Wanita Eropa Saja Memilih Tinggal Di Dalam Rumah

pilihdirumahsaja

Wanita Eropa Saja Memilih Tinggal Di Dalam Rumah ….. , Mengapa Di Indonesia Banyak Wanita yang Ingin Keluar Rumah?????

RAHASIA DIBALIK KEINGINAN SEBAGIAN WANITA EROPA (INILAH FITRAHNYA WANITA!)

Seorang wanita berkebangsaan Perancis

Kisah di bawah ini diceritakan oleh Syaikh Abdurrahman dari seorang dokter muslim laki-laki yang hidup di Perancis ketika dokter laki-laki ini ditanya oleh teman kerjanya -seorang dokter wanita berkebangsaan Perancis yang beragama Nashrani. Dokter wanita ini bertanya kepadanya tentang keadaan istrinya, seorang muslimah yang berhijab dengan baik, terutama bagaimana istrinya menghabiskan hari-harinya di dalam rumah serta aktivitas apa saja yang dijalani setiap harinya.

Sang dokter menjawab: “Ketika istriku bangun di pagi hari maka dia menyiapkan berbagai keperluan yang dibutuhkan anak-anak di sekolah, kemudian tidur sampai jam 9 atau 10 pagi. Setelah itu dia bangun untuk membersihkan dan mengatur hal-hal lain yang dibutuhkan di dalam rumah. Setelah urusan bersih-bersih selesai maka dia akan sibuk dengan urusan di dapur dan penyiapan makanan.”

Dengan penuh keheranan dokter perempuan tersebut bertanya: “Siapa yang memenuhi kebutuhannya, padahal dia tidak bekerja?!”

Dengan singkat sang dokter mengatakan: “Saya”.

“Lalu siapakah yang membelikan berbagai kebutuhannya?”. Lanjut sang dokter wanita tersebut bertanya.

“Aku yang membelikan semua yang dia inginkan”. Jawab dokter muslim tersebut.

Dengan penuh keheranan dan keter-cengangan wanita tersebut mengatakan: “Engkau yang membelikan segala sesuatu untuk istrimu?!”.

Dia menjawab: “Ya”.

Perempuan tersebut bertanya lagi: “Sampai-sampai urusan perhiasan emas?!”.

“Ya”. jawab dokter muslim tersebut sekali lagi.

“Sungguh istrimu adalah seorang permaisuri”. Komentar akhir perempuan tadi.

Dokter yang menceritakan kisah ini bersumpah dengan nama Allah, bahwa pada akhirnya dokter wanita tadi menawarkan diri kepadanya untuk bercerai dan berpisah dari suaminya, dengan syarat dokter tadi mau menikahinya, sehingga dia bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter perempuan, lalu tinggal di rumah sebagaimana layaknya seorang wanita muslimah.

Tidak hanya itu, dokter perempuan tersebut rela menjadi istri kedua seorang laki-laki muslim dengan syarat dia diperbolehkan tinggal saja di dalam rumah.

Seorang wanita berkebangsaan Inggris yang angan-angannya telah ditulis lebih dari seratus tahun yang lewat.

Seorang wanita yang berprofesi sebagai penulis terkenal bernama Ety Rudh menulis dalam sebuah artikel yang disebar-luaskan pada tahun 1901:

“Sungguh seandainya anak-anak perempuan kita sibuk bekerja dalam rumah sebagai pembantu atau seperti pembantu, itu lebih baik dan lebih ringan resikonya daripada meniti karier di berbagai instansi, karena meniti karir di luar rumah itu menyebabkan seorang wanita ternodai berbagai kotoran yang menghilangkan indahnya kehidupan untuk selama-lamanya.

Andaikan saja negeri kita ini seperti negeri orang-orang Islam yang berhias dengan rasa malu, menjaga kehormatan dan kesucian.

Sungguh sebuah aib di negeri Inggris yang menjadikan putri-putrinya sebagai teladan dalam keburukan karena seringnya bercampur-baur dengan laki-laki. Jika demikian mengapa kita tidak berusaha untuk menjadikan putri-putri kita bekerja sesuai dengan fitrah dan tabiatnya sebagai wanita, yaitu dengan mengurusi rumah tangga dan membiarkan berbagai jenis pekerjaan laki-laki untuk kaum laki-laki dalam rangka menjaga kemuliaannya”.

Seorang wanita berkebangsaan Jerman

Dia berkata: “Sesungguhnya aku ingin berada di rumah saja, akan tetapi selama perkembangan ekonomi Jerman akhir-akhir ini tidak bisa menyentuh semua lapisan masyarakat maka permasalahan seperti ini yaitu back to home adalah sebuah kemustahilan. Sungguh suatu hal yang sangat menyedihkan” (dikutip dari majalah mingguan berbahasa Jerman).

Seorang perempuan berkebangsaan Italia

Dia berkata kepada dokter Mustafa as-Shiba’i rahimahullah: “Sungguh aku merasa iri dengan wanita muslimah dan aku berangan-angan seandainya aku dilahirkan di negeri kalian”.

Inilah Islam, satu-satunya agama yang benar-benar memuliakan wanita. Karena orang-orang Barat mengetahui bahwa baiknya umat Islam adalah dengan berdiam dirinya kaum wanita mereka di dalam rumah-rumah mereka. Oleh karena itu mereka membuat berbagai makar, sehingga wanita muslimah meninggalkan rumah, dan berbagai rencana lain untuk merusak wanita muslimah, sehingga mereka melepas jilbab dan tidak lagi memiliki hubungan dengan agama kecuali pada waktu shalat, ini pun seandainya dia masih mau shalat.

Berbagai makar ini dikemas dengan dalih kebebasan wanita, demokrasi, hak-hak asasi manusia dan hak-hak wanita.

Sesungguhnya tugas pokok seorang wanita dalam ajaran Islam yang disadari betul oleh orang-orang Barat adalah pembentuk tokoh dan pendidik generasi.

Darinya-lah anak-anak belajar tentang nilai luhur, menjaga kehormatan, menjauhi akhlak tercela, mencintai Islam, dan mendahulukannya di atas nyawa dan darah.

Sangat disayangkan, setelah menyimak kisah-kisah di atas, kita lihat sebagian wanita muslimah tidak menemukan kemerdekaan kecuali dengan kacamata Barat dan mereka tidak mengetahui hak-hak mereka kecuali dari sudut pandang Barat.

Yang jelas mereka adalah korban pendidikan yang keliru yang tidak tersentuh nilai Islam sedikitpun. Dalam kesempatan ini kami tegaskan bahwasanya Islam tidak akan berdiri tegak kecuali dengan mengembalikan wanita ke dalam rumah untuk melaksanakan kewajiban mereka yang paling penting yaitu membentuk generasi yang akan mengantarkan umat Islam menjadi pemimpin kemanusiaan.

Sumber:  https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=498073810221924&id=494226653939973&_rdr

Advertisements

Tanggapan Islam Mengenai Wanita Karir

gedung-kantor

Gelombang Emansipasi yang ditiupkan oleh Barat pada awal abad 20 ini mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia. Tak terkecuali dengan wanita Islam. Dikemas dalam bentuk yang amat menarik, hingga mampu menyeret kaum Hawa untuk terjun ke bidang yang selama ini diisi oleh lelaki. Tak heran apabila sekarang banyak dijumpai wanita di jalan-jalan, lapangan sepak bola, berdesakan dalam bis kota, kereta api bahkan sampai luar angkasa sekalipun. Tidak ada bidang yang tidak dimasuki oleh para wanita saat ini. Ditunjukkan bahwa posisi wanita harus setara dengan lelaki bahkan kalau mungkin melebihi.

Sebenarnya mereka tidak sadar hanyut dalam kehidupan peradaban modern yang semu dan melalaikan. Sebagian besar berbangga hati dengan gerakan emansipasi wanita. disebutnya persamaan hak antara lelaki dan wanita sekarang merupakan produk serta indikator kemajuan.

Gerakan emansipasi yang dipelopori Barat menganggap bahwa pembagian manusia menjadi dua golongan laki-laki dan wanita dalam peranan sosial adalah suatu tindakan yang tidak adil.Selama ini mereka mempunyai hak dan dirampas oleh lelaki. Atau dengan kata lain bukan kodrat seorang wanita apabila harus menekuni tugas-tugas keibuan di rumah, mengasuh anak, menyusui dan membesarkan, tetapi hal itu merupakan politik bagi kaum lelaki untuk menindas wanita. Pekerjaan keibuan di rumah bukan berarti merupakan tanggung jawab wanita, bisa saja kaum lelaki yang mengerjakan. Juga pekerjaan berkarier di luar bukan semata-mata milik kaum lelaki tetapi kaum wanita juga berhak untuk mengerjakan.

Itulah awal wanita kehilangan cintanya pada rumah. Mereka berduyun-duyun memasuki tugas-tugas yang selama ini di geluti oleh pria. Hatinya telah terpaut pada instansi-instansi, kantor, pabrik, dan kertas-kertas yang tak bernyawa. Sulit membedakan tugas dan fungsi lelaki dan wanita. Rumah tak lain hanya sebagai pelepas lelah dan penat setelah seharian bekerja. Hubungan antar anggota keluarga satu dengan lain menjadi tidak hangat. Bapak sibuk mencari nafkah, demikian pula ibu pun tak mau kalah dengan alasan meningkatkan kesejateraan keluarga atau untuk mengaktialisasikan diri ke tengah masyarakat.

Akibatnya anak-anak sedari kecil hingga beranjak dewasa kurang mendapat kasih sayang dari kedua orang tua khususnya ibu. Para ibu akan lebih bangga apabila berhasil menjadi seorang wanita karier yang sukses ketimbang menjadi ibu rumah sukses yang mampu mendidik anak-anak dengan tuntunan akhlaq yang baik, melayani suami, serta mendorong karier suami.

Corong pertama yang menyuarakan gerakan emansipasi wanita adalah Barat kini sedang berusaha dengan giat meng’eksport’ ke negara-negara Timur Tengah atau negara-negara dengan berpenduduk mayoritas muslim. Barat menilai bahwa ajaran Islam telah ‘memperkosa’ hak-hak wanita. Islam tidak memberi kebebasan pada wanita untuk berkreasi dan berkarier di luar rumah. Ajaran Islam memasung keberadaan wanita hanya di dalam rumah. Ironisnya pemikiran-pemikiran tentang emansipasi yang dipelopori oleh gerakan feminisme sedikit banyak merasuki kalangan wanita Islam itu sendiri.

Banyak tokoh-tokoh wanita dari negara-negara muslim justru merasa terpasung dengan ajaran Islam yang dianutnya. Sehingga banyak yang melontarkan ide-ide yang ‘nyeleneh’ tentang wanita dalam ajaran islam. Bahkan ada yang jelas-jelas mengatakan bahwa Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW harus mengalami revisi sehubungan penempatan posisi wanita dalam Islam. Na’udzu billahi min dzalik. Contohnya adalah Taslima Nasreem seorang tokoh feminisme radikal yang berasal dari Bangladesh dan dianggap figur ideal bagi Barat dalam upayanya menyuarakan ide deislamisasi.

Apakah benar apa yang di suarakan Barat lewat gerakan emansipasinya? Kalau diperhatikan secara seksama, negara-negara Barat yang kerap menyuarakan gerakan emansipasi acap kali memetik buah yang pahit. Banyak isyu-isyu yang berkembang mulai dari kasus pelecehan seksual terhadap wanita yang bekerja, kenakalan remaja akibat kurang kasih sayang kedua orang tua, meningkatnya angka perceraian sampai pada kecemasan menurunnya angka kelahiran yang disebabkan kecilnya angka wanita yang melahirkan. Atau dengan kata lain banyak wanita yang tidak mau repot punya anak sampai menunda usia perkawinan.

Dari laporan majalah Time disebutkan bahwa pada tahun 1950-an 9 % wanita (Amerika) berusia produktif ternyata tak memilliku seorang anakpun. Malah sekarang tahun 1980-1990-an 25 % dari wanita pekerja berlatar belakang perguruan tinggi dan berusia 35-45 tahun tidak memiliki anak. Jika saudara-saudara mereka yang lebih muda (25-35 tahun) juga tidak mau melahirkan, maka persentase wanita yang tidak mau melahirkan di Amerika luar biasa tingginya. Gerakan emanipasi bukan melahirkan suatu tatanan kehidupan yang harmonis justru yang di dapat adalah limbah yang amat kotor dan beracun.

Ternyata apa yang selama ini ditempuh oleh kebanyakan wanita di dunia dengan mengikuti arus emansipasi Barat ternyata bukan untuk mengangkat harkat dan martabat wanita namun justru sebaliknya. Islam lah yang justru menenmpatkan wanita sesuai dengan porsinya, tidak menghinakan dan tidak pula mendewakan dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Wanita menurut Islam adalah makhluk yang mulia dan mempunyai tugas, fungsi dan peran menurut kodratnya. Benarkah Islam begitu menghalangi aktifitas wanita berkiprah di luar? Tidakkah ada kesempatan bagi musilimah untuk mengaktualisasikan dirinya? Islam, dien yang musyamil telah menempatkan peran muslimah dalam ummat ini.

  1. Sebagai ibu 

Sejarah tidak pernah mengenal adanya agama atau sistem yang menghargai keberadaan wanita sebagai ibu yang lebih mulia dari pada Islam. Islam menjadikan berbuat kebaikan kepada wanita termasuk sendi-sendi kemuliaan, sebagaimana telah menjadikan hak seorang ibu lebih kuat daripada hak seorang bapak. Karena beban yang dirasakan amat berat ketika hamil, melahirkan, menyusui dan mendidik anak. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku, hanya kepada Kulah kembalimu” (Luqman 14).

“Kami wasiatkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandung dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga pulu bulanan ….” (AlAhqaf 15).

Peran muslimah amat menentukan bagi kualitas generasi muslim yang tangguh. Pada saat Rasulullah SAW ditanya siapa yang paling patut dihormati dan dimuliakan, maka Rasulullah SAW menjawab “Ibumu”. Hal itu di ulang tiga kali, sebelum akhirnya beliau menjawab “bapak”-mu. Peran ibu bagi anak tak hanya sebatas melahirkan dan mengasuhnya, tetapi lebih dari itu perkembangan iman, psikologi, intelektual, sosial dan fisik amat ditentukan oleh ibunya. Dan ini menuntut ketrampilan bagaimana menjadi ibu yang baik. Keberadaan ibu yang telah diperhatikan oleh Islam dengan sepenuh perhatian ini dan yang telah diberikan untuknya hak-hak, maka dia juga mempunyai kewajiban, yakni mendidik anak-anaknya dengan menanamkan kemuliaan kepada mereka dan menjauhkan mereka dari kerendahan.

  1. Sebagai isteri 

Sebagian agama dan sistem menganggap bahwa wanita sebagai barang najis atau sesuatau yang menjijikkan, sebagian yang lain mengnggap bahwa kedudukan isteri sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya dan menjadikan pelayan dalam rumah tangganya. Islam datang untuk mensyiarkan bahwa kedudukan isteri adalah pelakasanaan hak-hak suami isteri sebagai jihad di jalan Allah SWT. Islam juga menjadikan isteri yang shalihah merupakan kekayaan yang paling berharga bagi suami setelah beriman kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertakwa kepada Allah azza wa jalla yang lebih baik setelah isteri yang shalihah, jika suami menyuruhnya ia taat, jika dipandang ia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya ia mengiyakan, dan jika suami pergi jauh maka dia memelihara diri dan harta suaminya” (HR.Ibnu Majah). Rasulullah SAW bersabda, “Demi Rabb yang menguasai diriku, seorang wanita belum melakasanakan hak Rabbnya sebelum memenuhi hak suaminya” (HR. Ibnu Hibban). Dalam Hadist Rasulullah SAW bersabda, “Andai saja aku dapat menyuruh seseorang bersujud pada manusia, niscaya aku perintahkan wanita sujud pada suaminya” (HR.At-Turmudzi). Melayani suami merupakan prioritas utama bagi seorang isteri. Tak hanya waktu yang disediakan, tapi juga kualitas pelayanan dan ketekunan yang menakjubkan.

  1. Sebagai anak 

Bangsa Arab jahiliyyah pesimis dengan kelahiran anak-anak wanita dan mereka merasa hina. Sehingga ada tradisi yang memperbolehkan seorang ayah untuk mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena takut miskin dan menganggap aib di mata kaumnya. Islam datang dengan menganggap anak wanita seperti anak lelaki yaitu merupakan pemberian dan karunia Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.

Allah befirman:

“Kepunyaan Allah kerajaan di langit dan bumi. Dia menciptakan apa saja yang ia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa saja yang Dia kehendaki atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki danperempuan (kepada yang Dia kehendaki), dan Dia menjadikan mandul kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia MAha Menegetahui lagi Maha Kuasa” (Asy-Syuara:49-50).

  1. Berperan dalam masyarakat.

Tersebar di kalangan orang-orang yang tidak suka terhadap Islam bahwa Islam telah memenjarakan wanita dalam rumah tidak boleh keluar. Apakah demikan ajaran Islam? Tidak… sama sekali tidak, karena Alquran   sebagai sandaran utama muslim menjadikan laki-laki dan wanita partner dan memiliki tanggung-jawab yang terbesar dalam kehidupan, yaitu beramar ma’ruf dan nahi munkar. Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya….” (At Taubah 71).

Apabila kita mempelajari shiroh Rasulullah SAW dan para shahabatnya, banyak ditemui kiprah shahabiyah dalam dakwah dan memajukan Islam. Seperti Ummu Athiyah sebagai perawat dalam peperangan Rasulullah SAW, Ummu “Imarah pernah teruji dalam perang Uhud dan pada waktu peperangan dengan Musailammah AlKadzhab ia kembali dengan sepuluh luka di tubuhnya.

Jika di suatu masa wanita telah terkungkung jauh dari ilmu pengetahuan dan dijauhkan dari kancah kehidupan, dibiarkan terus menerus tinggal di dalam rumah, tidak diberi kesempatan untuk belajar, maka dasarnya adalah kebodohan serta penyimpangan dari petunjuk Islam. Sesungguhnya tabiat Islam adalah tawazzun dan adil dalam segala aturannya serta segala seruannya, berupa hukum-hukum dan tata cara kehidupan. Islam tidak membesar-besarkan sesuatu dan tidak berlebihan terhadap yang lain. Oleh karena itu Islam tidak memanjakan wanita dan tidak memperturutkan keinginan-keeinginan wanita lebih di atas risalahnya. Sikap Islam terhadap wanita adalah:

  1. Islam memelihara tabiat kodrati wanita yang telah diciptakan Allah SWT. Islam memelihara wanita dari cengkeraman orang-orang yang buas dan menginginkan secara haram. Memelihara wanita untuk dijadikan alat pengeruk keuntungan yang haram.
  2. Islam menghormati tugas wanita yang mulia sesuai dengan fitrahnya. Diberikan kelebihan wanita daripada pria dalam perasaannya, yaitu rasa kasih sayangnya untuk menunaikan risalah keibuan.
  3. Islam mengangap bahwa rumah sebagai kerajaan besar bagi wanita. Di sini wanita sebagai pengelolanya, ia sebagai isteri bagi suaminya, partner hidup, pelipur lara dan ibu bagi anak-anaknya. Sesungguhnya setiap aliran yang ingin mencabut wanita dari kerajaannya atas nama kebebasan dan lain sebagainya, sebenarnya merupakan musuh bagi waita yang merampas segala sesuatu yang ada padanya. Islam ingin membangun keluarga yang bahagia merupakan azas masyarakat yang bahagia pula. Keutuhan rumahtangga ditentukan dari kepercayaan antara suami dan isteri, bukan atas keraguan.
  4. Islam mengizinkan wanita untuk bekerja di luar rumah sepanjang pekerjaan yang dilakukan sesuai tabiatnya, spesialisasinya dan kemampuannya serta tidak menghilangkan naluri kewanitannya. Maka kerjanya diperbolehkan selama dalam batas-batas dan persyaratan yang ada. Terutama jika keluarganya atau dia sendiri membutuhkan bekerja di luar rumah atau masyarakat memerlukan kerja khusus.

Sebenarnya tugas wanita yang pertama dan utama dan tidak ada pertentangan di dalamnya adalah mendidik generasi yang telah di persiapkan oleh Allah SWT. Tetapi bukan berarti profesi di luar rumah diharamkan, karena kadang masyarakat sendiri menuntut kiprah wanita dalam rangka memajukan ummat ini. Apabila memperbolehkan wanita bekerja, maka wajib diikat dengan beberapa syarat, yaitu:

  1. Pekerjaanya itu halal dan bukan pekerjaan yang haram, atau secara pasti mendukung tersebarnya sesuatu yang haram. Seperti bekerja sebagai sekertaris yang mengharuskan berkhalwat dengan direkturnya, penari yang mengundang syahwat, menjual barang haram seperti bir walaupun tidak ikut meminumnya,
  2. Pekerjaan itu tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaan.
  3. Memenuhi adab wanita muslim ketika keluar rumah. Seperti dalam berpakaian harus menutup seluruh auratnya, menghindari khalwah (berduaan dengan lelaki yang bukan mahramnya), berbicara tidak berlebihan, menghindari ikhtilath (Perbauran antara wanita dan pria), selalu menjaga pandangan (tawadhu’) dan melakukan gerak-gerik yang dapat menimbulkan syahwat lelaki.
  4. Tetap menjaga hukum-hukum Islam sedapat mungkin dan berhati-hati agar tidak terjerembab pada jebakan-jebakan syaiton
  5. Penebar dan penyebar nilai-nilai Islam.

Yang dituntut oleh masyarakat Islami adalah mengatur segala persoalan dan mempersiapkan sarana sehingga wanita dapat bekerja apabila membawa kemaslahatan bagi dirinya, keluarganya dan masyarakatnya tanpa menghilangkan rasa malu atau bertentangan dengan kewajiban terhadap Rabbnya, dirinya, dan rumahnya.

Sumber,

http://moulizieenoval.blogspot.co.id/2014/01/tanggapan-islam-mengenai-wanita-karir.html?m=1

 

Babak Baru Emansipasi Perempuan Arab Saudi

saudiemansipasi

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

Hembusan angin emansipasi perempuan akhirnya membawa transformasi signifikan dan fundamental di Arab Saudi. Noura al-Fayez memulai babak baru dalam sejarah Arab Saudi ketika diangkat sebagai Deputy Menteri Pendidikan urusan Perempuan (Kompas, 16/2/2009). Perempuan lulusan AS bidang administrasi ini menjadi pioneer kebangkitan perempuan di Arab Saudi yang selama ini sangat eksklusif dan hegemonik terhadap aktualisasi peran perempuan di sektor publik. Arab Saudi adalah satu-satunya Negara yang melarang perempuan mengemudi mobil dan tidak mengizinkan perempuan keluar rumah tanpa seizin dan ditemani suaminya atau anggota mahram lainnya.

Perubahan yang terjadi di Arab Saudi ini akan berpengaruh besar dalam peradaban muslim dunia dalam memandang peran publik perempuan, karena bagaimanapun Arab Saudi adalah poros originalitas dan otentisitas interpretasi dan implementasi doktrin Islam. Makkah dan Madinah sebagai kota suci umat muslim ada di Arab Saudi, sehingga kebijakan-kebijakan di negeri ini menjadi representasi Islam yang mendapat perhatian luas dunia. Pemberian hak aktualisasi perempun di Arab Saudi ini bisa menjadi starting point kebangkitan perempuan Arab dan dunia Islam umumnya untuk ikut berpartisipasi secara maksimal dalam ruang publik yang lebih luas.

Annisanation >>>

Paragraph di atas seutuhnya mengandung kesalahan dan kekeliruan logika yang begitu rumit. Penulis ingin menyatakan bahwa telah terjadi awal kemajuan bagi peradaban modern di Arab saudi dengan diangkatnya seorang perempuan untuk menduduki jabatan publik di kepemerintahan Arab saudi.

Kalau sang penulis (Jamal Ma’mur Asmani) ingin menempatkan dirinya berseberangan dengan nilai Islam yang agung, maka paragraf di atas merupakan pelurunya untuk menyerang ajaran Islam yang logis. Logika yang terpapar di dalam ajaran Islam sama-sekali tidak memberi ijin kepada perempuan untuk berkiprah di sektor publik dikarenakan terdapat pertanyaan Alam: kalau seorang perempuan selalu keluar rumah untuk berkiprah di sektor publik, maka siapa yang akan mengasuh anak, menyelesaikan seluruh tugas domestik, dan kemudian bagaimana seorang perempuan dapat menjaga kesucian diri dan keluarganya kalau setiap hari ia terpapar pria asing di zona publik?

Pertanyaan lanjutannya adalah: apakah dengan tidak bekerja (di sektor publik) maka nafkah dan rezekinya terhalang sehingga ia akan mati kelaparan? Apakah salah kalau seorang perempuan mengaktualisasikan dirinya sebagai individu yang domestik, yang senantiasa memberikan seluruh waktunya untuk anak dan keluarganya?

Jelas sekali Islam, sebagai agama yang seutuhnya berlandaskan logika, kausalitas dan kealamiahan, benar-benar tidak mempunyai alasan dan pembenaran untuk perempuan bekerja mencari nafkah, yang untuk itu setiap perempuan harus keluar dan meninggalkan rumahnya, meninggalkan anak-anaknya, dan meninggalkan seluruh tugas domestiknya, hanya untuk karir dan sejumlah uang.

Apa yang terjadi di Arab saudi yaitu menangkat seorang perempuan untuk menduduki jabatan publik, bukanlah suatu kebanggaan dan kebenaran, melainkan suatu kesalahan dan kesesatan: Islam telah dilanggar, dan hukum kausalitas pun juga telah dilanggar.

Setidaknya perempuan tersebut setiap hari akan pergi meninggalkan rumahnya, yang mana itu ia akan meninggalkan tugasnya untuk membesar-kan anak-anaknya, menyelesaikan seluruh tugas domestiknya yang merupakan tugas kodratnya sebagai perempuan, dan lain sebagainya. Intinya, dengan terus bekerja menduduki jabatan publik, maka dirinya terpapar kepada pria asing di tempat kerja tidak dapat dihindari lagi. Bagaimana hal tersebut dapat dijelaskan? ***

Transformasi Perempuan.

Perubahan di Arab Saudi ini tidak lepas dari gerakan emansipasi perempuan yang sedang massif di seluruh dunia. Gerakan emansipasi perempuan bak bola api yang menggelinding dengan cepat. Gerakan ini ada yang bercorak:

  • Liberal (persamaan hak mengecap pendidikan, sosial, dan hak kerja produktif),
  • Radikal (bebas dari segala sikap militer, otoriter, hirarkis dan kekerasan),
  • Dan sosial (antitesa terhadap dua corak di atas dengan menggunakan pendekatan parsial yang bercita-cita mewujudkan system sosial yang lebih adil, baik secara politik, ekonomi maupun kebudayaan, tidak hanya bagi kaum perempuan) (Ivan A. Hadar, 1989).

Annisanation >>

Pada paragraf ini terdapat statement: “Perubahan di Arab Saudi ini tidak lepas dari gerakan emansipasi perempuan yang sedang massif di seluruh dunia”.

Faktanya memang demikian, bahwa di seluruh Dunia tengah berlangsung arus Emansipasi Wanita, yang bertujuan untuk mengeluarkan perempuan dari rumah mereka untuk berbaur dengan kaum pria di tempat kerja, yang dengan demikian kaum perempuan meninggalkan kodrat mereka yaitu kodrat domestik: membesarkan anak-anak, menyelesaikan seluruh tugas rumah, dan menjaga kesucian mereka sebagai perempuan, sebagai ibu dan sebagai istri.

Namun fakta tersebut tidaklah berdiri dengan sendirinya: fakta lain pun menyertai, yaitu merebaknya bencana kejatuhan moral umat manusia khususnya moralitas kaum perempuan. Dekadensi moral selalu bermula dari Emansipasi Wanita ini: perzinahan, zina massal, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, pacaran, pornografi, anak-anak terlantar, kondomisasi, penyakit seks menular, kumpulkebo, anak haram, perceraian pasangan muda, perselingkuhan, dsb. Intinya, gerakan Emansipasi Wanita merupakan satu-satunya pemicu terjadinya dekadensi moral umat manusia.

Lihatlah masyarakat Barat. Lihatlah masyarakat Eropa. Lihatlah masyarakat Amerika Latin dsb, tempat di mana gerakan Emansipasi Wanita telah bersemi dan menjadi aksioma tulen. Bukankah kejatuhan dan dekadensi moral manusia telah menjadi gaya hidup di tengah mereka yang justru mereka bangga-banggakan? Mereka membanggakan kehidupan freesex, pamer aurat, gemar bercerai, lahirnya anak jadah, zina massal, foto bugil, aborsi yang menjadi kebutuhan, kondomisasi yang dianggap pelengkap gaya hidup, dsb. Keseluruhan hal tersebut merupakan konsekwensi dari digalakkannya gerakan Emansipasi Wanita di tengah mereka. Luar biasa!!!!

Apakah Arab saudi harus menjadi masyarakat yang kenyang dengan dekandensi moral, seperti halnya yang sudah terjadi pada masyarakat Barat, Eropa dsb? Apakah Arab saudi harus melihat di mana masyarakat mereka penuh dengan kegiatan freesex, kumpulkebo, pamer aurat, zina massal, bugil massal, kondomisasi, anak jadah, bangkai bayi di tempat sampah, aborsi, marak perceraian, dsb?

Mungkin ada kelompok manusia yang berfikir bahwa seluruh kejatuhan dan dekadensi moral umat manusia tidak ada hubungannya dengan gerakan Emansipasi Wanita, namun yang jelas kelompok tersebut sangat membenci keagungan moral umat manusia yang dipersembahkan oleh Islam, agama Allah Swt yang kudus dan firmani.***

Islam termasuk yang mendapat kritikan tajam. Mereka menganggap Islam secara faktual sangat membatasi peran publik perempuan. Kesalah-pahaman ini harus diluruskan untuk mengembalikan doktrin ini pada porsinya yang benar dalam rangka membangun peradaban yang egaliter, progresif, dan dinamis.

Annisanation >>

Bukan Islam yang harus dikritik: melainkan gerakan Emansipasi Wanita-lah yang harus dikritik dan dikutuk habis-habisan. Tidak ada yang salah dengan Islam ketika mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik: yang salah justru adalah gerakan Emansipasi Wanita, yang memprovokasi kaum perempuan untuk bekerja di luar rumah, sehingga dengan demikian kaum perempuan pergi meninggalkan kodrat mereka untuk merawat dan membesarkan anak-anak mereka, dan meninggalkan benteng kesucian mereka sebagai perempuan.

Apakah gerakan Emansipasi Wanita di seluruh Dunia tidak pernah mengakibatkan jatuhnya kaum perempuan (dan seluruh masyarakatnya) ke dalam lembah kehinaan dan kemerosotan moral? –Ya-. Apakah gerakan Emansipasi Wanita membuat kehidupan semakin baik dan indah, di mana kaum perempuan memperlihatkan kesucian dan keanggunan mereka di tengah keluarga mereka? –Tidak-. Dan apakah seluruh kemerosotan moral yang diderita umat manusia dewasa ini bukan disebabkan oleh maraknya gerakan Emansipasi Wanita? –Ya-.

Faktanya, Emansipasi Wanita bertanggung-jawab penuh atas seluruh bencana kemerosotan moral di negara / masyarakat mana pun yang dijangkitinya. Keadaannya justru berbalik ketika suatu masyarakat tidak / belum terjangkiti gerakan Emansipasi Wanita ini, di mana seluruh wanita di dalam masyarakat tersebut hidup di dalam kesederhanaan dan kesucian, setia kepada nilai keluarga dan ajaran agama: tidak materialistis, tidak hedonis, tidak sekuler, tidak egois, dsb.

Dengan latar belakang penjelasan tersebut, maka sebenarnya Emansipasi Wanita-lah yang harus dikritik dan dihujat habis-habisan! Islam dengan seluruh umat Muslim, dan seluruh manusia, berdiri di garis terdepan untuk menghujat dan mengkritik Emansipasi Wanita begitu rupa, dengan tujuan untuk menghempaskan gerakan ini sampai ke akar-akarnya. Demi keagungan kaum wanita. Demikian keagungan seluruh umat manusia. Demi kesejahteraan anak-anak yang butuh pengasuhan. Dan demi kehidupan dunia akhirat yang penuh ridha Allah Swt.***

Menurut Muhamamd Syadid dalam Manhaj al-Quran fi al-Tarbiyah (hlm. 50-57), syariat Islam berintikan kesamaan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Hanya kualitas takwa yang membuat manusia berbeda dengan yang lain, bukan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan.

Annisanation >>

Sangat penting untuk memahami bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kesamaan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Banyak terdapat ayat Alquran maupun Alhadis yang mengindikasikan diberlakukannya pembedaan antara pria dan perempuan, karena keseluruhan hal tersebut adalah kodrat, dan kodrat tidaklah pernah sama antara perempuan dan laki-laki.

Kalau perempuan harus dipersamakan dengan laki-laki, maka ingatlah bahwa sebenarnya manusia pun juga sama dengan hewan. Tugas dan fungsi antara Malaikat dan Iblis juga sama dan selalu dipersamakan. Namun atas semua mahluk tersebut berlaku kodrat yang saling beda. Kalau kodrat juga harus dipersamakan, maka buat apa Allah Swt menciptakan berbagai macam mahluk? Ikan di air, burung di udara, kijang di darat, rembulan di malam hari, api membakar, dsb, adalah kodrat.

Siapa saja yang ingin mempersamakan kodrat antara satu mahluk dengan mahluk lainnya, maka orang itulah yang akan binasa. Allah Swt memerintahkan umatNya untuk patuh kepada kodrat masing-masing, bukan untuk melawan dan mengingkarinya. Oleh karena itu tidak pernah Allah Swt memberi perintah kepada manusia untuk melanggar dan mengingkari kodrat masing-masing.

Apa yang ditulis oleh Muhamamd Syadid dalam Manhaj al-Quran fi al-Tarbiyah (hlm. 50-57), tidak dapat dijadikan argumentasi bahwa perempuan dan laki-laki mempunyai kodrat dan tugas yang sama (kalau laki-laki bekerja dan menjadi pejabat Pemerintah, maka perempuan juga harus demikian). Alquran dengan tegas menyatakan bahwa sejak masa kandungan pun Allah Swt sudah memperbedakan antara laki-laki dan perempuan. Alquran selalu menang, karena kebenarannya.

Pun, bagaimana seorang wanita dapat meningkatkan taqwanya, kalau setiap hari ia pergi meninggalkan kodrat domestiknya, meninggalkan tugasnya sebagai istri yang harus menyiapkan keperluan suami, menelantarkan perawatan anak dan bayinya, dan juga mengingkari tugasnya untuk menjaga kesucian diri dan jiwanya sebagai perempuan dan ibu? Taqwa seorang perempuan tentulah harus sesuai dengan kodratnya. Kalau perempuan melanggar kodratnya, maka mustahil ia dapat meningkatkan taqwanya.

Merawat anak dan bayinya, sebagai contoh. Adalah mutlak seorang perempuan harus merawat anak dan bayinya, karena hal tersebut merupakan tugas kodratinya sebagai seorang perempuan dan sebagai ibu. Kalau seorang perempuan pergi meninggalkan rumahnya untuk bekerja di sektor publik, maka ia mau tidak mau harus menelantarkan anak dan bayinya. Apakah hal tersebut dapat dikatakan sebagai suatu ketaqwaan?

Merawat anak dan bayi, adalah pekerjaan yang mahapenting bagi seorang perempuan, tidak bisa dikompromikan dengan karir maupun jabatan di Pemerintahan. Dan ketaqwaan bagi seorang perempuan bersentuhan langsung dengan ketaatan dan kesetiaannya mengasihi anak  dan bayinya sendiri. Mempertanyakan apakah mengasuh anak dan bayinya sendiri merupakan kemutlakan bagi seorang perempuan, adalah suatu pendurhakaan, dan akan berimplikasi pada dosa besar. Hal ini merupakan antitesis dari ketaqwaan seorang perempuan!

Singkat kata, kalau seorang perempuan ingin bertaqwa, seperti yang diungkapkan oleh Muhamamd Syadid dalam Manhaj al-Quran fi al-Tarbiyah (hlm. 50-57), maka jelas seorang perempuan diharamkan untuk pergi meninggalkan rumahnya, melainkan ia harus setia dan  taat untuk memenuhi kodrat domestik, khususnya untuk mengasihi anak dan bayinya. ***

Justru, salah satu misi utama Islam adalah pembebasan perempuan dari segala hegemoni, kekerasan, eksploitasi, dan krimininalitas. Ketika orang-orang Makkah malu mempunyai anak perempuan sebagai symbol kelemahan dan ketidakberdayaan, Islam datang dengan menghapus asumsi negatif semacam itu. Islam menempatkan perempuan pada posisi yang sangat mulia.

Islam mengharamkan tradisi kafir jahiliyyah yang membunuh hidup-hidup anak perempuan, sebagai tindakan biadab-sadis yang tidak berperikemanusiaan.

Menurut Tariq Ramadan (2003), transformasi perempuan dalam Islam sangat tinggi. Perjanjian pertama (Aqobah) yang Nabi Muhammad akhiri dengan konversi orang-orang Yatsrib (Madinah) pertama sangat penting dijadikan rujukan. Salah satu klausul menetapkan bahwa kaum Muslim tidak boleh membunuh anak-anak mereka.

Selanjutnya, selama Perjanjian Kedua, perempuan ikut menjadi delegasi yang terlibat dalam membela Nabi dan Islam. Masyarakat Madinah berbeda sama sekali dari penduduk Makkah. Perempuan menikmati peran sosial yang tentu saja sangat penting dan sejumlah klan diatur menurut prinsip matriarchal. Para imigran pertama ini segera saja terkesan oleh bagaimana cara perempuan Anshar (perempuan Madinah) bekerja di hadapan publik. Mereka juga menunjukkan keistimewaannya dalam kehidupan privat.

Umar bin al-Khattab (pengganti Muhammad yang kedua) mengemukakan bahwa sebelum hijrah: Kami biasa menyombongkan diri atas perempuan dan ketika kami datang kepada orang-orang Anshar di mana perempuan di sana menempati posisi mereka di klan, perempuan-perempuan kami mulai mengadopsi kebiasaan perempuan Anshar (HR Bukhari dan Muslim). Ia mengutarakan ini seraya menyesali jika istrinya kini berani menanggapinya bila selalu memerintah, dan mengajarkannya bahwa ia harus mengikuti teladan Nabi.

Annisanation >>

Misi utama Islam bukanlah Emansipasi Wanita; misi utama Islam bukanlah persamaan antara pria dan perempuan di sektor publik. Sejarah Islam tidak mempunyai Alhadis maupun ayat Alquran yang mengajarkan bahwa Islam mempunyai misi untuk membuat perempuan melanggar kodrat domestik. Oleh karena itu, kisah ketika Islam mengharamkan membunuh bayi-bayi perempuan, bukanlah argumentasi untuk menegakkan Emansipasi Wanita. Singkat kata, justru Islam mengutuk dan mengharamkan Emansipasi Wanita, karena ideologi tersebut terbukti menjerumuskan kaum perempuan dan seluruh umat kepada lembah kenistaan dan dekadensi moral.

Misi Islam adalah menempatkan perempuan sesuai dengan kodratnya, yaitu domestik. Dengan selalu taat dan setia kepada kodrat domestik, maka terjaminlah kesucian perempuan, dan terjamin juga kekokohan mental spiritual anak-anak yang berada di dalam pengasuhan seorang ibu. ***

Perempuan pada masa Rasulullah digambarkan sebagai perempuan yang aktif, sopan, dan bebas, tetapi tetap terpelihara akhlaqnya. Bahkan dalam al-Quran, figur ideal seorang Muslimah disimbolkan sebagai pribadi yang mempunyai kompetensi di bidang politik (QS. Al-Mumtahanah [60]:12), seperti figur Ratu Bilqis yang mengepalai kerajaan adikuasa (QS. Al-Naml [27]:23), yang mempunyai kompetensi di bidang ekonomi (QS. Al-Qashash [28]:23), mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan pribadi yang diyakini kebenarannya, sekalipun berhadapan dengan ayah atau suami bagi perempuan yang sudah menikah (QS. Al-Tahrim [66]:11), atau bersikap kritis terhadap pendapat orang banyak (publik opinion) bagi perempuan yang belum kawin (QS. Al-Tahrim [66]:12).

Al-Quran mengizinkan kaum perempuan untuk melakukan gerakan oposisi terhadap segala bentuk system yang tiranik demi tegaknya kebenaran (QS. Al-Taubah [9]:71). Islam memberikan kebebasan yang begitu besar kepada perempuan untuk berkiprah di ruang publik, sehingga masa Nabi banyak sekali perempuan yang cemerlang kemampuannya yang diakui hingga saat ini (Siti Musdah Mulia 2005).

Annisanation >>

Alquran ayat 60 Mumtahanan: 12 sama sekali tidak menyiratkan gerakan Emansipasi Wanita sekecil apa pun! Ayat tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Bagaimana mungkin ayat Mumtahanah tersebut dijadikan landasan Emansipasi Wanita, sementara kehidupan Nabi dan para sahabatnya pun sama sekali tidak mengindikasikan dibenarkannya perempuan pergi meninggalkan rumahnya untuk menduduki jabatan publik, sehingga meninggalkan tugasnya untuk merawat anak dan menghangatkan keluarganya? Sebenarnya ayat Mumtahanah tersebut terlalu besar dan terlalu umum untuk dianggap sebagai landasan Emansipasi Wanita.

Agen Emansipasi Wanita pada umumnya mempunyai penyakit ini: mengambil dan menganggap ayat-ayat Alquran maupun Alhadis sebagai landasan Emansipasi Wanita, padahal sebenarnya ayat dan Alhadis tersebut terlalu luas dan umum cakupannya, dan tidak bisa dijadikan landasan bagi Emansipasi Wanita.

Begitu juga dengan ayat-ayat lain yang dinukilkan di dalam paragraf ini, sebenarnya tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Emansipasi Wanita, namun entah mengapa agen Emansipasi Wanita menjadikannya, melalui suatu pemaksaan, sebagai landasan Emansipasi Wanita. Pembajakan ayat Alquran ini tentunya merupakan bukti lain betapa Emansipasi Wanita merupakan suatu kekejian dan kekafiran di dalam Islam. ***

Kepemimpinan Perempuan.

Masalah klasik yang terus aktual dalam proses transformasi perempuan Islam adalah boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari menyatakan dengan tegas bahwa tidak akan bahagia masyarakat yang menyerahkan urusannya pada perempuan, atau menjadikan perempuan menjadi pemimpin. Perempuan terlalu banyak kelemahan dan keterbatasannya. Ia tidak boleh bepergian kecuali dengan syarat-syarat, berkumpul dengan laki-laki, dan lain sebagainya. Bagaimana dia menjadi pemimpin di mana ia harus sering pergi ke luar negeri, mengunjungi rakyatnya yang berada di mana-mana, rapat sampai larut malam, dan aneka tugas yang lain.

Menurut Said Aqil Siraj (1999), hadits ini sebenarnya sangat kasuistis, historis, dan kontekstual. Hadits tersebut adalah komentar Nabi bermula dari kisah Abdullah ibn Hudzafah, kurir Rasulullah yang menyampaikan surat ajakan masuk Islam kepada Kisro Anusyirwan, penguasa Persia yang beragama majusi. Ternyata ajakan tersebut ditanggapi sinis dengan merobek-robek surat . Dari laporan tersebut Nabi mempunyai firasat bahwa Imperium Persia kelak akan terpecah belah sebagaimana Anusyirwan merobek-robek surat .

Akhirnya tidak berapa lama, kerajaan tersebut dipimpin putri Kisro yang bernama Buran yang kapabilitas kepemimpinannya lemah. Saat itulah Nabi bersabda sebagaimana hadits di atas. Apalagi percaturan politik Timur Tengah saat itu sangat rawan peperangan antar suku. Dus, sabda Nabi tersebut hanya ditujukan pada pemimpin perempuan yang tidak capable.

Annisanation >>

Kalau paragraf ini menyatakan bahwa Alhadis Bukhari mengenai pelarangan Nabi saw bagi perempuan untuk menjadi pemimpin merupakan Alhadis yang kasuistik, maka di lain pihak tidak ada satu huruf maupun kata pun di dalam Alhadis tersebut yang bersifat kasuistik: Alhadis tersebut seutuhnya adalah pesan Muhammad Saw bahwa “untuk selamanya” setiap negeri tidak akan beruntung kalau mereka dipimpin dan diperintah oleh kaum perempuan.

Bagaimana mungkin Alhadis tersebut dianggap sebagai pesan yang bersifat kasuistik, sementara kalimat Alhadis tersebut menunjukkan keumuman, baik umum di dalam hal tempat, subjek pelaku maupun umum di dalam hal waktu. Pun di dalam paragraf tersebut yang mensitirkan Alhadis Bukhari ini, telah dituliskan pula frasa lain yang mendampingi penteraan hadis Bukhari: “Ia tidak boleh bepergian kecuali dengan syarat-syarat, berkumpul dengan laki-laki, dan lain sebagainya. Bagaimana dia menjadi pemimpin di mana ia harus sering pergi ke luar negeri, mengunjungi rakyatnya yang berada di mana-mana, rapat sampai larut malam, dan aneka tugas yang lain”. Maka bukankah hal ini sudah jelas, bahwa tidak ada satu jalan dan satu dalih pun untuk membenarkan perempuan berkiprah secara publik? Bagaimana perempuan dapat berkiprah secara publik (sehingga meninggalkan rumahnya dan meninggalkan seluruh tugas kodratnya yaitu domestik), sementara perempuan tersebut haruslah bepergian dengan beberapa syarat, dan tidak boleh berkumpul dengan laki-laki, dan bahwa setiap perempuan mempunyai kewajiban untuk merawat dan mengasihi anak dan bayi-bayinya?

Kemudian pada akhirnya, paragraf tersebut menulis, “Dus, sabda Nabi tersebut hanya ditujukan pada pemimpin perempuan yang tidak capable”. Bagaimana mungkin agen-agen Emansipasi Wanita dapat menyimpulkan bahwa Alhadis tersebut tidak mengena kepada perempuan yang capable di dalam hal menjadi pemimpin? Alhadis Bukhari yang dimaksud sama sekali tidak menyebutkan –khususnya secara literal, bahwa Muhammad Saw melarang perempuan yang tidak capable untuk menjadi pemimpin! Muhammad Saw hanya berpesan bahwa suatu negeri tidak akan beruntung kalau dipimpin dan diperintah oleh perempuan. Apakah hal tersebut masih harus ditafsirkan di dalam hal capable dan tidak capable? ***

Ukuran kepemimpinan adalah kapabilitas dan kapasitas keilmuan, bukan jenis kelamin. Di era modern sekarang ini, kepemimpinan tidak personal-individual, tapi lembaga. Pemimpin dibantu oleh staf-staf yang jumlahnya banyak dan diawasi oleh lembaga resmi, LSM, kalangan akademis, dan masyarakat terdidik lainnya. Ada lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang secara sinergis bekerjasama mengelola pemerintahan.

Pendapat lebih moderat, obyektif dan argumentative disampaikan Imam Mawardi dalam kitab populernya Ahkam al-Sulthoniyah bahwa syarat menjadi pemimpin tidak berhubungan dengan jenis kelamin laki-laki atau perempuan.

Annisanation >>

Emansipasi Wanita adalah kesesatan dan kejahilan, maka sesat dan jahil pulalah agen-agen pendukungnya. Paragraf ini menulis bahwa kepemimpinan adalah kapabilitas dan kapasitas keilmuan, bukan jenis kelamin. Bagaimana mungkin agen-agen Emansipasi Wanita dapat memberi pernyataan tersebut, sementara Alhadis dan ayat Alquran hanya menuturkan bahwa kepemimpinan tidak dapat diberikan kepada perempuan, mengingat kodrat perempuan adalah domestik, untuk merawat dan mengasihi anak-anaknya, dan untuk menjaga kesucian diri dan seluruh keluarganya: kepemimpinan adalah suatu hal yang publik, maka kepemimpinan hanya dapat dijawat oleh pria, karena pria adalah mahluk publik; itu jelas. Dan Alhadis yang diriwayatkan Bukhari mengenai suksesi yang terjadi di Persia benar-benar menunjukkan bahwa Allah Swt dan Nabi-Nya tidak berkenan atas kepemimpinan yang dijabat perempuan.

Kalau agen-agen Emansipasi Wanita ini tidak berkenan dengan Alhadis dan ayat Alquran yang melarang Emansipasi Wanita, maka lebih baik agen-agen tersebut keluar dari Islam, ‘bukannya’ memanipulasi dan memaksakan penafsiran atas ayat dan Alhadis tersebut. Bagaimana masuk akal menurut logika, di mana suatu ayat maupun Alhadis mempunyai tafsir yang justru berlawanan dan bertentangan dari bunyi ayat / Alhadis tersebut? Proyek mereka yang menggunakan dan mensalah-artikan ayat Alquran maupun Alhadis menurut hawa nafsu sudah menunjukkan pendurhakaan mereka kepada Allah Swt dan Rasul-Nya.

Sudah sama diketahui, bahwa di dalam menjalankan tugas kepemimpinannya, setiap pemimpin (yang adalah laki-laki) selalu dibantu oleh staff dan penasehat, sekian lembaga dan pengawas. Hal ini merupakan hukum Alam yang tidak dapat diingkari, dan berlaku sejak jaman purba. Oleh karena itu, dalih agen Emansipasi Wanita di dalam paragraf ini bahwa kepemimpinan perempuan tidak akan pernah menjadi masalah karena akan selalu dibackup oleh sekian staf, penasehat dan LSM, benar-benar tidak mengena. Mungkin agen Emansipasi Wanita ini berfikir, bahwa yang dikhawatirkan Nabi saw di dalam hal perempuan menjadi pemimpin adalah, bahwa perempuan tersebut akan memimpin dan memerintah negeri seorang diri tanpa ada bantuan dan backup dari berbagai pihak. Asumsi agen-agen tersebut salah total!

Yang diinginkan Allah Swt dan Rasul-nya adalah, pemimpin dan penguasa harus dijawat seorang pria, dan kemudian penguasa yang pria ini akan selalu dibackup oleh sekian staf dan penasehat yang pria juga. Tidak ada satu baris maupun ayat pun yang menyatakan bahwa perempuan akan mempunyai jatah dan dalih untuk menjabat posisi-posisi publik tersebut. Hal itu dikarenakan, perempuan mempunyai kewajiban yang lebih mulia, yaitu membesarkan anak dan bayi mereka, dan juga menjaga kesucian diri, hati dan jiwa mereka di dalam rumah. Tidak ada yang lebih penting bagi seorang perempuan kecuali membesarkan dan mengasihi anak-anaknya, dan kemudian menjaga kesucian imannya di dalam rumah, karena kesucian dan kemurnian perempuan hanya dapat dijaga di dalam rumah, sementara selalu pergi meninggalkan rumah dipastikan akan mencemari kesucian dan kemurnian mereka. ***

Akhirnya emansipasi perempuan adalah sebuah keniscayaan sejarah. Namun tujuan emansipasi bukan untuk membuka ruang liberalisme absolut tanpa norma dan etika, tapi sebaliknya menempatkan perempuan sebagai poros peradaban yang progresif dan moralis. Karena perempuan adalah tiang Negara, jika perempuan baik, maka baiklah Negara, dan jika perempuan rusak maka rusaklah Negara.

::: Penulis adalah Peneliti Cepdes, Center For Pesantren And Democracy Studies, Jakarta

Sumber, http://www.pelita.or.id/baca.php?id=68025

Annisanation >>

Paragraf ini menulis bahwa Emansipasi Wanita merupakan keniscayaan sejarah: namun ingatlah bahwa dekadensi moral juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari gerakan Emansipasi Wanita ini: pelacuran, perzinahan, freesex, perselingkuhan, khalwat, pacaran, aborsi, kumpulkebo, bangkai bayi di tempat sampah, marak kawin-cerai, kondomisasi, pornografi, lahirnya anak jadah, hamil di luar nikah, menikah di dalam keadaan hamil, pamer aurat, dsb. Keseluruhan hal tersebut merupakan efek lurus dari diterjemahkannya Emansipasi Wanita ke dalam tatanan sosial secara besar-besaran. Satu-satunya cara untuk melenyapkan dekadensi moral tersebut adalah, dengan mengharamkan ideologi Emansipasi Wanita ini, dan mengembalikan perempuan kepada kodrat domestiknya. Hanya dengan cara itulah seluruh perempuan akan kembali kepada kesucian dan kemurniannya, dan keagungan umat kembali dipulihkan.

Wallahu a’lam bishawab.

Menimbang Antara Emansipasi Perempuan Dan Domestikalisasi Wanita

diantara-2-pilihan

Suara kontra dari seorang perempuan terhadap Domestikalisasi Wanita (DW),

“Kalau kita tinggal di negara yang menjunjung tinggi Islam mungkin prinsip ini (bahwa wanita dilarang bekerja, bahwa perempuan harus senantiasa tinggal di rumah untuk menjalankan peran domestik mereka) bisa diterapkan: haram wanita bekerja. Namun di Indonesia ini tengoklah saja, tidak ada kepedulian sosial, tidak ada janda yang disantuni negara.

Maaf, sekarang ini juga banyak suami yang tidak bertanggung jawab yang meninggalkan anak dan istrinya (cerai dan tidak pernah menafkahi sama sekali), sedangkan si ibu harus berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya. Negara Indonesia tidak menyediakan baitul-mal seperti yang saudara kemukakan.

Minta disantuni saudara kandungnya, tidak ada yang peduli. Minta bantuan ayahnya, ayahnya sudah meninggal. Mau menikah lagi, sulit menemukan lelaki bertanggung jawab, justru jangan-jangan malah cerai lagi. Alhasil apakah dia (si ibu) ini akan diam saja di dalam rumah membiarkan anak-anaknya yang masih kecil kelaparan, sedangkan kebutuhan dasar harus terpenuhi, belum kebutuhan sekolah, kebutuhan perkembangan anak, dll. Sudah tidak ada yang peduli kepada wanita ini.

Lebih haram mana? Diam saja di rumah menanti pinangan lelaki Muslim padahal anaknya kelaparan, atau berusaha mencari penghidupan demi kelangsungan anak-anaknya?”.

Penjelasan Annisanation,

Terima kasih atas peran-serta Sdri di dalam diskusi ini.

Ijinkan saya mengajukan beberapa hal untuk menjelaskan permasalahan ini.

Pertama.

“Perempuan-dilarang-bekerja” merupakan ajaran Islam, merupakan hukum Islam; kehendak Tuhan. Jadi tidak dapat ditawar-tawar lagi. Semua kesalahan, semua kendala, semua rintangan yang timbul sehingga tidak dapat mengaplikasikan hukum Islam, justru dikarenakan umat melanggar hukum Islam itu sendiri. Kalau sejak awal umat Muslim mengamalkan hukum Islam, maka dipastikan seluruh kendala tidak pernah timbul pula.

Jadi di dalam hal ini, kalau sejak awal seluruh umat menunaikan pelarangan perempuan bekerja, maka masalah seperti suami yang tidak bekerja, suami yang tidak bertanggungjawab, ditinggal mati suami sementara anak masih kecil, dsb, tidak akan pernah menjadi masalah, karena umat sudah mempunyai solusinya yang syarii pula.

Kedua.

Sebenarnya sama saja, yaitu bahwa:

A — kalau perempuan tidak (boleh) bekerja, maka beberapa masalah akan timbul, yaitu seperti suami yang tidak bertanggungjawab, atau suami wafat, atau menikah lagi namun ternyata kembali mendapat suami yang tidak bertanggungjawab. Dan banyak masalah lainnya.

B — kalau perempuan boleh bekerja, maka masalahnya adalah, pertama dilarang di dalam Islam. Kedua, akan banyak terjadi selingkuh. Ketiga, anak-anak jadi terlantar. Keempat, menimbulkan pengangguran di kalangan laki-laki. Dsb.

Sekarang kita pilih mana? A atau B?

Tentunya kita pilih yang merupakan ajaran Islam (point A), yaitu bahwa perempuan tidak boleh bekerja, alias perempuan harus di rumah saja –kendati pilihan ini akan menimbulkan masalah seperti suami yang tidak bertanggungjawab, suami yang hilang di dalam tugas, dsb. Dan ingatlah, ajaran Islam itu mencakup seluruh kebutuhan iman dan jiwa manusia. Perempuan di rumah itu (yaitu perempuan yang tidak bekerja) sudah sesuai fitrah, sesuai kodrat, dan sesuai hukum alam. Dan suami mana, laki-laki mana, yang tidak senang dan tidak tenang kalau istri mereka tetap di rumah merawat anak-anak?

Dan anak-anak mana yang tidak bahagia kalau ibu mereka senantiasa ada di rumah bersama melewatkan hari-hari bahagia? Apakah ada anak-anak yang senang kalau ibu mereka tidak pernah berada di rumah, kalau ibu mereka selalu bekerja sehingga tidak pernah punya waktu untuk anak-anak?

Sementara itu, bencana yang ditimbulkan dari perempuan bekerja, jauh lebih dahsyat, seperti perzinahan, aborsi, bangkai bayi di tempat sampah, kumpulkebo, marak perceraian, khalwat, pornografi, pamer aurat, dsb. Hal tersebut jauh lebih dahsyat ketimbang melihat kasus ada istri yang bersuami laki-laki yang tidak bertanggungjawab, atau suami yang gemar berbuat KDRT, atau seorang istri yang ditinggal mati suami, dsb.

Biarlah seorang istri berkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, namun bukankah istri dan anak-anaknya tetap di dalam keadaan suci? Apakah kita lebih pilih istri dibiarkan bekerja namun ternyata di luar istri menjadi mainan para lelaki di tempat kerja?

Sebenarnya kalau mau jujur, apa yang anda tulis / paparkan itu, terkesan sangat mendramatisir. Apakah mungkin ada kejadian, di mana istri yang suaminya wafat atau tidak bertanggungjawab, tidak mendapat penghidupan yang layak dari kerabat sekitar? Apakah mungkin ada manusia dan kerabatnya yang sekejam itu, membiarkan saudara dan anak-anak mereka kelaparan? Bagaimana dengan mertua, bagaimana dengan keluarga dari pihak suami, apakah mereka akan membiarkan menantu dan ipar mereka kelaparan? Dan apakah keluarga mertua akan membiarkan cucu mereka yang masih kecil mati kelaparan?

Ketiga.

Istri yang mempunyai suami yang tidak bertanggungjawab, tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan perempuan bekerja. Ingatlah, hanya sedikit kasusnya di mana seorang istri hidup menderita karena suami yang tidak bertanggungjawab. Justru kebalikannya, terdapat angka yang tinggi sekali di mana para istri bekerja, padahal sebenarnya suaminya adalah kayaraya, ayah mereka kayaraya, bahkan para istri tersebut pun juga kaya, karena berasal dari keluarga yang kayaraya. Lantas buat apa masih memilih / mendukung / menjadi perempuan-bekerja juga? Bukankah ini namanya curang? Bukankah ini namanya hanya mecari-cari alasan?

Di tengah fakta begitu banyaknya perempuan-bekerja yang ayah, suami maupun keluarga mereka kayaraya, mengapa anda / kita masih juga menyinggung-nyinggung nasib perempuan / istri yang yang tidak bekerja dan kemudian ditinggal suami dsb? Bukankah kasus tersebut hanya segelintir saja di tengah kehidupan? Dan bukankah kita harus membandingkannya dengan tingginya angka zina, angka aborsi, angka khalwat, angka pengangguran di kalangan laki-laki, angka bangkai bayi di tempat sampah, dsb, yang jelas-jelas diakibatkan oleh perempuan-bekerja?

Keempat.

Tidak tahukah kita berapa angka perzinahan di tengah masyarakat kita, khususnya di kalangan remaja? Tidak tahukah kita bahwa tindak zina sudah menjadi lumrah dan sudah menjadi gaya hidup pada jaman sekarang ini? Apakah hal tersebut sama sekali tidak menjadi keprihatinan kita semua?

Di kantor-kantor fenomena perselingkuhan sudah menjadi biasa, di mana karyawan / pegawai yang perempuan, yang sudah bersuami atau belum, mempunyai hubungan atau affair alias selingkuh dengan rekan pria mereka. Hal tersebut sekarang sudah menjadi rahasia umum, dan orang lain tidak boleh ikut campur, itu kata mereka.

Apakah penyebab dari maraknya perzinahan tersebut? Jawabannya hanya satu, yaitu perempuan bekerja, alias perempuan keluar rumah untuk pemberdayaan, sehingga minimal terjadi perbauran gaul antara pria dan perempuan di tempat kerja, yang kemudian menstimulasi hubungan zina. Itu semua disebabkan oleh faham / gerakan perempuan bekerja (Emansipasi Wanita).

Dengan kata lain, kalau umat suatu negeri tidak memberi ijin dan akses kepada kaum perempuan untuk bekerja, maka dapat dipastikan bahwa perzinahan (dan seluruh turunannya) tidak akan menggejala di tengah mereka. Blogsite annisannation ini mempunyai artikel yang membahas hubungan antara maraknya perzinahan dengan perempuan bekerja.

Nah sekarang apakah Anda / Sdri sama sekali tidak merasa prihatin? Apakah Sdri ingin agar keluarga Anda terlibat di dalam perbuatan yang keji dan menjijikkan tersebut? Anak Anda, orang-tua Anda, kakak dan adik Anda, semua terlibat tindak zina, apakah Anda ridha dan bangga? Dan Anda tidak memikirkan dosanya? Nerakanya?

Kalau anda ingin keluarga anda terbebas dari tindak zina massal yang menjijikkan tersebut, maka bagaimana caranya? Bukankah perzinahan tersebut sudah merajalela dan mewabah begitu luasnya? Dengan tetap membiarkan / mengijinkan / mendukung faham perempuan bekerja, maka dapat dipastikan bahwa tidak ada satu pun keluarga yang terbebas dari ancaman tindak perzinahan tersebut. Suatu saat keluarga kita pun akan terseret pada pusaran zina-massal tersebut. Naudzu billah mindzalik!

Namun coba Anda bandingkan kalau perempuan tidak bekerja. Pasti marak zina (dan seluruh turunannya) tidak pernah menggejala. Memang baiklah akan ada kasus di mana seorang istri terkatung-katung karena suaminya tidak bertanggungjawab, atau suaminya gemar KDRT, namun apakah itu sebanding dengan bencana marak zina (dan seluruh turunannya itu) kalau perempuan diijinkan bekerja?

Kelima.

Anda tentunya ingat, bahwa kita ini hidup di dunia. “Ini dunia, mbak. Ini dunia, sister. Ini bukan Surga”. Bencana pasti terjadi, malapetaka pasti terjadi. Dan Islam pun tidak pernah diturunkan untuk menghadirkan Surga di muka bumi, tidak. Sesempurna apapun Islam (mau pun agama lainnya) diamalkan, toh tetap akan ada bencana di atas muka bumi.

Artinya apa? Artinya adalah, pertama, kita harus patuhi seluruh perintah dan kehendak Allah Swt, yaitu perempuan dilarang bekerja. Kedua, sesempurna apapun Islam diamalkan, tetap akan ada malapetaka dan kesia-siaan. Ketiga, namun kita juga harus ingat, bahwa di dalam pengamalan seluruh kehendak Allah Swt, terdapat rahmat, ridha dan ampunan Allah Swt. Keempat, seluruh malapetaka dengan pengamalan penuh ajaran Islam, dapat diminimalisir. Tidak ada yang sempurna, namun malapetaka dapat diminimalisir. Itu intinya.

Islam (maupun annisanation ini) tidak dapat menjamin bahwa kalau faham Domestikalisasi Wanita (DW) diamalkan secara menyeluruh, maka tidak akan pernah ada perempuan / istri yang terlantar. Jadi, kalau pun faham Domestikalisasi Wanita (DW) ini diberlakukan, toh tetap akan terjadi juga fenomena istri yang ditelantarkan suaminya. Namun pertanyaannya adalah, apakah akan semasif itu? Apakah angka statistiknya akan begitu tinggi?

Ya, kasus istri yang ditelantarkan suami yang tidak bertanggungjawab akan tetap ada di tengah masyarakat, karena ini adalah dunia, ini bukan Surga. Namun ingatlah, dengan diberlakukannya faham Domestikalisasi Wanita ini (yaitu seluruh perempuan dilarang bekerja dan berkarir), maka dapat dipastikan kasus zina (dan seluruh turunannya yang merupakan dekadensi moral) akan segera musnah dari muka bumi ini. Bukankah itu yang kita / ummat Muslim inginkan?

Keenam.

Ada suatu pertanyaan mahabesar yang harus kita ketahui kemudian harus kita dapatkan jawabannya. Dewasa ini kita sebagai umat menghadapi masalah yang begitu memilukan, yaitu maraknya tindak zina-massal dengan seluruh turunannya (yaitu dekadensi moral). Apakah penyebabnya? Tidak lain adalah gerakan Emansipasi Wanita.

Emansipasi Wanita mengakibatkan menggejalanya zina-massal dengan seluruh turunannya. Sementara itu kalau dibalik, kalau suatu umat tidak mengadopsi Emansipasi Wanita, alias kalau umat melarang kaum perempuan bekerja, maka zina-massal tidak akan pernah menggejala di tengah mereka. Jelas sekali, gerakan Emansipasi Wanita adalah satu-satunya hal yang bertanggungjawab atas terjadinya zinamassal. Sebenarnya hal ini sangat mudah untuk difahami.

Menimbang Antara Emansipasi Perempuan Dan Domestikalisasi Wanita

  1. Secara logika sederhana saja, apakah mungkin tragedi zina (zina massal dan seluruh turunannya) dapat terjadi kalau seluruh perempuan tidak bekerja, alias tetap tinggal di rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, sementara seluruh laki-laki sibuk di tempat kerja sepanjang hari?
  2. Mari beranda-andai. Marilah kita mengadopsi dan mengijinkan perempuan bekerja dan berkarir seperti halnya kaum laki-laki, sehingga nanti kaum perempuan dan laki-laki yang tidak mempunyai hubungan muhrim berbaur bebas di tempat kerja. Pertanyaannya adalah, apakah kita dapat menjamin bahwa selingkuh dan affair tidak akan pernah terjadi? Siapakah yang dapat menjamin bahwa latarbelakang tersebut tidak akan menimbulkan percikan asmara ‘yang tidak wajar’?
  3. Ketahuilah, bahwa tidak ada satu orang pun, satu kekuatan pun, satu ideologi pun, organisasi pun, yang dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi tindak zina (dengan seluruh turunannya) kalau kaum perempuan berbaur bebas dengan kaum pria di tempat kerja (atau zona publik lainnya). Dan pun fakta menyatakan hal yang demikian, yaitu sudah sekian lamanya umat manusia memberi ijin kepada kaum perempuan untuk bekerja dan berkarir –akibatnya terjadi perbauran gaul dengan kaum pria di zona publik, sehingga berparalel dengan maraknya kasus zina-massal.
  4. Hukum Alam tetaplah hukum Alam. Kalau seorang perempuan dewasa berbaur bebas dengan pria dewasa secara intens, maka besar peluangnya untuk terjadi hubungan emosi antara mereka yang mengarah kepada hubungan pribadi. Ini adalah perbuatan zina. Tidak ada satu pun kekuatan yang dapat melawan atau mengubah hukum Alam. Dari dulu hingga sekarang. Dengan demikian hukum Alam haruslah dipatuhi dan diantisipasi. Caranya adalah dengan tidak memberi ijin dan akses kepada kaum perempuan untuk bekerja, kukuhkan mereka tinggal di rumah saja, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan untuk mengasuh serta membesarkan anak-anak.

Ketujuh.

Begitu umat pada suatu negeri memberi ijin dan akses kepada perempuan untuk bekerja dan berkarir (sehingga terjadi perbauran gaul dengan kaum pria di tempat kerja), spontan angka zina (dan seluruh turunannya) pun menyeruak. Kebalikannya, ketika suatu umat kukuh kepada ajaran Islam bahwa tempat dan kodrat perempuan adalah domestik –sehingga perempuan tidak diberi ijin dan akses untuk bekerja dan berkarir, umat pun terbebas dari kasus zina. Note: memang, kasus zina akan tetap terjadi: tidak ada gading yang tak retak. Namun populasi kasusnya berapa banyak, itulah perbedaannya.

Sebenarnya dari hal ini saja seharusnya sudah dapat difahami, bahwa gerakan emansipasi wanita adalah berbahaya, bahwa Emansipasi Wanita merupakan satu-satunya pemicu terjadinya dekadensi moral umat. Dan bahwa ternyata begitu mudah untuk memberantas tingginya kasus zina (dan seluruh turunannya), yaitu dengan cara menghentikan gerakan dan faham Emansipasi Wanita.

Ketika Islam melarang kaum perempuan untuk bekerja dan berkarir, ketika Islam melarang kaum pria untuk memberi ijin dan akses kepada perempuan untuk bekerja, sebenarnya hal tersebut dimaksudkan untuk membebaskan umat Muslim dari wabah zina dan seluruh turunannya.

Kedelapan.

Masalah baitul maal. Pada prinsipnya, faham pelarangan perempuan-bekerja haruslah berparalel dengan lembaga baitulmaal. Kelalaian umat dewasa ini adalah tidak menghidupkan lembaga baitul-maal. Kalau umat memberlakukan pelarangan perempuan-bekerja, maka pada saat yang bersamaan umat juga harus menyelenggarakan baitul-maal. Baitul-maal tentu bukan untuk menyantuni para istri yang malang saja, namun juga untuk menyantuni anak yatim-piatu, gelandangan, manusia dengan kebutuhan khusus, dsb.

Pada aspek pelarangan perempuan bekerja ini, maka sebenarnya fungsi baitul-maal adalah sebagai bemper atau sebagai langkah antisipatif jika terdapat kasus / kejadian perempuan malang yang mendapatkan suami dengan perilaku tidak pada tempatnya. Dari sini dapat difahami, bahwa penyelenggaraan baitulmaal mengisyaratkan betapa mahapentingnya ajaran Domestikalisasi Wanita bagi umat, sehingga baitulmaal harus diposisikan sebagai solusi terakhir jika terdapat perempuan malang dengan suami yang merugikan.

Tidak ada alasan bagi umat Muslim untuk tidak menyelenggarakan baitul-maal. Oleh karena itu, penyelenggaraan baitul-maal hukumnya adalah wajib, sewajib pelarangan perempuan bekerja.

Wallahu a’lam bishawab.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag01

JalanBahaya5

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

1. Perempuan bekerja, karena miskin, atau gaji suami kecil.

Salah satu alasan yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja adalah, karena gaji suami mereka kecil dan tidak mencukupi, sementara kebutuhan belum tercukupi, bahkan biaya sekolah anak belum terbayar. Oleh karena itu kaum perempuan sering menggunakan latar belakang ini sebagai pembenar untuk bekerja.

Tidak benar. Kemiskinan harus diterima dengan penuh tawakal. Gaji suami, sekecil apa pun, harus disyukuri dan dihormati oleh para istri. Lebih lanjut, Islam tidak pernah menerima alasan kemiskinan untuk membiarkan perempuan bekerja.

Harus diingat, bahwa gaji suami, sebesar apa pun, sebenarnya tidak pernah mencukupi, karena harta bagi manusia memang tidak pernah ada puasnya.

Contraview.

Kebalikannya, banyak dijumpai di mana para istri maupun perempuan yang tidak bekerja mencari uang dan karir –kendati rumahtangga mereka terbilang pra-sejahtera, alias miskin. Gaji / pendapatan suami yang kecil tidak membuat para istri mereka ingin bekerja juga untuk membantu keuangan keluarga. Dan nyatanya kehidupan mereka tetap survive, dan bahagia.

Belum lagi, juga terdapat fakta, bahwa para istri yang bekerja itu, ternyata mereka berlatar-belakang keluarga kayaraya, yang terutama suami-suami mereka mempunyai gaji besar. Maka kemudian mengapa para perempuan tersebut bekerja? Bukankah sejak awal mereka berdalih bahwa bekerjanya mereka karena gaji suami mereka kecil? Namun mengapa sekarang kita melihat kenyataan jungkirbalik, di mana rumahtangga-rumahtangga kaya melihat para istri mereka bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan?

Di kantor-kantor, banyak terlihat karyawan perempuan yang masih muda, yang belum menikah, sementara latar-belakang mereka berasal dari keluarga kaya, rumah besar, mobil banyak dan mewah, dsb. Mengapa mereka (perempuan-perempuan muda tersebut) bekerja? Untuk apa mereka bekerja? Kalau sejak awal perempuan berdalih bahwa mereka bekerja karena gaji suami kecil, maka mengapa ada perempuan-perempuan muda yang kayaraya dan belum menikah -bekerja dan memenuhi kantor-kantor?

Intinya, terdapat ketidakonsistenan di sini. Perempuan hanya berdalih semu ketika mereka berkata bahwa bekerjanya mereka adalah terpaksa, yaitu karena gaji suami mereka kecil.

Kalau kaum perempuan konsisten dengan dalih bahwa mereka bekerja karena terpaksa karena gaji suami mereka kecil, maka seharusnya tidak banyak perempuan pekerja yang tampak di kantor-kantor, paling banyak hanya 10 orang. Sungguh faktanya bertolak-belakang.

Kata akhir: alasan perempuan untuk bekerja dengan alasan gaji suami kecil, atau karena mereka berlatar-belakang keluarga miskin, adalah tidak benar, dan harus dibantah.

2. Perempuan bekerja, karena ditinggal mati suami.

Ada lagi alasan yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan. Alasan itu adalah, karena mereka ditinggal oleh suami masing-masing, baik ditinggal mati oleh suami, atau bercerai dari suami.

Sebenarnya fenomena ditinggal suami ini mempunyai varian yang beragam, seperti,

  1. Ditinggal suami (karena mati atau bercerai), namun sang istri tetap kaya raya.
  2. Ditinggal suami, namun putra-nya sudah besar sehingga bisa bekerja dan memberi nafkah kepada sang ibunya ini.
  3. Ditinggal suami, karena dicerai oleh sang istri, dikarenakan sang istri merupakan wanita-karir, sehingga begitu ‘kejam’ dan ‘tidak kompromi’ terhadap kesalahan suami sekecil apa pun.
  4. Ditinggal suami, namun kemudian sang istri menolak untuk menikah lagi untuk mendapatkan suami baru yang dapat menafkahi dirinya.
  5. Ditinggal suaminya, di dalam arti suami tidak pernah pulang, tidak diketahui di mana rimbanya, suami tidak bertanggungjawab, suami dikuasai ibu kandungnya.
  6. Ditinggal suami (baik ditinggal mati, atau bercerai), namun sang istri adalah miskin, dan anak-anak pun masih kecil.

Untuk point (a), maka jelaslah tidak ada alasan bagi perempuan ini untuk bekerja, karena toh perempuan ini kaya-raya. Namun harus diingat, bahwa perempuan pada posisi ini harus menikah lagi untuk mendapatkan suami baru.

Untuk point (b), jelaslah perempuan ini tidak mempunyai alasan untuk bekerja, karena nafkahnya sudah ada yang menanggung, yaitu anaknya yang laki-laki.

Untuk point (c), merupakan suatu hal yang menjadi keprihatinan umat, di mana perempuan bekerja, karena berduit tebal (punya penghasilan sendiri), mengakibatkan mereka menjadi tidak hormat kepada suami. Suami berbuat kesalahan sedikit saja langsung dikeluhkan oleh istri yang bertipe perempuan karir yang berduit tebal ini. Biasanya hal ini berujung pada perceraian. Berbeda dengan perempuan-perempuan sederhana, yang tidak bekerja, yang seluruh rejekinya ditanggung suami, menjadikan mereka perempuan yang sabar dan tidak banyak kriteria. Inilah salah satu sebab mengapa Islam melarang perempuan bekerja, karena duit tebal hasil jerih-payahnya sendiri membuat mereka begitu banyak tingkah, dan tidak hormat kepada suami.

Maka jelaslah, perempuan dengan kondisi seperti ini tidak mempunyai alasan untuk bekerja, dan latar-belakang seperti ini tidak menjadikan perempuan dibenarkan untuk bekerja. Justru kebalikannya, karena bekerja, berkarir dan mempunyai uang-lah yang membuat perempuan ini bercerai dan menceraikan suaminya, lantaran jabatan dan uang yang banyak telah menjadikan perempuan ini tidak menghormati suami, dan suami mana yang berlapang dada kalau terus dilecehkan istrinya sendiri.

Untuk perempuan yang bercerai pada point (c) ini, tetaplah harus menikah lagi, dan pastikan bahwa perempuan ini tidak bekerja dan berkarir (lagi), karena justru berkarir-lah yang membuat perempuan ini begitu mudahnya menceraikan suaminya, karena merasa ia sudah bisa mencari rejeki sendiri.

Untuk point (d), jelaslah bukan alasan seorang perempuan untuk bekerja. Hanya karena ia tidak ingin menikah lagi, maka baginya menjadi benar untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan. Yang salah adalah pihak perempuannya (karena tidak mau menikah lagi), maka mengapa ia-nya menuntut supaya Islam mengijinkannya untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan?

Ajaran Islam tetap di dalam hal ini, perempuan ini harus menikah, dan tidak ada alasan untuk tidak menikah lagi. Dan kalau perempuan ini sudah menikah lagi, maka tidak perlu baginya untuk bekerja, karena nafkahnya sudah ada yang menanggung, yaitu suami barunya.

Untuk point (e), kondisi ini juga bukan alasan bagi seorang perempuan untuk menikah. Islam mensyariahkan, bahwa kalau suami merupakan pribadi yang tidak ber-tanggungjawab, tidak menafkahi istri, atau hilang tidak diketahui di mana rimbanya, atau tidak pernah pulang ke rumah, maka genaplah bagi sang istri untuk menuntut cerai. Islam membenarkan perempuan dengan kondisi seperti ini untuk menceraikan suaminya, dan yang terpenting, setelah bercerai maka pastikan untuk menikah lagi dengan suami baru. Dengan langkah ini maka perempuan ini sudah mempunyai suami baru yang akan menafkahinya, sehingga ia tidak perlu bekerja; sehingga ia tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari nafkah, uang, karir dan jabatan.

Untuk point (f), harus diperhatikan bahwa kondisi ini memang benar-benar mengharuskan sang istri menikah lagi. Pertama, sudah ditinggal karena kematian sang suami, pun kedua, istri hidup di dalam keadaan miskin. Satu-satunya solusi bukanlah bekerja mencari uang dan nafkah, melainkan menikah lagi dengan suami baru; dan untuk itu merupakan tanggungjawab keluarga induklah untuk menikahkan istri ini kepada suami barunya.

Kalau sang istri ini sudah mempunyai suami baru, maka tidak perlulah ia bekerja untuk mencari uang dan nafkah, karena seluruh keperluannya sudah dipenuhi sang suami.

Contraview.

Banyak perempuan yang bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan dengan mengemukakan alasan seperti ini, yaitu karena bercerai dari suaminya. Faktanya, banyak sekali perempuan yang bekerja, padahal mereka semua tidak bercerai; padahal mereka masih bersuami, dan suami mereka kaya-raya, gaji besar, dsb. Kalau kondisi yang melatarbelakangi mereka memang benar bercerai dari suaminya, mungkin masih dapat diterima alasan mereka untuk bekerja. Namun keadaannya sangat memprihatinkan, karena sebagian besar perempuan yang bekerja merupakan perempuan-perempuan yang masih bersuami, pun gaji suami mereka besar, bahkan banyak sekali di antara mereka yang kaya-raya, dsb. Maka mengapa mereka masih bekerja? Dan mengapa mereka masih mengemukakan alasan bercerai dari suami sebagai alasan untuk bekerja?

Oleh karena itu, alasan ‘kami para istri harus bekerja karena tidak bersuami’, merupakan alasan kosong, sehingga harus ditolak. Pun, lebih dari itu, bercerai atau tidak bersuami, bukanlah alasan pembenar untuk bekerja. Kalau mereka tidak lagi bersuami, maka menikahlah lagi dengan suami baru. Sungguh, menikah itu merupakan sunnah para Nabi.

Bersambung.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag02

DSCN3481

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

3. Perempuan bekerja, karena suami menganggur; suami susah mencari pekerjaan.

Banyak perempuan yang bekerja, atau istri yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, karena suami mereka menganggur, dikarenakan sang suami susah mendapatkan pekerjaan, atau karena suami tiba-tiba dipecat dari pekerjaannya. Kondisi ini memaksa istrinya untuk bekerja demi menyambung kebutuhan keuangan keluarga.

Apakah kondisi ini dapat dijadikan alasan perempuan untuk bekerja?

Ada pertanyaan. Mengapa bisa terjadi di mana seorang lelaki / suami menganggur? Apakah yang menyebabkan seorang laki-laki menjadi pengangguran? Mengapa bisa terjadi, ada seorang laki-laki menganggur, sementara perempuan tidak menganggur? Mengapa bisa terjadi, di mana seolah perempuan begitu mudahnya mendapatkan pekerjaan, sementara laki-laki begitu susah untuk mendapatkan pekerjaan?

Coba renungkan. Kalau TIDAK ada perempuan yang bekerja, maka mustahil ada lelaki yang menganggur. Sekali lagi: kalau seluruh perempuan TIDAK bekerja, maka pasti tidak akan ada laki-laki yang menganggur.

Perhatikanlah, bahwa satu-satunya alasan dan penyebab mengapa seorang laki-laki menganggur, adalah karena seluruh / banyak lapangan-pekerjaan (pangker) telah dikuasai dan diduduki perempuan, hal mana itu menyebabkan jatah pangker yang sebenarnya hanya untuk laki-laki telah habis diambil kaum perempuan. Akibatnya, kaum laki-laki menjadi terdesak dan terdepak dari pangker; tidak kebagian pangker: inilah penyebab sesungguhnya dari pengangguran.

Ketahuilah, bahwa jatah pangker di Alam-raya ini sangat terbatas: jumlah pangker seumur dunia ini TIDAK PERNAH SEBANDING dengan jumlah penduduk. Oleh karena itu, pangker yang sedikit itu sebenarnya hanya untuk kaum pria, agar dengan demikian tidak ada satu pria pun yang menganggur. Sementara perempuan, sebenarnya tidak butuh pangker, karena kodrat mereka adalah domestik, yaitu senantiasa tinggal di dalam rumah mereka, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan juga karena nafkah mereka sudah ditanggung oleh kaum pria. Intinya, Islam melarang perempuan untuk bekerja, karena salah satu alasannya adalah, jumlah pangker di dunia ini begitu terbatas. Untuk lebih jelas, silahkan baca artikel “Emansipasi Wanita Satu-satunya Pencetus Masalah Pengangguran”.

Singkat kata, seluruh pangker hanya untuk laki-laki, jangan ada satu pun pangker yang diduduki / diserobot perempuan. Satu perempuan bekerja dan menyerobot satu pangker, itu berarti satu pria telah menjadi pengangguran. Bisa jadi pria itu adalah seorang suami, atau seorang suami yang harus membiayai persalinan istrinya, atau juga seorang ayah yang butuh uang untuk membeli susu bayinya.

Kembali kepada kondisi pada pembahasan ini. Terdapat perempuan yang harus bekerja, dengan alasan karena suami mereka menganggur, atau karena suami susah mendapatkan pekerjaan. Maka apakah kondisi ini dapat dijadikan alasan bagi perempuan untuk bekerja?

Jawabannya adalah: inilah bencana yang harus diderita umat karena mengijinkan / membenarkan perempuan bekerja. Dikarenakan perempuan bekerja, maka merajalela-lah pria-pria pengangguran di seluruh negeri. Umat dan kaum perempuan harus melihat satu-satunya penyebab mengapa seorang pria harus menganggur.

Umat harus bertanya, apakah penting bagi seorang perempuan untuk bekerja, sementara nafkah kaum perempuan itu sendiri sebenarnya sudah ditanggung oleh pria mereka, secara alami. Umat dan kaum perempuan harus menyadari, bahwa dengan bekerjanya perempuan, itu berarti menumbangkan beberapa laki-laki dari pangker sehingga memaksa mereka menjadi pengangguran.

Sekali lagi, kalau tidak ada satu pun perempuan yang bekerja, maka itu adalah jaminan bahwa tidak akan ada satu pun pria yang menganggur: itu berarti tidak ada suami yang menganggur, ayah yang menganggur, saudara laki-laki yang menganggur, dsb. Dan kalau tidak ada suami yang menganggur, maka setiap istri tidak mempunyai alasan untuk bekerja, karena suami-suami mereka mempunyai pekerjaan.

Singkatnya, ada perempuan-perempuan yang menuntut untuk dibenarkan bekerja, dikarenakan suami mereka menganggur karena susah mencari pekerjaan. Harus diingat, bukankah satu-satunya penyebab para suami itu menganggur adalah karena perempuan-perempuan kota bekerja? Bukankah bekerjanya perempuan berdampak lurus pada pengangguran di kalangan pria / suami?

Kembali kepada ajaran Islam, Allah Swt sudah menegaskan di dalam Alquran, bahwa perempuan harus senantiasa tinggal di dalam rumahnya, yang mana itu berarti perempuan dilarang bekerja, agar dengan demikian pangker hanya untuk kaum pria, supaya tidak ada satu pun pria yang menganggur. Ayat tersebut adalah Al Ahzab ayat 33, didukung banyak ayat lainnya, dan Alhadis.

Contraview.

Perempuan yang bekerja, berdalih bahwa bekerjanya mereka adalah terpaksa, yaitu karena suami mereka menganggur. Fakta memperlihatkan, suami mereka bukanlah pengangguran, dan suami mereka adalah para pekerja atau karyawan yang bergaji besar dan menggembirakan. Kalau benar bahwa alasan mereka bekerja adalah terpaksa karena suami mereka menganggur, maka semestinya jumlah perempuan bekerja tidaklah banyak di seantero kota. Itu pun, tetap tidak dibenarkan seorang perempuan bekerja, walau pun alasannya adalah karena suami mereka menganggur. Ingat, suami atau pria menganggur, pada dasarnya adalah imbas dari perempuan bekerja –yang menyerobot / menginvasi pangker yang sebenarnya hanya untuk kaum pria.

Oleh karena itu, alasan ini yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja, merupakan alasan kosong, yang dengan demikian harus ditolak dan dibantah sedemikian rupa.

4. Perempuan bekerja, karena Siti Hadijah juga bekerja.

Satu alasan lain yang digunakan kaum perempuan untuk bekerja adalah, karena mereka melihat Siti Hadijah, merupakan perempuan karir, perempuan pekerja yang sukses di bidang perniagaan. Kisah ini dianggap merupakan motivasi di dalam Islam untuk membenarkan perempuan bekerja. Siti Hadija, adalah istri Nabi Muhammad saw, sehingga dengan sendirinya fakta bahwa Siti Hadija bekerja -menjadi sumber hukum di dalam Islam untuk membenarkan perempuan bekerja, mencari uang, nafkah, karir dan jabatan.

Tidak itu saja. Ratu Balqis, yang merupakan istri dari Nabi Sulaiman as, juga merupakan pemimpin Negara, dan oleh karena itu Ratu ini dianggap sebagai landasan di dalam Islam bahwa perempuan dibenarkan untuk berkiprah di ranah publik, untuk berkarir, khususnya menjadi pemimpin di lingkungan patriarkis. Belum lagi sejarah Islam menuturkan, bahwa pada jaman Nabi Muhammad Saw, beberapa perempuan ikut berpartisipasi di dalam pertempuran membela Islam, yang mana ini berarti bahwa Islam mendukung kiprah perempuan pada sektor publik, yaitu untuk berkarir dan berkarya di samping kaum lelaki. Pandangan seperti ini harus diluruskan.

*Siti Hadija.

Pada masa jahiliyah, Siti Khadijah memang seorang wanita yang bekerjagaji atau bekerjabisnis, keluar rumah dan meninggalkan kodrat domestiknya. Namun setelah menjadi istri Nabi Muhammad Saw, seluruh pekerjaan itu ia tinggalkan dan akhirnya murni menjadi seorang istri rumahan. Oleh karena itu hubungan antara Siti Khadijah dengan karirnya sebagai pelaku bisnis tidak dapat dijadikan teori bahwa Islam memerintahkan wanita untuk bekerja. Yang harus dilihat adalah fase di mana Siti Hadija adalah istri Muhammad Saw, yang murni rumahan, tidak lagi sebagai pelaku bisnis. Fase sebelumnya tidak dapat dijadikan rujukan dan landasan ajaran Islam mengenai kewanitaan.

Dengan demikian pembolehan wanita bekerja di dalam Islam tidak dapat dirujuk kepada Siti Hadija ini. Kebalikannya, ajaran Islam yang melarang wanita bekerja berpijak pada fase bahwa Siti Hadija adalah seorang istri dan wanita rumahan yang selalu taat dengan kodrat domestiknya.

*Siti Aisha.

Peran Siti Aisyah di dalam peperangan, biar bagaimana pun bukanlah cetak-biru untuk ide wanita bekerjabisnis. Perang adalah perang, dan bekerjabisnis adalah bekerjabisnis, dua hal yang jauh berbeda. Harus ditekankan bahwa perang memiliki urgensinya sendiri yang tidak sebanding secuil pun dengan bekerjabisnis.

Anggaplah di dalam pertempuran wanita diijinkan untuk berpartisipasi – pada masa Nabi Muhammad Saw. Namun jumlah personnel wanita yang ikut perang tersebut tidak signifikan. Adalah tidak mungkin, di mana ada 300 pasukan tempur misalnya, maka 100 atau 200 personnel di antaranya adalah wanita. Paling jumlahnya hanya satu, atau tiga, atau lima paling banyak. Sementara di dalam bekerjabisnis, dapat dipastikan seluruh wanita bekerjabisnis keluar rumah. Apakah itu adil? Kalau kita ingin menjadikan pastisipasi wanita di dalam perang sebagai landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis, maka mau-tidak-mau wanita yang boleh bekerjagaji hanya segelintir juga, “sepuluh” wanita itu sudah terlalu banyak untuk bekerjabisnis di dalam suatu kota. Ini berarti partisipasi wanita di dalam peperangan bukan landasan teori bahwa wanita boleh bekerjabisnis di dalam Islam.

Hal berikutnya: Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw. Ingatlah, bahwa apapun yang terjadi setelah wafatnya Muhammad Saw SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DIJADIKAN landasan ajaran Islam. Ajaran Islam hanya berlandaskan pada semua peristiwa yang terjadi pada masa Muhammad Saw masih hidup. Oleh karena itu Siti Aisyah menjadi guru untuk para sahabat, dan juga ikut berperang pada masa setelah wafatnya Muhammad Saw tidak dapat dijadikan teori yang lain lagi bahwa wanita bekerjabisnis merupakan kesalehan.

Lebih dari itu sejarah Islam memang mengisahkan bahwa Siti Aisha merupakan wanita yang cerdas: banyak dan ribuan Alhadis dirujukkan kepadanya. Ingatlah, bahwa kecerdasan yang dimiliki Aisha bukanlah alasan untuk membenarkan wanita boleh bekerja. Kecerdasan Siti Aisha merupakan garis kehidupan yang dia dapat, bukan suatu keputusan / ajaran.

*Ratu Balqis.

Ratu Balqis pada saat menjabat sebagai Ratu alias kepala Pemerintah masih berstatus nonmuslim. Dan pada saat Ratu ini bergabung dengan Nabi Sulaiman dan menjadi Muslimah, sang Ratu berhenti dari jabatannya sebagai kepala Pemerintah, karena telah menjadi istri dari sang Nabi. Praktis, hal ini tidak dapat dijadikan alasan bahwa Alquran merekomendasikan wanita untuk bekerjagaji.

Apakah Islam mengajarkan bahwa kita harus berpaling kepada kisah hidup seseorang yang nonmuslim? Tentu saja tidak. Berpaling kepada seorang Muslim saja tidak dibenarkan, apalagi berpaling kepada individu nonmsulim. Islam hanya bersandar dan berpaling kepada seputar kisah kehidupan Muhammad Saw: kisah hidup individu nonmuslim sudah pasti tidak termasuk. ***

Kesimpulannya adalah, bahwa tidak benar menjadikan kisah kehidupan para wanita pada kisah Nabi sebagai landasan teori bahwa Islam membenarkan perempuan bekerja. Intinya, Alquran telah menegaskan bahwa kodrat perempuan adalah domestik (surah al-ahzab 33), ayat lainnya di dalam Alquran, dan juga banyak Alhadis yang menyatakan demikian.

Bersambung.

Alasan Kosong Untuk Membenarkan Wanita Bekerja Bag03

padang-padang-beach

Islam mengajarkan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, yang mana itu berarti bahwa setiap wanita haruslah tetap tinggal di rumahnya, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestiknya, seperti mencuci baju, memasak, merapikan rumah, mengasuhi dan mengasihi buah-hati, dsb. Intinya, perempuan, apapun status sosialnya (apakah ia belum menikah, sudah bersuami, miskin, kaya, bangsawan, jelata, dsb), tetaplah harus tinggal di rumah, atau lebih tepatnya lagi: tidak dibenarkan untuk bekerja mencari uang, nafkah dan karir.

Nafkah setiap perempuan, sudah ditanggung oleh laki-laki mereka, apakah suaminya, ayahnya, kakeknya, pamannya, abangnya, putranya, adik lelakinya, dsb. Oleh karena itu perempuan tidak mempunyai alasan untuk bekerja mencari uang, nafkah, jabatan mau pun karir. Lebih spesifik lagi, kalau seorang perempuan bekerja, maka siapa yang akan menyelesaikan seluruh tugas domestiknya? Siapa yang akan mengasihi dan mengasuhi anak-anak?

Adalah keniscayaan, bahwa jaman akan berubah. Pada jaman ini, manusia telah memunculkan keajaiban teknologi, suatu hal yang menjadikan segala hal yang susah menjadi mudah bagi semua orang: listrik, mobil, penyejuk udara, elevator, eskalator, komputer, telepon, dsb. Dengan adanya kecanggihan teknologi, segala pekerjaan yang semula menyusahkan dan menyakitkan, berubah menjadi mudah dan menyenangkan. Akibat lurusnya adalah, banyak pekerjaan yang tadinya dibenci, sekarang menjadi dikejar-kejar, diminati, diperebutkan, dicintai dan disukai.

Pada level inilah, muncul faham Emansipasi Wanita, gerakan yang mengideologikan perempuan sebagai mahluk yang sama unggulnya dengan kaum pria, pada segala bidang. Hanya dikarenakan segala pekerjaan menjadi mudah dan dimudahkan oleh teknologi, tiba-tiba perempuan sesumbar lantang bahwa perempuan sama hebat dan unggulnya dengan kaum pria. Padahal ketika jaman belum diwarnai teknologi, seluruh perempuan cukup berdiam di rumah, untuk membesarkan anak-anak mereka, menganyam, menyulam, menenun, masak, membatik, dsb. Termasuk: berdandan, bersolek, dansa-dansi, bersukaria dengan hewan kesayangan di rumah istana, bermain di taman, dsb.

Pada jaman teknologi inilah, perempuan bangkit untuk menuntut persamaan hak untuk bekerja seperti halnya kaum pria: untuk mencari uang, nafkah, dan jabatan.

Islam di lain pihak, telah lebih dulu memberikan fatwa, bahwa perempuan adalah terlarang untuk bekerja mencari nafkah, karena nafkah seluruh anggota keluarga –khususnya perempuan- sudah menjadi tanggungjawab kaum lelaki. Oleh karena itu tempat perempuan adalah senantiasa di rumah, karena fitrah dan kodrat mereka adalah domestik.

Sungguh perempuan tetap berkeras untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, kendati Islam jelas-jelas telah mengharamkan perempuan untuk bekerja mencari nafkah, dengan mengumandangkan slogan mereka, bahwa perempuan sama unggulnya dengan kaum lelaki. Di samping itu, mereka memberi dalih atau alasan pembenar supaya mereka dapat bekerja, seperti di bawah ini.

5. Perempuan bekerja beralasan untuk berbakti kepada agama, bangsa dan masyarakat.

Banyak perempuan yang bekerja, atau istri yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, bahwa bekerja merupakan ibadah untuk meningkatkan taqwa kepada Allah Swt. Dalih lain yang serupa adalah, bahwa para istri bekerja merupakan bentuk bakti kepada suami, yaitu meringankan tugas suami di dalam hal keuangan.

Alasan lain, bahwa perempuan harus bekerja karena hal tersebut merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan Negara. Di dalam fikiran mereka (perempuan yang bekerja), masyarakat luas merasakan manfaat besar dari perempuan bekerja.

Bagaimana mungkin perempuan-bekerja merupakan ibadah kepada Allah Swt, sementara Allah Swt sendiri telah mengharamkan perempuan untuk keluar rumah dan bekerja mencari nafkah, seperti yang difirmankanNya di dalam surah Al-ahzab ayat 33? Bagaimana mungkin suatu bentuk pendurhakaan terhadap Allah Swt justru dianggap sebagai ibadah kepadaNya? Sudah jelas Islam menggariskan bahwa kodrat perempuan adalah domestik, untuk menyelesaikan seluruh tugas mereka sebagai perempuan, membesarkan anak, menjaga harta suami dsb, yang mana tugas itu hanya dapat ditunaikan dengan terus tinggal di rumah sepanjang hari – maka kemudian mengapa kaum perempuan masih berfikir bahwa keluar rumah, dan meninggalkan anak-anak di rumah, dikatakan sebagai ibadah?

Setiap perempuan yang bekerja tidak mungkin mengamalkan perintah Allah Swt. Dan setiap perempuan yang bekerja tidak mungkin senantiasa tinggal di dalam rumah, yang mana itu merupakan perintah Allah Swt. Setiap perempuan yang keluar rumah dan bekerja -tidak mungkin dapat mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka, sementara tugas utama kaum perempuan adalah mengasuhi dan mengasihi anak-anak mereka, lain tidak. Sementara itu, bekerja itu sendiri adalah nonsense buat kaum perempuan.

Dan kalau perempuan ingin beribadah yang baik kepada Allah Swt, maka satu-satunya cara adalah, tetap tinggal di dalam rumah, untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka, dan untuk itu jelas, perempuan tidak diperkenankan bekerja –untuk mencari uang, nafkah, karir dan jabatan.

Beribadah kepada Allah Swt bukanlah dengan cara melanggar ajaranNya, dan tidak mungkin bekerja bagi perempuan, dan keluar rumah, merupakan suatu ibadah yang membuat Allah Swt ridha.

Dan kemudian bagaimana mungkin, perempuan bekerja dianggap sebagai bentuk bakti kepada masyarakat dan negara? Sejak fakta dan hukum kausalitas menunjukkan bahwa gelagat perempuan-bekerja menimbulkan mudharat terhadap seluruh masyarakat, maka jelaslah bahwa perempuan bekerja merupakan bentuk penghancuran sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Dan itu artinya, perempuan-bekerja sama sekali bukanlah bentuk pengabdian kepada masyarakat dan Negara.

Sama diketahui, bahwa pada lini pertama saja, perempuan bekerja praktis membuat laki-laki menganggur, karena pangker (lapangan kerja) yang seharusnya diduduki seorang laki-laki, diserobot dan di-infiltrasi oleh perempuan. Lini pertama saja sudah berbahaya, karena perempuan bekerja membuat pria menganggur, dan pengangguran pria merupakan bentuk kerawanan masyarakat, karena hal ini akan bermuara kepada kriminalitas, seperti premanisme, penodongan, jual-beli ganja, dsb.

Dengan kata lain, ya, perempuan bekerja merupakan faktor utama dan kata kunci bagi merebaknya kasus kriminalitas dan premanisme kota.

Pada lini berikutnya, perempuan bekerja yang membuat perempuan bercampur-gaul dengan pria di tempat kerja (sektor publik), benar-benar telah mencetuskan terjadinya ‘penistaan organ kelamin’, seperti kasus selingkuh, pacaran, aborsi, kondomisasi, freesex, khalwat, pemar-aurat, kelahiran anak jadah, dsb. Harus dipertanyakan kembali, apakah benar bahwa perempuan bekerja merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat dan Negara, kalau dari gelagat tersebut (perempuan bekerja) kasus demoralitas organ kelamin justru bersemi begitu hebatnya?

Pada jaman Siti Nurbaya, ketika seluruh perempuan tidak bekerja, ketika seluruh perempuan berteguh diam di rumah, kasus ‘penistaan organ seksual’ tidak pernah / jarang terjadi. Hal tersebut praktis dikarenakan terpisahnya lebensraum antara pria dan perempuan: pria di tempat kerja, sementara perempuan tinggal di dalam rumah untuk menyelesaikan seluruh tugas domestik mereka. Bagaimana mungkin kaum pria di tempat kerja selingkuh dengan kaum perempuan, sementara di tempat kerja perempuan tidak satu pun dijumpai?

Intinya, perempuan bekerja bukanlah bentuk ibadah untuk mendapatkan ridha Allah Swt, justru sebaliknya, perempuan bekerja merupakan bentuk pendurhakaan terhadap Allah Swt, karena dengan perempuan keluar rumah dan bekerja, maka bermunculanlah berbagai fitnah kelamin yang mengerikan. Terlebih, dengan keluar rumah dan bekerja, maka terlalailah perempuan dari tugas domestiknya, seperti menyelesaikan seluruh tugas domestik, membesar dan mengasuh anak, menjaga harta suami, dsb.

Intinya, jangan pernah menghubungkan bekerjanya perempuan dengan bentuk bakti kepada masyarakat dan Negara, dan jangan pernah menghubungkan bekerjanya perempuan dengan bentuk ibadah untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Sungguh, perempuan bekerja justru merupakan racun masyarakat, racun Negara, karena perempuan bekerja itulah yang sebenarnya yang menghancurkan integritas Negara dan masyarakat.

Di lain pihak, perempuan bekerja bukanlah suatu peribadatan untuk memperoleh mardhotillah (untuk mendapatkan ridha Allah), karena perempuan bekerja itulah sebenarnya yang merupakan perbuatan maksiat yang melanggar ajaran Allah Swt: berbagai fitnah kelamin bangkit dari perempuan bekerja ini, seperti kasus selingkuh, pacaran, aborsi, kondomisasi, freesex, khalwat, pemar-aurat, kelahiran anak jadah, dsb.

Contraview.

Perempuan berkeras bekerja dengan mengedepankan alasan, bahwa niat mereka bekerja adalah untuk beribadah kepada Allah Swt, dan sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa, Negara dan masyarakat. Pada kenyataannya, justru perempuan-bekerja telah meningkatkan angka pengangguran di kalangan laki-laki, selingkuh, perceraian rumahtangga, penelantaran anak, perzinahan, pamer-aurat, khalwat, kondomisasi, penularan penyakit kelamin, membangkang kepada suami, membangkang kepada kodrat kewanitaan dan tugas istri, dsb. Perempuan dengan bekerja maka sebenarnya ia telah merusak dan meracuni keluarganya, agamanya dan negaranya. Untuk lebih lanjut mengenai ini, silahkan baca artikel “Dalam Islam Bolehkah Wanita Bekerja”.

Inikah yang disebut bekerja dengan niat untuk mengabdi kepada bangsa dan masyarakat, dan sebagai bentuk ibadah kepada Allah Swt? Kalau memang benar bahwa niat perempuan bekerja adalah untuk membangun bangsa, maka mengapa dengan banyak perempuan-bekerja justru bangsa semakin terpuruk dengan maraknya angka perzinahan, selingkuh, aborsi, pamer-aurat, penelantaran anak, freesex, khalwat, dsb?

Inikah yang disebut dengan bekerja dengan niat untuk beribadah kepada Allah Swt? Kalau memang benar bahwa niat perempuan bekerja adalah untuk beribadah kepada Allah Swt supaya memperoleh ridha-Nya, maka mengapa seluruh perintah Allah Swt mengenai kodrat perempuan yang domestik itu justru dilanggar dan didurhakai oleh perempuan?

Kalau perempuan ingin beribadah kepada Allah Swt untuk meningkatkan taqwa, maka satu-satunya cara adalah dengan berteguh di dalam rumah, untuk mentaati kodrat domestiknya, yaitu menyelesaikan seluruh tugas kerumahtanggaannya, plus membesarkan dan mengasuh anak. Pun dengan perempuan berteguh di rumah dan tidak bekerja, maka hal itu akan memastikan seluruh pria akan mendapatkan pekerjaan, tidak akan menjadi pengangguran, dan pada akhirnya setiap pria akan menjadi mampu untuk meafkahi anak-anak dan keluarganya. Intinya, kalau perempuan berteguh di dalam rumahnya, maka terbebaslah diri dan umatnya dari kekejian organ kelamin.

Kalau perempuan ingin berbakti kepada masyarakat dan negaranya, maka berteguhlah di dalam rumahnya dengan tidak bekerja mencari uang dan karir, karena hal tersebut akan memastikan tidak akan terjadi pengangguran di kalangan pria. Kalau tidak ada pengangguran, maka akan tumpaslah segala bentuk kriminalitas.

Jelaslah sudah, bahwa alasan ini bagi perempuan untuk bekerja, harus ditolak dan dibantah sedemikian rupa. Selamatkanlah keamanan masyarakat dan Negara, dengan cara mengembalikan perempuan kepada kodrat domestik mereka: jangan biarkan perempuan bekerja.

6. Perempuan bekerja, karena ada profesi yang hanya pantas untuk perempuan.

Banyak perempuan yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, karena pekerjaan atau profesi yang mereka tekuni hanya pantas untuk kaum perempuan, seperti profesi guru, bidan, perawat, sekretaris, guru pada Taman Kanak-Kanak, dsb. Atau, dengan kata lain, ada beberapa profesi di dalam masyarakat yang tidak semestinya ditekuni laki-laki. Dengan kondisi seperti ini, maka mau-tidak-mau perempuan merasa sudah pada tempatnya untuk bekerja, karena profesi ini harus ada pada setiap masyarakat, maka itu berarti perempuan yang bekerja pada sektor ini tidaklah berdosa.

Sama diketahui bahwa tidak ada satu pun profesi yang tidak pantas untuk ditekuni laki-laki. Semua profesi adalah untuk laki-laki, dan oleh karena itu seluruh profesi adalah pantas untuk laki-laki. Dengan demikian maka tidak ada lagi alasan bagi perempuan untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, apa pun profesinya.

Tidak ada yang aneh kalau laki-laki menjadi guru, sekali pun ia adalah guru pada Taman Kanak-Kanak. Pun tidak ada yang aneh kalau laki-laki menjadi perawat, bidan maupun sekretaris. Oleh karena itu, tidak beralasan untuk menyatakan bahwa beberapa profesi tidak pantas untuk ditekuni laki-laki –sehingga membutuhkan perempuan yang menjalani profesi tersebut. Yang benar adalah, bahwa seluruh profesi adalah untuk laki-laki, dan oleh karena itu seluruh profesi adalah pantas untuk digeluti laki-laki. Sementara itu, kaum perempuan cukuplah tinggal di dalam rumah untuk menjalani kodrat domestik mereka. Kodrat domestik mereka adalah jauh lebih penting, daripada keluar rumah setiap hari untuk bekerja.

Contraview.

Pada faktanya, kebanyakan perempuan meng-infiltrasi jabatan-jabatan yang khas pria, atau yang tidak dikesankan hanya cocok untuk perempuan. Posisi sebagai karyawan kantor, pelayan restoran, penjaga toko, supir-bus, kondektur, penjaga loket, pejabat kantor, cleaning service, menteri, presiden, dsb, merupakan posisi yang di-incar banyak perempuan, yang mana itu berarti pasti akan menggusur laki-laki dari posisi tersebut, sehingga membuat banyak laki-laki menjadi pengangguran. Masih kuat terdengar, bahwa banyak perempuan menuntut supaya Gereja memberi peluang perempuan untuk menjabat posisi Gerejawi, seperti Imam, pastur, uskup, kardinal, bahkan paus sekali pun. Di kalangan umat Muslim, banyak perempuan menuntut supaya perempuan diberi hak untuk menjadi imam-besar di Masjid.

Sungguh tidak ada konsistensi! Di satu pihak perempuan berkata bahwa perempuan bekerja pada posisi yang hanya cocok untuk perempuan, seperti bidan, perawat, guru, dsb. Namun di pihak lain, perempuan tetap mencengkram posisi-posisi di luar yang mereka bicarakan: faktanya memang demikian! Artinya, semua alasan untuk bekerja yang diajukan kaum perempuan menujukkan adanya praktek kecurangan dan tipu-rayu: dan perempuan sama sekali tidak membuat mereka pantas untuk mengajukan alasan / excuse.

Kalau perempuan konsisten dengan pendirian mereka, bahwa mereka bekerja hanya pada posisi yang pantas untuk perempuan, maka seharusnya kota dunia hanya melihat sedikit perempuan yang bekerja di luar rumah, pada posisi yang khas perempuan, seperti bidan, guru TK, perawat, dsb. Namun faktanya bertolak belakang: jutaan perempuan menyerbu posisi di luar yang mereka bicarakan. Seruan perempuan supaya Gereja dan umat Muslim memberi perempuan hak untuk menjadi paus maupun imam-Masjid, sungguh merupakan suatu bencana.

Jelaslah sudah, bahwa alasan ini bagi perempuan untuk bekerja, harus ditolak dan dibantah sedemikian rupa.

7. Perempuan bekerja, karena ada kesejajaran antara pria dan perempuan.

Banyak perempuan yang bekerja mencari nafkah, dengan dalih, bahwa Allah Swt menciptakan pria dan perempuan di dalam keadaan sejajar. Banyak ayat Alquran maupun Alhadis yang melukiskan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama terhadap Allah Swt. Hal ini membuat perempuan berfikir, bahwa kesejajaran yang diajarkan Allah Swt juga berpengaruh pada hak dan kewajiban untuk bekerja meniti karir, bersama pria, di sektor publik. Artinya, kalau pria dapat menjadi pemimpin, jenderal, presiden, dsb, maka perempuan juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan posisi tersebut.

Sama diketahui bahwa di dalam Alquran Allah telah berfirman bahwa biar bagaimana pun laki-laki dan perempuan adalah berbeda, bahkan perbedaan tersebut sudah terbentuk sejak dari masa bayi. Kodrat pun, jelas berbeda; tenaga berbeda, daya akal berbeda, psikologi berbeda, tingkat keberanian berbeda, dsb. Sekarang bagaimana mungkin pria dan perempuan dapat disejajarkan atas dasar kesamaan?

Yang dapat dipersamakan adalah Iman, taqwa, kewajiban salat dan mengaji, berzikir, taat kepada Allah Swt, dsb. Keseluruhan hal tersebut haruslah sama antara pria dan perempuan. Itu pun masih juga terdapat beberapa garis pembeda antara pria dan perempuan, seperti shalatnya perempuan dibatasi oleh siklus haid, puasa dibatasi oleh siklus haid, mengaji dibatasi oleh suaranya yang adalah aurat bagi laki-laki asing, puasa sunnah harus dengan ijin suami, keseluruhan itu merupakan penanda bahwa laki-laki dan perempuan adalah berbeda, dan sama sekali tidak dapat dipersamakan.

Di dalam hal ibadah saja laki-laki dan perempuan dibedakan, maka bagaimana mungkin di dalam cakupan lain yang lebih luas, perempuan dapat disamakan dengan laki-laki?

Allah Swt dengan tegas sudah berfirman di dalam surah Al-Ahzab ayat 33, bahwa perempuan hendaklah senantiasa tinggal di dalam rumah, maka hal tersebut merupakan titik awal untuk melihat bahwa pria dan perempuan adalah dua mahluk yang secara kodrati berbeda, dan di dalam hal ini tempat perempuan adalah senantiasa tinggal di rumah, bukan bekerja mencari uang.

Tidak mungkin, mustahil, bahwa Allah Swt mengajarkan bahwa pria dan perempuan adalah sejajar. Mustahil sekali. Adalah sesat untuk menyatakan bahwa Allah Swt mengajarkan kesejajaran antara pria dan perempuan. Sebenarnya-lah, Allah Swt telah meninggikan / mengunggulkan laki-laki atas perempuan, dan hal tersebut sudah termaktub di dalam surah Alquran. Apakah hal ini akan dibantah? Kalau Allah sudah berfirman bahwa laki adalah unggul di atas perempuan, maka mengapa kemudian ada manusia, khususnya perempuan, yang menyatakan bahwa Allah Swt mengajarkan kesejajaran antara pria dan perempuan?

Sungguh, menyatakan bahwa Islam mengajarkan kesejajaran antara pria dan perempuan, sehingga ini membolehkan perempuan untuk bekerja mencari uang, nafkah, karir dan jabatan, merupakan suatu kekafiran dan kedurhakaan terhadap Allah Swt.

Bersambung.