah tangga akan menurun -dan kerukunan baik di dalam rumah tangga maupun dalam masyarakat akan terjalin dengan indah. Seperti ajaran Allah kepada manusia yaitu “KASIH”.

Sumber,

https://www.gkj.or.id/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=797

ANNISANATIONAnnisanation,

Artikel ini telah mengajukan suatu ide yang benar mengenai hakekat dan peran alamiah seorang perempuan. Pertama, artikel ini mengetengahkan isu bahwa ‘perempuan karir’ banyak menimbulkan masalah domestik, seperti bilamana gaji sang istri jauh lebih baik dari pendapatan sang suami, hal mana keadaan tersebut pasti memantik ketidakharmonisan di dalam rumahtangga.

Kedua, yang merupakan inti dari peran dan hakekat seorang perempuan, artikel ini mengusung isu bahwa perempuan diciptakan untuk mengurusi dan membesarkan anak-anaknya di rumah, yang tentunya hal tersebut hanya dapat ditunaikan di rumah, bukan di tempat kerja atau lainnya. Artinya, Gereja mempunyai faham bahwa tempat perempuan yang terbaik dan Illahiah adalah tetap di rumahnya, karena perempuan adalah mahluk domestik, pun agar tugasnya sebagai ibu tetap terjalin dengan baik, yaitu untuk membesar-kan anak-anak.

Di atas segala-galanya, artikel ini telah menegaskan, seperti di dalam paragraf nya,

“ ……. Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Jesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh kaum perempuan bukan ingin mengubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya …..”.

Inilah pernyataan yang memang harus dinyatakan, dan yang harus diperjuangkan, sekaligus harus disadari setiap orang, khususnya kaum perempuan. Kecendrungan dewasa ini, Emansipasi Wanita maupun Persamaan Gender telah membuat perempuan ingin menempatkan diri mereka sebagai laki-laki, atau perempuan ingin dianggap sebagai laki-laki, atau perempuan ingin diperlakukan sebagai laki-laki. Inilah yang salah dan keliru, karena dengan hal ini, berarti kaum perempuan MENYESALI akan takdir mereka sebagai perempuan, seolah terlahir sebagai perempuan sama sekali bukanlah hal yang mereka inginkan. Dan keseluruhan hal tersebut hanya terdapat di dalam Emansipasi Wanita dan ekstrimisnya, yaitu Persamaan Gender.

Itulah sebabnya, Emansipasi Wanita haruslah ditumpas dari muka bumi, dari di dalam kehidupan ini, karena Emansipasi Wanita dan Persamaan Gender benar-benar bertentangan dengan hukum alam, dan juga bertentangan dengan hukum Tuhan. Terlebih lagi, Emansipasi Wanita telah memicu terjadinya banyak ketidakharmonisan di mana-mana.

Artikel ini yang sebenarnya merupakan artikel kekristenan, telah menyiratkan bahwa penolakan terhadap Emansipasi Wanita tidak saja terjadi di dalam umat Muslim, melainkan juga terjadi pada umat Kristiani, yang sama-sama menyembah Tuhan Yang Esa. Umat Muslim dan umat Kristiani sama-sama memafahami, bahwa tugas mulia seorang perempuan adalah di rumah, untuk membesarkan anak-anaknya, dan melayani keluarga secara domestik: dan tidak ada yang salah dengan itu, karena keseluruhan hal tersebut merupakan hukum alam dan juga fitrah kehidupan.

Wallahu a’lam bishawab.